Kamis, 26 Mei 2016

Transformasi Visi LDII

Transformasi Visi LDII
(Studi Kumpulan Liputan Media dalam RAKERNAS LDII Tahun 2007)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
NIM.2832133002

            Selama ini LDII dinisbatkan pada sifatnya yang eksklusif, senang mengafirkan orang yang bukan kelompoknya, dan sering menajiskan orang di luar kelompoknya. Ada berbagai temuan-temuan menarik pada tulisan di beberapa media cetak yang berhasil di rangkum dalam buku yang bertajuk Kumpulan Liputan Media RAKERNAS LDII tahun 2007. Ada berbagai macam media dan berbagai tulisan yang di angkatnya, pada review ini hanya beberapa tulisan media cetak yang di angkat oleh penulis karena  di nilai menarik untuk di diskusikan lebih lanjut.
            Pertama,  pada media cetak Pikiran Rakyat terbitan Selasa 6 Maret 2007. Judul tulisannya “LDII Menjawab Tuduhan Miring”. Di dalam media cetak tersebut di katakan LDII berusaha untuk menjawab berbagai tuduhan miring dan stigma negatif yang beredar. Tudingan yang sering di alamatkan kepada mereka adalah Islam Jamaah(eksklusif).
            Ketua Umum LDII waktu itu, K.H. Abdullah Syam menjelaskan,”Tidak ada hubungan Islam Jamaah dengan LDII”. Menurutnya LDII telah pula menjelaskan kepada Komisi Fatwa MUI pada saat itu di ketuai K.H Ma’ruf Amin bahwa tidak benar anggota LDII pada salat berjamaah tidak boleh mengambil imam selain orang yang berasal dari kelompoknya.
            Abdullah Syam juga menjelaskan bahwa MUI telah melakukan kunjungn ke pondok mereka di Jawa Timur untuk mengetahui apa sebenarnya LDII, termasuk berbagai tuduhan yang menurutnya tidak benar selama ini yang dialamatkan kepada mereka. Salah satu tuduhan yang tidak benar kata Abdullah Syam adalah jamaah LDII suka “mengafirkan ”orang yang bukan jamaahnya.
            Senada dengan Ketum LDII itu, Koordinator Bidang Dakwah LDII, H. Chriswanto Santoso menjelaskan bahwa sifat eksklusif yang sering dituduhkan kepada LDII bukanlah doktrin LDII. Kalaupun ada anggota LDII yang bersikap demikian, hal tersebut murni sifat perseorangan semata. Bukan menjadi ajaran LDII. Lebih jelas, LDII menurut Chriswanto yang juga Ketua DPD LDII Jatim saat itu, menjelaskan bahwa mereka sudah berbaur dengan ormas Islam lain seperti NU dan Muhammadiyah.
            Menurut saya semangat yang sama juga terlihat dalam tulisan yang di muat Jawa Pos  edisi Rabu 7 Maret 2007. Dengan judul yang relatif sama maknanya yaitu LDII Ingin Hapus Citra Islam Jamaah. Terlihat LDII berupaya menghapus citra sebagai penganut aliran Islam Jamaah. MUI merespon baik perubahan visi ormas tersebut. Menurut Ma’ruf Amin saat itu, MUI sedang menunggu hasil klarifikasi. Ada perubahan visi atau tidak tergantung LDII sendiri. Menurutnya klarifikasi tersebut dilakukan oleh pimpinan MUI berbagai tingkatan mulai pusat hingga daerah. Mereka akan menilai sejauh mana keseriusan LDII berubah dan dapat di terima di masyarakat.
            Ma’ruf menegaskan telah menetapkan beberapa syarat terkait perubahan visi LDII. Di antaranya, keharusan meninggalkan aliran islam jamaah, dilarang menggunakan sistem keamiran dalam internal organisasi, tidak lagi gegabah mengafirkan atau menajiskan orang islam di luar ormasnya, dan menjadi organisasi terbuka.
            Berikut perubahan visi LDII yaitu :
1.     Berkomitmen terhadap NKRI sekaligus berideologi Pancasila dan UUD 1945.
2.     Menolak tudingan negatif yang masih menyebutkan, masih mengajarkan Islam Jamaah.
3.     Berupaya memfokuskan pada bidang ekonomi dengan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
4.     Terus mengembangkan kerja sama dengan organisasi lain dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama.
5.     Membuka aktivitas peribadatan masjid-masjid LDII, agar bersifat terbuka dan dapat diikuti masyarakat umum.
6.     Membantah menerapkan sistem keamiran dalam organisasi. Keamiran hanya sebatas ilmu yang diambil nilai-nilai keteladanan sesuai ajaran Rasulullah.
Terlepas dari beberapa hal diatas, bagaimana kita memanusiakan manusia tentu sangat penting untuk dilakukan di berbaga aspek kehidupan. Saling terbuka, tidak saling mengafirkan satu sama lain antar umat, dan menjaga komunikasi merupakan beberapa kunci positif untuk menumbuhkan semangat kerukunan antar umat beragama, apalagi masih satu agama meskipun beda ormasnya.

Free livescore from Unogoal.com