Kebijakan/Peristiwa yang bersinggungan dengan Feminisme Liberal dan
Feminisme Radikal
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Feminisme Liberal
Semangat
feminisme liberal yaitu lebih menitikberatkan pada praktik kebebasan individu.
Dalam hal ini tentunya menyangkut kebebasan perempuan sebagai individu. Pada
aliran ini persamaan dan kesetaraan diperoleh dengan perjuangan individu. Saya
mencoba menganalisa beberapa peristiwa sehari-hari yang bersinggungan dengan
aliran feminisme liberal. Perlu diketahui ini adalah hemat saya bisa jadi tidak
sepenuhnya benar, dan ditunggu pendapat dari teman-teman yang membaca artikel
ini. Peristiwa yang pertama adalah
kesetaraan pendidikan. Ideologi patriarki masih sangat jelas kelihatan pada
masyarakat di daerah saya khususnya kecamatan Pakel Tulungagung, meskipun tidak
semua masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari sebagian besar siswi perempuan di
salah satu SLTA di kecamatan tersebut kebanyakan tidak melanjutkan ke
pendidikan yang lebih tinggi. Fenomena ini terjadi karena keluarga dari siswi
tersebut masih kental sekali ideologi patriarkinya. Dengan otoritas yang
dimiliki keluarga berhak menentukan masa depan anak perempuannya yaitu
melanjutka ke jenjang pernikahan. Secara tidak langsung hal ini memutus
kesempatan pendidikan yang lebih tinggi kaum perempuan di kecamatan tersebut.
Tentu ini menambah gap yang semakin
tinggi antara kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Namun
lambat laun terjadi perkembangan yang lumayan signifikan khususnya 4 tahun
belakangan. Kesadaran dan membaiknya kualitas hidup masyarakat membuat para
orang tua yang semangat menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang berikutnya
setelah SLTA.
Selanjutnya yang kedua
adalah posisi perempuan dalam dunia politik di Indonesia. Dalam hal ini
adalah ksempatan untuk memilih dan dipilih. Selama ini mayoritas politisi atau
wakil rakyat yang duduk di pemerintahan didominasi oleh kaum laki-laki. Sangat
sulit kaum perempuan untuk menempati posisi tersebut. Hal ini disebabkan oleh
pemahaman masyarakat yang selama ini perempuan tidak layak untuk duduk di dunia
politik. Bisa jadi karena diragukan kualitasnya, juga bisa jadi karena
pemahaman bahwa kaum perempuan hanya pantas mengurus kegitan domestik saja.
Namun demikian, akhirnya turunlah aturan kalau tidak salah 30% kuota perempuan
untuk duduk di kursi wakil rakyat. Menurut saya ini adalah suatu upaya
pemerintah untuk memberikan kesempatan perempuan memberikan sumbangsi
kinerjanya di dunia politik.
Pada dunia ekonomi pun demikian, selama ini dunia ekonomi
yang menguasai adalah kaum laki-laki. Ini sudah bisa dilihat saat sistem
kapitalisme muncul. Diawali dengan perekrutan tenaga kerja yang mengedepankan
kaum laki-laki. Ini memungkinkan sektor-sektor ekonomi potensial akhirnya
dikuasai oleh laki-laki. Sedangkan perempuan kembali lagi hanya beredar dalam
ranah domestik.
Berikutnya yang ketiga
ialah ketimpangan perbedaan warna kulit. Menurut sependek pengetahuan penulis isu perbedaan warna kulit masih
sering kelihatan rivalitasnya. Tidak hanya menyangkut perbedaan perempuan kulit
putih dan perempuan kulit hitam saja, melainkan seluruh jenis kelamin. Dalam
segala bidang si kulit hitam di label sebagai makhluk kelas bawah dan si kulit
putih selalu dianggap diatas mereka. Ini juga terjadi pada perempuan kulit
hitam. Dalam berbagai kesempatan perempuan kulit hitam seringkali di nomor dua
kan. Contohnya dalam perekrutan karyawati, yang menjadi prioritas utama
adalah perempuan kulit putih.
Dari beberapa hal diatas jelas kebebasan individu tidak
berjalan. Perlu adanya perubahan, ini menurut penganut feminisme liberal. Pendidikan merupakan kunci awal untuk membuka
pintu persamaan dan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Selain itu
hadirnya negara juga sangat diperlukan untuk mempermudah regulasi yang memihak
khususnya perempuan.
Feminisme Radiakal
Aliran berikutnya adalah feminisme radikal. Lahir di
Amerika antara 1960an-1970an, menurut beberapa sumber di internet. Titik
fokusnya adalah menyerang atau menolak ideologi patriarki dan institusi
keluarga. Keluarga dinilai sebagai sebuah institusi yang melegitimasi dominasi
laki-laki sehingga perempuan tertindas.
Hal yang paling vokal disuarakan malah revolusi reproduksi. Disini dijelaskan bahawa tidak akan ada
perubahan yang fundamental bagi perempuan selama reproduksi alamiah tetap
menjadi keharusan. S. Firestone menilai reproduksi alamiah adalah akar
kejahatan , terutama kejahatan yang muncul dari rasa memiliki yang menghasilkan
rasa kebencia dan kecemburuan. Lebih anjut aliran ini menjelaskan bahwa semakin
sedikit perempuan terlibat dari proses reproduksi , semakin banyak waktu dan
tenaga yang dapat digunakan untuk terlibat dalam proses produktif masyarakat. Oleh sebab itu, akhirnya muncul reproduksi buatan sebagai upaya pembebasan. Untuk memiliki anak perempuan tidak harus melibatkan laki-laki, diciptakanlah bank sperma. Ini memberikan keleluasaan perempuan kapan pun ingin memiliki anak tinggal memanfaatkan bank sperma.
Muncul juga pada aliran tema-tema spesifik diantaranya
kehamilan/kelahiran dan perkawinan. Pada term kehamilan / kelahiran ada
kelompok feminis radikal yang menolak. Dikarenakan ini mengeksploitasi tubuh
perempuan oleh laki-laki. Jadi perempuan bisa menolak. Kelompok feminis radikal
berikutnya tetapi ada yang mengharuskan karena dinilai sebagai basis
kehidupan/kelestarian. Hal senada pada term perkawinan. Ada kelompok feminis
radiakal yang menolak, ada juga yang mengharuskan, cuman perempuan diberi kebebasan untuk menolak atau tidak(hak untuk
memilih).
Feminisme radikal merupakan aliran yang paling dekat dengan
munculnya lesbian. Lesbian disini berarti adalah wujud merdekanya perempuan
dari laki-laki. Pada periode ini memang mengajak perempuan untuk menghindari
bahkan tidak perlu laki-laki dalam kehidupan perempuan. Khusunya dalam
seksualitas. Perempuan sangat berhak menikmati hasrat seksualitasnya dengan
sesama jenis bahkan dengan dirinya sendiri melalui masturbasi.
Dalam feminisme radikal Mari Daly dalam bukunya Beyond God the Father menolak istilah
masklin dan feminim karena dinilai sebagai kebingungan patriarki. M. Daly juga
menyimpulkan perempuan harus menolak apa yang tampaknya baik dari feminitas dan
menolak aspek yang jelas buruk dari feminitas karena semua itu merupakan
konstruksi yang dibangun oleh laki-laki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar