Transformasi
Visi LDII
(Studi
Kumpulan Liputan Media dalam RAKERNAS LDII Tahun 2007)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
NIM.2832133002
Selama ini LDII dinisbatkan pada
sifatnya yang eksklusif, senang mengafirkan orang yang bukan kelompoknya, dan
sering menajiskan orang di luar kelompoknya. Ada berbagai temuan-temuan menarik
pada tulisan di beberapa media cetak yang berhasil di rangkum dalam buku yang
bertajuk Kumpulan Liputan Media RAKERNAS LDII tahun 2007. Ada berbagai macam
media dan berbagai tulisan yang di angkatnya, pada review ini hanya beberapa
tulisan media cetak yang di angkat oleh penulis karena di nilai menarik untuk di diskusikan lebih
lanjut.
Pertama,
pada media cetak Pikiran Rakyat terbitan Selasa 6 Maret
2007. Judul tulisannya “LDII Menjawab Tuduhan Miring”. Di dalam media cetak
tersebut di katakan LDII berusaha untuk menjawab berbagai tuduhan miring dan
stigma negatif yang beredar. Tudingan yang sering di alamatkan kepada mereka
adalah Islam Jamaah(eksklusif).
Ketua Umum LDII waktu itu, K.H.
Abdullah Syam menjelaskan,”Tidak ada hubungan Islam Jamaah dengan LDII”.
Menurutnya LDII telah pula menjelaskan kepada Komisi Fatwa MUI pada saat itu di
ketuai K.H Ma’ruf Amin bahwa tidak benar anggota LDII pada salat berjamaah
tidak boleh mengambil imam selain orang yang berasal dari kelompoknya.
Abdullah Syam juga menjelaskan bahwa
MUI telah melakukan kunjungn ke pondok mereka di Jawa Timur untuk mengetahui
apa sebenarnya LDII, termasuk berbagai tuduhan yang menurutnya tidak benar
selama ini yang dialamatkan kepada mereka. Salah satu tuduhan yang tidak benar
kata Abdullah Syam adalah jamaah LDII suka “mengafirkan ”orang yang bukan
jamaahnya.
Senada dengan Ketum LDII itu,
Koordinator Bidang Dakwah LDII, H. Chriswanto Santoso menjelaskan bahwa sifat eksklusif
yang sering dituduhkan kepada LDII bukanlah doktrin LDII. Kalaupun ada anggota
LDII yang bersikap demikian, hal tersebut murni sifat perseorangan semata.
Bukan menjadi ajaran LDII. Lebih jelas, LDII menurut Chriswanto yang juga Ketua
DPD LDII Jatim saat itu, menjelaskan bahwa mereka sudah berbaur dengan ormas
Islam lain seperti NU dan Muhammadiyah.
Menurut saya semangat yang sama juga
terlihat dalam tulisan yang di muat Jawa
Pos edisi Rabu 7 Maret 2007. Dengan
judul yang relatif sama maknanya yaitu LDII Ingin Hapus Citra Islam Jamaah.
Terlihat LDII berupaya menghapus citra sebagai penganut aliran Islam Jamaah.
MUI merespon baik perubahan visi ormas tersebut. Menurut Ma’ruf Amin saat itu,
MUI sedang menunggu hasil klarifikasi. Ada perubahan visi atau tidak tergantung
LDII sendiri. Menurutnya klarifikasi tersebut dilakukan oleh pimpinan MUI
berbagai tingkatan mulai pusat hingga daerah. Mereka akan menilai sejauh mana
keseriusan LDII berubah dan dapat di terima di masyarakat.
Ma’ruf menegaskan telah menetapkan
beberapa syarat terkait perubahan visi LDII. Di antaranya, keharusan
meninggalkan aliran islam jamaah, dilarang menggunakan sistem keamiran dalam
internal organisasi, tidak lagi gegabah mengafirkan atau menajiskan orang islam
di luar ormasnya, dan menjadi organisasi terbuka.
Berikut perubahan visi LDII yaitu :
1.
Berkomitmen terhadap NKRI
sekaligus berideologi Pancasila dan UUD 1945.
2.
Menolak tudingan negatif yang
masih menyebutkan, masih mengajarkan Islam Jamaah.
3.
Berupaya memfokuskan pada bidang ekonomi
dengan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
4.
Terus mengembangkan kerja sama
dengan organisasi lain dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama.
5.
Membuka aktivitas peribadatan
masjid-masjid LDII, agar bersifat terbuka dan dapat diikuti masyarakat umum.
6.
Membantah menerapkan sistem keamiran dalam organisasi. Keamiran hanya sebatas ilmu yang diambil
nilai-nilai keteladanan sesuai ajaran Rasulullah.
Terlepas dari beberapa hal diatas, bagaimana
kita memanusiakan manusia tentu sangat penting untuk dilakukan di berbaga aspek
kehidupan. Saling terbuka, tidak saling mengafirkan satu sama lain antar umat,
dan menjaga komunikasi merupakan beberapa kunci positif untuk menumbuhkan
semangat kerukunan antar umat beragama, apalagi masih satu agama meskipun beda
ormasnya.