Rabu, 30 Maret 2016

Dokumentasi tentang Kebijakan/Peristiwa yang bersinggungan dengan Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal


Kebijakan/Peristiwa yang bersinggungan dengan Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Feminisme Liberal        
Semangat feminisme liberal yaitu lebih menitikberatkan pada praktik kebebasan individu. Dalam hal ini tentunya menyangkut kebebasan perempuan sebagai individu. Pada aliran ini persamaan dan kesetaraan diperoleh dengan perjuangan individu. Saya mencoba menganalisa beberapa peristiwa sehari-hari yang bersinggungan dengan aliran feminisme liberal. Perlu diketahui ini adalah hemat saya bisa jadi tidak sepenuhnya benar, dan ditunggu pendapat dari teman-teman yang membaca artikel ini. Peristiwa yang pertama adalah kesetaraan pendidikan. Ideologi patriarki masih sangat jelas kelihatan pada masyarakat di daerah saya khususnya kecamatan Pakel Tulungagung, meskipun tidak semua masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari sebagian besar siswi perempuan di salah satu SLTA di kecamatan tersebut kebanyakan tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Fenomena ini terjadi karena keluarga dari siswi tersebut masih kental sekali ideologi patriarkinya. Dengan otoritas yang dimiliki keluarga berhak menentukan masa depan anak perempuannya yaitu melanjutka ke jenjang pernikahan. Secara tidak langsung hal ini memutus kesempatan pendidikan yang lebih tinggi kaum perempuan di kecamatan tersebut. Tentu ini menambah gap yang semakin tinggi antara kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Namun lambat laun terjadi perkembangan yang lumayan signifikan khususnya 4 tahun belakangan. Kesadaran dan membaiknya kualitas hidup masyarakat membuat para orang tua yang semangat menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang berikutnya setelah SLTA.
          Selanjutnya yang kedua adalah posisi perempuan dalam dunia politik di Indonesia. Dalam hal ini adalah ksempatan untuk memilih dan dipilih. Selama ini mayoritas politisi atau wakil rakyat yang duduk di pemerintahan didominasi oleh kaum laki-laki. Sangat sulit kaum perempuan untuk menempati posisi tersebut. Hal ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat yang selama ini perempuan tidak layak untuk duduk di dunia politik. Bisa jadi karena diragukan kualitasnya, juga bisa jadi karena pemahaman bahwa kaum perempuan hanya pantas mengurus kegitan domestik saja. Namun demikian, akhirnya turunlah aturan kalau tidak salah 30% kuota perempuan untuk duduk di kursi wakil rakyat. Menurut saya ini adalah suatu upaya pemerintah untuk memberikan kesempatan perempuan memberikan sumbangsi kinerjanya di dunia politik.
          Pada dunia ekonomi pun demikian, selama ini dunia ekonomi yang menguasai adalah kaum laki-laki. Ini sudah bisa dilihat saat sistem kapitalisme muncul. Diawali dengan perekrutan tenaga kerja yang mengedepankan kaum laki-laki. Ini memungkinkan sektor-sektor ekonomi potensial akhirnya dikuasai oleh laki-laki. Sedangkan perempuan kembali lagi hanya beredar dalam ranah domestik.
          Berikutnya yang ketiga ialah ketimpangan perbedaan warna kulit. Menurut sependek pengetahuan penulis isu perbedaan warna kulit masih sering kelihatan rivalitasnya. Tidak hanya menyangkut perbedaan perempuan kulit putih dan perempuan kulit hitam saja, melainkan seluruh jenis kelamin. Dalam segala bidang si kulit hitam di label sebagai makhluk kelas bawah dan si kulit putih selalu dianggap diatas mereka. Ini juga terjadi pada perempuan kulit hitam. Dalam berbagai kesempatan perempuan kulit hitam seringkali di nomor dua kan. Contohnya dalam perekrutan karyawati, yang menjadi prioritas utama adalah  perempuan kulit putih.
          Dari beberapa hal diatas jelas kebebasan individu tidak berjalan. Perlu adanya perubahan, ini menurut penganut feminisme liberal.  Pendidikan merupakan kunci awal untuk membuka pintu persamaan dan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Selain itu hadirnya negara juga sangat diperlukan untuk mempermudah regulasi yang memihak khususnya perempuan.


Feminisme Radiakal
          Aliran berikutnya adalah feminisme radikal. Lahir di Amerika antara 1960an-1970an, menurut beberapa sumber di internet. Titik fokusnya adalah menyerang atau menolak ideologi patriarki dan institusi keluarga. Keluarga dinilai sebagai sebuah institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki sehingga perempuan tertindas.
          Hal yang paling vokal disuarakan malah revolusi reproduksi. Disini dijelaskan bahawa tidak akan ada perubahan yang fundamental bagi perempuan selama reproduksi alamiah tetap menjadi keharusan. S. Firestone menilai reproduksi alamiah adalah akar kejahatan , terutama kejahatan yang muncul dari rasa memiliki yang menghasilkan rasa kebencia dan kecemburuan. Lebih anjut aliran ini menjelaskan bahwa semakin sedikit perempuan terlibat dari proses reproduksi , semakin banyak waktu dan tenaga yang dapat digunakan untuk terlibat dalam proses produktif masyarakat. Oleh sebab itu, akhirnya muncul reproduksi buatan sebagai upaya pembebasan. Untuk memiliki anak perempuan tidak harus melibatkan laki-laki, diciptakanlah bank sperma. Ini memberikan keleluasaan perempuan kapan pun ingin memiliki anak tinggal memanfaatkan bank sperma.
          Muncul juga pada aliran tema-tema spesifik diantaranya kehamilan/kelahiran dan perkawinan. Pada term kehamilan / kelahiran ada kelompok feminis radikal yang menolak. Dikarenakan ini mengeksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki. Jadi perempuan bisa menolak. Kelompok feminis radikal berikutnya tetapi ada yang mengharuskan karena dinilai sebagai basis kehidupan/kelestarian. Hal senada pada term perkawinan. Ada kelompok feminis radiakal yang menolak, ada juga yang mengharuskan, cuman perempuan diberi kebebasan untuk menolak atau tidak(hak untuk memilih).
          Feminisme radikal merupakan aliran yang paling dekat dengan munculnya lesbian. Lesbian disini berarti adalah wujud merdekanya perempuan dari laki-laki. Pada periode ini memang mengajak perempuan untuk menghindari bahkan tidak perlu laki-laki dalam kehidupan perempuan. Khusunya dalam seksualitas. Perempuan sangat berhak menikmati hasrat seksualitasnya dengan sesama jenis bahkan dengan dirinya sendiri melalui masturbasi.
          Dalam feminisme radikal Mari Daly dalam bukunya Beyond God the Father menolak istilah masklin dan feminim karena dinilai sebagai kebingungan patriarki. M. Daly juga menyimpulkan perempuan harus menolak apa yang tampaknya baik dari feminitas dan menolak aspek yang jelas buruk dari feminitas karena semua itu merupakan konstruksi yang dibangun oleh laki-laki.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com