Kamis, 26 November 2015
Selasa, 12 Mei 2015
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF #8 #9
Pertemuan
ke- 8
Pada pertemuan
ini agak molor 3 hari karena pada pertemuan yang sebenarnya di tunda akibat
bentrok dengan acara Institut Transvaluasi. Akhirnya jam kuliah dipindah hari
Senin jam pertama tanggal 4 Mei 2015. Sesuai perkiraan karena kita tidak pernah
ada jam pertama pada semester ini aku dan teman – teman mayoritas datang telat
, Cuma aku tidak keterlaluan telatnya. Hari ini adalah membacakan hasil latar
belakang dari calon penelitian ilmiah kami. Satu persatu kami di tunjuk oleh
pak Nai’m untuk mempresentasiakan hingga akhirnya semua di evalusai oleh
beliau.
Dalam catatanku setidaknya aku
sendiri harus menentukan objek yang lebih spesifik agar jangan terlalu lebar
pembahasannya mengenai Tradisi Pernikahan Jawa.
Lalu Fitri disarankan agar jangan
dulu menyampaikan ciri – ciri materi yang dia bahas secar detail pada latar
belakang.
Kemudian Fatim, penelitiannya bagus tapi
sangat lokalsentris dan langka waktu penelitiannya yaitu hanya pada waktu
suroan(jamasan)
Terus emak dian dievaluasi mengenai
jangan kebanyakan membicarakan mitos melulu, harus diseimbangkan dengan fakta
ilmiahnya.
Lanjut ke Laela, menurut pak Naim penelitian
Laela harus segera di fokuskan ke dalam perspektif satu kerajaan karena dia
berbicara Majapahit dan Galuh, dikhawatirkan terlalu rumit nanti penelitiannya.
Kalau anita disarankan untuk
memahami kesnian Wayang terlebih dahulu.
Kemudian Fata, disarankan untuk tidak terlebih dahulu
menghajar suatu kubu terlebih dahulu pada latar belakang. Dilatar belakang kita
harus berpandangan netral.
Kemudian terakhir Farid agar lebih
merapikan alur karena penelitiannya berbicara masalah alur sejarah.
Pertemuan
ke-9
Pertemuan kali
ini hanya berselang 2 hari dari pertemuan ke -8. Pada kesempatan ini seharusnya
aku dan teman – teman mengumpulkan hasil penelitian untuk bagian metode
penelitian karena aku malas aku belum mengerjakan. Ternyata banyak teman –
teman yang meniru jejakku (hahahaaha). Kecuali si sahabatku mamang Roni Ramlan.
Dia sangat rajin ,disaat teman – temannya tidak mengerjakan dia mengerjakan
sendiri. Berkat Roni pula pak Na’im tidak jadi marah karena ada bahan untuk
dibahas. Istilahnya roni penyelamat bagiku dan pasti juga teman – teman yang
lain. Dari hasil evaluasi penelitian Roni ada beberapa masukan dari pak Naim.
Kita harus lebih banyak referensi dari artikel di jurnal. Kemudian masukan
untuk bagian rumusan maskalah untuk poin nomer 1 tidak boleh menggunkan kalimat
tanya bagaimana melainkan “ Apa” itu yang paling ideal,”tutur pa Na’im. Lalu
tidak boleh ada 2 variabel dalam satu rumusan masalah, alangkah lebih baik agar
dipecah ke rumusan masalah yang lain. Diakhir pembahasan pak Na’im menambah
tugas kami agar menuju ke tingkat selanjutnya yaitu menuliskan data penelitian
terdahulu pada masing – masing penelitian kami. Tujuannya untuk menghindari
plagiasi dan memposisikan diri penelitian kami ini. Juga tetap ditagih bagi
metode penelitian yang belum pada pertemuan berikutnya. Semangat – semangat
sahabat :)
Senin, 27 April 2015
MAKALAH HUMANISME BARAT
MAKALAH
Humanisme Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Mata Kuliah
“Filsafat
Manusia”
Dosen Pengampu:
Dr. A. Rizqon
Khamami, Lc., MA.

Disusun Oleh:
Ahmad Khoirul Anam NIM. 2832133002
SEMESTER
IV
JURUSAN
FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TULUNGAGUNG
2015
A. Pengantar
Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami
kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran
dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual
dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14
Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern,
khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor
gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi
yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas-
sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia
sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam
perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu
asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya
meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para
filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah
bukan Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja
atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000). Gerakan yang berawal dari Italia
dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur
panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis.
B. Regangan Teoritis dan Sejarah Humanisme
1.
Regangan teoritis
Humanisme menurut kamus
filsafat adalah sebuah filsafat yang (a) memandang individu rasional
sebagai mahluk tertinggi (b) memandang individu sebagai nilai tertinggi dan (c)
ditujukan untuk membina perkembangan kreatif dan moral individu dengan
cara bermakna dan rasional tanpa merujuk pada konsep-konsep adi kodrati (Rosda;140;
1995). Zainal Abidin dalam bukunya Filsafat manusia mengatakan bahwa
Humanisme berasal dari kata latin “humanitas” (pendidikan manusia) dan dalam
bahasa Yunani disebut paideia; pendidikan yang didukung oleh
manusia –manusia yang hendak menempatkan seni liberal dijadikan sebagi sarana
terpenting dalam pendidikan waktu itu[1].
Humanisme adalah suatu gerakaan intelektual dan kesusteraan yang lahir pada
prinsipnya aspek dasar dari gerakan Renaissance abad 14-16 Masehi,
merupakan salah satu faham filsafat yang hendak mendudukan manusia yang hendak
menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia dari ukuran segala penilaian,
kejadian dan gejala diatas muka bumi ini (Abidin; 26-27; 2000)[2].
Sedangkan menurut Ali Syariati humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan
bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan.
Ia memandang manusia sebagi mahluk mulia dan prinsip yang disarankannya
didasarkan atas pemenuhan kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia
(Ali syariati;39;1992)[3], Jadi
jelaslah bahwasanya humanisme adalah aliran filasafat yang berusaha mendudukan
manusia sebagai pusat perhatian dari segala studi dan bertujuan untuk
mengangkat kemulian dan harkat manusia
2. Sejarah Humanisme
Arti Istilah humanisme
akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories
dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme
merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di
Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor
penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang
sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu
dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana
telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi
nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat
penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam
kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini
adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan
filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia
pada hakikatnya adalah bukan Viator Mundi (peziarah dimuka bumi)
melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000)[4].
Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa,
dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai
dogma-dogma agamis. Abad pertengahan adalah abad dimana otonomi, kreatifitas
dan kemerdekaan berfikir manusia dikungkung oleh kekuasan agama yg mayoritas di
eropa pada saat itu. Abad ini ini sering disebut “Abad Kegelapan” karena cahaya
akal budi manusia tertutup kabut dogma-dogma agama di sana. Kuasa manusia
dipatahkan oleh pandangan agama yang menyatakan bahwa hidup manusia telah
digariskan oleh kekuatan Illahi dan akal budi manusia tidak akan pernah tidak
akan pernah sampai pada misteri dari kekuatan-kekuatan itu. Pikiran
–pikiran manusia yang menyimpang dari dogma-dogma kaum spiritual di eropa
tersebut adalah pikiran-pikiran sesat dan karenanya harus dicegah dan
dikendalikan. Dalam zaman itulah gerakan humanisme muncul dan gerakan
kaum humanis bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasan lembaga
keagamaan dan membebaskan kungkungan agama yang mengikat. Kaum humanis
menggunakan seni liberal sebagai materi dan sarana utamanya. Alasan utama
dijadikan sarana terpenting pada
waktu itu (disamping retorika, sejarah, etika dan politik) adalah kenyataan
bahwa hanya dengan seni liberal manusia akan tergugah untuk menjadi manusia,
menjadi mahluk bebas yang tidak terkungkung kekuatan diluar dirinya . Mereka
percaya bahwa hanya dengan seni liberal, maka manusia akan dapat dibangunkan
dari tidurnya yang sangat panjang pada abad pertengahan itu. Model pendidikan
itu adalah model pendidikan yang didorong oleh semangat zaman antik (Yunani
kuno), yang ditandai oleh adanya kehidupan demokratis, pada zaman antik
klaim atas otonomi manusia dijunjung tingggi dan dalam batas-batas tertentu
manusia mempunyai kewenangan sendiri dalam keterlibatanya dengan alam dan dalam
penentuan arah sejarah manusia (Abidin; 27;2000)[5].
Hal senada juga dikatakan oleh Ali syariati bahwasanya teori humanisme barat
dibangun atas asas yang dibangun mitologi yunani kuno yang memandang
bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat
pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian
antara keduanya . Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia, seluruh
perbuatan dan kesadarnnya kekuasannya yang zalim terhadap manusia yang
dibelenggu kelemahan dan kebodohannya. Hal itu dilakukan karena dewa-dewa
takut menghadapi ancaman kesadaran, kebebasan, kemerdekan dan kepemimpinan
manusia atas alam. Setiap manusia yang menempuh jalan ini dipandang telah
melakukan dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa. Dewa-dewa dalam mitologi
yunani adalah penguasa segala sesuatu dan manifestasi dari kekuatan fisik yang
terdapat dialam semesta; laut, sungai bumi hujan, ekonomi, penyakit dan
kematian (Syariati; 40; 1992). Itu sebabnya, maka menjadi wajar dan logislah
bila dalam pandangan yunani kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme
mengambil bentuk sebagi penentang kekuasaan para dewa, yakni tuhan-tuhan dan
sesembahan mereka. Dari sini terbentuklah pertarungan antara Humanisme dan
Theisme. Berdasar itu maka humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri
manusia dengan seluruh dengan seluruh kebenciannya kepda Tuhan dan dan
pengingangkarannya atas kekuasanNya. Serta memutuskan tali
penghamban manusia dengan langit, ketika ia menjadikan manusia sebagi penentu
benar atau tidaknya sesutu perbuatan dan menentukan segala potensi keindahan
terletak pada tubuh Manusia (Syariati;40; 1992) . Kalau kita bisa mengatakan
humanisme pasca Renaissance di Eropa modern merupakan kelanjutan dari Humanisme
Yunani Kuno, karena kungkungan dogma agama mayoritas di eropa yang demikian
kuatnya terhadap nilai kemanusiaan, maka humanisme Eropa modern mengambil
bentuk yang sama terhadap Humanisme Yunani Kuno yaitu melakukan pengagungan
kembali terhadap harkat dan martabat pada nilai kemanusiaan.
C. Pembahasan tentang Humanisme
1. Aliran Humanisme Dewasa ini
Dewasa ini terdapat
empat aliran Humanisme menurut Syariati(1993) , kendatipun memiliki
perbedaan–perbedaan pokok dan pertentangan-pertentangan satu sama lain,
keempat-empatnya mengklaim diri sebagai pemilik aliran humanisme, yaitu; 1.
Liberalisme Barat, 2. Marxime, 3. Eksistensialime. 4. Agama. Adapun karena
luasnya topik cakupan pembahasan maka penulis membatasi penulisan hanya pada
pembahasan mengenai konsep humanisme yang ada pada Eksistensialisme dan Islam.
2. Humanisme dalam Eksistensialisme
Eksistensialisme
“memproklamasikan gerakannya” (core) langsung pada kaitan mengenai humanisme,
sebagaimana yang dikatakan Sartre salah seorang tokoh Eksistensialis pada tahun
1945 bahwa “Eksistensialisme adalah suatu humanisme itu” (Roger Scruton; 321,
1986). Hal ini berarti arah kerja Eksistensialisme memang terutama pada
pemuliaan nilai kemanusiaan, eksistensialisme mencoba melakukan “oposisi
intelegensia” terhadap dekadensi nilai-nilai kemanusiaan yang
terjadi di Eropa saat itu karena kungkungan gereja pada saat itu.
Memang
agak susah mendifinisikan Eksistensialisme, sebagaimana dikatakan oleh Fuad
Hasan (7;2000). Orang mengalami kesukaran untuk mendefinisikan
eksistensialisme dengan satu perumusan sebab filsuf yang digolongkan
kepadanya atau yang menyebut dirinya sebagai eksisensialis, menunjukan
perbedaan-perbedaan anggapan mengenai eksistensialisme itu sendiri.
Para penulis buku
mengenai eksistensialisme mepunyai penggolongan sendiri terhadap siapa yang
dapat dianggap tokoh Eksistensialiame itu sendiri; Seperti Blackham (1978)
memasukan tokoh seperti , Kierkegaard, Nietszhe, Karl Jaspers, Marcel, Martin
Heidegger dan Sartre. Sedangkan Fuad Hasan (2000) memasukan tokoh
seperti Kierkegad, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers, Heidegger (walaupun dia tidak dibahas
secara khusus dalam bukunya) dan Sartre. Sedangkan Roger Scrutton dalam bukunya
Sejarah Singkat Filsafat Modern (1986) hampir menyamakan tokoh
Fenomenologi dengan tokoh Eksistensialisme tokoh-tokoh itu adalah;
Husserl, Martin Heidegger dan Sartre. Untuk itu dibawah ini
beberapa pandangan tokoh terhadap Eksistensialisme sebaga berikut :
a)
Titik Tolak dan Kesamaan Pandangan Para Tokoh
Humanisme
Satu-satunya hal yang
sama diantara mereka ialah bahwa kesemuanya berpendapat bahwa filsafat
harus betitik tolak pada manusia yang konkret, yaitu manusia sebagai
eksistensi dan sehubungan dengan titik tolak ini mereka berpendapat bahwa
manusia bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi (Hasan; 7; 2000)[6]
b) H. J.
Blackham dalam bukunya Six Existentialist Thinkers (151
;1978)
The peculliarity of existentialism, then, is
that it deals with the separation of man from him self and from the
world, which raises the question of philosophy, not by attempting to
establish some universal from justification which will enable
man to readjust himseflf but by permanently enlarging
and lining the separation itsef as primordial and constitutive for
personal existence, The main busines of this philosophy therefore is not
to answer the Questions which are raised but to drive home the questions
themselves until they engage the whole man and are made
personal , urgent and anguished.
Artinya:
Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa mereka melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan filsafat, tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi, tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan manusia.
Eksistensialisme dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan sebagai sebuah pertanyaan dan juga tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.
Artinya:
Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa mereka melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan filsafat, tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi, tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan manusia.
Eksistensialisme dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan sebagai sebuah pertanyaan dan juga tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.
c) Konsep
“Ada” Manusia
Perihal tentang
keberadaan (Being) manusia menurut bahasa Marcel adalah bukan sesuatu
yang harus dikuasai dan diselesaikan tetapi adalah misteri yang harus
dijalani/dihidupi (pengalaman untuk dialami) atau dihidupkan kembali dan tugas
filsafatlah untuk membantu manusia untuk menemukan jawabannya dan
mendapatkan pengalamannya (Blackham ;152; 2002)[7]
Heidegger mencoba
untuk memperbaharui konsep tentang Ada (Sein) yang telah dibahas sejak jaman
scorates atau sebelumnya dengan memperkenalkan konsep ‘Existenzs’ suatu
jenis konsep tentang ‘Ada’ untuk mencocokan konsep dasein
tentang keberadaan manusia yaitu konsep tentang ada bagi diri sendiri. Melalui
harmeuneutics dia melakukannya. Harmeneutics
with one step, has become basic structure of possibility for Dasein; it is an
anlysis of the existentiality of Existenz,” that is the being’s
authentic possibilities of being.(Palmer;130;1969) Kemudian di ikuti Sartre dengan konsep
‘etre-pour-soui’. Dan ini telah diuraikan oleh Hegel sebagai
ada-bagi-diri-sendiri (Fursich-sein). Istilah-Istilah ini menurut Scruton
digunakan untuk membedakan benda dengan mahluk manusia (Scruton 315; 1986). Heideger
mendahului teori tentang Ada (yang sebenarnya adalah teori tentang kesadaran
diri) dengan suatu teori yang mengasyikan tetapi sangat abstrak uraian tentang
dunia fenomena. Karena semua ada, dalam dunia, maka esensi dunia harus sebagai
tempat yang harus dijajaki jika kita ingin memahami Ada. Dunia ini
dipandang Heideger sebagai sesuatu yang mempunyai arti dan makna (diambil dari
kata Logos-Yunani) lewat dunia inilah yang harus dijajaki untuk menjadi
Ada (Scruton; 316;1986), Ada manusia lanjut Heideger, juga berhubungan dengan
eksistensi orang lain, misal; ketika orang merasa takut atau terpojok
membuat kita menjadi pribadi tersendiri (pribadi takut)ini muncul dari
pertanyaan Siapa saya? Saya sendiri (saya takut) (Scruton 318;1986). Sartre
mempunyai premis filsafat bahwasanya Eksistensi mendahului Esensi. Esensi
menurut Sarte sebagai bangunan intelektual, hilang bersama dengan akal yang
yang akan memahaminya. Eksistensi adalah premis dari semua penelitian.
Eksistensi tidak ditentukan oleh gagasan universal dan dia tidak punya gagasan
yang dibayangkan terlebih dahulu seperti apa yang mungkin terkandung dalam suatu
pandangan tentang manusia. Dia hanya bereksistensi jika dia merasakan apa
yang ia maksudkan (Scrutton;322;1986)[8].
d)
Ketakutan, Masa Depan, dan Kebebasan Sartre
Lebih
lanjut tentang pembahasannya tentang, ketakutan, masa depan dan kebebasan
Sartre mengemukakan pandangannya; Hanya kesadaran diri yang membawa neant’ atau
ketidakadaan kedalam dunia; bagi mahluk yang dapat merasa, pemisahan
antara subyek dan obyek belum terbuka. Tetapi dengan perasaan ketidakadaan itu
timbul ketakutan dan pertanyaan apa yang akan saya lakukan? Itulah makna
sekarang tentang masa depan dan tangung jawab manusia terhadap masa depan
tersebut. Ketakutan adalah bukti dari kebebasan. Tidak ada yang lebih jelas
dari seseorang daripada kebebasannya, karena tidak ada yang lebih jelas dari
eksistensi yang memaksakan pengakuan akan masa depan dan tanggung jawab kita
kepadanya. Sarte dalam Phenomenology of mind Sartre mengambarkan hubungan manusia
dalam konteks perjuangan; kasih itu menginginkan kebebasan orang lain, untuk
menjadikan kebebaasan itu miliknya sendiri . Jika seorang kasih hanya dimiliki
oleh satu orang saja maka terjadi kontradiksi karena kebebasan terikat.
Keinginannya dapat dipenuhi hanya dengan sendiri hanya dengan
mengecewakannya,memiliki kebebasan dengan melepaskan. (Scrutton;
326;1986)
e)
Manusia Ideal Nietszhe
Konsep tentang model
manusia ideal yang cukup kontroversial dikemukakan oleh Nietszhe
yaitu dengan memunculkan Konsep “Ubermensch” atau Superman (Hasan;
45;2000), konsep Nietszhe adalah contoh paling nyata dari filsafat yang
menekankan logika kekuatan bukan kekuatan logika. Dia sangat
diinspirasikan oleh Spencer dan Darwin terutama dalam konsep “survival for the
fittest” yang kemudian sangat mempengaruhi di dalam pandangannya tentang
manusia dan kemanusiaan. Ia menganggap kalau dalam hidup ini yang
kuat lah yang menang, Kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Oleh
karena itu, apa yang diangap baik haruslah kuat. Sebaliknya, segala yang lemah
adalah buruk dan salah (Hasan;44;2000). Nietszhe mengatakan bahwa yang
harus dijadikan tujuan dalam kehidupan kemanusiaan adalah menjelmakan
manusia-manusia besar yang lebih kuat, cerdas dan lebih berani. Eksistensialisme
Niestzhe dalam sikap antitheisme. Sikap ini Dilontarkan Nietszhe ketika dia
sangat muak mendengarkan ceramah pendeta mengenai dosa (Hasan ;52;1986). Tuhan
Barat telah digunakan untuk mengalienasi orang dari kemanusiannya dan
dari gairah seksual melalui asketisme yang menyangkal kehidupan
(Karen Armstrong;459;2001). Nietszhe sebagaimana Eksistensialis lain mengatakan
bahwa, tak ada tujuan tertinggi, manusia harus takut pada tubuh mereka, gairah
dan seksualitas mereka, Nietszhe mengajak orang untuk mencabut moralitas cinta
kasih yang membuat manusia lemah, (Karen Armstrong;459;2001)[9].
Rabu, 22 April 2015
Metodologi Penelitian Kualitatif #7
Pertemuaan
ke -7
Rabu
ini serasa neraka bagi ku karena tepat hari ini setiap mata kuliah ada tugas.
Meskipun demikian aku menikmatinya minimal waktu SMA dulu juga pernah merasakan
hal ini. Dalam hati mungkin ini merupakan proses mendewasakan diri. Ada yang
berbeda dengan hari ini, biasanya Pak Naim menginstruksikan untuk
mempresentasikan tentang Hasil Resume buku, tapi hari ini tidak. Sesuai yang
telah di informasikan minggu sebelumnya hari ini adalah membahas mengenai Judul
dan latar belakang dari penelitian kami. Sama seperti aku, temen – temen yang
lain ternyata belum mengerjakan, tak ayal ketika diminta untuk masing – masing
dipresentasikan aku dan temen – temen terkesan malu – malu kucing hahahahahha.
Pak Na’im mencoba menanyakan hasil buah kerja kami, temen ada yang mengambil
judul mengenai Semar, Pemikiran Islam Al – Faruqi, Kebiasaan Plagiasi dan lain
– lain. Menurut pak Na’im judul kami sudah cukup baik tapi latar belaknangnya
masih butuh pembenahan berlanjut. Sambil mengevaluasi beliau membeberkan bahwa
kekurangan mahasiswa IAIN ialah mereka tidak pernah membaca buku penelitian secara tuntas.
Berikutnya menurut beliau kemampuan mahasiswa juga kurang diaplikasikan ke
dalam kegiatan penelitian. Beliau juga memberikan contoh diri beliau sendiri ketika
merubah laporan penelitian beliau harus merevisi sampai 7 kali, aku sangat tercengang, sekelas pak
Na’im revisi 7 kali. Itu membuktikan bahwa kegiatan menulis memang sulit, tapi
memang harus segera dicoba. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai teknik
menyusun redaksi kalimat pada latar belakang. Menurut beliau pada latar
belakang harus tidak dulu menjawab pertanyaan penelitian karena jika sudah
terjawab pada latar belakang untuk apa kegiatan penelitian tersebut. Pada saat
membuat latar belakang kita juga harus menggunakan piramida terbalik. Di bagian
atas menjelaskan gambaran umum hal yang diteliti, dibagian tengah menjelaskan
kegelisahan penelitian. Kemudian bagian akhir menyimpulkan bahwa pentingnya
penelitian ini dilakukan. Cukup memberi masukan kepadku dan temen- temen. Untuk
minggu depan beliau memberikan tugas untuk membuat judul, latar belakang,
rumusan masalah, dan tujuan permasalahan.
Minggu, 19 April 2015
Metodologi Penelitian Kualitatif #4 #5 #6
Pertemuan ke 4
Kali ini pak
Na’im membahas penelitian dilihat dari pendekatannya. Pertama,yaitu penelitian Longitudinal. Penelitian ini berlangsung
dalam waktu yang lama dengan subjek yang tetap. Penelitian ini cenderung akurat
hasilny, namun sangat menguras waktu dan titik jenuh yang sangat tinggi. Kedua, yaitu penelitian Cross-Sectional.
Penelitian ini subjeknya berbeda, atau juga bisa diacak. Dikhawatirkan setiap
subjek memliki karakter yang berbeda . meskipun demikian penelitian ini
waktunya efektif dan cepat. Selanjutnya aku menangkap apa yang dijelaskan oleh
pak Na’im yaitu bagaimana tentang alur sebuah penelitian. Beliau membeberkan
bahwa penelitian bukan berangkat dari judul melainkan dari munculnya sebuah
permasalahan. Kemudian dibentuk dalam suatu rumusan masalah yang sistematis dan
rapi. Baru kemudian kita bisa mengumpulkan data yang sesuai rumusan masalah. Kemudian
data tersebut diolah melalui Analisi Data. Akhirnya kita dapat menentukan suatu
kesimpulan.
Pertemuan ke 5
Untuk
pertama kali pada pertemuan ini aku tidak bisa masuk kuliah. Entah mengapa
memang sejak hari senin tepatnya tanggal 30 Maret 2013 aku sudah merasa tidak
enak badan, tapi aku paksakan masuk karena ada kegiatan Institut Trasvaluasi
pada jurusanku. Selanjutnya pada hari rabu, 1 April tubuh ini tidak kuat lagi
untuk bisa diajak masuk kuliah. Demam ku lumayan tinggi kata Mantri dekat
rumahku. Alhasil pada materi ini aku cuma bisa bertanya pada temen baikku si
Mamang Roni dan Zain. Tidak banyak memang yang aku dapatkan dari mereka tapi
lumayan untuk bahan materi diari pada sesi kali ini hehehehehe. Mereka berusaha
menjelaskan kepadaku mengenai penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Penelitian
kualitatif menurut mereka merupakan penelitian yang alami, apa adanya.
Pelacakannya pun dilakukan secara individual. Hal yang paling penting dalam
penelitian kualitatif adalah focus penelitian. Kemudian yang dinilai adalah
kata – kata ataupun kalimat yang dikumpulkan kemudian selanjutnya
ditipologikan. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang lebih
mementingka pada ketepata skoringnya.
Kemudian
kata mereka pak Na’im juga sedikit menyentil masalah inkuiri naturalistic
tetapi aku tidak menemukan pejelasan detail dari Roni dan Zain. Ada lagi
etnografi yang menurut ingatan mereka ialah penelitian mengenai etnis tertentu.
Kunci penelitian ini ialah harus bisa masuk total dalam bidang yang di teliti.
Selanjutnya
menurut ingatan Zain, Pak Na’im menjelaskan tentang karakteristik peenelitian
kualitatif. Antar lain meliputi :
- Manusia sebagai alat
- Alamiah atau ttidak direkayasa
- Menggunakan metonde pengamatan dan wawancara
- Analisis data secara induktif
- Secara deskriptif dalam penjelasannya
- Lebih mementingkan proses daripada hasil
- Adanya batas ditentukan oleh focus
- Adanya criteria khusus untuk keabsahan data
- Desain yang bersifat sementara
- Hasil penelitian harus di musyawarahkan dan disepakati bersama agar meminimalisir terjadinya kontroversi.
Pertemuan ke 6
Pada
pertemuan kali ini aku lebih siap untuk memaparkan hasil resume saya mengenai
Etnografi. Hasil resentasipun lumayan lah Alhamdulillah. Berbicara etnografi
Pak na’im sedikit berbicara tentang pak Koeswinarno yang merupakan seorang
temannnya. Tidak banyak memang yang diceritakan tapi da pernyataan yang cukup
lucu. Ketika pak Na’im betanya kepada Pak Koes mengenai keberhasilan karirnya ,
Pak Koes pun menjawab dengan enetengnya,” Saya tidak pintar, tapu saya sering
beruntung “. Sontak mendengar hal itu aku dan temen – temen tertawa terbahak –
bahak.
Kemudian
selanjutnya pak Na’im sedikit menjelaskan mengenai Etnografi setelah selesai
menunjuk beberapa anak untuk mempresentasikan hasil resume. Etnografi merupakan
jenis penelitian yang dilakukan pada etnis tertentu, bisa juga etnis
kebudayaan. Penelitian ini memerlukan jangka waktu yang saangat lama. Ini
disebabkan karena seorang peneliti kudu telibat langsung dalam masyarakat yang
diteliti. Tentunya terlibat dalam segala aspek kehidupannya. Penelitian ini
menggunakan metode observasi participant. Pak Na’im memberikan contoh etnis atau
kelompok yang dapat di teliti misalkan kelompok Syeker mania yang ada di
Tulungagaung. Dalam etnografi yang paling susah ialah mengenai persoalan nilai
pada penelitinya. Disini peneliti dituntut untuk siap masuk dalam komunitas
yang mungkin berbeda pandangan terhadap suatu nilai, tapi disini kita sebagai
peneliti harus menyamakan nilai dengan masyarakat yang akan kita teliti. Bisa
jadi dalam hal ini akan muncul problem dan berbagai kejenuhan. Akhirnya disini
nanti akan muncul etika penelitian yang akan dibahas dipertemuan yang akan
datang, begitu ujar Pak Na’im.
Langganan:
Postingan (Atom)