Belum Jadi Sudah Bikin Hepi
(Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung)
oleh: Ahmad Khoirul Anam
(Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung)
oleh: Ahmad Khoirul Anam
Masih
dengan keterbatasanku tentang kepemilikan Smartphone,
ternyata dampaknya lumayan terasa. Kali ini adalah gara-gara belum memiliki
Smartphone, aku menjadi ketinggalan informasi tentang keberadaan destinasi
wisata baru di Tulungagung. Tidak heran lagi, di zaman yang serba Smartphone ini informasi apapun banter atau cepat sekali menyebar tidak terkecuali Jalur
Lintas Selatan ( JLS ) Tulungagung pun luput dari kecanggihan teknologi.
Keberadaan tempat ini mulai menyebar ke dunia maya atau internet ketika ada
pengunjung yang mengambil gambar dan mengunggahnya. Ini sebenarnya masih
simpang siur, sampai saat ini sejauh pengamatanku mengenai JLS masih belum
mengetahui siapa pengunjung yang kali pertama mengunggah foto JLS ke internet.
Menurut beberapa informan yang sempat aku gali informasinya ialah bahwa awal
ketenaran JLS lewat unggahan foto di sosial media. Beberapa informan
menjelaskan bahwa begitu cepat sekali
berita tersebut menyebar dan akhirnya menjadi terkenal serta menarik animo
masyarakat untuk mengunjunginya. Any way terkait
menyebarnya berita tentang JLS di sosial media, tentu sudah jelas dengan berat
hati mengakui bahwa aku lagi-lagi ketinggalan informasi karena jarang mengakses
sosial media. Informasi tentang JLS hanya berlalu lalang di telingaku lewat
teman-teman rumah, tetangga, dan yang paling menjengkelkan ialah adikku yang
dengan bangga membuat pengakuan telah berkunjung sebanyak 3 kali di bulan
Desembar 2015.
Perkenalkan adikku bernama Mohamad
Ma’ruviyan. 17 tahun, duduk di bangku SMA. Seperti kebanyakan remaja labi lpada umumnya, dia
gemar sekali dolan yang menurutku tidak penting. Sering kudapati
dia jalan bareng dengan teman-teman hurug-hurugnya
ngetrip tidak karuan ke berbaggai tempat wisata. Hurug-hurug merupakan
sebutan gemesku terhadaap teman-teman
adikku yang memang mayoritas suara motornya bisa membuat telinga orang normal
terganggu. Sangat bising benar menurutku. Melalui tulisan ini pula aku mengaku
kalah dengan adikku dalam beberapa hal. Adikku telah lebih banyak mengetahui
tempat-tempat wisata karena sering dolan.
Masalah smartphone dia juga lumayan play boy. Dua kasus ini yang terkadang membuatku merasa sedih,
karena sangat bertolak belakang denganku. Mengenai pengetahuan tentang tempat
wisata sudah jelas diriku masih sangat polos. Apalagi masalah smartphone, seratus persen aku sangat
setia dengan hp jadulku. Menurutku pembaca jangan ikut berlarut dalam kesedihan
ini. Cukup diriku sja yang meratapinya.
Tahun baru 2016 menjadi momen tak
terlupakan. Jika sebelumnya gambaran mengenai JLS Tulungagung hanya terdengar
di telingaku lewat orang lain, akhirnya tepat 1 Januari 2016 aku akan segera
bisa melihat dan menikmati pemandangan JLS Tulungagung yang menurut orang-orang
sangat bagus dan menarik. Momentum liburan semester ganjil dan tahun baru
seolah-olah menjadi instrumen penting yang mempertemukan aku dengan ketiga
teman-temanku. Pasalnya kami berempat hampir 3 bulan agak penuh tidak saling
bertemu. Ruli, begitu
sapaannya, namun sering dipanggil Jolobos.
Dia merupakan temanku SMA yang berasal dari desa sebelah, cukup dekat
dengan desa tempat tinggalku yaitu Desa Ngebong. Jolobos saat ini menekuni studinya di Universitas Negeri Malang
(UM). Mengambil jurusan Ilmu Olahraga. Badannya yang atletis sangat cocok
dengan jurusan yang di ambilnya. Setiap kali ada orang yang menanyainya,” Ruli
kuliah ambil apa?”. Dengan tegas dia menjawab,” Tentu ambil Olahraga dong”. Pun
dengan aku jika ditanya,” Anam kuliah ambil apa?”. Pasti kujawab dengan tidak
kalah tegas pula,” Aku kuliah
ambil
hikmahnya saja”.
Temanku yang kedua bernama Mardian.
Saat ini menggeluti teknik informatika dan broadcasting di Universitas Nusantara
PGRI (UNP) Kediri. Sejak SMA memang dia telah menunjukkan bakatnya pada dunia
elektronika baik mengotak-atik sistem komputer, handphone, dan sejenisnya. Teman berikutnya yang kebetulan ikut ke
JLS adalah Bima alias Panjul. Pemuda berotot kekar ini sedang izin cuti dari
sebuah Lembaga Pembentukan Fisik di Cimahi Jawa Barat. Sejak tinggal cukup lama di
Tanah Sunda, dia cukup hobi menceritakan betapa cantik dan ayunya cewek-cewek sunda. Tentu kami bertiga
hanya bisa tertegun, karena kami memang masih terlalu polos untuk urusan cewek cantik. Tiga bulan tidak saling
bertemu membuat kami terlarut dalam suasana kangen dan akhirnya tercetuslah ide
untuk mengunjungi JLS Tulungagung. Hal yang menarik ialah ketika semua dari
kami mayoritas belum sekali pun menyempatkan diri mengunjungi JLS, kecuali Mardian. Tapi
alasan kedua temanku cukup terhormat yaitu karena mereka sering di luar kota. Sedangkan
diriku adalah gara-gara ketinggalan informasi. Lagi-lagi dengan jahat dalam hati
kecilku aku menyalahkan hp jadulku, meskipun sejatinya bukan seratus persen
kesalahannya juga karena akupun menyadari keterbatasan kemampuannya.
JLS Tulungagung yang kami
dambakan akhirnya di depan mata. Kurang lebih pukul 15:00 WIB, di bawah
teriknya matahari tanpa lelah kami menyusuri JLS sedetail mungkin. Mendaki
gunung lewati lembah, begitu kira-kira gambaran umumnya,bedanya kami berempat
menggunakan sepeda motor. Sebentar, sejauh pengamatanku, JLS merupakan proyek
pemerintah jangka panjang yang sudah lama di rencanakan pembangunannya beberapa
tahun belakangan. Tujuannya adalah untuk memperlancar dan mengoptimalkan
distribusi barang atau jasa. Bahkan selenthingan
kabar JLS ini kelak akan menghubungkan seleruh kabupaten/kota yang terletak
di pesisir selatan pulau Jawa, kalau tidak salah jika di bentangkan adalah
mulai dari Sukabumi di Jawa Barat hingga Banyuwagi di Jawa Timur. Khusus untuk
kabupaten Tulungagung, informasi yang berkembang mengenai panjang jalannya jika
sesuai rencana akan menempuh kurang lebih 48 km. Perlu diketahui mengenai
informasi ini bisa jadi tidak sepenuhnya benar karena berbagai informasi tadi
di peroleh dari wawancara yang tidak sengaja dengan para pengunjung dan
sebagian kecil warga setempat. Sampai sekarang aku belum mengeceknya secara
detail ke pemerintah setempat. Di luar hal itu, tentu yang membuat heran ialah
ketika mengetahui proyek yang sedang terkenal ini baru selesai sepanjang 5 km,
tetapi sudah mampu menarik antusiasme masyarakat yang luar biasa.
(sumber: koleksi pribadi)
Perjalanan ke JLS
Tulungagung tanpa sengaja menghasilkan pertanyaaan unik,” Kenapa proyek
pemerintah yang masih jauh dari kata selesai, menjelma menjadi destinasi wisata
yang secara ajaib mampu menarik animo masyarakat yang begitu besar?”. Akhirnya berkembanglah
spekulasi-spekulasi di pikiranku. Pertama,
aku teringat perkataan yang pernah di unggkapkan alamarhummah embah, menurutnya sejak beliau lahir hingga sekarang
atau sampai pada akhir hayatnya (embah meninggal tahun 2013 ) Tulungagung
bagian selatan khususnya sama sekali belum pernah melihat dan menikmati akses
jalan yang berkualitas bagus. Selama ini jalan-jalan (kualitas aspal) yang ada
tidak jauh dari kata jendul-jendul dan
berlubang. Mungkin karena JLS sekarang memang memilki kualitas aspal yang
sangat bagus atau lebih baik dari sebelumnya, membuat masyarakat menjadi
penasaran dan nggumun melihat fakta ini. Akhirnya mereka
berlomba-lomba mengunjungi JLS Tulungagung.
Kedua, panorama alam yang cukup indah dan cenderung masih alami
menurutku juga berperan penting. Tercatat ada beberapa pantai dan yang bisa
kita nikmati melalui jalur ini. Ada kemungkinan bisa bertambah lagi seiring
nanti selesainya proyek ini. Sebut saja pantai Sidem. Memang pantai ini akses
utamanya bukan hanya JLS, ada jalur lain. Melalui JLS, panorama pantai ini
menjadi bertambah indah, terlebih karena dilihat dari bukit. Lumayan bagus bagi
pemburu foto profesional dan yang belum profesional. Menyaingi pantai Sidem,
ada juga pantai Bayeman. Bibir pantai yang panjang berikut ombak yang tenang
menjadi daya tarik tersendiri. Sebelumnya pantai ini kurang begitu di kenal
publik. Lagi-lagi dengan adanya JLS pantai ini menjadi lebih di kenal karena
akses menuju kesana mulai terbuka meskipun belum samapai seratus persen.
Melihat hal yang demikian tadi bisa di lihat peran JLS begitu luar biasa.
Secara otomatis JLS menjadi alat yang sangat penting untuk lebih mengeksplor
beberapa tempat wisata di Tulungagung. Tentu masih sangat kita tunggu-tunggu
pantai berikutnya agar menyusul terexpose
ke khalayak luas. Akan tetapi harus sedikit bersabar terlebih dahulu karena
aksesnya belum rampung tergarap. Tercatat masih ada pantai Kelathak dan tidak
menutup kemungkinan ada yang lain lagi. Meskipun demikian beberapa capaian
tadi,membuat JLS berpredikat fenomenal. Dengan segala kekurangan dan
keterbatasannya saat ini karena memang msaih dalam proses pengerjaan tapi sudah
mampu menarik antusiasme masyarakat luas. Perlu menjadi catatan, karena begitu
banyaknya pengunjung yang datang pada momen tahun baru 2016, sampai-sampai JLS
terkena macet yang begitu panjang kira-kira macetnya hampir 2,5 km. Separuh
dari panjang jalan yang baru jadi.
(sumber: koleksi pribadi)
Catatan yang bagus mas. Ayo terus menulis.
BalasHapus