Selasa, 12 Mei 2015

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF #8 #9



Pertemuan ke- 8

Pada pertemuan ini agak molor 3 hari karena pada pertemuan yang sebenarnya di tunda akibat bentrok dengan acara Institut Transvaluasi. Akhirnya jam kuliah dipindah hari Senin jam pertama tanggal 4 Mei 2015. Sesuai perkiraan karena kita tidak pernah ada jam pertama pada semester ini aku dan teman – teman mayoritas datang telat , Cuma aku tidak keterlaluan telatnya. Hari ini adalah membacakan hasil latar belakang dari calon penelitian ilmiah kami. Satu persatu kami di tunjuk oleh pak Nai’m untuk mempresentasiakan hingga akhirnya semua di evalusai oleh beliau.
Dalam catatanku setidaknya aku sendiri harus menentukan objek yang lebih spesifik agar jangan terlalu lebar pembahasannya mengenai Tradisi Pernikahan Jawa.
Lalu Fitri disarankan agar jangan dulu menyampaikan ciri – ciri materi yang dia bahas secar detail pada latar belakang.
 Kemudian Fatim, penelitiannya bagus tapi sangat lokalsentris dan langka waktu penelitiannya yaitu hanya pada waktu suroan(jamasan)
Terus emak dian dievaluasi mengenai jangan kebanyakan membicarakan mitos melulu, harus diseimbangkan dengan fakta ilmiahnya.
Lanjut ke Laela, menurut pak Naim penelitian Laela harus segera di fokuskan ke dalam perspektif satu kerajaan karena dia berbicara Majapahit dan Galuh, dikhawatirkan terlalu rumit nanti penelitiannya.
Kalau anita disarankan untuk memahami kesnian Wayang terlebih dahulu.
Kemudian  Fata, disarankan untuk tidak terlebih dahulu menghajar suatu kubu terlebih dahulu pada latar belakang. Dilatar belakang kita harus berpandangan netral.
Kemudian terakhir Farid agar lebih merapikan alur karena penelitiannya berbicara masalah alur sejarah.



Pertemuan ke-9

Pertemuan kali ini hanya berselang 2 hari dari pertemuan ke -8. Pada kesempatan ini seharusnya aku dan teman – teman mengumpulkan hasil penelitian untuk bagian metode penelitian karena aku malas aku belum mengerjakan. Ternyata banyak teman – teman yang meniru jejakku (hahahaaha). Kecuali si sahabatku mamang Roni Ramlan. Dia sangat rajin ,disaat teman – temannya tidak mengerjakan dia mengerjakan sendiri. Berkat Roni pula pak Na’im tidak jadi marah karena ada bahan untuk dibahas. Istilahnya roni penyelamat bagiku dan pasti juga teman – teman yang lain. Dari hasil evaluasi penelitian Roni ada beberapa masukan dari pak Naim. Kita harus lebih banyak referensi dari artikel di jurnal. Kemudian masukan untuk bagian rumusan maskalah untuk poin nomer 1 tidak boleh menggunkan kalimat tanya bagaimana melainkan “ Apa” itu yang paling ideal,”tutur pa Na’im. Lalu tidak boleh ada 2 variabel dalam satu rumusan masalah, alangkah lebih baik agar dipecah ke rumusan masalah yang lain. Diakhir pembahasan pak Na’im menambah tugas kami agar menuju ke tingkat selanjutnya yaitu menuliskan data penelitian terdahulu pada masing – masing penelitian kami. Tujuannya untuk menghindari plagiasi dan memposisikan diri penelitian kami ini. Juga tetap ditagih bagi metode penelitian yang belum pada pertemuan berikutnya. Semangat – semangat sahabat :)

Senin, 27 April 2015

MAKALAH HUMANISME BARAT

MAKALAH
 Humanisme Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“Filsafat Manusia”
Dosen Pengampu:
Dr. A. Rizqon Khamami, Lc., MA.

 
Disusun Oleh: 
Ahmad Khoirul Anam   NIM. 2832133002
SEMESTER IV
JURUSAN FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
 TULUNGAGUNG
2015

A. Pengantar
       Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah bukan  Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000). Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis.

B. Regangan Teoritis dan Sejarah Humanisme
1.      Regangan teoritis
                        Humanisme menurut kamus filsafat  adalah sebuah filsafat yang (a) memandang individu rasional sebagai mahluk tertinggi (b) memandang individu sebagai nilai tertinggi dan (c) ditujukan untuk membina perkembangan  kreatif dan moral individu dengan cara bermakna dan rasional tanpa merujuk pada konsep-konsep adi kodrati (Rosda;140; 1995). Zainal Abidin dalam bukunya Filsafat manusia  mengatakan bahwa Humanisme berasal dari kata latin “humanitas” (pendidikan manusia) dan dalam bahasa Yunani disebut paideia;  pendidikan yang didukung oleh manusia –manusia yang hendak menempatkan seni liberal dijadikan sebagi sarana terpenting dalam pendidikan waktu itu[1]. Humanisme adalah suatu gerakaan intelektual dan kesusteraan yang lahir pada prinsipnya aspek dasar dari gerakan Renaissance abad 14-16 Masehi,  merupakan salah satu faham filsafat yang hendak mendudukan manusia yang hendak menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia dari ukuran segala penilaian, kejadian dan gejala diatas muka bumi  ini (Abidin; 26-27; 2000)[2].    Sedangkan menurut Ali Syariati humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan. Ia memandang manusia sebagi mahluk mulia dan prinsip yang disarankannya didasarkan atas pemenuhan kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia (Ali syariati;39;1992)[3], Jadi jelaslah bahwasanya humanisme adalah aliran filasafat yang berusaha mendudukan manusia sebagai pusat perhatian dari segala studi dan bertujuan untuk mengangkat kemulian dan harkat manusia

2. Sejarah Humanisme
                        Arti Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah bukan  Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000)[4]. Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis. Abad pertengahan adalah abad dimana otonomi, kreatifitas dan kemerdekaan berfikir manusia dikungkung oleh kekuasan agama yg mayoritas di eropa pada saat itu. Abad ini ini sering disebut “Abad Kegelapan” karena cahaya akal budi manusia  tertutup kabut dogma-dogma agama di sana. Kuasa manusia dipatahkan oleh pandangan agama yang menyatakan bahwa hidup manusia telah digariskan oleh kekuatan Illahi dan akal budi manusia tidak akan pernah tidak akan pernah sampai pada misteri dari  kekuatan-kekuatan itu. Pikiran –pikiran manusia yang menyimpang dari dogma-dogma kaum spiritual di eropa tersebut adalah pikiran-pikiran sesat dan karenanya harus dicegah dan dikendalikan.  Dalam zaman itulah gerakan humanisme muncul dan gerakan kaum humanis bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasan lembaga keagamaan dan membebaskan kungkungan agama yang mengikat. Kaum humanis menggunakan seni liberal sebagai materi dan sarana utamanya. Alasan utama dijadikan sarana  terpenting  pada waktu itu (disamping retorika, sejarah, etika dan politik) adalah kenyataan bahwa hanya dengan seni liberal manusia akan tergugah untuk menjadi manusia, menjadi mahluk bebas yang tidak terkungkung kekuatan diluar dirinya . Mereka percaya bahwa hanya dengan seni liberal, maka manusia akan dapat dibangunkan dari tidurnya yang sangat panjang pada abad pertengahan itu. Model pendidikan itu adalah model pendidikan yang didorong oleh semangat zaman antik (Yunani kuno), yang ditandai  oleh adanya kehidupan demokratis, pada zaman antik  klaim atas otonomi manusia dijunjung tingggi dan dalam batas-batas tertentu manusia mempunyai kewenangan sendiri dalam keterlibatanya dengan alam dan dalam penentuan arah sejarah manusia (Abidin; 27;2000)[5]. Hal senada juga dikatakan oleh Ali syariati bahwasanya teori humanisme barat dibangun atas  asas yang dibangun mitologi yunani kuno yang memandang bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian antara keduanya . Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia, seluruh perbuatan dan kesadarnnya kekuasannya yang zalim terhadap manusia yang dibelenggu kelemahan dan kebodohannya. Hal itu dilakukan karena dewa-dewa  takut menghadapi ancaman kesadaran, kebebasan, kemerdekan dan kepemimpinan manusia atas alam. Setiap manusia yang menempuh jalan ini dipandang telah melakukan dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa. Dewa-dewa dalam mitologi yunani adalah penguasa segala sesuatu dan manifestasi dari kekuatan fisik yang terdapat dialam semesta; laut, sungai bumi hujan, ekonomi, penyakit dan kematian (Syariati; 40; 1992). Itu sebabnya, maka menjadi wajar dan logislah bila dalam pandangan yunani kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme mengambil bentuk sebagi penentang kekuasaan para dewa, yakni tuhan-tuhan dan sesembahan mereka. Dari sini terbentuklah pertarungan antara Humanisme dan Theisme. Berdasar itu maka humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan seluruh dengan seluruh kebenciannya kepda Tuhan dan dan pengingangkarannya  atas kekuasanNya.  Serta memutuskan tali penghamban manusia dengan langit, ketika ia menjadikan manusia sebagi penentu benar atau tidaknya sesutu perbuatan dan menentukan segala potensi keindahan terletak pada tubuh Manusia (Syariati;40; 1992) . Kalau kita bisa mengatakan humanisme pasca Renaissance di Eropa modern merupakan kelanjutan dari Humanisme Yunani Kuno, karena kungkungan dogma agama mayoritas di eropa yang demikian kuatnya terhadap nilai kemanusiaan, maka humanisme Eropa modern  mengambil bentuk yang sama terhadap Humanisme Yunani Kuno yaitu melakukan pengagungan kembali terhadap harkat dan martabat pada nilai kemanusiaan.
C. Pembahasan tentang Humanisme

1. Aliran Humanisme Dewasa ini
                        Dewasa ini terdapat empat aliran  Humanisme  menurut Syariati(1993) , kendatipun memiliki perbedaan–perbedaan pokok dan pertentangan-pertentangan satu sama lain, keempat-empatnya mengklaim diri sebagai pemilik aliran humanisme, yaitu; 1. Liberalisme Barat, 2. Marxime, 3. Eksistensialime. 4. Agama. Adapun karena luasnya topik cakupan pembahasan maka penulis membatasi penulisan hanya pada pembahasan mengenai konsep humanisme yang ada pada Eksistensialisme dan Islam.

2. Humanisme dalam Eksistensialisme
                        Eksistensialisme “memproklamasikan gerakannya” (core) langsung pada kaitan mengenai humanisme, sebagaimana yang dikatakan Sartre salah seorang tokoh Eksistensialis pada tahun 1945 bahwa “Eksistensialisme adalah suatu humanisme itu” (Roger Scruton; 321, 1986). Hal ini berarti arah kerja Eksistensialisme memang terutama pada pemuliaan nilai kemanusiaan, eksistensialisme  mencoba melakukan “oposisi intelegensia” terhadap  dekadensi nilai-nilai kemanusiaan  yang terjadi di Eropa saat itu karena kungkungan gereja pada saat itu.
            Memang agak susah mendifinisikan Eksistensialisme, sebagaimana dikatakan oleh Fuad Hasan (7;2000). Orang mengalami kesukaran untuk mendefinisikan eksistensialisme  dengan satu perumusan sebab filsuf yang digolongkan kepadanya atau yang menyebut dirinya sebagai eksisensialis, menunjukan perbedaan-perbedaan anggapan mengenai eksistensialisme  itu sendiri.
                        Para penulis buku mengenai eksistensialisme mepunyai penggolongan sendiri terhadap siapa yang dapat dianggap tokoh Eksistensialiame itu sendiri; Seperti Blackham (1978) memasukan tokoh seperti , Kierkegaard, Nietszhe, Karl Jaspers, Marcel, Martin Heidegger  dan Sartre. Sedangkan Fuad  Hasan (2000) memasukan tokoh seperti Kierkegad, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers, Heidegger (walaupun dia tidak dibahas secara khusus dalam bukunya) dan Sartre. Sedangkan Roger Scrutton dalam bukunya Sejarah Singkat Filsafat Modern (1986)  hampir menyamakan tokoh Fenomenologi dengan tokoh Eksistensialisme tokoh-tokoh itu adalah;  Husserl, Martin  Heidegger dan  Sartre. Untuk itu dibawah ini beberapa pandangan tokoh terhadap Eksistensialisme sebaga berikut :
a)    Titik Tolak dan Kesamaan Pandangan Para Tokoh Humanisme
                        Satu-satunya hal yang sama diantara mereka ialah bahwa kesemuanya berpendapat  bahwa filsafat harus betitik tolak pada manusia yang konkret, yaitu manusia sebagai eksistensi  dan sehubungan dengan titik tolak ini mereka berpendapat bahwa manusia  bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi (Hasan; 7; 2000)[6]
b)   H. J. Blackham   dalam bukunya  Six Existentialist Thinkers (151 ;1978) 
            The peculliarity of existentialism, then, is that it deals with  the separation of man from him self and from the world, which raises the question of philosophy, not by attempting to establish  some universal from justification which will enable  man  to readjust himseflf  but by  permanently  enlarging and  lining the separation itsef as primordial and constitutive  for personal existence, The main busines of this philosophy  therefore is not to answer  the Questions which are raised but to drive home the questions themselves  until they engage the whole man  and are made  personal , urgent  and anguished.
Artinya:
                        Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa  mereka  melakukan pemisahan manusia  dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan  filsafat,  tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi,  tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan  manusia.

                        Eksistensialisme  dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari  dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti  hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan  sebagai sebuah pertanyaan  dan juga   tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.

c)      Konsep “Ada” Manusia  
                        Perihal tentang keberadaan (Being)  manusia menurut bahasa Marcel adalah bukan sesuatu yang harus dikuasai dan diselesaikan tetapi adalah  misteri yang harus dijalani/dihidupi (pengalaman untuk dialami) atau dihidupkan kembali dan tugas filsafatlah untuk membantu  manusia untuk menemukan jawabannya dan mendapatkan pengalamannya (Blackham ;152; 2002)[7]
                        Heidegger  mencoba untuk memperbaharui konsep tentang Ada (Sein) yang telah dibahas sejak jaman scorates atau sebelumnya dengan memperkenalkan konsep ‘Existenzs’ suatu  jenis konsep tentang ‘Ada’ untuk mencocokan   konsep  dasein tentang keberadaan manusia yaitu konsep tentang ada bagi diri sendiri. Melalui harmeuneutics dia melakukannya. Harmeneutics with one step, has become basic structure of possibility for Dasein; it is an anlysis  of the existentiality of Existenz,” that is  the being’s authentic possibilities of being.(Palmer;130;1969) Kemudian di ikuti Sartre dengan konsep ‘etre-pour-soui’. Dan ini telah diuraikan oleh Hegel sebagai ada-bagi-diri-sendiri (Fursich-sein). Istilah-Istilah ini menurut Scruton digunakan untuk membedakan benda dengan mahluk manusia (Scruton 315; 1986). Heideger mendahului teori tentang Ada (yang sebenarnya adalah teori tentang kesadaran diri) dengan suatu teori yang mengasyikan tetapi sangat abstrak uraian tentang dunia fenomena. Karena semua ada, dalam dunia, maka esensi dunia harus sebagai tempat yang harus dijajaki jika kita ingin memahami Ada.  Dunia ini dipandang Heideger sebagai sesuatu yang mempunyai arti dan makna (diambil dari kata Logos-Yunani)  lewat dunia inilah yang harus dijajaki untuk menjadi Ada (Scruton; 316;1986), Ada manusia  lanjut Heideger, juga berhubungan dengan eksistensi orang lain, misal;  ketika orang merasa takut atau terpojok membuat kita menjadi pribadi tersendiri (pribadi takut)ini muncul dari pertanyaan Siapa saya? Saya sendiri (saya takut) (Scruton 318;1986). Sartre mempunyai premis filsafat  bahwasanya Eksistensi mendahului Esensi. Esensi menurut Sarte sebagai bangunan intelektual, hilang bersama dengan akal yang yang akan memahaminya. Eksistensi adalah premis dari semua penelitian. Eksistensi tidak ditentukan oleh gagasan universal dan dia tidak punya gagasan yang dibayangkan terlebih dahulu seperti apa yang mungkin terkandung dalam suatu pandangan tentang manusia. Dia hanya bereksistensi  jika dia merasakan apa yang ia maksudkan (Scrutton;322;1986)[8].

d)     Ketakutan, Masa Depan, dan Kebebasan Sartre
                        Lebih lanjut tentang pembahasannya tentang, ketakutan, masa depan dan kebebasan  Sartre mengemukakan pandangannya; Hanya kesadaran diri yang membawa neant’ atau ketidakadaan  kedalam dunia; bagi mahluk yang dapat merasa, pemisahan antara subyek dan obyek belum terbuka. Tetapi dengan perasaan ketidakadaan itu timbul ketakutan dan pertanyaan apa yang akan saya lakukan? Itulah makna sekarang tentang masa depan dan tangung jawab manusia terhadap masa depan tersebut. Ketakutan adalah bukti dari kebebasan. Tidak ada yang lebih jelas dari seseorang daripada kebebasannya, karena tidak ada yang lebih jelas dari eksistensi yang memaksakan pengakuan akan masa depan dan tanggung jawab kita kepadanya. Sarte dalam Phenomenology of mind Sartre mengambarkan hubungan manusia dalam konteks perjuangan; kasih itu menginginkan kebebasan orang lain, untuk menjadikan kebebaasan itu miliknya sendiri . Jika seorang kasih hanya dimiliki oleh satu orang saja maka terjadi kontradiksi karena kebebasan terikat. Keinginannya dapat dipenuhi hanya dengan sendiri hanya dengan mengecewakannya,memiliki kebebasan  dengan melepaskan. (Scrutton; 326;1986)
e)      Manusia Ideal Nietszhe
                        Konsep tentang model manusia ideal yang  cukup  kontroversial dikemukakan oleh Nietszhe yaitu dengan memunculkan  Konsep “Ubermensch” atau Superman (Hasan; 45;2000),  konsep Nietszhe adalah contoh paling nyata dari filsafat yang menekankan logika kekuatan  bukan kekuatan logika. Dia sangat diinspirasikan oleh Spencer dan Darwin terutama dalam konsep “survival for the fittest”  yang kemudian sangat mempengaruhi di dalam pandangannya tentang manusia dan kemanusiaan.  Ia menganggap kalau  dalam hidup ini yang kuat lah yang menang, Kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Oleh karena itu, apa yang diangap baik haruslah kuat. Sebaliknya, segala yang lemah adalah buruk dan salah (Hasan;44;2000).  Nietszhe mengatakan bahwa yang harus dijadikan tujuan dalam kehidupan kemanusiaan adalah menjelmakan manusia-manusia besar yang lebih kuat, cerdas dan lebih berani. Eksistensialisme Niestzhe dalam sikap antitheisme. Sikap ini Dilontarkan Nietszhe ketika dia sangat muak mendengarkan ceramah pendeta mengenai dosa (Hasan ;52;1986). Tuhan Barat telah digunakan untuk mengalienasi orang  dari kemanusiannya dan dari gairah seksual  melalui asketisme  yang menyangkal kehidupan (Karen Armstrong;459;2001). Nietszhe sebagaimana Eksistensialis lain mengatakan bahwa, tak ada tujuan tertinggi, manusia harus takut pada tubuh mereka, gairah dan seksualitas mereka, Nietszhe mengajak orang untuk mencabut moralitas cinta kasih yang membuat manusia lemah, (Karen Armstrong;459;2001)[9].

Rabu, 22 April 2015

Metodologi Penelitian Kualitatif #7



Pertemuaan ke -7

Rabu ini serasa neraka bagi ku karena tepat hari ini setiap mata kuliah ada tugas. Meskipun demikian aku menikmatinya minimal waktu SMA dulu juga pernah merasakan hal ini. Dalam hati mungkin ini merupakan proses mendewasakan diri. Ada yang berbeda dengan hari ini, biasanya Pak Naim menginstruksikan untuk mempresentasikan tentang Hasil Resume buku, tapi hari ini tidak. Sesuai yang telah di informasikan minggu sebelumnya hari ini adalah membahas mengenai Judul dan latar belakang dari penelitian kami. Sama seperti aku, temen – temen yang lain ternyata belum mengerjakan, tak ayal ketika diminta untuk masing – masing dipresentasikan aku dan temen – temen terkesan malu – malu kucing hahahahahha. Pak Na’im mencoba menanyakan hasil buah kerja kami, temen ada yang mengambil judul mengenai Semar, Pemikiran Islam Al – Faruqi, Kebiasaan Plagiasi dan lain – lain. Menurut pak Na’im judul kami sudah cukup baik tapi latar belaknangnya masih butuh pembenahan berlanjut. Sambil mengevaluasi beliau membeberkan bahwa kekurangan mahasiswa IAIN ialah mereka tidak pernah  membaca buku penelitian secara tuntas. Berikutnya menurut beliau kemampuan mahasiswa juga kurang diaplikasikan ke dalam kegiatan penelitian. Beliau juga memberikan contoh diri beliau sendiri ketika merubah laporan penelitian beliau harus merevisi sampai  7 kali, aku sangat tercengang, sekelas pak Na’im revisi 7 kali. Itu membuktikan bahwa kegiatan menulis memang sulit, tapi memang harus segera dicoba. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai teknik menyusun redaksi kalimat pada latar belakang. Menurut beliau pada latar belakang harus tidak dulu menjawab pertanyaan penelitian karena jika sudah terjawab pada latar belakang untuk apa kegiatan penelitian tersebut. Pada saat membuat latar belakang kita juga harus menggunakan piramida terbalik. Di bagian atas menjelaskan gambaran umum hal yang diteliti, dibagian tengah menjelaskan kegelisahan penelitian. Kemudian bagian akhir menyimpulkan bahwa pentingnya penelitian ini dilakukan. Cukup memberi masukan kepadku dan temen- temen. Untuk minggu depan beliau memberikan tugas untuk membuat judul, latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan permasalahan.

Minggu, 19 April 2015

Metodologi Penelitian Kualitatif #4 #5 #6

Pertemuan ke 4
Kali ini pak Na’im membahas penelitian dilihat dari pendekatannya. Pertama,yaitu penelitian Longitudinal. Penelitian ini berlangsung dalam waktu yang lama dengan subjek yang tetap. Penelitian ini cenderung akurat hasilny, namun sangat menguras waktu dan titik jenuh yang sangat tinggi. Kedua, yaitu penelitian Cross-Sectional. Penelitian ini subjeknya berbeda, atau juga bisa diacak. Dikhawatirkan setiap subjek memliki karakter yang berbeda . meskipun demikian penelitian ini waktunya efektif dan cepat. Selanjutnya aku menangkap apa yang dijelaskan oleh pak Na’im yaitu bagaimana tentang alur sebuah penelitian. Beliau membeberkan bahwa penelitian bukan berangkat dari judul melainkan dari munculnya sebuah permasalahan. Kemudian dibentuk dalam suatu rumusan masalah yang sistematis dan rapi. Baru kemudian kita bisa mengumpulkan data yang sesuai rumusan masalah. Kemudian data tersebut diolah melalui Analisi Data. Akhirnya kita dapat menentukan suatu kesimpulan.

Pertemuan ke 5
Untuk pertama kali pada pertemuan ini aku tidak bisa masuk kuliah. Entah mengapa memang sejak hari senin tepatnya tanggal 30 Maret 2013 aku sudah merasa tidak enak badan, tapi aku paksakan masuk karena ada kegiatan Institut Trasvaluasi pada jurusanku. Selanjutnya pada hari rabu, 1 April tubuh ini tidak kuat lagi untuk bisa diajak masuk kuliah. Demam ku lumayan tinggi kata Mantri dekat rumahku. Alhasil pada materi ini aku cuma bisa bertanya pada temen baikku si Mamang Roni dan Zain. Tidak banyak memang yang aku dapatkan dari mereka tapi lumayan untuk bahan materi diari pada sesi kali ini hehehehehe. Mereka berusaha menjelaskan kepadaku mengenai penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Penelitian kualitatif menurut mereka merupakan penelitian yang alami, apa adanya. Pelacakannya pun dilakukan secara individual. Hal yang paling penting dalam penelitian kualitatif adalah focus penelitian. Kemudian yang dinilai adalah kata – kata ataupun kalimat yang dikumpulkan kemudian selanjutnya ditipologikan. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang lebih mementingka pada ketepata skoringnya.
Kemudian kata mereka pak Na’im juga sedikit menyentil masalah inkuiri naturalistic tetapi aku tidak menemukan pejelasan detail dari Roni dan Zain. Ada lagi etnografi yang menurut ingatan mereka ialah penelitian mengenai etnis tertentu. Kunci penelitian ini ialah harus bisa masuk total dalam bidang yang di teliti.
Selanjutnya menurut ingatan Zain, Pak Na’im menjelaskan tentang karakteristik peenelitian kualitatif. Antar lain meliputi :
  1.   Manusia sebagai alat
  2.   Alamiah atau ttidak direkayasa 
  3.   Menggunakan metonde pengamatan dan  wawancara
  4.  Analisis data secara induktif 
  5.   Secara deskriptif dalam penjelasannya
  6.    Lebih mementingkan proses daripada hasil
  7.  Adanya batas ditentukan oleh focus
  8.   Adanya criteria khusus untuk keabsahan data
  9.  Desain yang bersifat sementara
  10.  Hasil penelitian harus di musyawarahkan dan disepakati bersama agar meminimalisir terjadinya kontroversi.

Pertemuan ke 6
Pada pertemuan kali ini aku lebih siap untuk memaparkan hasil resume saya mengenai Etnografi. Hasil resentasipun lumayan lah Alhamdulillah. Berbicara etnografi Pak na’im sedikit berbicara tentang pak Koeswinarno yang merupakan seorang temannnya. Tidak banyak memang yang diceritakan tapi da pernyataan yang cukup lucu. Ketika pak Na’im betanya kepada Pak Koes mengenai keberhasilan karirnya , Pak Koes pun menjawab dengan enetengnya,” Saya tidak pintar, tapu saya sering beruntung “. Sontak mendengar hal itu aku dan temen – temen tertawa terbahak – bahak.
Kemudian selanjutnya pak Na’im sedikit menjelaskan mengenai Etnografi setelah selesai menunjuk beberapa anak untuk mempresentasikan hasil resume. Etnografi merupakan jenis penelitian yang dilakukan pada etnis tertentu, bisa juga etnis kebudayaan. Penelitian ini memerlukan jangka waktu yang saangat lama. Ini disebabkan karena seorang peneliti kudu telibat langsung dalam masyarakat yang diteliti. Tentunya terlibat dalam segala aspek kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode observasi participant. Pak Na’im memberikan contoh etnis atau kelompok yang dapat di teliti misalkan kelompok Syeker mania yang ada di Tulungagaung. Dalam etnografi yang paling susah ialah mengenai persoalan nilai pada penelitinya. Disini peneliti dituntut untuk siap masuk dalam komunitas yang mungkin berbeda pandangan terhadap suatu nilai, tapi disini kita sebagai peneliti harus menyamakan nilai dengan masyarakat yang akan kita teliti. Bisa jadi dalam hal ini akan muncul problem dan berbagai kejenuhan. Akhirnya disini nanti akan muncul etika penelitian yang akan dibahas dipertemuan yang akan datang, begitu ujar Pak Na’im.

Free livescore from Unogoal.com