Kamis, 31 Maret 2016

Cerita dibalik Bazar Buku

Spekulasi dibalik Bazar Buku
Oleh: Ahmad Khoirul Anam

Pemandangan berbeda terlihat di halaman depan gedung Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah(FUAD). Selama ini halaman tersebut digunakan hanya sebatas untuk parkir kendaraan mahasiswa, dosen, karyawan, maupun oknum-oknum lain yanga memang ingin parkir disitu. Beberapa kesempatan, halaman yang lumayan agak luas ini juga biasa digunakan untuk kepentingan diskusi oleh sekelompok mahasiswa. Forum diskusi itu ialah FOKUS atau Forum Kajian Ushuluddin yang dilaksanakan hari selasa jam ke-3 lebih tepatnya. Wadah diskusi yang satu ini menurut beberapa alumni/sesepuh mahasawa FUAD merupakan forum yang bersejarah. Mulai dari perjuangan mereka menginisiasi dan melegalkan forum ini. Selanjutnya dari segi tujuan mulianya yaitu pertama, untuk melatih kecakapan mahasiswa untuk berbicara didepan umum. Kedua, menambah cakrawala pengetahuan mahasiswa tanpa batas. Ketiga, sebagai ajang resmi curi-curi pandang bagi pesertanya, beberapa. Tujuan-tujuan diatas di khawatirkan mungkin selama di kelas atau perkuliahan tidak bisa terakses dengan baik.
            Jadi tujuan fokus juga mempermudah akses atau perputaran ilmu pengetahuan ke seluruh peserta yang mengikuti. Berjalannya waktu dan perkembangan zaman, terlebih bertambahnya keluarga besar FUAD (ada KPI, BKI,dan BSA), penulis memiliki angan-angan tidak sengaja, yaitu tentang transformasi nama FOKUS yang memang selama ini hanya melibatkan mahasiswa Ushuluddin. Ini berangkat dari akronim FOKUS yaitu Forum Kajian Ushuluddin. Dengan maksud lebih bisa mengakomodir seluruh keluarga besar FUAD maka perlu kiranya transformasi nama FOKUS untuk dilaksanakan. Tapi ini hanya angan-angan tak sengaja dari penulis, barangkali pantas tidaknya ingkang kajibah yang bisa menilai dan mempertimbangkan baik-baik. Mungkin yang lebih penting bukan masalah transformasi nama FOKUS, melainkan adalah transformasi kualitas diskusi demi majunya intelektualitas mahasiswa FUAD.
            Semangat diskusi FUAD kita bahas dilain kesempatan, kembali ke fokus pembeda halaman depan FUAD. Ini khusus terjadi pada pertengahan bulan Maret 2016 ini. Faktor pembeda ini adalah Bazar Buku. Fenomena seperti ini memang bukan hal yang baru di kampus IAIN Tulungagung. Sudah sering bisa kita lihat beberapa kesempatan ada kegiatan bazar buku. Dilaksanakan diberbagai tempat meliputi timur Rektorat, halaman gedung FTIK, teras radio kampus(Genius FM), tidak ketinggalan kali ini di halaman depan gedung FUAD. Penyelenggara kegiatan bazar buku juga beragam. Mulai dari Himpunan Mahasiswa baik Jurusan maupun aliansi daerah, Organisai Ekstra Kampus, bahkan seingat penulis, pihak fakultas tau dosen juga pernah melaksanakan kegiatan ini kalau tidak salah. 
            Kali ini di samping stand bazar buku berkibar sebuah bendera Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII). Ini menandakan kegiatan bazar kali ini diinisiasi oleh salah satu Organisasi Ekstra Kampus yang kebetulan ketua komisariatnya merupakan sahabat dekat penulis. Saking dekatnya, ada ungkapan Jawa yang mungkin bisa menggambarkannya,”Ibarat sliramu ngentut, aku ora ngaleh”. Berkaca dari hal-hal tadi akhirnya beberapa prediksi penulis pun bermunculan. Pertama, alasan pemilihan tempat. Inisiator kegiatan bazar adalah salah satu organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya adalah mahasiswa FUAD. Barang kali ini merupakan wujud perhatian inisiator untuk teman-temanya. Dia mencoba memberikan referensi buku-buku murah. Selama ini mahasiswa khususnya mahasiswa FUAD sering dilabeli mahasiswa kelas dua jika menyinggung soal kekayaan harta benda. Hal ini bisa dilihat dari besaran UKTnya. Tapi ini bukan masalah besar penulis rasa, karena seluruh mahasiswa FUAD berpedoman bahwa menjadi orang bahagia tidak hanya diukur dari kaya harta melainkan kaya hati. Berpedoman pada hal ini, boleh penulis meyakini bahwa inisiator kegiatan bazar buku ini mendapat pahala yang teramat mulia dari Tuhan, karena memberikan kesempatan seluruh mahasiswa FUAD mampu membeli buku dengan harga miring. Kiranya tidak berlebihan jika jargon bazar kali ini ialah “Now, everyone can buy”.
            Spekulasi yang kedua. Jika dilihat dari buku yang ditawarkan mayoritas adalah novel, bisa jadi inisiator mempunyai tujuan tertentu. Kita mengetahui problem sebagian besar mahasiswa adalah membaca apalagi membaca buku-buku mata kuliah. Malas benar. Berangkat dari hal demikian mungkin inisiator bazar ingin mencoba memupuk minat baca mahasiswa dengan dimulai membaca bacaan-bacaan ringan sekelas novel. Harapan besarnya tentu agar bisa segera mungkin menular untuk semangat membaca buku-buku mata kuliah, begitu kira-kira maksud inisiator.
            Selain itu spekulasi lain juga banyak bermunculan. Sejenak kita flashback, inisiator kegiatan kali ini adalah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya bernama M. Ubaidillah. Dia merupakan teman, sahabat, saudara, rekan seperjuangan penulis di kelas. Pengalaman hidupnya sangat luar biasa. Penuh perjuangan. Apalagi pengalaman organisasinya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Mungkin sekarang dia baru sekedar ketua komisariat organisasi tersebut, tetapi tidak menutup kemungkinan berpotensi menjadi Presiden Mahasiswa. Penulis rasa tidak terlalu berlebihan jika M. Ubaidillah bakal menjadi atau menduduki posisi tersebut. Rekam jejak politik sudah bagus, berasal dari daerah Kyiai(Jombang) yang telah menelurkan tokoh nasional sekelas Gus Dur. Kemudian dia berangkat dari jurusan yang tidak ada tandingannya yaitu Filsafat Agama, sangat yakin benar keluarga besar fakultas juga mendukung. Gaya berpolitiknya sudah begitu jelas, bisa dilihat dalam kesempatan/kegiatan ini pula. Masih sependek analisis penulis, dia mencoba mengadopsi kampanye para politikus nasional seperti menggelar pasar murah yang kali ini direalisasikannya dalam kemasan bazar buku murah. Cara ini lumayan efektif untuk meningkatkan elektabilitas seorang  M. Ubaidillah untuk menjadi orang nomor 1 di Republik Mahasiswa IAIN Tulungagung ini. Minimal dia dipercaya oleh mahasiswa mampu menghadirka program yang murah dan ramah terhadap mahasiswa. Cuman, paling penting adalah tetap melewati regulasi   yang ada. Harus patuh pula pada peraturan. Penulis dan teman-teman M. Ubaidillah pada dasarnya sangat mendukung. Apa perlu kami mengumpulkan KTP untuk menunjukkan loyalitas kami terhadap M. Ubaidillah. Dunia politik kampus juga tidak bisa terlepas dengan program BKKBN, hampir mirip. Pilpres dengan Pil KB. Hanya perbedaannya jika pil KB kalau lupa jadi, maka di Pilpres kalau jadi biasanya lupa. Lupa dengan teman-teman yang mendukunya. Terbuai dengan jabatan. Hal urgen ini mohon betul-betul jangan sampai terjadi pada M. Ubaidillah.
            Mimpi yang sangat mulia ini, jika di waktu depan bisa menjadi kenyataan, tentu penulis dan teman-teman akan bangga sekali. pengaruh positif M. Ubaidillah dan bazar buku tidak hanya berhenti disini. Dengan adanya bazar buku di halaman depan gedung FUAD telah menjadikannya pusat bekumpul seluruh mahasiswa untuk membeli buku. Baik dari mahasiswa FUAD sendiri, FTIK, FASIH, dan FEBI. Perhatian khusus tentu saja pada mahasiswa FEBI. Ini berangkat dari sejarah yang panjang. Diakui atau tidak selama ini FEBI dan mahasiswinya dilabeli superior. Mulai dari gedungnya megah bagaikan sebuah Mall, dan mahasiswinya bagaikan kumpulan bidadari, menurut sebagian orang. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi memang superioritas mahasiswi FEBI begitu luar biasa. Penulis mengamati    hal ini sampai tidak bisa mengunggkapkannya dengan kata-kata, karena takut. Intinya pahala mahasiswi FEBI sangat besar, tidak kalah dengan M. Ubaidillah karena menyadarkan para mahasiswa IAIN khususnya mahasiswa FUAD untuk lebih mendalam mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
            Kesan penulis terhadap bazar buku di halaman depan gedung FUAD kali ini luar biasa. Apresiasi yang setinggi-tingginya sangat pantas untuk M. Ubaidillah beserta staf-stafnya, tidak lupa atau jangan sampai lupa, apresiasi juga  disampaikan kepada mahasiswi FEBI. Bazar buku yang lebih berkualitas tentu sangat dinanti-nanti pada kesempatan berikutnya.

1 komentar:

  1. sebuah gambaran tentang politik kampus, adalah sebuah bentuk representasi dari ideologi politik bangsa bernegara. kampus bisa dikatakan sebuah miniatur negara yang berlandaskan hukum berideologi pancasila. demokrasi sangatlah di junjung tinggi oleh bangsa indonesia. akankah rekomendasi presiden dema akrab disapa presiden bem yang di utarakan penulis bisa memenuhi asas demokrasi yang ideal atau malah sebaliknya menjadi negara dinasti yang dibungkus dengan lebel demokrasi. kita dapat mengklarifikasi rekomended yang satu ini dari perjalanan dia menjadi ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

    BalasHapus

Free livescore from Unogoal.com