KATA PENGANTAR
Puji syukur tim penulis
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah ini berhasil diselesaikan. Dengan judul “ Sinar
Radioaktif”
Diharapkan
makalah ini dapat memberikan manfaat dalam kegiatan belajar khususnya dalam
mata pelajaran fisika yang berhubungan dengan materi sinar radioaktif untuk lebih menambah wawasan
peserta didik SMA.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan YME senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin
Pakel,Pebruari
2013
Tim Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radioaktif adalah Proses di mana sebuah inti atom yang tidak
stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi
pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini merupakan sebuah
proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom.
Sinar radioaktif ini ada 3 macam
yaitu: sinar alfa (α ), sinar beta (β ), dan sinar gamma (γ ). Sinar radiaktif
sangat erat hubungannya dengan kegiatan sehari-hari. Seperti dalam bidang kesehatan, pertanian, industry, peternakan,
biologi, dan sebagainya.
.
1.2 Rumusan
Masalah
1.3 Tujuan pembuatan makalah
Ø Untuk
mengetahui pengertian sinar radioaktif.
Ø Untuk
mengetahui macam-macam sinar radioaktif
Ø Untuk
mengetahui alat-alat yang dapat digunakan untuk mengukur sinar radioaktif
Ø Untuk
mengetahui aplikasi dan manfaat
sinar radioaktif.
Ø Untuk
mengetahui dampak sinar radioaktif beserta cara pencegahannya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Radioaktif
Radioaktif atau radiasi yang berasal dari bahan radioaktif adalah satu bentuk energi yang dipancarkan oleh atom atau molekul yang disebarkan melalui ruang atau materi sebagai partikel / partikel ataupun gelombang elektromagnetik. Radioaktivitas (juga disebut radioaktif juga merupakan fenomena alami atau buatan, dimana ditimbulkan oleh zat tertentu atau bahan kimia. Ada dua radio aktif yang ada pada umumnya yaitu Radioaktivitas spontan atau alami: Hal ini diwujudkan dalam unsur-unsur radioaktif dan isotop ditemukan di alam dan mencemari lingkungan seperti uranium dan thorium dalam lingkungan (tanah, pohon, air dan udara) dan Radioaktivitas buatan atau induksi: radioaktif ini merupakan salah satu yang disebabkan oleh transformasi nuklir buatan seperti Technitium-99m yang digunakan dalam medis dan Iridium-192 yang digunakan dalam industri termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah perubahan
atau konversi secara spontan inti nuklida stabil ke inti lainnya di mana ada
radiasi pengion. Setiap kali jumlah proton dalam inti, maka akan ada unsur
perubahan. Radioaktivitas ditemukan pada tahun 1896 oleh Henri Becquerel pada
garam uranium. Untuk memperjelas sifat radioaktivitas signifikan,fisikawan
Perancis Pierre Curie dan Marie Curie asal Polandia berkontribusi untuk hal
ini.
Sinar radioaktif ini berbentuk seperti gelombang cahaya,
gelombang radio, sinar infra-red (panas), microwave dan sinar X. Antara sinar
mengion yang ada adalah partikel Alfa, partikel beta, sinar Gamma, sinar X dan
juga Neutron. Radioaktivitas digunakan untuk memperoleh energi nuklir, dan juga
digunakan dalam pengobatan (radioterapi dan radiologi) dan aplikasi industri
(misalnya mengukur ketebalan dan ukuran kerapatan).
2.2 Sinar Alpha
2.2.1 Pengertian Sinar Alpha

Derfinisi Sinar alfa adalah zarah
radioaktif yang mempunyai massa partikel sekitar empat kali massa partikel
hydrogen. Sinar alfa merupakan inti atom helium bermuatan positif yang
dipengaruhi medan magnet dengan lambang : α atau 2He4.
Partikel sinar α sama dengan inti
helium. Sinar α merupakan radiasi partikel bermuatan positif dan merupakan
partikel terberat yang dihasilkan zat radioaktif.
Sinar α yang dipancarkan dari inti
dengan kecepatan sepersepuluh atau 0,1 dari kecepatan cahaya. Daya tembus sinar
α palng kecil dibandingkan sinar radioaktif lainnya, sedangkan daya jangkau
mencapai 2,8-8,5 cm dalam udara dan dapat dihentikan oleh selembar kertas
biasa. Daya ionisasi sinar α paling besar karena dapat mengionisasi molekul
yang dilaluinya sehingga dapat menyebabkan 1 atau lebih electron suatu molekul
lepas, sehingga molekul menjadi ion. Sinar alfa dapat membelok kea rah kutub
negative dalam medan listrik.
Partikel Alpha adalah bentuk radiasi
partikel yang sangat menyebabkan ionisasi, dan kemampuan penetrasinya rendah.
Partikel tersebut terdiri dari dua buah proton dan dua buah neutron yang
terikat menjadi sebuah partikel yang identik dengan nukleus helium, dan
karenanya dapat ditulis juga sebagai He2+.
Partikel Alpha dipancarkan oleh nuklei
yang radioaktif seperti uranium atau radium dalam proses yang disebut dengan
peluruhan alpha. Kadang-kadang proses ini membuat nukleus berada dalam excited
state dan akan memancarkan sinar gamma untuk membuang energi yang lebih.
Setelah partikel alpha dipancarkan,
massa atom elemen yang memancarkan akan turun kira-kira sebesar 4 amu. Ini
dikarenakan oleh hilangnya 4 nukleon. Nomor atom dari atom yang bersangkutan
turun 2, karena hilangnya 2 proton dari atom tersebut, menjadikannya elemen
yang baru. Contohnya adalah radium yang menjadi gas radon karena peluruhan
alpha.
2.2.2 Penemuan Sinar Alpha
Pada
tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa sinar radioaktif dapat
dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan muatan mereka. Sinar radioaktif yang
bermuatan positif diberi nama sinar alfa, dan tersusun dari inti-inti helium
Partikel
Alfa tidak mampu menembus selembar kertas, partikel beta tidak mampu menembus
pelat alumunium. Untuk menghentikan gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun
karena penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin
menembus pelat metal
Pada
awalnya tampak bentuk radiasi yang baru ditemukan ini mirip dengan penemuan
sinar-X. Akan tetapi, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Becquerel,
Marie Curie, Pierre Curie, Ernest Rutherford dan ilmuwan lainnya menemukan
bahwa radiaktivitas jauh lebih rumit ketimbang sinar-X. Beragam jenis peluruhan
bisa terjadi.
Sebagai
contoh, ditemukan bahwa medan listrik atau medan magnet dapat memecah emisi
radiasi menjadi tiga sinar. Demi memudahkan penamaan, sinar-sinar tersebut
diberi nama sesuai dengan alfabet yunani yakni alpha, beta, dan gamma,
nama-nama tersebut masih bertahan hingga kini. Kemudian dari arah gaya
elektromagnet, diketahui bahwa sinar alfa mengandung muatan positif, sinar beta
bermuatan negatif, dan sinar gamma bermuatan netral.
Dari
besarnya arah pantulan, juga diketahui bahwa partikel alfa jauh lebih berat
ketimbang partikel beta. Dengan melewatkan sinar alfa melalui membran gelas
tipis dan menjebaknya dalam sebuah tabung lampu neon membuat para peneliti
dapat mempelajari spektrum emisi dari gas yang dihasilkan, dan membuktikan
bahwa partikel alfa kenyataannya adalah sebuah inti atom helium. Percobaan
lainnya menunjukkan kemiripan antara radiasi beta dengan sinar katode serta
kemiripan radiasi gamma dengan sinar-X.
2.2.3 Sifat-Sifat Sinar Alpha
- Dipengaruhi antara 1,4 x 107 m.s-1 sampai dengan 2,2 x 107 m.s-1 atau kira-kira 1/10 kali kecepatan rambat cahaya
- mempunyai energi 5,3 MeV sampai 10,5 MeV
- daya tembusnya paling lemah jika dibandingkan sinar β dan sinar γ
- dapat menembus kertas atau lempeng alumunium setebal 0,04 mm
- daya iosinasinya paling kuat
- lintasan di dalam bahan radioaktif berupa garis lurus.
- memiliki daya tembus kecil (daya jangkau 2,8 – 8,5 cm dalam udara),
- dapat mengionsasi molekul yang dilaluinya. Sinar alfa ini dapat menyebabkan satu atau lebih elektron suatu molekul lepas, sehingga molek ul berubah menjadi ion (ion positif dan elektron) per cm bila melewati udara,
- dalam medan listrik dapat dibelokkan ke arah kutub negatif.
- Mempunyai massa 4 dan bermuatan +2.
- Partikel-partikel alfa bergerak dengan kecepatan antara 2.000 – 20.000 mil per detik, atau 1 – 10 persen kecepatan cahaya
2.2.4 Peluruhan Sinar Alpha
Peluruhan Alfa ( α ) adalah bentuk
radiasi partikel dengan kemampuan mengionisasi atom sangat tinggi dan daya
tembusnya rendah. Pertikel alfa terdiri atas dua buah proton dan dua buah
netron yang terikat menjadi suatu atom dengan inti yang sangat stabil, dengan
notasi atom atau . Partikel α diradiasikan oleh inti atom radioaktif seperti
uranium atau radium dalam suatu proses yang disebut dengan peluruhan alfa.
Sering terjadi inti atom yang selesai meradiasikan partikel alfa akan berada
dalam eksitasi dan akan memancarkan sinar gamma untuk membuang energi yang
lebih.
Setelah partikel alfa diradiasikan , massa inti atom akan turun kira-kira sebesar 4 sma, karena kehilangan 4 partikel. Nomor atom akan berkurang 2, karena hilangnya 2 proton sehingga akan terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti anak. Pada peluruhan α berlaku :
1. hukum kekekalan nomor massa : nomor massa (A) berukuran 4 dan
2. hukum kekekalan nomor atom : nomor atom (Z) berkurang 2.
Setelah partikel alfa diradiasikan , massa inti atom akan turun kira-kira sebesar 4 sma, karena kehilangan 4 partikel. Nomor atom akan berkurang 2, karena hilangnya 2 proton sehingga akan terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti anak. Pada peluruhan α berlaku :
1. hukum kekekalan nomor massa : nomor massa (A) berukuran 4 dan
2. hukum kekekalan nomor atom : nomor atom (Z) berkurang 2.
Daya Jangkau Partikel Alfa
Berdasarkan hasil eksperimen diketahui bahwa kecepatan gerak partikel alfa berkisar antara 0,054 c hingga 0,07 c. Karena massa partikel alfa cukup besar, yaitu 4 u, maka jangkauan partikel alfa sangat pendek. Partikel alfa dengan energi paling tinggi, jangkauannya di udara hanya beberapa cm. Sedangkan dalam bahan hanya beberapa mikron. Partikel alfa yang dipancarkan oleh sumber radioaktif memiliki energi tunggal (mono-energetic). Bertambah tebalnya bahan hanya akan mengurangi energi partikel alfa yang melintas, tetapi tidak megurangi jumlah partikel alfa itu sendiri. Pengujian jejak partikel alfa dengan kamar kabut Wilson, menunjukkan bahwa sebagian besar partikel alfa memiliki jangkauan yang sama di dalam gas dan bergerak dengan jejak lurus
Berdasarkan hasil eksperimen diketahui bahwa kecepatan gerak partikel alfa berkisar antara 0,054 c hingga 0,07 c. Karena massa partikel alfa cukup besar, yaitu 4 u, maka jangkauan partikel alfa sangat pendek. Partikel alfa dengan energi paling tinggi, jangkauannya di udara hanya beberapa cm. Sedangkan dalam bahan hanya beberapa mikron. Partikel alfa yang dipancarkan oleh sumber radioaktif memiliki energi tunggal (mono-energetic). Bertambah tebalnya bahan hanya akan mengurangi energi partikel alfa yang melintas, tetapi tidak megurangi jumlah partikel alfa itu sendiri. Pengujian jejak partikel alfa dengan kamar kabut Wilson, menunjukkan bahwa sebagian besar partikel alfa memiliki jangkauan yang sama di dalam gas dan bergerak dengan jejak lurus
2.3 Sinar Beta
2.3.1 Pengertian Sinar Beta
Partikel Beta merupakan suatu partikel
subatomik yang terlempar dari inti atom yang tidak stabil – beta. Partikel
tersebut ekuivalen dengan elektron dan memiliki muatan listrik negatif tunggal
-e ( -1,6 x 10-19 C ) dan memiliki massa yang sangat kecil ( 0.00055 atomic
mass unit ) atau hanya berkisar 1/2000 dari massa neutron atau proton.
Perbedaannya adalah partikel beta berasal dari inti sedangkan elektron berasal
dari luar inti. Kecepatan dari partikel beta adalah beragam bergantung pada
energi yang dimiliki oleh tiap – tiap partikel.
Karena pertimbangan – pertimbangan
teoritis tidak memperkenankan eksistensi independen dan dari elektron intra
nuklir, maka dipostulatkan bahwa partikel terbentuk pada saat pemancaran oleh
transformasi suatu neutron menjadi sebuah proton dan sebuah elektron
2.3.2 Penemuan Sinar Beta
Padatahun1898 Ernest
rutherforddanfrederick soddymenemukanadanyaunsur radon
yang dapatmemancarkanradiasisepertisinar- X,
tetapisinarradiasinyaberbedadengansinar – X. daripercobaannya Ernest
rutherforddanfrederick soddymenemukantigajenissinar yang
dipancarkanolehbahanradioradioaktif. Ketigasinartersebutdinamakannyasinaralfa
(α), sinar beta (β), dansinargama (γ). Ketigasinarradiasiituselanjutnya di
sebutsinarradioaktif.
Ketigasinarradioaktiftersebutmempunyaikarakteristik
( cirikhas ) yang berbedabedasinar α
tidakdapatmenembuslempenglogamdenganketebalankurangdari 100cm, sedangkansinar β
dapatmenembuslempunglogamsetebal 100cm, dayatembusnyasampai 100 kali
lebihkuatdaripadasinar α. Sinar γ memilikidayatembuslebihkuat,
bahkandapatmenembuslempengantimbelsampaibeberapa cm. pengamatan Ernest
rutherfordterhadappangaruhmedanlistrikterhadapketigasinarradioaktiftersebutmenunjukkanbahwasinar
α bermuatanpositif, sinar β bermuatannegatif, dansinar γ
merupakansuatugelombangelektomagnetikberenergitinggi yang tidakbermuatan.
Untukmengetahuilebihjauhtentangketigasinarradioaktiftersebut
, Ernest rutherfordmenampungmasingmasingsinartersebutdalamruangkaca yang
tidaktertembussinaritu, dankemudianmengamatispektrumnya. Dari
pengamatannyaituternyataperbandinganmassadanmuatansertaspektrumnyasesuaidenganperbandinganmassadanmuatansertaspektrumdari
ion He2+, maka di simpulkanbahwasinar α merupakaninti helium.
Dengancara yang sama di simpulkanbahwasinar β merupakaneletron.
2.3.3 Sifat-Sifat Sinar Beta
1.
Sinar beta ini bermuatan negatif dan bermassa sangat
kecil, yaitu 5,5 x 10-4 satuan massa atom
2. simbol beta atau
e
3. memiliki daya
tembus yang jauh lebih besar daripada sinar alfa (dapat menembus lempeng timbel
setebal 1 mm),
4. daya ionisasinya
lebih lemah dari sinar alfa,
5. bermuatan listrik
negatif, sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke arah kutub positif
6.
Kecepatannya antara 0,32 sampai 0,7 kali kecepatan
cahaya, sedangkan energinya mencapai 3MeV.
7.
Di dalam bahan radioaktif, lintasan sinar beta
berbelok-belok karena hamburan electron dalam atom
2.3.4 Peluruhan Sinar Beta
Peluruhan beta (β) adalah suatu proses
peluruhan radioaktif dengan muatan inti berubah tetapi jumlah nukleonnya
tetap.Dalam peluruhan sinar beta, terdapat 3 jenis proses dalam peluruhan sinar
beta tersebut, yakni, (i) Peluruhan inti akibat emisi elektron, disimbolkan
sebagai β^- , (ii) Peluruhan inti akibat emisi positron, disimbolkan sebagai
β^+ , dan yang terakhir (iii) Penangkapan electron inti oleh inti yang disebut
dengan penangkapan electron.
Semua 3 jenis proses yang termasuk
dalam proses peluruhan beta sering disebut dengan perubahan isobar karena semua
proses tersebut tidak membuat perubahan dalam nomor massa A, yakni perubahan
nomor massa sama dengan nol. Tetapi selalu terjadi peristiwa yang mengakibatkan
perubahan dalam muatan inti. Karena sebuah inti selalu terdiri dari neutron dan
proton, maka konservasi perubahan listrik yang dibutuhkan dapat diambil dari
proses emisi β^- , sebuah neutron yang ada pada inti dikonversikan menjadi
sebuah proton. Ketika inti radioaktif mengalami peluruhan beta, maka anak inti
memiliki jumlah yang sama dengan nukleon seperti inti sebelumnya.
Sekali lagi, perhatikan bahwa jumlah
nukleon dan muatan total keduanya dilestarikan dalam keadaan yang sama. Namun,
seperti yang akan kita lihat nanti, proses ini tidak dijelaskan sepenuhnya oleh
ekspresi seperti itu. Perhatikan bahwa dalam peluruhan beta, neutron berubah
menjadi sebuah proton, dan hal tersebut juga penting untuk menunjukkan bahwa
elektron atau positron dalam meluruh tidak ada sebelumnya di inti tetapi
diciptakan pada saat keluar peluruhan, sehingga energi sisa yang ada akan
hilang pada inti. Sekarang perhatikan energi sistem sebelum dan sesudah
pembusukan. Seperti dengan peluruhan alpha, kita asumsikan energi adalah kekal
dan bahwa inti recoiling berat putri membawa energi kinetik diabaikan. Secara
eksperimen, ditemukan bahwa partikel beta dari satu jenis inti yang
dipancarkan, dengan berbagai kontinu energi kinetik sampai dengan beberapa
nilai maksimum.
2.4 Sinar Gama
2.4.1 Pengertian Sinar Gamma
Sinar gama (Sinar gamma; seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, γ) adalah sebuah bentuk berenergi
dari radiasi
elektromagnetik yang diproduksi oleh radioaktivitas atau
proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran elektron-positron.
Sinar
gama membentuk spektrum
elektromagnetik energi-tertinggi. Mereka seringkali
didefinisikan bermulai dari energi 10 keV/ 2,42 EHz/ 124 pm, meskipun radiasi
elektromagnetik dari sekitar 10 keV sampai beberapa ratus keV juga dapat
menunjuk kepada sinar X keras.
Penting untuk diingat bahwa tidak ada perbedaan fisikal antara sinar gama dan
sinar X dari energi yang sama -- mereka adalah dua nama untuk radiasi
elektromagnetik yang sama, sama seperti sinar matahari dan sinar
bulan adalah dua nama untuk cahaya tampak. Namun, gama dibedakan
dengan sinar X dari
sumber mereka. Sinar gama adalah istilah untuk radiasi
elektromagnetik energi-tinggi yang diproduksi oleh transisi energi karena
percepatan elektron. Karena beberapa transisi elektron memungkinkan untuk
memiliki energi lebih tinggi dari beberapa transisi nuklir, ada tumpang-tindih
antara apa yang kita sebut sinar gama energi rendah dan sinar-X energi tinggi.
Sinar
gama merupakan sebuah bentuk radiasi mengionisasi; mereka lebih menembus
dari radiasi alfa atau beta (keduanya
bukan radiasi
elektromagnetik), tapi kurang mengionisasi.
Perlindungan
untuk sinar γ membutuhkan banyak massa. Bahan yang digunakan untuk perisai
harus diperhitungkan bahwa sinar gama diserap lebih banyak oleh bahan
dengan nomor atom tinggi
dan kepadatan tinggi. Juga, semakin tinggi energi sinar gama, makin tebal
perisai yang dibutuhkan. Bahan untuk menahan sinar gama biasanya diilustrasikan
dengan ketebalan yang dibutuhkan untuk mengurangi intensitas dari sinar gama
setengahnya.
2.4.2 Penemuan Sinar Gamma
Thomson
(Joseph John Thomson) melakukan penelitian sinar katoda di pusat
penelitian Cavendish di Universitas Cambridge dan menemukan elektron yang
merupakan salah satu pembentuk struktur dasar materi. (http://um.ac.id)
Pada tahun 1895 datanglah Ernest Rutherford, (http://ksupointer.com)
seorang kelahiran Selandia Baru yang bermigrasi ke Inggris, untuk bekerja
di bawah bimbingan J.J. Thomson. Pada mulanya Rutherford tertarik kepada
efek radioaktivitas dan sinar-X terhadap konduktivitas listrik udara.
Partikel (radiasi) berenergi tinggi yang dipancarkan oleh bahan
radioaktif menumbuk dan melepaskan elektron dari atom yang ada di udara, dan
inilah yang menghantarkan arus listrik.
Setelah
mengadakan penelitian bersama dengan J.J. Thomson, pada tahun 1898
Rutherford menunjukkan bahwa sinar-X dan radiasi yang dipancarkan oleh
materi radioaktif pada dasarnya bertingkah laku sama. Selain itu berdasarkan
pengukuran serapan materi terhadap radiasi yang dipancarkan oleh materi
radioaktif seperti uranium atau thorium, ia menyatakan paling sedikit ada
2 jenis radiasi yang dipancarkan oleh bahan radioaktif alam uranium dan
thorium.
Satu memiliki daya ionisasi yang sangat besar,
karena itu mudah diserap oleh materi, dapat dihentikan dengan kertas
tipis, yang satu lagi memiliki daya ionisasi yang lebih kecil dan daya
tembus yang besar. Menggunakan dua huruf pertama abjad Yunani, yang
pertama disebut radiasi alpha, yang kedua radiasi Beta. Selain itu juga
diketahui adanya radiasi yang memiliki daya tembus lebih besar dari pada Beta,
dan radiasi ini disebut radiasi Gamma.
2.4.3 Sifat-Sifat Sinar Gamma
1. Mempunyai daya
tembus paling besar disbanding sinar radio aktif lainnya (α atau β)
2. Tidak dipengaruhi
medan magnet dan medan listrik, karena tidak bermuatan
3. Dapat
mempengaruhi film
4. Energinya
mencapai 3MeV
5. Foto sinar γ
tidak banyak berinteraksi dengan atom suatu bahan
6. daya ionisasinya
paling lemah,
7. tidak bermuatan
listrik, oleh karena itu tidak dapat dibelokkan oleh medan listrik.
8. mempunyai panjang
gelombang antara 1Å (10-10 m) sampai 10-4Å (10-14 m).
9. Merupakan
gelombang elektromagnetik
2.4.4 Peluruhan Sinar Gamma
Suatu inti unsur radioaktif yang
mengalami peluruhan, baik peluruhan α maupun peluruhan β atau mengalami
tumbukan dengan netron biasanya berada pada keadaan tereksitasi. Pada saat
kembali ke keadaan dasarnya inti tersebut akan melepas energi dalam bentuk
radiasi gamma.
Radiasi gamma mempunyai energi yang
diskrit. Energi sinar gamma (γ) akan berkurang atau terserap oleh suatu
material yang dilewatinya. Karena ada penyerapan energi olah bahan maka
intensitas dari sinar gamma akan berkurang setelah melewati material tersebut.
Setelah peluruhan
alfa dan beta, inti biasanya dalam keadaan tereksitasi. Seperti halnya atom,
inti akan mencapai keadaan dasar (stabil) dengan memancarkan foton (gelombang
elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma (γ). Dalam proses
pemancaran foton ini, baik nomor atom atau nomor massa inti tidak berubah.
Setelah inti
meluruh menjadi inti baru biasanya terdapat energi kelebihan pada ikatan
intinya sehingga seringkali disebut inti dalam keadaan tereksitasi. Inti yang
kelebihan energinya ini biasanya akan melepaskan energinya dalam bentuk sinar
gamma yang dikenal dengan peluruhan gamma, sinarnya ini adalah foton dan
termasuk ke dalam gelombang elektromagnetik yang mempunyai energi yang sangat
besar melebihi sinar X.
Peluruhan gamma (γ) merupakan
radiasi gelombang elektromagnetik dengan energi sangat tinggi sehingga memiliki
daya tembus yang sangat kuat. Sinar gamma dihasilkan oleh transisi energi inti
atomdari suatu keadaan eksitasi ke keadaan dasar. Saat transisi berlangsung
terjadi radiasi energi tinggi (sekitar 4,4 MeV) dalam bentuk gelombang elektromagnetik.
Sinar gamma bukanlah partikel sehingga tidak memiliki nomor atom (A=0) maka
dalam peluruhan sinar-γtidak
dihasilkan inti atom baru.
2.5 Karakteristik Sinar Radioaktif
2.6 Aplikasi Sinar Radioaktif
2.6.1 Bidang Kedokternan
A.
Peranan Radioaktif Dalam Bidang Kesehatan Dan Kedokteran
Bidang kesehatan dan kedokteran
merupakan bidang terbesar yang menggunakan senyawa bertanda radioaktif. Hampir
dari 80% dari penggunaan zat radioaktif terletak di bidang ini. Dengan isotop
radioaktif telah dapat diselidiki dan dipelajari proses fisiologi, biokimia,
patologi dan farmakologi berbagai macam obat.
Penggunaan
isotop radioaktif dalam kedokteran, sebetulnya telah dimulai semenjak tahun
1936 pada waktu John Lawrence et. al. Menggunakan fosfor-32 untuk terapi.
Walaupun dimulai untuk terapi, tetapi penggunaan radioisotop selanjutnya hampir
90% ditujukan untuk diagnosis, dan sebagian besar telah dalam bentuk senyawa
bertanda.
Cabang ilmu kedokteran yang
memanfaatkan gelombang elektromagnetik pendek, seperti sinar x disebut
radiologi. Radiologi dimanfaatkan untuk menunjang diagnosis penyakit. Dalam
dunia kedokteran nuklir, prinsip radiologi dimanfaatkan dengan memakai isotop
radio aktif yang disuntikkan ke dalam tubuh. Kemudian, isotop tersebut
ditangkap oleh detektor di luar tubuh sehingga diperoleh gambaran yang
menunjukan distribusinya di dalam tubuh. Sebagai contoh untuk mengetahui letak
penyempitan pembuluh darah, digunakan radioisotop natrium. Kemudian jejak
radioaktif tersebut dirunut dengan menggunakan pencacah Geiger. Letak
penyempitan pembuluh darah ditunjukan dengan terhentinya aliran natrium.
Selain digunakan untuk mendiagnosis
penyakit, radioisotop juga digunakan untuk terapi radiasi. Terapi radiasi
adalah cara pengobatan dengan memakai radiasi. Terapi seperti ini biasanya
digunakan dalam pengobatan kanker. Pemberian terapi dapat menyembuhkan,
mengurangi gejala, atau mencegah penyebaran kanker, bergantung pada jenis dan
stadium kanker.
1. Radiodiagnostik
Radiodiagnostik adalah
kegiatan penunjang diagnostik menggunakan perangkat radiasi sinar pengion
(sinar x), untuk melihat fungsi tubuh secara anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal sebagai radiolog. Salah satu
contoh radiodiagnostik adalah rontgen. Radiodiagnostik dilakukan sebelum
melakukan radioterapi.
2. Radioterapi
Radioterapi adalah
tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker sebanyak
mungkin, dengan kerusakan pada sel normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini
menggunakan sumber radiasi tertutup pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x
dan berkas elektron.
Baik sel-sel
normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini. Radiasi akan
merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel
kanker akan terhambat. Sekitar 50 – 60% penderita kanker memerlukan
radioterapi. Tujuan radioterapi adalah untuk pengobatan secara radikal, yaitu
untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker,
selain itu juga bertujuan untuk mengurangi resiko kekambuhan dari kanker. Dosis
dari radiasi ditentukan dari ukuran, luasnya, tipe, dan stadium tumor bersamaan
dengan responnya terhadap radio terapi.
Terdapat dua teknik
dalam radioterapi yaitu teleterapi (sumber eksternal) dan brakiterapi (sumber
internal). Pada tindakan teleterapi, posisi sumber radiasi gamma energi tinggi
yang berasal dari Cobalt-60 yang disimpan dalam kontainer metal yang tebal pada
alat, dapat diatur sedemikian rupa sehingga kanker dapat diradiasi dari
berbagai arah yang ditujukan setepat mungkin pada jaringan tumor. Tumor ganas
dikenai radiasi yang sangat kuat secara berulang-ulang menggunakan teknik
fraksinasi (dosis terbagi atas perkali pemberian dari total dosis yang harus
diterima oleh pasien) selama jangka waktu beberapa minggu. Radioterapi
diberikan setiap hari dari berbagai arah secara tepat pada kanker. Dengan
demikian kanker akan menerima radiasi yang bersilang dengan dosis tinggi
sementara jaringan normal dan sehat di sekitar lokasi kanker hanya akan
menerima dosis yang lebih rendah dengan tingkat kerusakan yang dapat
ditoleransi tubuh dan berangsur pulih.
Radioterapi dapat pula
dilakukan dengan menggunakan sumber radiasi terbuka yang diposisikan sedekat
mungkin dengan kanker, dikenal sebagai tindakan brakiterapi. Sumber radiasi
terbuka yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-226, yang dikemas dalam
bentuk jarum, biji sebesar beras, atau kawat dan dapat diletakkan dalam rongga
tubuh (intracavitary) seperti kanker serviks, kanker paru, dan kanker
esopagus, dalam organ/jaringan (interstisial) seperti kanker prostat,
kanker kepala dan leher, kanker payudara, atau dalam lumen (intraluminal).
Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:
1.
Mengobati : banyak kanker yang dapat
disembuhkan dengan radioterapi, baik dengan atau tanpa dikombinasikan dengan
pengobatan lain seperti pembedahan dan kemoterapi.
2.
Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi
adanya penyembuhan, radioterapi berguna untuk
mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel kanker menjadi lebih kecil
dan berhenti menyebar.
3.
Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol
kanker, radioterapi dapat mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita
kanker seperti rasa nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.
4.
Membantu pengobatan lainnya : terutama post
operasi dan kemoterapi yang sering disebut sebagai “adjuvant therapy” atau
terapi tambahan dengan tujuan agar terapi bedah dan kemoterapi yang diberikan
lebih efektif.
B.
Manfaat Radioisotop dalam Bidang
Kesehatan dan Kedokteran
Banyak radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan dan
kedokteran dan masing-masing radioisotop tersebut memiliki manfaat yang
berbeda, antara lain:
1. I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid,
mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan otak.
2. Pu-238 energi listrik dari alat pacu
jantung.
3. Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi
kerusakan jantung.
4. Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran
darah.
5. Xe-133 Mendeteksi Penyakit
paru-paru.
6. P-32 Penyakit mata, tumor dan hati.
7. Fe-59 Mempelajari pembentukan sel
darah merah.
8. Cr-51 Mendeteksi kerusakan limpa.
9. Se-75 Mendeteksi kerusakan Pankreas.
10. Tc-99 Mendeteksi kerusakan tulang
dan paru-paru.
11. Ga-67 Memeriksa kerusakan getah
bening.
12. C-14 Mendeteksi diabetes dan anemia.
13. Co-60 Membunuh sel-sel kanker.
C.
Mekanisme Kerja
1.
Radiodiagnostik
I-131 digunakan
sebagai terapi pengobatan untuk kondisi tiroid yang over aktif atau kita sebut
hipertiroid. I-131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat dari iodin yang
selalu memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini dimasukkan kedalam tubuh dalam
dosis yang kecil, maka I-131 ini akan masuk ke dalam pembuluh darah traktus
gastrointestinalis. I-131 dan akan melewati kelenjar tiroid yang kemudian akan
menghancurkan sel-sel glandula tersebut. Hal ini akan memperlambat aktifitas
dari kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat merubah kondisi tiroid.
2.
Radioterapi
Bila jaringan
terkena radiasi penyinaran, maka jaringan akan menyerap energi radiasi dan akan
menimbulkan ionisasi atom-atom. Ionisasi tersebut dapat menimbulkan perubahan
kimia dan biokimia yang pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan biologik.
Kerusakan sel yang terjadi dapat berupa kerusakan kromosom, mutasi, perlambatan
pembelahan sel dan kehilangan kemampuan untuk berproduksi.
Radiasi pengion
adalah berkas pancaran energi atau partikel yang bila mengenai sebuah atom akan
menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit elektron tersebut. Pancaran
energi dapat berupa gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar gamma
dan sinar X. Pancaran partikel dapat berupa pancaran elektron (sinar beta) atau
pancaran partikel netron, alfa, proton.
Dengan pemberian setiap terapi, maka
akan semakin banyak sel-sel kanker yang mati dan tumor akan mengecil. Sel-sel
yang mati akan hancur, dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari tubuh.
Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembai dari pengaruh radiasi.
Tetapi bagaimanapun juga, kerusakan yang terjadi pada sel-sel sehat merupakan penyebab
terjadinya efek samping radiasi.
D.
Efek Radioaktif Bidang Kesehatan Dan Kedokteran
Efek
samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum efek samping
tersebut tergantung dari dosis terapi, target organ dan keadaan umum pasien.
Beberapa efek samping berupa kelelahan, reaksi kulit (kering, memerah, nyeri,
perubahan warna dan ulserasi), penurunan sel-sel darah, kehilangan nafsu makan,
diare, mual dan muntah bisa terjadi pada setiap pengobatan radioterapi.
Kebotakan bisa terjadi tetapi hanya pada area yang terkena radioterapi. Radiasi
tidak menyebabkan kehilangan rambut yang total. Pasien yang menjalani radiasi
eksternal tidak bersifat radioaktif setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya
bagi orang di sekitarnya. Efek samping umumnya terjadi pada minggu ketiga atau
keempat dari pengobatan dan hilang dua minggu setelah pengobatan selesai.
Efek radiasi
pada sistem, organ atau jaringan:
1. Darah dan
Sumsum Tulang Merah
Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat
mengalami perubahan akibat radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan
jumlah sel. KompOnen seluler darah yang lain ( butir pembeku dan darah merah )
menyusun setelah sel darah putih. Sumsum tulang merah yang mendapat dosis tidak
terlalu tinggi masih dapat memproduksi sel-sel darah merah, sedang pada dosis
yang cukup tinggi akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir dengan kematian
( dosis lethal 3 – 5 sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka orang
yang terkena radiasi akan menderita kecenderungan pendarahan dan infeksi,
anemia dan kekurangan hemoglobinefek stokastik pada penyinaran sumsum tulang
adalah leukemia dan kanker sel darah merah.
2. Saluran
Pencernaan Makanan
Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala
mual, muntah, gangguan pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. kemudian
dapat timbul karena dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah. Efek
stokastik yang dapat timbul berupa kanker pada epithel saluran pencernaan.
3. Organ
Reproduksi
Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah
sterilitas, sedangkan efek genetik (pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau
kromosom pada sel kelamin.
4. Sistem Syaraf
Sistem syaraf termasuk tahan radiasi. Kematian karena
kerusakan sistem syaraf terjadi pada dosis puluhan sievert.
5. Mata
Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek
somatik non stokastik yang masa tenangnya lama (bisa bertahun-tahun).
6. Kulit
Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan
besarnya dosis, mulai dengan kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan.
efek somatik stokastik pada kulit adalah kanker kulit.
7. Tulang
Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum
tulang dan selaput dalam serta luar pada tulang. kerusakan pada tulang biasanya
terjadi karena penimbunan stontium-90 atau radium-226 dalam tulang. Efek
somatik stokastik berupa kanker pada sel epithel selaput tulang.
8. Kelenjar Gondok
Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui
hormon tiroxin yang dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran
luar namun mudah rusak karena kontaminasi internal oleh yodium radioaktif.
9. Paru-paru
Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran
dari gas, uap atau partikel dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang
terhirup melalui pernafasan.
2.6.2 Bidang Kimia
Berikut ini merupakan beberapa
penggunaan radioisotop dalam bidang kimia:
Teknik perunut dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai reaksi kimia esterifikasi, fotosintesis dan kesetimbangan dinamis.
Teknik perunut dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai reaksi kimia esterifikasi, fotosintesis dan kesetimbangan dinamis.
Perunut adalah zat untuk mengetahui
suatu alur/ jejak / lokasi suatu aliran. Suatu zat radioaktif bersifat tidak
stabil dan terus menerus memancarkan sinar radioaktif, sehingga dapat digunakan
sebagai perunut.
Perunut radioaktif adalah isotop
radioaktif yang ditambahkan ke dalam bahan kimia atau makhluk hidup guna
mempelajari sistem.
Anggapan penting yang digunakan pada penggunaan radionuklida sebagai perunut adalah materi radioaktif akan tercampur secara sempurna dengan sistem yang dipelajari, hal ini berarti bahwa gejala keradioaktifan yang dipancarkan oleh perunut tidak mempengaruhi komponen sistem, dan perunut tersebut tidak dapat dibedakan secara kimia dengan materi non radioaktif.
Terdapat beberapa faktor yang harus
diperhatikan dalam pemilihan radionuklida perunut :
Harus memiliki sifat kimia dan
fisika yang sama dengan sistem yang dipelajari.
Radionuklida perunut harus memiliki waktu hidup yang cukup panjang sehingga aktivitasnya dapat dideteksi dengan baik.
Radionuklida perunut harus memiliki waktu hidup yang cukup panjang sehingga aktivitasnya dapat dideteksi dengan baik.
Jenis radiasi yang dipancarkan harus
menjadi pertimbangan terutama kemampuan penetrasi dan kemudahannya untuk
diukur. Hanya terdapat sedikit radionuklida alam yang dapat digunakan sebagai
radionuklida perunut seperti isotop H dan C, dan produk peluruhan U dan Th.
sekarang kebanyakan radionuklida perunut diproduksi secara buatan dalam reaktor
atau dalamekselerator.
Teknik perunut adalah suatu teknik yang digunakan untuk tujuan mendapatkan informasi perilaku dari obyek dengan cara menandai obyek tersebut dengan suatu bahan tertentu. Yang dimaksud dengan obyek disini adalah suatu sistem yang dinamis, artinya bahwa sistem atau bagian dari sistem tersebut mengalami perubahan sebagai fungsi dari ruang dan/atau waktu. Sebagai contoh dari sistem dinamis itu misalnya aliran suatu populasi masa atau material induk. Sedang yang dimaksudkan dengan bahan tertentu adalah bahan perunut itu sendiri. Dalam sistem yang dinamis bahan perunut bercampur dengan aliran populasi masa. Informasi yang ingin diketahui dari sistem tersebut diperoleh dengan cara mendeteksi perunut yang telah bercampur homogen dengan aliran populasi masa dari system yang diselidiki.
Teknik perunut adalah suatu teknik yang digunakan untuk tujuan mendapatkan informasi perilaku dari obyek dengan cara menandai obyek tersebut dengan suatu bahan tertentu. Yang dimaksud dengan obyek disini adalah suatu sistem yang dinamis, artinya bahwa sistem atau bagian dari sistem tersebut mengalami perubahan sebagai fungsi dari ruang dan/atau waktu. Sebagai contoh dari sistem dinamis itu misalnya aliran suatu populasi masa atau material induk. Sedang yang dimaksudkan dengan bahan tertentu adalah bahan perunut itu sendiri. Dalam sistem yang dinamis bahan perunut bercampur dengan aliran populasi masa. Informasi yang ingin diketahui dari sistem tersebut diperoleh dengan cara mendeteksi perunut yang telah bercampur homogen dengan aliran populasi masa dari system yang diselidiki.
Jadi teknik perunut ini dapat diaplikasikan apabila dalam kondisi dimana ada suatu aliran populasi masa. Selain itu agar teknik perunut ini dapat secara sempurna diaplikasikan maka perlu dipenuhi beberapa persyaratan lain, misalnya bahwa bahan perunut yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat dan berkelakuan sama dengan bahan dari populasi masa yang diselidiki namun mempunyai identitas khusus dimana bahan perunut tersebut harus dapat dideteksi dengan suatu alat deteksi.
Perunutan merupakan suatu proses pemanfaatan senyawa yang telah ditandai dengan isotop atau radioisotop untuk menjadi bagian dari sistem biologi/mekanik sehingga diketahui mekanisme yang terjadi atau diperoleh suatu hasil pengukuran. Teknik perunut dapat menggunakan isotop atau radioisotop.
Dasar aplikasi dari teknik perunut
dengan isotop stabil adalah sifat kimia spesifik dari unsur yang digunakan
dengan berat molekul yang berbeda.
Contoh isotop stabil adalah N-15, Cr-52, C-13, dan lainnya. Alat yang digunakan untuk mengukur isotop stabil seperti mass atomic spektrofotometer , X-ray flourescene (XRF), dan Neutron Atomic Absorbtion (NAA). Sedangkan dasar aplikasi dari teknik perunut dengan radioisotop adalah paparan aktivitas dari masing-masing unsur yang digunakan. Contoh radioisotop adalah C-14, Ca-45, P-32, H-3, dan lainnya. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur aktivitas paparannya adalah Liquid Scintilation Counter (LSC), Gamma Counter , HPGe, dan lainnya. Mempelajari Reaksi Esterifikasi.
Reaksi esterifikasi yaitu reaksi
pembentukan suatu ester yang dapat dibentuk dengan reaksi langsung antara suatu
asam karboksilat dan suatu alkohol. Esterifikasi berkataliskan asam dan
merupakan reaksi yang reversibel.
Asam karboksilat bereaksi dengan
alkohol membentuk ester dan air.
RCOOH + R’OH R COOR’ + H2O
Hal yang mau diselidiki adalah asal
atom Oksigen yang membentuk air pada reaksi tersebut, dari asam atau dari
alkohol? Dengan 18O dapat diikuti reaksi antara asam karboksilat dan alkohol.
Reaksi 1
Reaksi 1
O O
R – C – 18O – H + H – O – R R – C –
O – R + H218O
Reaksi 2
O O
R – C – O – H + H – 18O – R R – C –
18O – R + H2O
Dari analisa spektroskopi massa
dapat ditulis sebagai berikut:
O O
R – C – O – H + H – 18O – R R – C –
18O – R + H2O
Berdasarkan penelitian diketahui
bahwa pada reaksi esterifikasi, atom O yang membentuk senyawa H2O berasal dari
asam karboksilat. Adapun atom O yang membentuk senyawa ester berasal dari
alkohol.
Mempelajari Reaksi Fotosintesis.
Percobaan menggunakan perunut telah
dilakukan tahun 1950 oleh Melvin Calvin dan pembantu-pembantunya universitas
Berkeley California untuk menentukan mekanisme fotosintesis tanaman. Proses keseluruhan
fotosintesis melibatkan reaksi CO2 dan H2O untuk menghasilkan glukosa dan O2.
6CO2(g) + 6H2O(l) C6H12O6(s) + 6O2(g)
Dalam percobaannya, gas CO2 yang mengandung lebih isotop 14C radioaktif diterpakan kepada tanaman alga selama satu tahun, selanjutnya alga diekstrak dengan alkohol dan air. Senyawa terekstrak dipisahkan dengan kromatografi selanjutnya diidentifikasi. Dalam kerja jenis ini, digunakan alat deteksi seperti sebuah pencacah Geiger untuk mengikuti atom radioaktif lewat pelbagai zat antara ke produk akhir. Senyawayang mengandung 14C radioaktif terdapat dalam zat antara yang dibentuk selama fotosintesis. Berdasarkan analisa terhadap isotop 14C Calvin mengajukan mekanisme atau tahap-tahap dalam fotosintesis.
Mempelajari Kesetimbangan Dinamis.
Kesetimbangan dinamis kimia bersifat
dinamis artinya bahwa dalam keadaan setimbang reaksi tetap berlangsung dengan
laju yang sama pada kedua arah. Hal itu dapat dibuktikan sebagai berikut.
Perhatikan kesetimbangan PbI2 (timbal (II) klorida) padat dan larutan jenuhnya
yang mengandung Pb2+(aq) dan I-(aq) persamaannya:
PbI2(s) Pb2+(aq) + 2I-(aq)
Ke dalam tabung yang berisi PbI2
padat non radioaktif tambahkan larutan yang berisi ion ioda radioaktif (I131)
hingga jenuh, kocok campuran dan biarkan beberapa lama.
Saring campuran dan keringkan
endapan tersaring. Jika dianalisis maka dalam padatan PbI2 akan terdapat PbI2
yang radioaktif. Hal ini menunjukan bahwa dalam larutan jenuh tedapat keadaan
setimbang dinamis antara padatan dan ion-ionnya.
Analisis/Titrasi Radiometri
Analisis radiometri adalah cara
analisis kimia untuk unsur atau zat tak radioaktif dengan jalan penambahan zat
radioaktif dan Analisis radiometri ini digunakan untuk menentukan kadar zat
yang sangat rendah dalam suatu campuran.
Penentuan kadar Ag+ ataupun Cl-
dapat menggunakan radioisotop. Jika yang ingin ditentukan kadar Cl- maka yang
digunakan adalah Ag dalam bentuk radioisotop (110Ag+) dan jika yang ingin
ditentukan kadar Ag maka yang digunakan ion radioklor.
Pada titrasi radiometri, isotop dapat
digunakan sebagai petunjuk akhir titrasi. Misalnya pada titrasi penentuan ion
Cl- dan ion Ag+ membentuk endapan AgCl. Baik titran maupun cuplikan dapat
mengandung komponen radioaktif.
Pada awal titrasi, dalam labu Erlenmeyer yang berisi ion Cl- non radioaktif tidak terdapat keaktifan. Setelah ion 110Ag+ radioaktif ditambahkan ke dalam Erlenmeyer dan bereaksi dengan ion Cl- membentuk endapan AgCl.
Bagian supernatan (endapan) tidak menunjukan tanda-tanda
keaktifan, tetapi setelah titik ekivalen tercapai, kelebihan ion Ag+ berada
dalam larutan, dan secara perlahan meningkatkan keaktifan, dari perubahan
keaktifan dan jumlah volume larutan yang ditambahkan dapat dicari titik akhir
titrasi atau titik akhir titrasi juga dapat diperoleh dengan cara
ekstrapolasi grafik.
Kelebihan cara analisis radiometri adalah kepekaannya sangat tinggi, Selain itu, suhu, pH, kekeruhan dan lainnya tidak mempengaruhi titik akhir titrasi.
Kelebihan cara analisis radiometri adalah kepekaannya sangat tinggi, Selain itu, suhu, pH, kekeruhan dan lainnya tidak mempengaruhi titik akhir titrasi.
Analisis pengenceran isotop
Analisis pengenceran isotop untuk
menentukan kadar suatu zat dengan cara menambahkan zat radioaktif yang sudah
diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan kadarnya.
Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan menambahkan isotopnya. Pengenceran isotop digunakan untuk mengurangi cacat radiasi dan analisis yang memanfaatkan perubahan rasio isotop.
Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan menambahkan isotopnya. Pengenceran isotop digunakan untuk mengurangi cacat radiasi dan analisis yang memanfaatkan perubahan rasio isotop.
Untuk mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop
ke dalam tubuh, konsentrasinya diencerkan dengan menyerap isotop stabil dan
dikeluarkan dari tubuh. Misal, bila iodium radioaktif diserap ke dalam tubuh
maka setelah 24 jam sekitar 20% jumlahnya akan masuk ke dalam tiroid dan
sisanya setelah terdistribusi ke seluruh tubuh segera dikeluarkan melalui urin.
Bila sebelumnya telah menggunakan iodium stabil maka konsentrasi iodium di
dalam tiroid menjadi lebih tinggi dan waktu paro biologisnya menjadi lebih
pendek. Bila mengkonsumsi serbuk kalium iodida 100 mg sehari, maka 90% lebih
iodium radioaktif yang diserap akan dikeluarkan.
Pada analisis pengenceran isotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui jumlahnya dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut di pisahkan, lalu keradioaktifannya ditentukan.
Pada analisis pengenceran isotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui jumlahnya dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut di pisahkan, lalu keradioaktifannya ditentukan.
Contoh: Kedalam 50mL larutan yang mengandung ion Zn2+ yang belum diketahui konsentrasinya ditambahkan 10 mL larutan 62Zn2+ 0,100 µ Ci. Kemudian diencerkan sampai volume 100 ml. Setelah pengendapan garam seng diperoleh 0,4000 gram seng dengan keaktifan 0,0825 µ Ci. Hitunglah konsetrasi ion Zn2+ dalam larutan semula.
Jawab:
%Zn yang diperoleh = 0,0825/0,100 X 100
= 82,5 %
Jumlah seng= (0,4000 g seng yang
diperoleh)/(0,825 (gram yang diperoleh)/(gram total))
= 0,485 g
Dengan mengabaikan berat 62Zn2+ yang
ditambahkan maka konsentrasi Zn2+ dalam larutan semula. 0,485/(65,37 X 0,05) =
0,1484 M
Analisis pengaktifan neutron
Analisis pengaktifan neutron adalah
adalah analisis unsur-unsur dalam sampel yang didasarkan pada pengubahan isotop
stabil oleh isotop radioaktif melalui pemboman sampel oleh neutron atau proses
pengaktifan neutron dapat diartikan juga sebagai proses reaksi inti dimana
unsur-unsur yang semula tidak radioaktif berubah sifat fisikanya menjadi
radioaktif sehingga dapat memancarkan radiasi. Proses aktivasi yang paling umum
disebabkan oleh penyerapan neutron oleh inti atom suatu unsur, dan unsur yang
teraktivasi akan menjadi radioaktif yang dapat memancarkan radiasi, umumnya
adalah radiasi gamma. Reaksi pengaktifan jenis ini juga sering disebut sebagai
reaksi neutron-gamma, karena penyerapan neutron oleh unsur akan diikuti oleh
pemancaran radiasi gamma dari unsur tersebut.
Analisis pengaktifan neutron dilakukan untuk menentukan zat yang berkadar rendah dengan cara menembak unsur yang dimaksud agar menghasilkan radioisotop dan memancarakan sinar. Contohnya digunakan untuk mengidentifikasi apakah seseorang itu mati wajar atau diracun, dapat dianalisis berdasarkan runutan unsur dalam rambut. Ini dapat dilakukan dengan cara menentukan jumlah dan posisi unsur dalam rambut secara seksama sehingga dapat diketahui penyebab kemetian orang itu.
Analisis terhadap rambut dapat
dilakukan untuk menentukan zat beracun yang terdapat dalam rambut, misalnya
arsen (As). Jika isotop 75As dibombardir dengan neutron, inti metastabil dari
76Asm diperoleh:
33As75 + 0n1 33As76 m + 0γ0
As di bombardir dengan neutron menghasilkan As metastabil yang inti metastabilnya berada dalam keadaan tereksitasi, untuk stabil meluruhkan sinar gamma. Frekuensi sinar yang diemisikan khas untuk setiap unsur. Selain itu, intensitas sinar gamma sebanding dengan unsure yang ada dalam sample rambut.
Berdasarakan
prosedur diatas, dapat diketahui apakah orang itu diracuni oleh arsen atau mati
wajar. Metode ini juga sangat peka sebab dapat mengidentifikasi jumlah arsen
hingga 10-9 gram.
2.6.3 Bidang Pertanian
Salah satu aplikasi
radioisotop dalam bidang pertanian adlah untuk menentukan jumlah penggunaan
pupuk optimum. Berapa banyak pupuk posfat yang harus ditambahkan ke dlaam tanah
sangat tergantung kepada kandungan posfat tanah dan jumlah posfat yang
digunakan tumbuh-tumbuhan. Melalui penambahan amonium posfat bertanda, P-32,
yang memiliki aktivitas tertentu, selanjutnya dilakukan pengukuran pada
radioaktivitas akar, daun, batang, serta semua bagian tumbuhan.
Selanjutnya total posfor
yang dibutuhkan tumbuhan ditentukan melalui analisa kimia, dan penambahan pupuk
ditentukan oleh keaktifan terukur. Perbedaannya merupakan posfor yang ada di
dalam tanah. Melalui serangkaian eksperimen telah dibuktikan bahwa hasil panen
jauh lebih melimpah apabila penambahan pupuk posfat dilakukan pada saat benih
disemai atau saat 60% pertumbuhan akar.
2.6.4 Bidang Hidrologi
Radioaktif hidrologi/air
Salah satu aplikasi penggunaan
radioisotop adalah sebagai perunut dalam studi hidrologi. Teknik perunut
merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mendapatkan informasi perilaku
suatu sistem dengan cara menandai sistem dengan bahan tertentu, seperti
misalnya radioisotop. Dengan menggunakan perunut radioisotop, berbagai masalah
dalam bidang hidrologi akan dapat dipecahkan dengan cara langsung yang jauh
lebih cepat dari cara konvensional. Dalam bidang hidrologi, teknik perunutan
dilakukan dengan cara memantau radiasi yang dipancarkan oleh perunut
radioisotop, atau yang lebih dikenal sebagai radiotracer. Dalam studi
hidrologi, radiotracer yang digunakan dilepaskan langsung ke lingkungan. Untuk
dapat digunakan sebagai tracer, radioisotop harus memenuhi persyaratan :
- Tidak berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup di sekelilingnya
- Jumlah radioisotop yang dilepaskan ke lingkungan harus benar-benar diperhitungkan sehingga tidak terjadi pelepasan zat radioaktif yang berlebihan ke lingkungan.
- Radioisotop yang digunakan harus larut dalam air
- Radioisotop tidak akan diserap oleh tanah, tanaman maupun organisme hidup lainnya
Tidak dapat dipungkiri, sudah banyak
manfaat yang diperoleh karena menggunakan radiotracer sebagai perunut dalam
huidrologi. Selain itu radiotracer juga dapat dipakai sebagai pendukung metode
non-nuklir lainnya yang telah ada. Meski tidak semua persoalan hidrologi dapat
diselesaikan dengan teknik nuklir ini, namun penggunaan radiotracer seringkali
merupakan satu-satunya metode yang dapat menyelesaikan persoalan. Berikut
adalah contoh pengaplikasian radioisotop dalam bidang hidrologi.
Pengukuran Debit Air Sungai
Metode dasar dalam pengukuran debit air sungai
adalah pengenceran radiotracer. Radiotracer dalam jumlah tertentu yang tidak
membahayakan lingkungan dilepas dibagian hulu sungai dan kemudian diukur
konsentrasinya di bagian hilir. Besarnya perubahan kadar perunut karena
pengenceran oleh aliran (debit) air sungai dapat diketahui dengan cara mencacah
langsung intensitas radiasi dalam air sungai tersebut. Penggunaan radiotracer
untuk mengukur debit air sungai terbukti lebih sederhana dibandingkan metode
pengukuan menggunakan current meter, selain itu pengukuran juga dapat
dilakukan lebih cepat dan dapat dilakukan pada saat banjir sekalipun.
Pengukuran debit air sungai antara 300-600 m3 per detik hanya
membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, hal ini membuktikan bahwa penggunaan
radiotracer jauh lebih efektif, efisien dan ekonomis. Semakin turbulen arus air
sungai, semakin cepat dan baik hasil pengukurannya.
Penentuan Arah Gerak Air Tanah
Data gerakan
air tanah pada suatu wilayah merupakan data yang sangat penting untuk berbagai
keperluan, antara lain dalam kaitannya dengan pembangunan suatu bendungan,
penentuan tempat penyimpanan limbah berbahaya dan sebagainya. Pergerakan air
tanah selalu sesuai dengan kondisi geologinya. Sehingga untuk mengetahui
pergerakan air tanah ini salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode
sumur banyak. Pada metode ini radiotracer diinjeksikan ke dalam sumur yang
berada di tengah-tengah, dengan demikian radiotracer tersebut akan larut dan kemudian
bercampur dengan air tanah. Radiotracer yang terlarut selanjutnya akan terbawa
ke manapun air tanah mengalir.
Dengan mencacah intensitas radiasi
pada air tanah di sumur-sumur lain yang ada di sekelilingnya, maka arah gerakan
air tanah di tempat tersebut dapat dengan mudah ditentukan, yakni dengan cara
mengetahui ada atau tidaknya radiotracer yang terlarut dalam air. Dalam hal
ini, radiotracer hanya akan ditemukan pada air tanah di sumur-sumur tertentu
saja, ini artinya arah aliran air tanah akan menuju sumur yang air tanahnya
mengandung radiotracer yang sebelumnya diinjeksikan. Selain mengetahui gerakan
air tanah, teknik perunut ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan
aliran air tanah dan permeabilitasnya.
Pengukuran Kadar Air Tanah
Banyak alat-alat konvensional yang
dirancang khusus untuk mengukur kadar air, namun jarang ada alat yang dapat
melakukan pengukuran dengan teliti dan cepat, dapat dilakukan di tempat, tidak
merusak dan alatnya dapat dibawa-bawa (portable). Salah satu metode yang
dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut adalah dengan menggunakan neutron.
Penggunaan neutron telah banyak
dimanfaatkan oleh para ahli di bidang teknik sipil, agronomi dan hidrologi
untuk pengukuran kadar air dalam tanah serta kepadatan tanah, aspal dan beton.
Data-data hasil pengukuran tersebut kemudian akan digunakan untuk merancang
pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul dan lain sebagainya. Sedang
dalam bidang industri dan laboratorium, neutron dapat digunakan untuk
pengukuran berbagai hasil akhir dan penelitian.
Teknik pengukuran kadar air tanah
dengan teknik hamburan neutron (sumber : BATAN)
Karena sederhana, alat pengukur
kadar air dengan neutron ini diminati oleh berbagai pihak. Di dalam alat ini
terdapat suatu sumber neutron cepat. Proses kerja alat ini adalah dengan
memanfaatkan hasil tumbukan antara neutron cepat dengan atom hidrogen yang
terdapat di dalam molekul air. Peristiwa tumbukan ini akan menghasilkan
neutron-neutron termik. Jumlah neutron termik yang terbentuk akan ditangkap oleh
pemantau neutron. Dimana hasil cacahan neutron yang terbaca akan sebanding
dengan jumlah air yang terkandung di dalam bahan.
Penentuan Gerakan Sedimen
Proses pendangkalan pelabuhan
merupakan proses alamiah yang tidak dapat dicegah. Jika pelabuhan dangkal,
kapal-kapal besar tidak akan dapat merapat ke dermaga, sehingga proses bongkar
muat barang dapat terganggu. Sedangkan proses pengerukan endapan memerlukan
biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu, pendangkalan pada suatu pelabuhan dan
alur pelayaran merupakan masalah yang sangat serius karena menyangkut
kelangsungan pelayanan perhubungan laut.
Salah satu cara yang dapat ditempuh
untuk memperkecil kecepatan pendangkalan pelabuhan maupun alur pelayaran oleh
sedimen adalah dengan mengetahui perilaku sedimen, yaitu menentukan dari mana
asal dan kemana arah gerakan sedimen tersebut. Data mengenai arah pergerakan
sedimen dapat digunakan untuk perencanaan penentuan posisi dan arah alur
pelayaran serta menentukan tempat untuk pembuangan endapan hasil pengerukan agar
tidak kembali ke tempat semula. Semua usaha ini akan dapat mengurangi laju
pendangkalan sehingga frekwensi pengerukan bisa dikurangi dan biaya untuk
pengerukan bisa dihemat.
Teknik pelaksanaan penentuan arah
gerakan sedimen dilakukan dengan menandai sedimen yang diambil di pelabuhan
dengan radioisotop seperti 51Cr, 198Au dan 46Sc
atau membuat endapan tiruan yang bersifat radioaktif seperti pelapisan lumpur
dengan zat radioaktif atau pasir tiruan yang diaktifkan (pasir ini dibuat dari
gelas yang mengandung radioisotop 192Ir dan 46Sc).
Sedimen radioaktif tersebut selanjutnya dilepaskan ke dasar laut di daerah yang
diselidiki. Endapan radioaktif ini nantinya akan mengikuti gerak endapan asli.
Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari arah, kecepatan dan penyebaran
lumpur ataupun pasir yang berperan dalam proses pendangkalan pelabuhan.
Pengamatan tersebut dapat dilakukan menggunakan pemantau radiasi dari permukaan
laut atau di atas kapal. Selain itu, studi ini juga dapat dipakai untuk
mengetahui efisiensi transpot sedimen dan erosi.
Mempelajari arah gerak sedimen
dengan perunut radioisotop (sumber : IAEA)
Penentuan Kebocoran Bendungan
Teknik perunut radioisotop juga
dapat digunakan untuk menentukan letak kebocoran atau rembesan suatu bendungan
atau dam. Teknik penentuan dilakukan dengan cara melepaskan radioisotop pada
tempat tertentu di ireservoir (air dam) yang dicurigai sebagai lokasi
kebocoran/rembesan. Radioisotop akan larut dan bercampur dengan ait sehingga
apabila terjadi kebocoran pada bendungan, air yang telah bercampur dengan
radioisotop akan masuk dan bergerak mengikuti arah perembesan. Dengan melakukan
pengukuran tingkat radioaktivitas air yang keluar melalui mata air maupun
sumur-sumur pengamatan di daerah rembesan, maka adanya rembesan beserta arahnya
dapat diketahui.
Penentuan laju Erosi
Peristiwa erosi dapat disebabkan
baik oleh angin maupun air. Namun sebagian besar kasus erosi tanah umumnya
disebabkan oleh air hujan. Dengan menandai tanah yang dipelajari dengan
radioisotop, maka laju erosi tanah oleh air hujan dapat dipelajari dengan
teliti. Setelah terkena air hujan, aktivitas radioisotop dalam tanah akan
berkurang. Dengan cara membandingkan aktivitas radioisotop dalam tanah antara
sebelum dan setelah terkena air hujan, maka laju erosi tanah dapat diketahui.
Deteksi Kebocoran dan Sumbatan Pipa
Bawah Tanah
Mencari
kebocoran dan sumbatan pipa di bawah tanah merupakan pekerjaan besar dan tidak
sederhana. Dengan teknik perunut radioisotop, pekerjaan yang membutuhkan tenaga
besar tersebut ternyata dapat disederhanakan. Pemeriksaan kebocoran pipa di
bawah tanah dengan perunut radioisotop dapat dilakukan langsung dari permukaan
tanah di atas pipa, tanpa perlu dilakukan penggalian. Metode pemeriksaan yang
dilakukan adalah dengan menginjeksikan perunut radioisotop ke dalam aliran.
Pergerakan radioisotop tersebut di dalam pipa dapat diikuti dari atas tanah
menggunakan pemantau radiasi. Tempat yang memberikan hasil cacahan radiasi yang
tinggi mengindikasikan telah terjadi kebocoran di tempat tersebut. Untuk
menenukan letak sumbatan dalam pipa, sebuah polipig berisi radioisotop
dimasukkan ke dalam pipa. Arah pergerakan polipig tersebut dapat diikuti dengan
pemantau radiasi dari luar pipa. Polipig akan berhenti di tempat terjadinya
sumbatan. http://id.shvoong.com/exact-sciences/engineering/2322/aplikasi
sinar radioaktif#ixzz2Kgn1pGfd
2.6.5 Bidang Industri
Penggunaan
Radioisotop dalam Bidang Industri
Di negara-negara maju penggunaan dan penerapan keradioaktifan telah dilakukan dalam berbagai bidang. Radioisotop adalah isotop suatu unsur yang radioaktif yang memancarkan sinar radioaktif. Isotop suatu unsur baik yang stabil maupun yang radioaktif memiliki sifat kimia yang sama.
Penggunaan radiosotop dapat dibagi kedalam penggunaan sebagai perunut dan penggunaan sebagai sumber radiasi. Sebagai perunut radioisotop digunakan untuk mengikuti unsur dalam suatu proses yang menyangkut senyawa atau sekelompok senyawa. Radioisotop dapat digunakan sebagai sumber sinar sebagai pengganti sumber lain seperti sumber sinar X.
Oleh karena isotop memiliki sifat kimia yang sama, kita tidak dapat membedakan antara garam 23 NaCl dan 24 NaCl secara kimia dalam suatu proses, misalnya dalam proses pengendapan AgCl jika ditambah garam AgNO3. Akan tetapi karena isotop 24 Na bersifat radiokatif, proses pengendapan ini dapat diikuti dengan mendeteksi sinar radioaktif yang dipancarkan. Teknik ini disebut teknik perunut. Radioisotop dapat digunakan sebagai perunut sebab sinar yang dipancarkan dan energi sinar serta waktu paruhnya merupakan sifat khas radioisotop tersebut. Pada contoh dibawah ini akan diberikan beberapa contoh penggunaan radioisotop baik sebagai perunut maupun sebagai sumber radiasi.
Di negara-negara maju penggunaan dan penerapan keradioaktifan telah dilakukan dalam berbagai bidang. Radioisotop adalah isotop suatu unsur yang radioaktif yang memancarkan sinar radioaktif. Isotop suatu unsur baik yang stabil maupun yang radioaktif memiliki sifat kimia yang sama.
Penggunaan radiosotop dapat dibagi kedalam penggunaan sebagai perunut dan penggunaan sebagai sumber radiasi. Sebagai perunut radioisotop digunakan untuk mengikuti unsur dalam suatu proses yang menyangkut senyawa atau sekelompok senyawa. Radioisotop dapat digunakan sebagai sumber sinar sebagai pengganti sumber lain seperti sumber sinar X.
Oleh karena isotop memiliki sifat kimia yang sama, kita tidak dapat membedakan antara garam 23 NaCl dan 24 NaCl secara kimia dalam suatu proses, misalnya dalam proses pengendapan AgCl jika ditambah garam AgNO3. Akan tetapi karena isotop 24 Na bersifat radiokatif, proses pengendapan ini dapat diikuti dengan mendeteksi sinar radioaktif yang dipancarkan. Teknik ini disebut teknik perunut. Radioisotop dapat digunakan sebagai perunut sebab sinar yang dipancarkan dan energi sinar serta waktu paruhnya merupakan sifat khas radioisotop tersebut. Pada contoh dibawah ini akan diberikan beberapa contoh penggunaan radioisotop baik sebagai perunut maupun sebagai sumber radiasi.
Contoh
penggunaan radioisotop antara lain digunakan dalam bidang :
1. Kimia
2. Kedokteran
3. Pertanian
4. Industri
Pada makalah ini pemakalah hanya akan membatasi pembahasan mengenai penggunaan radioisotop dalam bidang industri. Penggunaan radioisotop dalam bidang industri antara lain
1. Untuk mendeteksi kebocoran pipa.
Radioisotop digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa yang ditanam di dalam tanah atau dalam beton dengan memasukannya ke dalam aliran pipa kebocoran pipa sehingga dapat dideteksi tanpa penggalian tanah atau pembongkaran beton.
2. Untuk menentukan kehausan atau keroposan yang terjadi pada bagian pengelasan atau logam.
Jika bagian pengelasan atau logam ini disinari dengan sinar gamma dan dibalik bahan itu diletakkan film foto maka pada bagian yang terdapat kehausan atau kekeroposan akan memberikan gambar yang tidak merata.
3. Untuk mengetahui adanya cacad pada material
Pada bidang industri aplikasi baja perlu dianggap bahwa semua bahan selalu mengandung cacad. Cacad dapat berupa cacad bawaan dan cacad yang terjadi akibat penanganan yang tidak benar. Cacad pada material merupakan sumber kegagalan dalam industri baja.
Penyebab timbulnya cacad pada material, meliputi desain yang tidak tepat, proses fabrikasi dan pengaruh lingkungan. Desain yang tidak tepat meliputi pemilihan bahan, metode pengerjaan panas yang tidak tepat dan tidak dilakukannya uji mekanik. Proses fabrikasi meliputi keretakan karena penggrindaan, cacad proses fabrikasi dan cacad pengelasan. Kondisi operasi lingkungan meliputi korosi. Untuk mengetahui adanya cacad pada material maka digunakan suatu pengujian material tak merusak yang salah satunya adalah dengan metode radiografi sinar gamma.
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak yang selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan kualitas dari produk yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan menggunakan sumber radiasi (sinar-x atau sinar gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai perekam gambar yang dihasilkan. Radiasi melewati benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji. Sinar yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan pada bagian belakang dari benda uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap maka film tersebut dapat dievaluasi. Bila terdapat cacad pada benda uji maka akan diamati pada film radiografi dengan melihat perbedaan kehitaman atau densitas.
Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada ketebalan benda yang diperlukan karena daya tembus sinar gamma terhadap material berbeda. Pada sumber pemancar sinar gamma tergantung besar aktivitas sumber. Sedangkan pemilihan tipe film sangat mempengaruhi pemeriksaan kualitas material. Film digunakan untuk merekam gambar material yang diperiksa. Pemilihan tipe film yang benar akan menghasilkan kualitas hasil radiografi yang sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film, yaitu film cepat dan film lambat. Pada film cepat butir-butirannya besar, kekontrasan dan definisinya kurang baik. Sedangkan pada film lambat butir-butirannya kecil, kekontrasan dan definisinya lebih baik. Penentuan jarak sumber ke film (SFD) juga mempengaruhi hasil kualitas film radiografi. Penghitungan SFD yang tidak benar mempengaruhi tingkat kehitaman atau density hasil film radiografi sehingga akan mempengaruhi tingkat sensitivitas atau tingkat ketelitian.
4. Digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak.
Teknik radiografi merupakan teknik yang sering dipakai terutama pada tahap-tahap konstruksi. Pada sektor industri minyak bumi, teknik ini digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak. Selain bagianbagian konstruksi besi yang dianggap kritis, teknik ini digunakan juga pada uji kualitas las dari ketel uap tekanan tinggi serta uji terhadap kekerasan dan keretakan pada konstruksi beton. Radioisotop yang sering digunakan adalah kobal-60 (60Co). Dalam bidang industri, radioisotop digunakan juga sebagai perunut misalnya untuk menguji kebocoran cairan/gas dalam pipa serta membersihkan pipa, yang dapat dilakukan dengan menggunakan radioisotop iodoum-131 dalam bentuk senyawa CH3131l. Radioisotop seng-65 (65Zn) dan fosfor-32 merupakan perunut yang sering digunakan dalam penentuan efisiensi proses industri, yang meliputi pengujian homogenitas pencampuran serta residence time distribution (RTD). Sedangkan untuk kalibrasi alat misalnya flow meter, menentukan volume bejana tak beraturan serta pengukuran tebal material, rapat jenis dan penangkal petir dapat digunakan radioisotop kobal-60, amerisium-241 (241Am) dancesium-137(137Cs).
1. Kimia
2. Kedokteran
3. Pertanian
4. Industri
Pada makalah ini pemakalah hanya akan membatasi pembahasan mengenai penggunaan radioisotop dalam bidang industri. Penggunaan radioisotop dalam bidang industri antara lain
1. Untuk mendeteksi kebocoran pipa.
Radioisotop digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa yang ditanam di dalam tanah atau dalam beton dengan memasukannya ke dalam aliran pipa kebocoran pipa sehingga dapat dideteksi tanpa penggalian tanah atau pembongkaran beton.
2. Untuk menentukan kehausan atau keroposan yang terjadi pada bagian pengelasan atau logam.
Jika bagian pengelasan atau logam ini disinari dengan sinar gamma dan dibalik bahan itu diletakkan film foto maka pada bagian yang terdapat kehausan atau kekeroposan akan memberikan gambar yang tidak merata.
3. Untuk mengetahui adanya cacad pada material
Pada bidang industri aplikasi baja perlu dianggap bahwa semua bahan selalu mengandung cacad. Cacad dapat berupa cacad bawaan dan cacad yang terjadi akibat penanganan yang tidak benar. Cacad pada material merupakan sumber kegagalan dalam industri baja.
Penyebab timbulnya cacad pada material, meliputi desain yang tidak tepat, proses fabrikasi dan pengaruh lingkungan. Desain yang tidak tepat meliputi pemilihan bahan, metode pengerjaan panas yang tidak tepat dan tidak dilakukannya uji mekanik. Proses fabrikasi meliputi keretakan karena penggrindaan, cacad proses fabrikasi dan cacad pengelasan. Kondisi operasi lingkungan meliputi korosi. Untuk mengetahui adanya cacad pada material maka digunakan suatu pengujian material tak merusak yang salah satunya adalah dengan metode radiografi sinar gamma.
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak yang selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan kualitas dari produk yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan menggunakan sumber radiasi (sinar-x atau sinar gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai perekam gambar yang dihasilkan. Radiasi melewati benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji. Sinar yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan pada bagian belakang dari benda uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap maka film tersebut dapat dievaluasi. Bila terdapat cacad pada benda uji maka akan diamati pada film radiografi dengan melihat perbedaan kehitaman atau densitas.
Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada ketebalan benda yang diperlukan karena daya tembus sinar gamma terhadap material berbeda. Pada sumber pemancar sinar gamma tergantung besar aktivitas sumber. Sedangkan pemilihan tipe film sangat mempengaruhi pemeriksaan kualitas material. Film digunakan untuk merekam gambar material yang diperiksa. Pemilihan tipe film yang benar akan menghasilkan kualitas hasil radiografi yang sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film, yaitu film cepat dan film lambat. Pada film cepat butir-butirannya besar, kekontrasan dan definisinya kurang baik. Sedangkan pada film lambat butir-butirannya kecil, kekontrasan dan definisinya lebih baik. Penentuan jarak sumber ke film (SFD) juga mempengaruhi hasil kualitas film radiografi. Penghitungan SFD yang tidak benar mempengaruhi tingkat kehitaman atau density hasil film radiografi sehingga akan mempengaruhi tingkat sensitivitas atau tingkat ketelitian.
4. Digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak.
Teknik radiografi merupakan teknik yang sering dipakai terutama pada tahap-tahap konstruksi. Pada sektor industri minyak bumi, teknik ini digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak. Selain bagianbagian konstruksi besi yang dianggap kritis, teknik ini digunakan juga pada uji kualitas las dari ketel uap tekanan tinggi serta uji terhadap kekerasan dan keretakan pada konstruksi beton. Radioisotop yang sering digunakan adalah kobal-60 (60Co). Dalam bidang industri, radioisotop digunakan juga sebagai perunut misalnya untuk menguji kebocoran cairan/gas dalam pipa serta membersihkan pipa, yang dapat dilakukan dengan menggunakan radioisotop iodoum-131 dalam bentuk senyawa CH3131l. Radioisotop seng-65 (65Zn) dan fosfor-32 merupakan perunut yang sering digunakan dalam penentuan efisiensi proses industri, yang meliputi pengujian homogenitas pencampuran serta residence time distribution (RTD). Sedangkan untuk kalibrasi alat misalnya flow meter, menentukan volume bejana tak beraturan serta pengukuran tebal material, rapat jenis dan penangkal petir dapat digunakan radioisotop kobal-60, amerisium-241 (241Am) dancesium-137(137Cs).
5.
Pemeriksaan tanpa merusak.
Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam atau
sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tehnik ini berdasarkan sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam merata atau ada bagian-bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang berongga itu film akan lebih hitam.
6. Mengontrol ketebalan bahan
Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau lempeng logam
dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima detektor akan berkurang dan mekanisme alat akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat dipertahankan.
7. Pengawetan bahan.
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang-barang seni dan lainlain. Radiasi juga dapat menningkatkan mutu tekstil karena inengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan lebih lama.
Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam atau
sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tehnik ini berdasarkan sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam merata atau ada bagian-bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang berongga itu film akan lebih hitam.
6. Mengontrol ketebalan bahan
Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau lempeng logam
dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima detektor akan berkurang dan mekanisme alat akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat dipertahankan.
7. Pengawetan bahan.
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang-barang seni dan lainlain. Radiasi juga dapat menningkatkan mutu tekstil karena inengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan lebih lama.
2.6.6 Bidang Biologi
Pemanfaatan Radioisotop Dalam Bidang
Biologi
Dalam bidang biologi, radioisotop dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis. Radioisotop ini, berupa karbon-14 (C-14) atau oksigen-18 (O-18). Keduanya dapat digunakan untuk mengetahui asal-usul atom oksigen (dari CO2 atau dari H2O) yang akan membentuk senyawa glukosa atau oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis (Sutresna, 2007 dan Abdul Jalil Amri Arma, 2009).
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Kegunaan lain radioisotop dalam bidang biologi sebagai berikut.
1) Mempelajari proses penyerapan air serta sirkulasinya di dalam batang tumbuhan.
2) Mempelajari pengaruh unsur-unsur hara selain unsur-unsur N, P, dan K terhadap perkembangan tumbuhan.
3) Memacu mutasi gen tumbuhan dalam upaya mendapatkan bibit unggul.
4) Mempelajari kesetimbangan dinamis.
5) Mempelajari reaksi pengeseran
Dalam bidang biologi, radioisotop dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis. Radioisotop ini, berupa karbon-14 (C-14) atau oksigen-18 (O-18). Keduanya dapat digunakan untuk mengetahui asal-usul atom oksigen (dari CO2 atau dari H2O) yang akan membentuk senyawa glukosa atau oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis (Sutresna, 2007 dan Abdul Jalil Amri Arma, 2009).
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Kegunaan lain radioisotop dalam bidang biologi sebagai berikut.
1) Mempelajari proses penyerapan air serta sirkulasinya di dalam batang tumbuhan.
2) Mempelajari pengaruh unsur-unsur hara selain unsur-unsur N, P, dan K terhadap perkembangan tumbuhan.
3) Memacu mutasi gen tumbuhan dalam upaya mendapatkan bibit unggul.
4) Mempelajari kesetimbangan dinamis.
5) Mempelajari reaksi pengeseran
2.6.7 Bidang Peternakan
Pemanfaatan teknik perunut
untuk peternakan berdasarkan sifat pengaplikasiannya dibagi menjadi dua, yaitu
pemanfaatan yang bersifat in vivo dan in vitro. Aplikasi perunut secara in vivo
bertujuan untuk menggambarkan proses biologi yang terjadi di lingkungan asalnya
atau langsung menggunakan hewan ternak. Yang perlu diperhatikan adalah waktu
paruh biologis, yaitu waktu yang diperlukan (radio) isotop untuk keluar atau
diekskresikan keluar tubuh. Sedangkan aplikasi perunut secara in vitro
bertujuan untuk menggambarkan proses biologi yang terjadi di luar tubuh hewan,
tetapi di laboratorium. Yang perlu diperhatikan adalah waktu paruh fisika,
yaitu waktu yang diperlukan oleh radioisotop untuk meluruh hingga mencapai
separuh aktivitasnya.
Analisis secara in vitro menggunakan isotop P-32, S-35, dan C-14 sebagai perunut radioisotop untuk mengukur sejumlah parameter. Isotop P-32dan S-35 digunakan untuk mengukur sintesa protein mikroba di dalam rumen, sedangkan C-14 untuk mengukur efisiensi pemanfaatan energi oleh mikrobarumen. Saat ini teknologi UMMB telah banyak diterapkan di berbagai daerah sebagai hasil introduksi teknologi melalui kerja sama litbang, koperasi, peternak langsung dan iptekda.
2.6.8 Dalam Bidang Pertambangan
Tritium radioaktif dan cobalt 60
digunakan untuk merunut alur-alur minyak bawah tanah dan kemudian menentukan
srategi yang paling baik untuk menyuntikkan air ke dalam sumur-sumur. Hal ini
akan memaksa keluar minyak yang tersisa di dalam kantung-kantung yang
sebelumnya belum terangkat. Berjuta-juta barrel tambahan minyak mentah telah
diperoleh dengan cara ini.
Pemanfaatan Radioisotop Untuk Penanggalan Karbon
Penanggalan karbon merupakan fungsi radioisotop untuk menentukan umur suatu senyawa organik, misalnya untuk menentukan umur fosil. Radioisotop yang digunakan adalah karbon-14 (C-14).
Penanggalan karbon merupakan fungsi radioisotop untuk menentukan umur suatu senyawa organik, misalnya untuk menentukan umur fosil. Radioisotop yang digunakan adalah karbon-14 (C-14).
2.6.9 Pembangkit Tenaga Listrik
Reaksi inti mengahsilkan energi yang sangat besar. Pada pembangkit tenaga nuklir (PLTN), energi inti digunakan untuk memanaskan air sehingga terbentuk uapa. Kemudian, uap in digunakan untuk mengerakkan turbin. Peregerakan turbin merupakan energi mekanik yang dapat memberi kemampuan generator untuk mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi listrik. Pada PLTN, reaksi inti berlangsung terkendali di dalam suatu reaktor nuklir.
Reaksi inti mengahsilkan energi yang sangat besar. Pada pembangkit tenaga nuklir (PLTN), energi inti digunakan untuk memanaskan air sehingga terbentuk uapa. Kemudian, uap in digunakan untuk mengerakkan turbin. Peregerakan turbin merupakan energi mekanik yang dapat memberi kemampuan generator untuk mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi listrik. Pada PLTN, reaksi inti berlangsung terkendali di dalam suatu reaktor nuklir.
2.7 Alat Pendeteksi Radioaktif
2.7.1 Detektor Kamar Kabut
Jika udara didinginkan sehingga
uap mencapai keadaan jenuh, maka udara itu masihdapat didinginkan tanpa
terjadi pengembunan. Pada keadaan ini, uap dinamakan
superjenuh
.
Keadaan superjenuh ini akan terjadi hanya jika udara bebas dari debu
atau partikel-partikel garam yang
dapat bertindak sebagai inti pengembunansehingga membentuk tetes-tetes
kabut.Pada tahun 1911, Wilson menemukan bahwa ion-ion gas dapat juga bertindaksebagai inti pengembunan. Kemudian gejala ini digunakan untuk menunjukkanlintasan-lintasan
radiasi ionisasi melalui udara.Sebuah sumber radioaktif memancarkan
partikel-partikel dalam sebuah kamar udarayang jenuh dengan uap
air dan alkohol. Ketika partikel-partikel ini melalui
udara,mereka bertumbukan dengan molekul-molekul udara.
Tumbukan ini mengakibatkanterjadinya ionisasi,
sehingga meninggalkan jejak ion positif dan negatif. Jika tekanandalam kamar
dikurangi dengan cara memompa sebagian udara keluar, maka
udaramenjadi lebih dingin. Keadaan ini memungkinkan partikel-partikel uap
superjenuhmengembun pada ion-ion tersebut, sehingga jejak tetes-tetes uap
sepanjang lintasanion-ion dapat terlihat.Bentuk jejak kabut yang dihasilkan
dalam kamar kabut bergantung pada partikel-partikel radioaktif yang
digunakan.Uap (alkohol) jenuh diembunkan pada ionion udara yang ditimbulkan
olehradiasi. Akibatnya, terlihat garis putih dari tetesan-tetesan zat cair yang
sangat kecil,yang merupakan jejak lintasan dalam kamar tersebut, asal diterangi
dengan tepat.Perlu dicatat, bahwa yang kita lihat hanyalah jejak lintasan,
bukan radiasi yangmenimbulkan ionisasi. terdapat tiga jenis kamar kabut yaitu :a.
Expansion cloud chamber (kamar kabutpemuaian)b. Diffusion cloud chamber (kamar
kabutdiffusi)c. Bubble chamber (kamar gelembung)Pada bubble chamber radiasi
yang mengionkan akan mennggalkan jejak berupagelembung-gelembung didalam
hidrogen cair.
2.7.2 Pencacah Geiger – Muller
adalah sebuah alat pengukur radiasi
ionisasi.Pencacah Geiger bisa digunakan untuk mendeteksi radiasi alpha dan
beta. Sensornya adalah sebuah tabung Geiger-Müller,sebuah tabung yang diisi
oleh gas yang akan bersifat konduktor ketika partikel atau foton radiasi menyebabkan gas (umumnya Argon)
menjadi konduktif. Alat tersebut akan membesarkan sinyal dan menampilkan pada
indikatornya yang bisa berupa jarum penunjuk, lampu atau bunyi klik dimana satu
bunyi menandakan satu partikel. Pada kondisi tertentu, pencacah Geiger dapat
digunakan untuk mendeteksi radiasi gamma,walaupun tingkat reliabilitasnya
kurang. Pencacah geiger tidak bisa digunakan untuk mendeteksineutron.
Prinsip kerja :
- Terdapat dua elektrode yang dipasang
pada alat ini.
- Tabung silindris sebagai katode dan
sebagai onade di gunakan kawat. Gas yang digunakan adalah gasargonpada
tekanan 100 mmHg + Chlorin.
- Jika tabung menangkap partikel dari
radiasi luar gas argon akan terionisasimenjadi ion positif dan negatif. Ion
negatif ditarik menuju ke anode.
- Selama perjalanan, ion ini juga akan
mengionisasi gas argon.
- Terjadilah banyak sekali ion pada
ruang tersebut sehingga terjadi arus listrik yang cukup besar
2.7.3 Elektrosop Ultra
Prinsipkerja:
Partikel yang dipancarkan oleh unsur radioaktif masuk ke dalam kamar ionisasi,gas
yang ada di kamar tersebut akan
terion.- Ion-ion positif akan di tarik oleh elektrode negatif, sebaliknya ion negatif akan ditarik
oleh elektrode positif.-
Akibat adanya muatan yang sejenis pada elektrode positif, “daun” tersebut akandideteksi
oleh rangkaian elektronik
2.7.4 Detektor Sintilasi
Detektor sintilasi selalu terdiri dari
dua bagian yaitu bahan sintilator dan photomultiplier. Bahan sintilator
merupakan suatu bahan padat, cair maupun gas, yang akan menghasilkan percikan
cahaya bila dikenai radiasi pengion. Photomultiplier digunakan untuk mengubah
percikan cahaya yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik.
Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua
tahap yaitu :
proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di dalam bahan sintilator dan proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung photomultiplier.Di dalam kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Pada keadaan dasar, ground state, seluruh elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Ketika terdapat radiasi yang memasuki kristal, terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga dapat meloncat ke pita konduksi. Beberapa saat kemudian elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan aktivator sambil memancarkan percikan cahaya.
proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di dalam bahan sintilator dan proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung photomultiplier.Di dalam kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Pada keadaan dasar, ground state, seluruh elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Ketika terdapat radiasi yang memasuki kristal, terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga dapat meloncat ke pita konduksi. Beberapa saat kemudian elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan aktivator sambil memancarkan percikan cahaya.
2.8 Bahaya Sinar Radioaktif
2.8.1 Bahaya Sinar Radioaktif Bagi Kehidupan
Dampak atau efek sinar radio aktif
pada manusia. Radiasi sinar radio
aktif ternyata sangat berbahaya karena radiasi sinar radio aktif
konon dapatmengubah kinerja gen. Gen adalah bagian terkecil dari
tubuh yang didesain untuk tugas yang spesifik. Gen pada setiap manusia juga
mempunyai ciri yang spesifik, walaupun gen tersebut bekerja pada bagian yang
sama. Berdasarkan dari segi cepat atau lambatnya penampakan efek biologis
akibat radiasi radioaktif ini, efek radiasi dibagi menjadi seperti berikut.
1.
Efek segera
Efek
ini muncul kurang dari satu tahun sejak penyinaran. Gejala yang biasanya muncul
adalah mual dan muntah muntah, rasa malas dan lelah serta terjadi perubahan jumlah
butir darah.
2.
Efek tertunda
Efek
ini muncul setelah lebih dari satu tahun sejak penyinaran. Efek tertunda ini
dapat juga diderita oleh turunan dari orang yang menerima penyinaran.
Misalnya gen untuk rambut Si A berbeda
dengan gen untuk rambut si B. Makanya dengan teknologi yang semakin canggih
seperti sekarang ini, polisi bisa menangkap seorang pelaku kejahatan hanya dari
sehelai rambut yang tertinggal dilokasi kejadian.Kembali lagi ke Gen yang kinerjanya spesifik. Gen
untuk rambut kepala bekerja agar rambut bisa memanjang, berwarna hitam,
keriting dan sebagainya. Gen untuk bulu mata hanya bisa memanjangkan bulu mata
sampai batas tertentu (kurang dari 1 cm), lurus dan sebagainya. Gen untuk gigi
akan bekerja sedemikian rupa sehingga gigi panjangnya terbatas, warnanya putih,
keras dan sebagainya. Ketika seseorang terkena sinar radio aktif maka seseorang
itu akan mengalami perubahan gen. Akibatnya orang tersebut bisa terkena
penyakit kanker,penyakit kulit, mandul, cacat tubuh, kerusakan
otak dan penyakit lainnya tergantung dari gen yang diserang.
http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/08/bahaya-sinar-rdioaktif-pada-manusia.html
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan
diatas, dapat diketahui bahwa sinar radioaktif adalah suatu bentuk energi yang
dipancarkan oleh atom atau molekul.Sinar-sinar yang tidak setabil, diantaranya
yaitu partikel Alfa,Beta dan Gamma. Selain itu banyak sekali pemanfaatan sinar
radioaktif ,seperti dalam bidang
kesehatan,pertanian,hidrologi,biologi,kimia,industry,dan lain-lain. Namun
selain itu ada beberapa bahaya dari sinar radioaktif dapat diketahui yaitu
dapat menyebabkan kelainan gen yang dapat bersifat menurun, penyebab kanker,
ledakan-ledakan yang besar,dan lain-lain. Jadi sinar radioaktif memiliki dampak
positif namun juga memiliki dampak negatif bagi kehidupan.
3.2 Kritik dan Saran
Kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu kami sangat
mengharapkan adanya kritik maupun saran yang sifatnya membangun .Kami harap
dengan adanya kritik maupun saran tersebut,makalah ini akan lebih sempurna dan
akhirnya dapat damanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Daftar
Pustaka
Sumber :
http://www. kumpulblogger.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar