Kamis, 17 Maret 2016

Catatan Masa SMA

Catatan Masa SMA
oleh: Ahmad Khoirul Anam

                “ Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah ”. Sepenggal lirik lagu dari almarhum Crisye ini telah memutar kembali ingatanku pada masa-masa sekolah, khususnya SMA.  Mengenang masa-masa ini mungkin bagi setiap orang merupakan hal yang biasanya dibicarakan ketika sedang reuni atau sekadar berkmpul dengan teman-teman lama, terlebih teman-teman SMA. Banyak sekali yang dibicarakan, mulai dari kenangan-kenangan, keusilan, dan bebagai hal lainnya. Akupun demikian, tetapi yang berbeda adalah setiap kali sedang berkumpul dengan teman-teman SMA kebanyakan aku sebagai penyimak. Aku hanya lebih nyaman dan lebih sering mendengarkan cerita teman-teman, sesekali memang menyumbang pendapat ataupun cerita.
                Sebelumnya sedikit aku jelaskan. Dulu aku bersekolah di sebuah SMA pinggiran. Jauh dari keramaian kota, yang ada hanya hamparan sawah begitu luas disekelilingnya. Akses menuju sekolahku ada dua, yaitu dua jalur dan dualem. SMA Negeri 1 Pakel Tulungagung, begitu nama lengkapnya. Ada berbagai sebutan memang dari yang biasa hingga cenderung gokil, mulai dari smansapa, smapakta, smandut(sma duwet), bahkan sempak(esem a pakel). Tidak ada kata megah, tapi yang ada mewah alias mepet sawah. Selama tiga tahun bersekolah tidak ada banyak hal yang istimewa memang, semua berjalan biasa seperti anak SMA pada umumnya. Meskipun demikian, tiga tahun tersebut bukan tidak ada catatan sama sekali. Ada beberapa, entah ini menarik apa tidak, tapi semoga menarik sekaligus berkesan.
Tipologi Siswa SMA
                Waktu SMA aku berteman dengan semua orang. Mereka bermacam-macam punya karakteristik masing-masing. Makanya kali ini tidak ada niatan untuk mesimplifikasikannya. Menurut analisis dangkalku selama ini, ada beberapa tipe siswa yang aku kenal. Pertama, aku menyebutnya kaum rajin. Kaum rajin disekolahku termasuk langka, tapi ada. Mereka tersebar, ada yang rajin di kelas, aktif mengerjakan tugas, kemana-mana bawa buku. Termasuk juga mereka yang rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Tidak jarang setiap kali ada kegiatan mereka bahkan rajin tidur di sekolah. Berkat kerajinan mereka, akhirnya mengahsilkan beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik. Berikutnya yang kedua adalah kaum tengah-tengah. Tipe yang kedua ini layaknya siswa pada ummnya, biasa-biasa saja, berangkat pagi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Mereka kebanyakan tidak neko-neko,waktu istirahat sebagian tetap di kelas, sebagian di kantin, ngobrol, makan, dan lain-lain. Setelah bel pulang sekolah mereka juga langsung pulang.
                Tipe selanjutnya atau yang ketiga adalah siswa luar biasa, luar biasa bandelnya. Didominasi  oleh laki-laki. Seringkali datang terlambat, di jalan pun ugal-ugalan. Motor cenderung bersuara diatas normal. Walaupun bandel mereka tetap aktif ke sekolah, saking aktifnya orang tuanya pun tak jarang ikut ke sekolah. Tentu karena dipanggil bidang kesiswaan. Di sekolah, waktu mereka habiskan untuk sekedar usil, dan kebanyakan mereka habiskan di kantin daripada di kelas. Ada banyak kegiatan mulai sekadar bolos kelas, makan , merokok, makan lagi, bolos lagi, merokok lagi , sampai-sampai sambil bolos rokokpun dimakan. Kegiatan yang istiqomah dan terfavorit adalah gelut bahkan pernah aku lihat tawuran, tapi belum sampai seru-seru banget keburu dibubarkan warga. Tidak sedikit dari mereka kena skorsing karena kegiatan yang tidak patut untuk ditiru ini tanpa keahlian khusus dan profesional. Heran, padahal kegiatan yang satu ini tiadak ada dipelajaran. Bahkan event-event yang sering dilaksanakan tidak pernah ada yang namanya lomba tawuran antar kelas atau antar sekolah, yang ada lomba cerdas cermat dan sejenisnya. Tentu yang menjadi perhatian adalah posisiku. Pada tipologi ini aku hanya termasuk kedalam siswa  biasa, biasa tidur di sekolah. Jika dikatakan siswa yang nakal juga tidak, tidak salah. Pernah sekali waktu aku diajak bolos oleh beberapa teman. Katanya biar kekinian. Sontak aku langsung mau,”Kapan lagi ada kesempatan membolos sekolah”, begitu pikirku. Selama ini di bangku SMA memang belum pernah sekalipun aku terlibat kasus bolos kelas apalagi bolos sekolah. Seingatku terakhir kali bolos yaitu ketika kelas 9 SMP. Saat aku berhasil bolos waktu itu yang mengherankan adalah muncul suatu gejolak dihati nurani, yang rasanya sedut-sedut berdegub kencang. Perasaan bersalah menyelimuti diriku. Disaat yang lain dengan santai menikmati prosesi pembolosan, aku malah kepikiran bapak dan ibu, entah kenapa tapi wajah mereka melintas di kiri kananku seolah-olah mau menghakimiku saat itu juga. Setelah melewati kejadian itu, aku berpikiran bahwa mungkin diri ini ditakdirkan untuk menjadi anak baik-baik. Jadi pengalaman bolos saat kelas 10 SMA itu aku jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Kebiasaan Siswa SMA
                Ketika ditanya,”Apa pelajaran favorit kamu?”. Pasti siswa-siswi pada umumnya akan menjawab,”Biologi atau sosiologi dan sebagainya”. Tapi tidak untuk aku dan teman-teman. Kami begitu kompak dalam memilih pelajaran favorit yaitu pelajaran Jam Kosong. Jam kosong menurut kami sangat berarti betul. Bila diibaratkan adalah penyedap rasa pada sayuran, jadi kalau tidak ada jam kosong hidup ini terasa hambar. Kalaupun disuruh membuat skala prioritas, dengan tegas aku akan menempatkan jam kosong pada urutan ke tujuh dalam pilihan hidupku. Kenapa nomor tujuh, karena nomor satu sampai dengan nomor lima adalah Pancasila. Banyak sekali hikmah yang kami dapatakan dalam jam kosong. Kadang-kadang bermain gaplei, jamaah remi, terkadang juga nonton film. Sesuai dengan namanya yaitu siswa SMA alias Sudah Mengenal Anu, film yang kami saksikan pun beragam. Menurutku sudah begitu sangat jelas kalau film-film yang kami saksikan adalah serupa dengan One Peace, Doraemon, Naruto, dan sejenisnya.
                Selain jam kosong, kebiasaan yang tidak pernah terlupakan adalah ketika pulang pagi atau pulang lebih awal. Ini sekali lagi merupakan makanan empuk bagi kami. Ibarat kami ini kucing, pulang pagi bagaikan ikan teri gratis di siang bolong. Mayoritas dari kami memang lulusan SD. Kami selalu mengaplikasikan betul ilmu dari SD pada kehidupan sehari-hari yaitu filosofi SD alias Seneng Dolan. Kesempatan pulang pagi kami manfaatkan betul untuk  dolan. Paling sering adalah ke Pantai Prigi, kadang juga ke taman Neyama atau juga ke Pantai Sidem. Tapi yang palik asyik adalah momen futsal dengan teman-teman perempuan. Bagi kami sekadar berkumpul dan seru-seruan bersama merupakan kesempatan yang sangat mahal, karena jarang-jarang. Cuma terkadang repot juga tatkala kami para laki-laki sedang futsal dengan teman-teman perempuan. Olahraganya sedikit, tertawanya banyak. Main baru lima menit, dua puluh menitnya untuk foto-foto. Paling repot lagi kami para laki-laki suka bingung, pas sedang main, ini bola futsalnya yang mana, seketika ada banyak hahahahaha. Ternyata waktu itu di lapangan memang pengelola menyediakan service bola yang cukup banyak, paling untuk mengimbangi teman-teman perempuan.
IPA vs IPS
Standarnya program di SMA ialah minimal ada jurusan IPA dan IPS. Tujuan utamanya yaitu untuk spesifikasi keahlian siswa, begitu kata seorang guru BK ku. Namun tidak jarang bedampak negatif bagi siswa SMA. Di sekolahku pembedaan IPA dan IPS menimbulkan perseteruan yang lumayan mencekam. Menurut beberapa kakak kelas sejarahnya memang sudah cukup panjang. Hampir mirip-mirip dengan rivalitas Jak Mania dengan Bobotoh terlebih Bonek Mania dengan Aremania. Beberapa pengamat bola menyatakan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk bisa akur. Tapi tenang, pembaca diharapkan untuk tidak takut dan membayangkan yang tidak-tidak terlebih dahulu.
Hal yang demikian tadi memang terjadi betul di sekolahku, namun itu terjadi kurun waktu 2011 ke belakang. Semua menjadi berubah ketika tahun 2011 akhir muncul sosok Ketua OSIS membawa misi yang tidak aku mengerti awalnya, tapi intinya sebisa mungkin meminimalisir rivalitas IPA dengan IPS. Mungkin sekarang itu yang dinamakan misi equality/equity diberbagai bidang kehidupan. Dengan penuh usaha yang termasuk keras,anak tersebut memulai dari awal yaitu membangun komunikasi yang baik mulai siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan tukang kebun, terlebih antar siswa program IPA dengan siswa program IPS. Lambat namun pasti, penanaman rasa kekeluargaan gencar dilakukan. Penyamaan konsep pemikiran, tujuan hidup menjadi senjata ampuh. Sejatinya memang perseteruan selama ini hanyalah karena salah paham, semangat kedaerahan, ego yang tidak terkendali, dan dibumbui dengan emosi yang berlebihan. Mungkin ini juga beberapa faktor begitu masih melekat pada orang-orang yang masih demen tawuran, termasuk suporter bola.
                Hasilnya luar biasa. Hal itu bisa diihat ketika final futsal ataupun basket antara IPA vs IPS yang dulunya diwarnai dengan semangat permusuhan, sekarang dihiasi oleh semangat kekeluargaan. Terbukti, kalau dulu selepas pertandingan futsal atau basket antara IPA vs IPS diakhiri dengan pukulan maut, namun sekarang bisa diakhiri dengan pelukan mesra. Tentu ini merupakan hal yang sederhana namun efeknya diharapkan menyebar ke aspek-aspek kehidupan lainnya. Semua tadi juga berkat bantuan dari dewan guru serta mental siswa-siswi yang kian hari semakin dewasa pula. Aku waktu itu juga kebetulan merupakan siswa dari program IPA meskipun IPA rasa IPS. Akan tetapi tetap sayang dan cinta kepada teman-teman IPS maupun IPA sendiri, terutama yang perempuan.
US dan UN
                Ujian merupakan suatu langkah untuk melihat hasil belajar selama proses pembelajaran sehari-hari. Ujian yang dilaksanakan setiap akhir semester menjadi agenda wajib yang kudu ditempuh oleh seluruh siswa, tidak terkecuali aku. Ujian semester bagiku adalah agenda yang sangat penting, bahkan bukan main-main, dan harus penuh persiapan. Sangat penting dan tidak main-main memang, pasalnya setiap ujian semester singgasana bahagiaku tepat berada di depan pengawas. Kata orang”Pas tidak ada melesetnya”. Hal ini jika ditilik jauh ke belakang ada berbagai sebab.
                Pertama, mungkin Ibu pengawas selalu jatuh hati kepadaku, sehingga tidak tega aku duduk di belakang. Seluruh gerak-gerikku tak satupun terlewatkan. Pernah satu waktu pensil milikku terjatuh, tanpa kusangka Ibu pengawas yang kebetulan cantik mengambil lalu memberikannya kepadaku seraya berkata dengan penuh mesra,”Ora usah pecicilan, ini cuma modus biar kamu bisa nyontek kan?”, aku pun hanya tersipu malu dan terdiam. Sebab yang kedua adalah suatu kenyataan pahit. Nomor urut ujian yang memang selama ini menggunakan sistem urutan sesuai alphabet, membuatku harus selalu ikhlas untuk selalu duduk paling depan. Suatu hari aku pernah meratapi nasibku ini. “Tega benar orang tuaku, dengan namaku yang huruf depannya A, setiap kali ujian mengharuskannku melakukan senyuman terpaksa, di depan pengawas ujian yang terkadang senyum pun tidak pernah”, begitu kira-kira celotehan putus asa yang terkadang mampir melanda.
                Berikutnya, ujian semester merupakan agenda 6 bulan sekali yang butuh persiapan matang. Jangan salah, tampang pas-pasan cenderung pecicilan seperti ini, aku tetap menganggap ujian semester sesuatu yang sangat serius. Selain malu, aku juga takut dengan ibu bapak jika seumpama tidak naik kelas. Terbukti, setiap malam sebelum ujian, membuat contekan adalah rutinitas wajib. Tapi yang sering terjadi, harapan bisa menyontek tinggalah harapan. Semuanya terasa musnah seketika akibat serangan Ibu pengawas cantik yang cenderung bawel. Batin ini sangat ingin menyontek, namun apa daya raga ini selalu lemas jika di hadapan Ibu pengawas cantik. Mengherankan memang, setiap ujian pengawas yang ada di ruanganku selalu ibu-ibu yang lumayan muda dan cenderung cantik. Mungkin ini yang dimaksud Tuhan jodoh.
                Hal tidak jauh berbeda terjadi ketika Ujian Nasional. Seperti biasa, malam sebelum UN, dengan cermat dan teliti aku membuat contekan serapi mungkin. Sambil berharap ada keajaiban aku bisa menyontek. Keesokan harinya sudah bisa di tebak. Aku mendadak tidak berdaya, lagi-lagi dihadapan pengawas cantik. Pengalaman rumit ini  ternyata menyadarkanku akan pentingnya sebuah kejujuran, meskipun dalam kenyataannya sulit sekali dilakukan. Jika suatu saat tulisan ini dibaca oleh pelajar yang akan UN, besar harapan hal-hal yang negatif diatas jangan pernah ditiru. Bisa fatal akibatnya. Tapi untuk hikmahnya yaitu sebuah kejujuran dalam ujian monggo dilaksanakan.
                 

4 komentar:

Free livescore from Unogoal.com