Kamis, 31 Maret 2016

Cerita dibalik Bazar Buku

Spekulasi dibalik Bazar Buku
Oleh: Ahmad Khoirul Anam

Pemandangan berbeda terlihat di halaman depan gedung Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah(FUAD). Selama ini halaman tersebut digunakan hanya sebatas untuk parkir kendaraan mahasiswa, dosen, karyawan, maupun oknum-oknum lain yanga memang ingin parkir disitu. Beberapa kesempatan, halaman yang lumayan agak luas ini juga biasa digunakan untuk kepentingan diskusi oleh sekelompok mahasiswa. Forum diskusi itu ialah FOKUS atau Forum Kajian Ushuluddin yang dilaksanakan hari selasa jam ke-3 lebih tepatnya. Wadah diskusi yang satu ini menurut beberapa alumni/sesepuh mahasawa FUAD merupakan forum yang bersejarah. Mulai dari perjuangan mereka menginisiasi dan melegalkan forum ini. Selanjutnya dari segi tujuan mulianya yaitu pertama, untuk melatih kecakapan mahasiswa untuk berbicara didepan umum. Kedua, menambah cakrawala pengetahuan mahasiswa tanpa batas. Ketiga, sebagai ajang resmi curi-curi pandang bagi pesertanya, beberapa. Tujuan-tujuan diatas di khawatirkan mungkin selama di kelas atau perkuliahan tidak bisa terakses dengan baik.
            Jadi tujuan fokus juga mempermudah akses atau perputaran ilmu pengetahuan ke seluruh peserta yang mengikuti. Berjalannya waktu dan perkembangan zaman, terlebih bertambahnya keluarga besar FUAD (ada KPI, BKI,dan BSA), penulis memiliki angan-angan tidak sengaja, yaitu tentang transformasi nama FOKUS yang memang selama ini hanya melibatkan mahasiswa Ushuluddin. Ini berangkat dari akronim FOKUS yaitu Forum Kajian Ushuluddin. Dengan maksud lebih bisa mengakomodir seluruh keluarga besar FUAD maka perlu kiranya transformasi nama FOKUS untuk dilaksanakan. Tapi ini hanya angan-angan tak sengaja dari penulis, barangkali pantas tidaknya ingkang kajibah yang bisa menilai dan mempertimbangkan baik-baik. Mungkin yang lebih penting bukan masalah transformasi nama FOKUS, melainkan adalah transformasi kualitas diskusi demi majunya intelektualitas mahasiswa FUAD.
            Semangat diskusi FUAD kita bahas dilain kesempatan, kembali ke fokus pembeda halaman depan FUAD. Ini khusus terjadi pada pertengahan bulan Maret 2016 ini. Faktor pembeda ini adalah Bazar Buku. Fenomena seperti ini memang bukan hal yang baru di kampus IAIN Tulungagung. Sudah sering bisa kita lihat beberapa kesempatan ada kegiatan bazar buku. Dilaksanakan diberbagai tempat meliputi timur Rektorat, halaman gedung FTIK, teras radio kampus(Genius FM), tidak ketinggalan kali ini di halaman depan gedung FUAD. Penyelenggara kegiatan bazar buku juga beragam. Mulai dari Himpunan Mahasiswa baik Jurusan maupun aliansi daerah, Organisai Ekstra Kampus, bahkan seingat penulis, pihak fakultas tau dosen juga pernah melaksanakan kegiatan ini kalau tidak salah. 
            Kali ini di samping stand bazar buku berkibar sebuah bendera Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII). Ini menandakan kegiatan bazar kali ini diinisiasi oleh salah satu Organisasi Ekstra Kampus yang kebetulan ketua komisariatnya merupakan sahabat dekat penulis. Saking dekatnya, ada ungkapan Jawa yang mungkin bisa menggambarkannya,”Ibarat sliramu ngentut, aku ora ngaleh”. Berkaca dari hal-hal tadi akhirnya beberapa prediksi penulis pun bermunculan. Pertama, alasan pemilihan tempat. Inisiator kegiatan bazar adalah salah satu organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya adalah mahasiswa FUAD. Barang kali ini merupakan wujud perhatian inisiator untuk teman-temanya. Dia mencoba memberikan referensi buku-buku murah. Selama ini mahasiswa khususnya mahasiswa FUAD sering dilabeli mahasiswa kelas dua jika menyinggung soal kekayaan harta benda. Hal ini bisa dilihat dari besaran UKTnya. Tapi ini bukan masalah besar penulis rasa, karena seluruh mahasiswa FUAD berpedoman bahwa menjadi orang bahagia tidak hanya diukur dari kaya harta melainkan kaya hati. Berpedoman pada hal ini, boleh penulis meyakini bahwa inisiator kegiatan bazar buku ini mendapat pahala yang teramat mulia dari Tuhan, karena memberikan kesempatan seluruh mahasiswa FUAD mampu membeli buku dengan harga miring. Kiranya tidak berlebihan jika jargon bazar kali ini ialah “Now, everyone can buy”.
            Spekulasi yang kedua. Jika dilihat dari buku yang ditawarkan mayoritas adalah novel, bisa jadi inisiator mempunyai tujuan tertentu. Kita mengetahui problem sebagian besar mahasiswa adalah membaca apalagi membaca buku-buku mata kuliah. Malas benar. Berangkat dari hal demikian mungkin inisiator bazar ingin mencoba memupuk minat baca mahasiswa dengan dimulai membaca bacaan-bacaan ringan sekelas novel. Harapan besarnya tentu agar bisa segera mungkin menular untuk semangat membaca buku-buku mata kuliah, begitu kira-kira maksud inisiator.
            Selain itu spekulasi lain juga banyak bermunculan. Sejenak kita flashback, inisiator kegiatan kali ini adalah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya bernama M. Ubaidillah. Dia merupakan teman, sahabat, saudara, rekan seperjuangan penulis di kelas. Pengalaman hidupnya sangat luar biasa. Penuh perjuangan. Apalagi pengalaman organisasinya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Mungkin sekarang dia baru sekedar ketua komisariat organisasi tersebut, tetapi tidak menutup kemungkinan berpotensi menjadi Presiden Mahasiswa. Penulis rasa tidak terlalu berlebihan jika M. Ubaidillah bakal menjadi atau menduduki posisi tersebut. Rekam jejak politik sudah bagus, berasal dari daerah Kyiai(Jombang) yang telah menelurkan tokoh nasional sekelas Gus Dur. Kemudian dia berangkat dari jurusan yang tidak ada tandingannya yaitu Filsafat Agama, sangat yakin benar keluarga besar fakultas juga mendukung. Gaya berpolitiknya sudah begitu jelas, bisa dilihat dalam kesempatan/kegiatan ini pula. Masih sependek analisis penulis, dia mencoba mengadopsi kampanye para politikus nasional seperti menggelar pasar murah yang kali ini direalisasikannya dalam kemasan bazar buku murah. Cara ini lumayan efektif untuk meningkatkan elektabilitas seorang  M. Ubaidillah untuk menjadi orang nomor 1 di Republik Mahasiswa IAIN Tulungagung ini. Minimal dia dipercaya oleh mahasiswa mampu menghadirka program yang murah dan ramah terhadap mahasiswa. Cuman, paling penting adalah tetap melewati regulasi   yang ada. Harus patuh pula pada peraturan. Penulis dan teman-teman M. Ubaidillah pada dasarnya sangat mendukung. Apa perlu kami mengumpulkan KTP untuk menunjukkan loyalitas kami terhadap M. Ubaidillah. Dunia politik kampus juga tidak bisa terlepas dengan program BKKBN, hampir mirip. Pilpres dengan Pil KB. Hanya perbedaannya jika pil KB kalau lupa jadi, maka di Pilpres kalau jadi biasanya lupa. Lupa dengan teman-teman yang mendukunya. Terbuai dengan jabatan. Hal urgen ini mohon betul-betul jangan sampai terjadi pada M. Ubaidillah.
            Mimpi yang sangat mulia ini, jika di waktu depan bisa menjadi kenyataan, tentu penulis dan teman-teman akan bangga sekali. pengaruh positif M. Ubaidillah dan bazar buku tidak hanya berhenti disini. Dengan adanya bazar buku di halaman depan gedung FUAD telah menjadikannya pusat bekumpul seluruh mahasiswa untuk membeli buku. Baik dari mahasiswa FUAD sendiri, FTIK, FASIH, dan FEBI. Perhatian khusus tentu saja pada mahasiswa FEBI. Ini berangkat dari sejarah yang panjang. Diakui atau tidak selama ini FEBI dan mahasiswinya dilabeli superior. Mulai dari gedungnya megah bagaikan sebuah Mall, dan mahasiswinya bagaikan kumpulan bidadari, menurut sebagian orang. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi memang superioritas mahasiswi FEBI begitu luar biasa. Penulis mengamati    hal ini sampai tidak bisa mengunggkapkannya dengan kata-kata, karena takut. Intinya pahala mahasiswi FEBI sangat besar, tidak kalah dengan M. Ubaidillah karena menyadarkan para mahasiswa IAIN khususnya mahasiswa FUAD untuk lebih mendalam mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
            Kesan penulis terhadap bazar buku di halaman depan gedung FUAD kali ini luar biasa. Apresiasi yang setinggi-tingginya sangat pantas untuk M. Ubaidillah beserta staf-stafnya, tidak lupa atau jangan sampai lupa, apresiasi juga  disampaikan kepada mahasiswi FEBI. Bazar buku yang lebih berkualitas tentu sangat dinanti-nanti pada kesempatan berikutnya.

Rabu, 30 Maret 2016

Dokumentasi tentang Kebijakan/Peristiwa yang bersinggungan dengan Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal


Kebijakan/Peristiwa yang bersinggungan dengan Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Feminisme Liberal        
Semangat feminisme liberal yaitu lebih menitikberatkan pada praktik kebebasan individu. Dalam hal ini tentunya menyangkut kebebasan perempuan sebagai individu. Pada aliran ini persamaan dan kesetaraan diperoleh dengan perjuangan individu. Saya mencoba menganalisa beberapa peristiwa sehari-hari yang bersinggungan dengan aliran feminisme liberal. Perlu diketahui ini adalah hemat saya bisa jadi tidak sepenuhnya benar, dan ditunggu pendapat dari teman-teman yang membaca artikel ini. Peristiwa yang pertama adalah kesetaraan pendidikan. Ideologi patriarki masih sangat jelas kelihatan pada masyarakat di daerah saya khususnya kecamatan Pakel Tulungagung, meskipun tidak semua masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari sebagian besar siswi perempuan di salah satu SLTA di kecamatan tersebut kebanyakan tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Fenomena ini terjadi karena keluarga dari siswi tersebut masih kental sekali ideologi patriarkinya. Dengan otoritas yang dimiliki keluarga berhak menentukan masa depan anak perempuannya yaitu melanjutka ke jenjang pernikahan. Secara tidak langsung hal ini memutus kesempatan pendidikan yang lebih tinggi kaum perempuan di kecamatan tersebut. Tentu ini menambah gap yang semakin tinggi antara kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Namun lambat laun terjadi perkembangan yang lumayan signifikan khususnya 4 tahun belakangan. Kesadaran dan membaiknya kualitas hidup masyarakat membuat para orang tua yang semangat menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang berikutnya setelah SLTA.
          Selanjutnya yang kedua adalah posisi perempuan dalam dunia politik di Indonesia. Dalam hal ini adalah ksempatan untuk memilih dan dipilih. Selama ini mayoritas politisi atau wakil rakyat yang duduk di pemerintahan didominasi oleh kaum laki-laki. Sangat sulit kaum perempuan untuk menempati posisi tersebut. Hal ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat yang selama ini perempuan tidak layak untuk duduk di dunia politik. Bisa jadi karena diragukan kualitasnya, juga bisa jadi karena pemahaman bahwa kaum perempuan hanya pantas mengurus kegitan domestik saja. Namun demikian, akhirnya turunlah aturan kalau tidak salah 30% kuota perempuan untuk duduk di kursi wakil rakyat. Menurut saya ini adalah suatu upaya pemerintah untuk memberikan kesempatan perempuan memberikan sumbangsi kinerjanya di dunia politik.
          Pada dunia ekonomi pun demikian, selama ini dunia ekonomi yang menguasai adalah kaum laki-laki. Ini sudah bisa dilihat saat sistem kapitalisme muncul. Diawali dengan perekrutan tenaga kerja yang mengedepankan kaum laki-laki. Ini memungkinkan sektor-sektor ekonomi potensial akhirnya dikuasai oleh laki-laki. Sedangkan perempuan kembali lagi hanya beredar dalam ranah domestik.
          Berikutnya yang ketiga ialah ketimpangan perbedaan warna kulit. Menurut sependek pengetahuan penulis isu perbedaan warna kulit masih sering kelihatan rivalitasnya. Tidak hanya menyangkut perbedaan perempuan kulit putih dan perempuan kulit hitam saja, melainkan seluruh jenis kelamin. Dalam segala bidang si kulit hitam di label sebagai makhluk kelas bawah dan si kulit putih selalu dianggap diatas mereka. Ini juga terjadi pada perempuan kulit hitam. Dalam berbagai kesempatan perempuan kulit hitam seringkali di nomor dua kan. Contohnya dalam perekrutan karyawati, yang menjadi prioritas utama adalah  perempuan kulit putih.
          Dari beberapa hal diatas jelas kebebasan individu tidak berjalan. Perlu adanya perubahan, ini menurut penganut feminisme liberal.  Pendidikan merupakan kunci awal untuk membuka pintu persamaan dan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Selain itu hadirnya negara juga sangat diperlukan untuk mempermudah regulasi yang memihak khususnya perempuan.


Feminisme Radiakal
          Aliran berikutnya adalah feminisme radikal. Lahir di Amerika antara 1960an-1970an, menurut beberapa sumber di internet. Titik fokusnya adalah menyerang atau menolak ideologi patriarki dan institusi keluarga. Keluarga dinilai sebagai sebuah institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki sehingga perempuan tertindas.
          Hal yang paling vokal disuarakan malah revolusi reproduksi. Disini dijelaskan bahawa tidak akan ada perubahan yang fundamental bagi perempuan selama reproduksi alamiah tetap menjadi keharusan. S. Firestone menilai reproduksi alamiah adalah akar kejahatan , terutama kejahatan yang muncul dari rasa memiliki yang menghasilkan rasa kebencia dan kecemburuan. Lebih anjut aliran ini menjelaskan bahwa semakin sedikit perempuan terlibat dari proses reproduksi , semakin banyak waktu dan tenaga yang dapat digunakan untuk terlibat dalam proses produktif masyarakat. Oleh sebab itu, akhirnya muncul reproduksi buatan sebagai upaya pembebasan. Untuk memiliki anak perempuan tidak harus melibatkan laki-laki, diciptakanlah bank sperma. Ini memberikan keleluasaan perempuan kapan pun ingin memiliki anak tinggal memanfaatkan bank sperma.
          Muncul juga pada aliran tema-tema spesifik diantaranya kehamilan/kelahiran dan perkawinan. Pada term kehamilan / kelahiran ada kelompok feminis radikal yang menolak. Dikarenakan ini mengeksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki. Jadi perempuan bisa menolak. Kelompok feminis radikal berikutnya tetapi ada yang mengharuskan karena dinilai sebagai basis kehidupan/kelestarian. Hal senada pada term perkawinan. Ada kelompok feminis radiakal yang menolak, ada juga yang mengharuskan, cuman perempuan diberi kebebasan untuk menolak atau tidak(hak untuk memilih).
          Feminisme radikal merupakan aliran yang paling dekat dengan munculnya lesbian. Lesbian disini berarti adalah wujud merdekanya perempuan dari laki-laki. Pada periode ini memang mengajak perempuan untuk menghindari bahkan tidak perlu laki-laki dalam kehidupan perempuan. Khusunya dalam seksualitas. Perempuan sangat berhak menikmati hasrat seksualitasnya dengan sesama jenis bahkan dengan dirinya sendiri melalui masturbasi.
          Dalam feminisme radikal Mari Daly dalam bukunya Beyond God the Father menolak istilah masklin dan feminim karena dinilai sebagai kebingungan patriarki. M. Daly juga menyimpulkan perempuan harus menolak apa yang tampaknya baik dari feminitas dan menolak aspek yang jelas buruk dari feminitas karena semua itu merupakan konstruksi yang dibangun oleh laki-laki.
         

Kamis, 17 Maret 2016

Catatan Masa SMA

Catatan Masa SMA
oleh: Ahmad Khoirul Anam

                “ Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah ”. Sepenggal lirik lagu dari almarhum Crisye ini telah memutar kembali ingatanku pada masa-masa sekolah, khususnya SMA.  Mengenang masa-masa ini mungkin bagi setiap orang merupakan hal yang biasanya dibicarakan ketika sedang reuni atau sekadar berkmpul dengan teman-teman lama, terlebih teman-teman SMA. Banyak sekali yang dibicarakan, mulai dari kenangan-kenangan, keusilan, dan bebagai hal lainnya. Akupun demikian, tetapi yang berbeda adalah setiap kali sedang berkumpul dengan teman-teman SMA kebanyakan aku sebagai penyimak. Aku hanya lebih nyaman dan lebih sering mendengarkan cerita teman-teman, sesekali memang menyumbang pendapat ataupun cerita.
                Sebelumnya sedikit aku jelaskan. Dulu aku bersekolah di sebuah SMA pinggiran. Jauh dari keramaian kota, yang ada hanya hamparan sawah begitu luas disekelilingnya. Akses menuju sekolahku ada dua, yaitu dua jalur dan dualem. SMA Negeri 1 Pakel Tulungagung, begitu nama lengkapnya. Ada berbagai sebutan memang dari yang biasa hingga cenderung gokil, mulai dari smansapa, smapakta, smandut(sma duwet), bahkan sempak(esem a pakel). Tidak ada kata megah, tapi yang ada mewah alias mepet sawah. Selama tiga tahun bersekolah tidak ada banyak hal yang istimewa memang, semua berjalan biasa seperti anak SMA pada umumnya. Meskipun demikian, tiga tahun tersebut bukan tidak ada catatan sama sekali. Ada beberapa, entah ini menarik apa tidak, tapi semoga menarik sekaligus berkesan.
Tipologi Siswa SMA
                Waktu SMA aku berteman dengan semua orang. Mereka bermacam-macam punya karakteristik masing-masing. Makanya kali ini tidak ada niatan untuk mesimplifikasikannya. Menurut analisis dangkalku selama ini, ada beberapa tipe siswa yang aku kenal. Pertama, aku menyebutnya kaum rajin. Kaum rajin disekolahku termasuk langka, tapi ada. Mereka tersebar, ada yang rajin di kelas, aktif mengerjakan tugas, kemana-mana bawa buku. Termasuk juga mereka yang rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Tidak jarang setiap kali ada kegiatan mereka bahkan rajin tidur di sekolah. Berkat kerajinan mereka, akhirnya mengahsilkan beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik. Berikutnya yang kedua adalah kaum tengah-tengah. Tipe yang kedua ini layaknya siswa pada ummnya, biasa-biasa saja, berangkat pagi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Mereka kebanyakan tidak neko-neko,waktu istirahat sebagian tetap di kelas, sebagian di kantin, ngobrol, makan, dan lain-lain. Setelah bel pulang sekolah mereka juga langsung pulang.
                Tipe selanjutnya atau yang ketiga adalah siswa luar biasa, luar biasa bandelnya. Didominasi  oleh laki-laki. Seringkali datang terlambat, di jalan pun ugal-ugalan. Motor cenderung bersuara diatas normal. Walaupun bandel mereka tetap aktif ke sekolah, saking aktifnya orang tuanya pun tak jarang ikut ke sekolah. Tentu karena dipanggil bidang kesiswaan. Di sekolah, waktu mereka habiskan untuk sekedar usil, dan kebanyakan mereka habiskan di kantin daripada di kelas. Ada banyak kegiatan mulai sekadar bolos kelas, makan , merokok, makan lagi, bolos lagi, merokok lagi , sampai-sampai sambil bolos rokokpun dimakan. Kegiatan yang istiqomah dan terfavorit adalah gelut bahkan pernah aku lihat tawuran, tapi belum sampai seru-seru banget keburu dibubarkan warga. Tidak sedikit dari mereka kena skorsing karena kegiatan yang tidak patut untuk ditiru ini tanpa keahlian khusus dan profesional. Heran, padahal kegiatan yang satu ini tiadak ada dipelajaran. Bahkan event-event yang sering dilaksanakan tidak pernah ada yang namanya lomba tawuran antar kelas atau antar sekolah, yang ada lomba cerdas cermat dan sejenisnya. Tentu yang menjadi perhatian adalah posisiku. Pada tipologi ini aku hanya termasuk kedalam siswa  biasa, biasa tidur di sekolah. Jika dikatakan siswa yang nakal juga tidak, tidak salah. Pernah sekali waktu aku diajak bolos oleh beberapa teman. Katanya biar kekinian. Sontak aku langsung mau,”Kapan lagi ada kesempatan membolos sekolah”, begitu pikirku. Selama ini di bangku SMA memang belum pernah sekalipun aku terlibat kasus bolos kelas apalagi bolos sekolah. Seingatku terakhir kali bolos yaitu ketika kelas 9 SMP. Saat aku berhasil bolos waktu itu yang mengherankan adalah muncul suatu gejolak dihati nurani, yang rasanya sedut-sedut berdegub kencang. Perasaan bersalah menyelimuti diriku. Disaat yang lain dengan santai menikmati prosesi pembolosan, aku malah kepikiran bapak dan ibu, entah kenapa tapi wajah mereka melintas di kiri kananku seolah-olah mau menghakimiku saat itu juga. Setelah melewati kejadian itu, aku berpikiran bahwa mungkin diri ini ditakdirkan untuk menjadi anak baik-baik. Jadi pengalaman bolos saat kelas 10 SMA itu aku jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Kebiasaan Siswa SMA
                Ketika ditanya,”Apa pelajaran favorit kamu?”. Pasti siswa-siswi pada umumnya akan menjawab,”Biologi atau sosiologi dan sebagainya”. Tapi tidak untuk aku dan teman-teman. Kami begitu kompak dalam memilih pelajaran favorit yaitu pelajaran Jam Kosong. Jam kosong menurut kami sangat berarti betul. Bila diibaratkan adalah penyedap rasa pada sayuran, jadi kalau tidak ada jam kosong hidup ini terasa hambar. Kalaupun disuruh membuat skala prioritas, dengan tegas aku akan menempatkan jam kosong pada urutan ke tujuh dalam pilihan hidupku. Kenapa nomor tujuh, karena nomor satu sampai dengan nomor lima adalah Pancasila. Banyak sekali hikmah yang kami dapatakan dalam jam kosong. Kadang-kadang bermain gaplei, jamaah remi, terkadang juga nonton film. Sesuai dengan namanya yaitu siswa SMA alias Sudah Mengenal Anu, film yang kami saksikan pun beragam. Menurutku sudah begitu sangat jelas kalau film-film yang kami saksikan adalah serupa dengan One Peace, Doraemon, Naruto, dan sejenisnya.
                Selain jam kosong, kebiasaan yang tidak pernah terlupakan adalah ketika pulang pagi atau pulang lebih awal. Ini sekali lagi merupakan makanan empuk bagi kami. Ibarat kami ini kucing, pulang pagi bagaikan ikan teri gratis di siang bolong. Mayoritas dari kami memang lulusan SD. Kami selalu mengaplikasikan betul ilmu dari SD pada kehidupan sehari-hari yaitu filosofi SD alias Seneng Dolan. Kesempatan pulang pagi kami manfaatkan betul untuk  dolan. Paling sering adalah ke Pantai Prigi, kadang juga ke taman Neyama atau juga ke Pantai Sidem. Tapi yang palik asyik adalah momen futsal dengan teman-teman perempuan. Bagi kami sekadar berkumpul dan seru-seruan bersama merupakan kesempatan yang sangat mahal, karena jarang-jarang. Cuma terkadang repot juga tatkala kami para laki-laki sedang futsal dengan teman-teman perempuan. Olahraganya sedikit, tertawanya banyak. Main baru lima menit, dua puluh menitnya untuk foto-foto. Paling repot lagi kami para laki-laki suka bingung, pas sedang main, ini bola futsalnya yang mana, seketika ada banyak hahahahaha. Ternyata waktu itu di lapangan memang pengelola menyediakan service bola yang cukup banyak, paling untuk mengimbangi teman-teman perempuan.
IPA vs IPS
Standarnya program di SMA ialah minimal ada jurusan IPA dan IPS. Tujuan utamanya yaitu untuk spesifikasi keahlian siswa, begitu kata seorang guru BK ku. Namun tidak jarang bedampak negatif bagi siswa SMA. Di sekolahku pembedaan IPA dan IPS menimbulkan perseteruan yang lumayan mencekam. Menurut beberapa kakak kelas sejarahnya memang sudah cukup panjang. Hampir mirip-mirip dengan rivalitas Jak Mania dengan Bobotoh terlebih Bonek Mania dengan Aremania. Beberapa pengamat bola menyatakan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk bisa akur. Tapi tenang, pembaca diharapkan untuk tidak takut dan membayangkan yang tidak-tidak terlebih dahulu.
Hal yang demikian tadi memang terjadi betul di sekolahku, namun itu terjadi kurun waktu 2011 ke belakang. Semua menjadi berubah ketika tahun 2011 akhir muncul sosok Ketua OSIS membawa misi yang tidak aku mengerti awalnya, tapi intinya sebisa mungkin meminimalisir rivalitas IPA dengan IPS. Mungkin sekarang itu yang dinamakan misi equality/equity diberbagai bidang kehidupan. Dengan penuh usaha yang termasuk keras,anak tersebut memulai dari awal yaitu membangun komunikasi yang baik mulai siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan tukang kebun, terlebih antar siswa program IPA dengan siswa program IPS. Lambat namun pasti, penanaman rasa kekeluargaan gencar dilakukan. Penyamaan konsep pemikiran, tujuan hidup menjadi senjata ampuh. Sejatinya memang perseteruan selama ini hanyalah karena salah paham, semangat kedaerahan, ego yang tidak terkendali, dan dibumbui dengan emosi yang berlebihan. Mungkin ini juga beberapa faktor begitu masih melekat pada orang-orang yang masih demen tawuran, termasuk suporter bola.
                Hasilnya luar biasa. Hal itu bisa diihat ketika final futsal ataupun basket antara IPA vs IPS yang dulunya diwarnai dengan semangat permusuhan, sekarang dihiasi oleh semangat kekeluargaan. Terbukti, kalau dulu selepas pertandingan futsal atau basket antara IPA vs IPS diakhiri dengan pukulan maut, namun sekarang bisa diakhiri dengan pelukan mesra. Tentu ini merupakan hal yang sederhana namun efeknya diharapkan menyebar ke aspek-aspek kehidupan lainnya. Semua tadi juga berkat bantuan dari dewan guru serta mental siswa-siswi yang kian hari semakin dewasa pula. Aku waktu itu juga kebetulan merupakan siswa dari program IPA meskipun IPA rasa IPS. Akan tetapi tetap sayang dan cinta kepada teman-teman IPS maupun IPA sendiri, terutama yang perempuan.
US dan UN
                Ujian merupakan suatu langkah untuk melihat hasil belajar selama proses pembelajaran sehari-hari. Ujian yang dilaksanakan setiap akhir semester menjadi agenda wajib yang kudu ditempuh oleh seluruh siswa, tidak terkecuali aku. Ujian semester bagiku adalah agenda yang sangat penting, bahkan bukan main-main, dan harus penuh persiapan. Sangat penting dan tidak main-main memang, pasalnya setiap ujian semester singgasana bahagiaku tepat berada di depan pengawas. Kata orang”Pas tidak ada melesetnya”. Hal ini jika ditilik jauh ke belakang ada berbagai sebab.
                Pertama, mungkin Ibu pengawas selalu jatuh hati kepadaku, sehingga tidak tega aku duduk di belakang. Seluruh gerak-gerikku tak satupun terlewatkan. Pernah satu waktu pensil milikku terjatuh, tanpa kusangka Ibu pengawas yang kebetulan cantik mengambil lalu memberikannya kepadaku seraya berkata dengan penuh mesra,”Ora usah pecicilan, ini cuma modus biar kamu bisa nyontek kan?”, aku pun hanya tersipu malu dan terdiam. Sebab yang kedua adalah suatu kenyataan pahit. Nomor urut ujian yang memang selama ini menggunakan sistem urutan sesuai alphabet, membuatku harus selalu ikhlas untuk selalu duduk paling depan. Suatu hari aku pernah meratapi nasibku ini. “Tega benar orang tuaku, dengan namaku yang huruf depannya A, setiap kali ujian mengharuskannku melakukan senyuman terpaksa, di depan pengawas ujian yang terkadang senyum pun tidak pernah”, begitu kira-kira celotehan putus asa yang terkadang mampir melanda.
                Berikutnya, ujian semester merupakan agenda 6 bulan sekali yang butuh persiapan matang. Jangan salah, tampang pas-pasan cenderung pecicilan seperti ini, aku tetap menganggap ujian semester sesuatu yang sangat serius. Selain malu, aku juga takut dengan ibu bapak jika seumpama tidak naik kelas. Terbukti, setiap malam sebelum ujian, membuat contekan adalah rutinitas wajib. Tapi yang sering terjadi, harapan bisa menyontek tinggalah harapan. Semuanya terasa musnah seketika akibat serangan Ibu pengawas cantik yang cenderung bawel. Batin ini sangat ingin menyontek, namun apa daya raga ini selalu lemas jika di hadapan Ibu pengawas cantik. Mengherankan memang, setiap ujian pengawas yang ada di ruanganku selalu ibu-ibu yang lumayan muda dan cenderung cantik. Mungkin ini yang dimaksud Tuhan jodoh.
                Hal tidak jauh berbeda terjadi ketika Ujian Nasional. Seperti biasa, malam sebelum UN, dengan cermat dan teliti aku membuat contekan serapi mungkin. Sambil berharap ada keajaiban aku bisa menyontek. Keesokan harinya sudah bisa di tebak. Aku mendadak tidak berdaya, lagi-lagi dihadapan pengawas cantik. Pengalaman rumit ini  ternyata menyadarkanku akan pentingnya sebuah kejujuran, meskipun dalam kenyataannya sulit sekali dilakukan. Jika suatu saat tulisan ini dibaca oleh pelajar yang akan UN, besar harapan hal-hal yang negatif diatas jangan pernah ditiru. Bisa fatal akibatnya. Tapi untuk hikmahnya yaitu sebuah kejujuran dalam ujian monggo dilaksanakan.
                 

Minggu, 13 Maret 2016

Destinasi Wisata Terbaru di Tulungagung

 Belum Jadi Sudah Bikin Hepi
(Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung)
oleh: Ahmad Khoirul Anam

             Masih dengan keterbatasanku tentang kepemilikan Smartphone, ternyata dampaknya lumayan terasa. Kali ini adalah gara-gara belum memiliki Smartphone, aku menjadi ketinggalan informasi tentang keberadaan destinasi wisata baru di Tulungagung. Tidak heran lagi, di zaman yang serba Smartphone ini informasi apapun banter  atau cepat sekali menyebar tidak terkecuali Jalur Lintas Selatan ( JLS ) Tulungagung pun luput dari kecanggihan teknologi. Keberadaan tempat ini mulai menyebar ke dunia maya atau internet ketika ada pengunjung yang mengambil gambar dan mengunggahnya. Ini sebenarnya masih simpang siur, sampai saat ini sejauh pengamatanku mengenai JLS masih belum mengetahui siapa pengunjung yang kali pertama mengunggah foto JLS ke internet. Menurut beberapa informan yang sempat aku gali informasinya ialah bahwa awal ketenaran JLS lewat unggahan foto di sosial media. Beberapa informan menjelaskan bahwa begitu  cepat sekali berita tersebut menyebar dan akhirnya menjadi terkenal serta menarik animo masyarakat untuk mengunjunginya. Any way terkait menyebarnya berita tentang JLS di sosial media, tentu sudah jelas dengan berat hati mengakui bahwa aku lagi-lagi ketinggalan informasi karena jarang mengakses sosial media. Informasi tentang JLS hanya berlalu lalang di telingaku lewat teman-teman rumah, tetangga, dan yang paling menjengkelkan ialah adikku yang dengan bangga membuat pengakuan telah berkunjung sebanyak 3 kali di bulan Desembar 2015.
            Perkenalkan adikku bernama Mohamad Ma’ruviyan. 17 tahun, duduk di bangku SMA. Seperti kebanyakan remaja labi lpada umumnya, dia gemar sekali dolan  yang menurutku tidak penting. Sering kudapati dia jalan bareng dengan teman-teman hurug-hurugnya ngetrip tidak karuan ke berbaggai tempat wisata. Hurug-hurug  merupakan sebutan gemesku terhadaap teman-teman adikku yang memang mayoritas suara motornya bisa membuat telinga orang normal terganggu. Sangat bising benar menurutku. Melalui tulisan ini pula aku mengaku kalah dengan adikku dalam beberapa hal. Adikku telah lebih banyak mengetahui tempat-tempat wisata karena sering dolan. Masalah smartphone  dia juga lumayan play boy. Dua kasus ini yang terkadang membuatku merasa sedih, karena sangat bertolak belakang denganku. Mengenai pengetahuan tentang tempat wisata sudah jelas diriku masih sangat polos. Apalagi masalah smartphone, seratus persen aku sangat setia dengan hp jadulku. Menurutku pembaca jangan ikut berlarut dalam kesedihan ini. Cukup diriku sja yang meratapinya.
            Tahun baru 2016 menjadi momen tak terlupakan. Jika sebelumnya gambaran mengenai JLS Tulungagung hanya terdengar di telingaku lewat orang lain, akhirnya tepat 1 Januari 2016 aku akan segera bisa melihat dan menikmati pemandangan JLS Tulungagung yang menurut orang-orang sangat bagus dan menarik. Momentum liburan semester ganjil dan tahun baru seolah-olah menjadi instrumen penting yang mempertemukan aku dengan ketiga teman-temanku. Pasalnya kami berempat hampir 3 bulan agak penuh tidak saling bertemu. Ruli, begitu sapaannya, namun sering dipanggil Jolobos. Dia merupakan temanku SMA yang berasal dari desa sebelah, cukup dekat dengan desa tempat tinggalku yaitu Desa Ngebong. Jolobos saat ini menekuni studinya di Universitas Negeri Malang (UM). Mengambil jurusan Ilmu Olahraga. Badannya yang atletis sangat cocok dengan jurusan yang di ambilnya. Setiap kali ada orang yang menanyainya,” Ruli kuliah ambil apa?”. Dengan tegas dia menjawab,” Tentu ambil Olahraga dong”. Pun dengan aku jika ditanya,” Anam kuliah ambil apa?”. Pasti kujawab dengan tidak kalah tegas pula,” Aku kuliah ambil hikmahnya saja”.
            Temanku yang kedua bernama Mardian. Saat ini  menggeluti teknik informatika dan broadcasting di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Sejak SMA memang dia telah menunjukkan bakatnya pada dunia elektronika baik mengotak-atik sistem komputer, handphone, dan sejenisnya. Teman berikutnya yang kebetulan ikut ke JLS adalah Bima alias Panjul. Pemuda berotot kekar ini sedang izin cuti dari sebuah Lembaga Pembentukan Fisik di Cimahi Jawa Barat. Sejak tinggal cukup lama di Tanah Sunda, dia cukup hobi menceritakan betapa cantik dan ayunya cewek-cewek sunda. Tentu kami bertiga hanya bisa tertegun, karena kami memang masih terlalu polos untuk urusan cewek cantik. Tiga bulan tidak saling bertemu membuat kami terlarut dalam suasana kangen dan akhirnya tercetuslah ide untuk mengunjungi JLS Tulungagung. Hal yang menarik ialah ketika semua dari kami mayoritas belum sekali pun menyempatkan diri mengunjungi JLS, kecuali Mardian. Tapi alasan kedua temanku cukup terhormat yaitu karena mereka sering di luar kota. Sedangkan diriku adalah gara-gara ketinggalan informasi. Lagi-lagi dengan jahat dalam hati kecilku aku menyalahkan hp jadulku, meskipun sejatinya bukan seratus persen kesalahannya juga karena akupun menyadari keterbatasan kemampuannya.
            JLS Tulungagung yang kami dambakan akhirnya di depan mata. Kurang lebih pukul 15:00 WIB, di bawah teriknya matahari tanpa lelah kami menyusuri JLS sedetail mungkin. Mendaki gunung lewati lembah, begitu kira-kira gambaran umumnya,bedanya kami berempat menggunakan sepeda motor. Sebentar, sejauh pengamatanku, JLS merupakan proyek pemerintah jangka panjang yang sudah lama di rencanakan pembangunannya beberapa tahun belakangan. Tujuannya adalah untuk memperlancar dan mengoptimalkan distribusi barang atau jasa. Bahkan selenthingan kabar JLS ini kelak akan menghubungkan seleruh kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa, kalau tidak salah jika di bentangkan adalah mulai dari Sukabumi di Jawa Barat hingga Banyuwagi di Jawa Timur. Khusus untuk kabupaten Tulungagung, informasi yang berkembang mengenai panjang jalannya jika sesuai rencana akan menempuh kurang lebih 48 km. Perlu diketahui mengenai informasi ini bisa jadi tidak sepenuhnya benar karena berbagai informasi tadi di peroleh dari wawancara yang tidak sengaja dengan para pengunjung dan sebagian kecil warga setempat. Sampai sekarang aku belum mengeceknya secara detail ke pemerintah setempat. Di luar hal itu, tentu yang membuat heran ialah ketika mengetahui proyek yang sedang terkenal ini baru selesai sepanjang 5 km, tetapi sudah mampu menarik antusiasme masyarakat yang luar biasa.

(sumber: koleksi pribadi)

            Perjalanan ke JLS Tulungagung tanpa sengaja menghasilkan pertanyaaan unik,” Kenapa proyek pemerintah yang masih jauh dari kata selesai, menjelma menjadi destinasi wisata yang secara ajaib mampu menarik animo masyarakat yang begitu besar?”. Akhirnya berkembanglah spekulasi-spekulasi di pikiranku. Pertama, aku teringat perkataan yang pernah di unggkapkan alamarhummah embah, menurutnya sejak beliau lahir hingga sekarang atau sampai pada akhir hayatnya (embah meninggal tahun 2013 ) Tulungagung bagian selatan khususnya sama sekali belum pernah melihat dan menikmati akses jalan yang berkualitas bagus. Selama ini jalan-jalan (kualitas aspal) yang ada tidak jauh dari kata jendul-jendul dan berlubang. Mungkin karena JLS sekarang memang memilki kualitas aspal yang sangat bagus atau lebih baik dari sebelumnya, membuat masyarakat menjadi penasaran dan nggumun  melihat fakta ini. Akhirnya mereka berlomba-lomba mengunjungi JLS Tulungagung.
            Kedua, panorama alam yang cukup indah dan cenderung masih alami menurutku juga berperan penting. Tercatat ada beberapa pantai dan yang bisa kita nikmati melalui jalur ini. Ada kemungkinan bisa bertambah lagi seiring nanti selesainya proyek ini. Sebut saja pantai Sidem. Memang pantai ini akses utamanya bukan hanya JLS, ada jalur lain. Melalui JLS, panorama pantai ini menjadi bertambah indah, terlebih karena dilihat dari bukit. Lumayan bagus bagi pemburu foto profesional dan yang belum profesional. Menyaingi pantai Sidem, ada juga pantai Bayeman. Bibir pantai yang panjang berikut ombak yang tenang menjadi daya tarik tersendiri. Sebelumnya pantai ini kurang begitu di kenal publik. Lagi-lagi dengan adanya JLS pantai ini menjadi lebih di kenal karena akses menuju kesana mulai terbuka meskipun belum samapai seratus persen. Melihat hal yang demikian tadi bisa di lihat peran JLS begitu luar biasa. Secara otomatis JLS menjadi alat yang sangat penting untuk lebih mengeksplor beberapa tempat wisata di Tulungagung. Tentu masih sangat kita tunggu-tunggu pantai berikutnya agar menyusul terexpose ke khalayak luas. Akan tetapi harus sedikit bersabar terlebih dahulu karena aksesnya belum rampung tergarap. Tercatat masih ada pantai Kelathak dan tidak menutup kemungkinan ada yang lain lagi. Meskipun demikian beberapa capaian tadi,membuat JLS berpredikat fenomenal. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya saat ini karena memang msaih dalam proses pengerjaan tapi sudah mampu menarik antusiasme masyarakat luas. Perlu menjadi catatan, karena begitu banyaknya pengunjung yang datang pada momen tahun baru 2016, sampai-sampai JLS terkena macet yang begitu panjang kira-kira macetnya hampir 2,5 km. Separuh dari panjang jalan yang baru jadi.

                          (sumber: koleksi pribadi)
            Dari catatan diatas ada beberapa dampak yang cenderung positif. Banyaknya masyarakat atau pengunjung yang hadir ke JLS, dapat menciptakan peluang usaha kepada penduduk sekitar. Mulai dari kios oleh-oleh khas Tulungagung, berbagai cinderamata, makanan, bahkan penyedia layanan parkir, dan sebagainya. Tentu hal ini mampu mendongkrak pendapatan masyarakat. Selain itu banyaknya pengunjung yang mengambil gambar tentang JLS dan akhirnya di unggah di sosial media, secara tidak langsung turut mempromosikan Kabupaten Tulungagung d mata dunia. Harapannya sudah pasti Tulungagung lebih di kenal khalayak luas, tidak menutup kemungkinan mampu menyaingi Kota Kediri atau Blitar yang memang lebih dahulu moncer namanya. Satu lagi, kehadiran JLS juga menjadi kabar baik untuk muda-mudi yaitu bisa menambah referensi tempat pacaran yang murah meriah. Meskipun demikian kita tidak boleh terlena dengan capaian awal JLS Tulungagung. Pemerintah diharapkan lebih serius lagi, apalagi proyek ini belum selesai. Ini menjadi penting, kalau bisa segera mungkin di selesaikan, terlebih fasilitas dan kelengkapan pendukung lainnya. Alasannya ialah saat ini merupakan momen yang tepat, dikhawatirkan jika mangkrek terlalu lama masyarakat akan kecewa. “Segera” disini adalah dengan tetap memperhatikan ketelitian dan kualitas pembangunannya. Masyarakat juga mempunyai tugas yang tidak kalah penting yaitu tetap menjaga kelestarian alam khususnya di sekitar JLS yang memang menjadi faktor daya tarik utama. Semoga masyarakat dan pemerintah  bisa bersatu padu bersinergi dalam pemanfaaatan JLS ini.

Free livescore from Unogoal.com