Catatan Masa SMA
oleh: Ahmad Khoirul Anam
“ Tiada masa paling indah,
masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah ”.
Sepenggal lirik lagu dari almarhum Crisye
ini telah memutar kembali ingatanku pada masa-masa sekolah, khususnya SMA. Mengenang masa-masa ini mungkin bagi setiap
orang merupakan hal yang biasanya dibicarakan ketika sedang reuni atau sekadar
berkmpul dengan teman-teman lama, terlebih teman-teman SMA. Banyak sekali yang
dibicarakan, mulai dari kenangan-kenangan, keusilan, dan bebagai hal lainnya.
Akupun demikian, tetapi yang berbeda adalah setiap kali sedang berkumpul dengan
teman-teman SMA kebanyakan aku sebagai penyimak. Aku hanya lebih nyaman dan
lebih sering mendengarkan cerita teman-teman, sesekali memang menyumbang
pendapat ataupun cerita.
Sebelumnya sedikit aku jelaskan.
Dulu aku bersekolah di sebuah SMA pinggiran. Jauh dari keramaian kota, yang ada
hanya hamparan sawah begitu luas disekelilingnya. Akses menuju sekolahku ada
dua, yaitu dua jalur dan dualem. SMA
Negeri 1 Pakel Tulungagung, begitu nama lengkapnya. Ada berbagai sebutan memang
dari yang biasa hingga cenderung gokil, mulai
dari smansapa, smapakta, smandut(sma
duwet), bahkan sempak(esem a pakel). Tidak
ada kata megah, tapi yang ada mewah alias mepet
sawah. Selama tiga tahun bersekolah tidak ada banyak hal yang istimewa
memang, semua berjalan biasa seperti anak SMA pada umumnya. Meskipun demikian,
tiga tahun tersebut bukan tidak ada catatan sama sekali. Ada beberapa, entah
ini menarik apa tidak, tapi semoga menarik sekaligus berkesan.
Tipologi
Siswa SMA
Waktu
SMA aku berteman dengan semua orang. Mereka bermacam-macam punya karakteristik
masing-masing. Makanya kali ini tidak ada niatan untuk mesimplifikasikannya.
Menurut analisis dangkalku selama ini, ada beberapa tipe siswa yang aku kenal. Pertama, aku menyebutnya kaum rajin.
Kaum rajin disekolahku termasuk langka, tapi ada. Mereka tersebar, ada yang
rajin di kelas, aktif mengerjakan tugas, kemana-mana bawa buku. Termasuk juga
mereka yang rajin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Tidak jarang setiap kali
ada kegiatan mereka bahkan rajin tidur di sekolah. Berkat kerajinan mereka,
akhirnya mengahsilkan beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik.
Berikutnya yang kedua adalah kaum
tengah-tengah. Tipe yang kedua ini layaknya siswa pada ummnya, biasa-biasa
saja, berangkat pagi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Mereka kebanyakan
tidak neko-neko,waktu istirahat
sebagian tetap di kelas, sebagian di kantin, ngobrol, makan, dan lain-lain.
Setelah bel pulang sekolah mereka juga langsung pulang.
Tipe selanjutnya atau yang ketiga adalah siswa luar biasa, luar
biasa bandelnya. Didominasi oleh laki-laki. Seringkali datang terlambat,
di jalan pun ugal-ugalan. Motor cenderung bersuara diatas normal. Walaupun bandel mereka tetap aktif ke sekolah, saking aktifnya orang tuanya pun tak
jarang ikut ke sekolah. Tentu karena dipanggil bidang kesiswaan. Di sekolah,
waktu mereka habiskan untuk sekedar usil, dan kebanyakan mereka habiskan di
kantin daripada di kelas. Ada banyak kegiatan mulai sekadar bolos kelas, makan
, merokok, makan lagi, bolos lagi, merokok lagi , sampai-sampai sambil bolos
rokokpun dimakan. Kegiatan yang istiqomah
dan terfavorit adalah gelut bahkan
pernah aku lihat tawuran, tapi belum sampai seru-seru banget keburu dibubarkan
warga. Tidak sedikit dari mereka kena skorsing
karena kegiatan yang tidak patut untuk ditiru ini tanpa keahlian khusus dan
profesional. Heran, padahal kegiatan yang satu ini tiadak ada dipelajaran.
Bahkan event-event yang sering
dilaksanakan tidak pernah ada yang namanya lomba tawuran antar kelas atau antar
sekolah, yang ada lomba cerdas cermat dan sejenisnya. Tentu yang menjadi
perhatian adalah posisiku. Pada tipologi ini aku hanya termasuk kedalam siswa biasa, biasa tidur di sekolah. Jika dikatakan
siswa yang nakal juga tidak, tidak salah. Pernah sekali waktu aku diajak bolos
oleh beberapa teman. Katanya biar kekinian. Sontak aku langsung mau,”Kapan lagi
ada kesempatan membolos sekolah”, begitu pikirku. Selama ini di bangku SMA
memang belum pernah sekalipun aku terlibat kasus bolos kelas apalagi bolos
sekolah. Seingatku terakhir kali bolos yaitu ketika kelas 9 SMP. Saat aku
berhasil bolos waktu itu yang mengherankan adalah muncul suatu gejolak dihati
nurani, yang rasanya sedut-sedut
berdegub kencang. Perasaan bersalah menyelimuti diriku. Disaat yang lain dengan
santai menikmati prosesi pembolosan, aku malah kepikiran bapak dan ibu, entah
kenapa tapi wajah mereka melintas di kiri kananku seolah-olah mau menghakimiku
saat itu juga. Setelah melewati kejadian itu, aku berpikiran bahwa mungkin diri
ini ditakdirkan untuk menjadi anak baik-baik. Jadi pengalaman bolos saat kelas
10 SMA itu aku jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Kebiasaan
Siswa SMA
Ketika ditanya,”Apa pelajaran
favorit kamu?”. Pasti siswa-siswi pada umumnya akan menjawab,”Biologi atau
sosiologi dan sebagainya”. Tapi tidak untuk aku dan teman-teman. Kami begitu
kompak dalam memilih pelajaran favorit yaitu pelajaran Jam Kosong. Jam kosong menurut kami sangat berarti betul. Bila
diibaratkan adalah penyedap rasa pada sayuran, jadi kalau tidak ada jam kosong
hidup ini terasa hambar. Kalaupun disuruh membuat skala prioritas, dengan tegas
aku akan menempatkan jam kosong pada urutan ke tujuh dalam pilihan hidupku.
Kenapa nomor tujuh, karena nomor satu sampai dengan nomor lima adalah Pancasila.
Banyak sekali hikmah yang kami dapatakan dalam jam kosong. Kadang-kadang
bermain gaplei, jamaah remi, terkadang juga nonton film. Sesuai dengan namanya yaitu siswa
SMA alias Sudah Mengenal Anu, film yang
kami saksikan pun beragam. Menurutku sudah begitu sangat jelas kalau film-film yang kami saksikan adalah
serupa dengan One Peace, Doraemon, Naruto,
dan sejenisnya.
Selain jam kosong, kebiasaan
yang tidak pernah terlupakan adalah ketika pulang pagi atau pulang lebih awal. Ini
sekali lagi merupakan makanan empuk bagi
kami. Ibarat kami ini kucing, pulang pagi bagaikan ikan teri gratis di siang bolong. Mayoritas dari kami memang
lulusan SD. Kami selalu mengaplikasikan betul ilmu dari SD pada kehidupan
sehari-hari yaitu filosofi SD alias Seneng
Dolan. Kesempatan pulang pagi kami manfaatkan betul untuk dolan. Paling sering adalah ke Pantai
Prigi, kadang juga ke taman Neyama
atau juga ke Pantai Sidem. Tapi yang palik asyik adalah momen futsal dengan
teman-teman perempuan. Bagi kami sekadar berkumpul dan seru-seruan bersama
merupakan kesempatan yang sangat mahal, karena jarang-jarang. Cuma terkadang
repot juga tatkala kami para laki-laki sedang futsal dengan teman-teman
perempuan. Olahraganya sedikit, tertawanya banyak. Main baru lima menit, dua
puluh menitnya untuk foto-foto. Paling repot lagi kami para laki-laki suka
bingung, pas sedang main, ini bola futsalnya yang mana, seketika ada banyak
hahahahaha. Ternyata waktu itu di lapangan memang pengelola menyediakan service bola yang cukup banyak, paling
untuk mengimbangi teman-teman perempuan.
IPA
vs IPS
Standarnya
program di SMA ialah minimal ada jurusan IPA dan IPS. Tujuan utamanya yaitu
untuk spesifikasi keahlian siswa, begitu kata seorang guru BK ku. Namun tidak
jarang bedampak negatif bagi siswa SMA. Di sekolahku pembedaan IPA dan IPS
menimbulkan perseteruan yang lumayan mencekam. Menurut beberapa kakak kelas sejarahnya
memang sudah cukup panjang. Hampir mirip-mirip dengan rivalitas Jak Mania dengan Bobotoh terlebih Bonek Mania
dengan Aremania. Beberapa
pengamat bola menyatakan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk bisa akur. Tapi
tenang, pembaca diharapkan untuk tidak takut dan membayangkan yang tidak-tidak
terlebih dahulu.
Hal
yang demikian tadi memang terjadi betul di sekolahku, namun itu terjadi kurun
waktu 2011 ke belakang. Semua menjadi berubah ketika tahun 2011 akhir muncul
sosok Ketua OSIS membawa misi yang tidak aku mengerti awalnya, tapi intinya sebisa
mungkin meminimalisir rivalitas IPA dengan IPS. Mungkin sekarang itu yang
dinamakan misi equality/equity
diberbagai bidang kehidupan. Dengan penuh usaha yang termasuk keras,anak
tersebut memulai dari awal yaitu membangun komunikasi yang baik mulai siswa
dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan tukang kebun, terlebih antar
siswa program IPA dengan siswa program IPS. Lambat namun pasti, penanaman rasa
kekeluargaan gencar dilakukan. Penyamaan konsep pemikiran, tujuan hidup menjadi
senjata ampuh. Sejatinya memang perseteruan selama ini hanyalah karena salah
paham, semangat kedaerahan, ego yang tidak terkendali, dan dibumbui dengan
emosi yang berlebihan. Mungkin ini juga beberapa faktor begitu masih melekat
pada orang-orang yang masih demen tawuran,
termasuk suporter bola.
Hasilnya luar biasa. Hal itu
bisa diihat ketika final futsal ataupun basket antara IPA vs IPS yang dulunya
diwarnai dengan semangat permusuhan, sekarang dihiasi oleh semangat
kekeluargaan. Terbukti, kalau dulu selepas pertandingan futsal atau basket
antara IPA vs IPS diakhiri dengan pukulan maut, namun sekarang bisa diakhiri
dengan pelukan mesra. Tentu ini merupakan hal yang sederhana namun efeknya
diharapkan menyebar ke aspek-aspek kehidupan lainnya. Semua tadi juga berkat
bantuan dari dewan guru serta mental siswa-siswi yang kian hari semakin dewasa
pula. Aku waktu itu juga kebetulan merupakan siswa dari program IPA meskipun
IPA rasa IPS. Akan tetapi tetap sayang dan cinta kepada teman-teman IPS maupun IPA
sendiri, terutama yang perempuan.
US
dan UN
Ujian
merupakan suatu langkah untuk melihat hasil belajar selama proses pembelajaran
sehari-hari. Ujian yang dilaksanakan setiap akhir semester menjadi agenda wajib
yang kudu ditempuh oleh seluruh
siswa, tidak terkecuali aku. Ujian semester bagiku adalah agenda yang sangat
penting, bahkan bukan main-main, dan harus penuh persiapan. Sangat penting dan
tidak main-main memang, pasalnya setiap ujian semester singgasana bahagiaku
tepat berada di depan pengawas. Kata orang”Pas tidak ada melesetnya”. Hal ini
jika ditilik jauh ke belakang ada berbagai sebab.
Pertama, mungkin Ibu pengawas selalu jatuh hati kepadaku, sehingga
tidak tega aku duduk di belakang. Seluruh gerak-gerikku tak satupun
terlewatkan. Pernah satu waktu pensil milikku terjatuh, tanpa kusangka Ibu
pengawas yang kebetulan cantik mengambil lalu memberikannya kepadaku seraya
berkata dengan penuh mesra,”Ora usah
pecicilan, ini cuma modus biar kamu bisa nyontek kan?”, aku pun hanya
tersipu malu dan terdiam. Sebab yang kedua
adalah suatu kenyataan pahit. Nomor urut ujian yang memang selama ini
menggunakan sistem urutan sesuai
alphabet, membuatku harus selalu ikhlas untuk selalu duduk paling depan.
Suatu hari aku pernah meratapi nasibku ini. “Tega benar orang tuaku, dengan
namaku yang huruf depannya A, setiap kali ujian mengharuskannku melakukan
senyuman terpaksa, di depan pengawas ujian yang terkadang senyum pun tidak
pernah”, begitu kira-kira celotehan putus asa yang terkadang mampir melanda.
Berikutnya, ujian semester
merupakan agenda 6 bulan sekali yang butuh persiapan matang. Jangan salah,
tampang pas-pasan cenderung pecicilan seperti ini, aku tetap menganggap ujian
semester sesuatu yang sangat serius. Selain malu, aku juga takut dengan ibu
bapak jika seumpama tidak naik kelas. Terbukti, setiap malam sebelum ujian,
membuat contekan adalah rutinitas wajib. Tapi yang sering terjadi, harapan bisa
menyontek tinggalah harapan. Semuanya terasa musnah seketika akibat serangan
Ibu pengawas cantik yang cenderung bawel.
Batin ini sangat ingin menyontek, namun apa daya raga ini selalu lemas jika di
hadapan Ibu pengawas cantik. Mengherankan memang, setiap ujian pengawas yang
ada di ruanganku selalu ibu-ibu yang lumayan muda dan cenderung cantik. Mungkin
ini yang dimaksud Tuhan jodoh.
Hal tidak jauh berbeda terjadi
ketika Ujian Nasional. Seperti biasa, malam sebelum UN, dengan cermat dan teliti
aku membuat contekan serapi mungkin. Sambil berharap ada keajaiban aku bisa
menyontek. Keesokan harinya sudah bisa di tebak. Aku mendadak tidak berdaya,
lagi-lagi dihadapan pengawas cantik. Pengalaman rumit ini ternyata menyadarkanku akan pentingnya sebuah
kejujuran, meskipun dalam kenyataannya sulit sekali dilakukan. Jika suatu saat
tulisan ini dibaca oleh pelajar yang akan UN, besar harapan hal-hal yang
negatif diatas jangan pernah ditiru. Bisa fatal akibatnya. Tapi untuk hikmahnya
yaitu sebuah kejujuran dalam ujian monggo
dilaksanakan.
Menarik ceritanya..makasih sudah ikutan ya :)
BalasHapustrimakasih atas apresiasinya :)
BalasHapusjadi kangen SMA
BalasHapusthank nice infonya sangat menarik, kunjungi http://bit.ly/2xJx72a
BalasHapus