Feminisme
Psikoanalisis
Oleh :
Ahmad Khoirul Anam
Akar
Feminisme Psikoanalisis Sigmund Freud
Menurut Freud maskulinitas dan
feminitas merupakan produk pendewasaan seksual. Teori seksual Freud kita
mengenal ada beberapa tahapan. Seorang bayi menemukan kenikmatan dengan
menghisap payudara ibunya atau menghisap ibu jarinya sendiri. Ini merupakan
tahapan oral. Berikutnya selama selama tahapan aanal yaitu antara usia 2 sampai
3 tahu anak-anak menyukai atau menemukan sensasi kenikmatan pada pegendalian
pengeluaran kotoran. Selanjutnya menuju tahapan falik antara usia 3 sampai 4
tahun menemukan potensi kenikmatan pada genitalnya(kemaluan). Kemudian
menyelesaikan atau gagal menyelesaikan apa yang disebut Oedipus Kompleks dan
kastrasi. Ketika usia 6 tahun. Anak-anak berhenti menunjukkan seksualitasnya
dan berakhir sekitar masa pubertas. Pada masa remaja dorongan dorongan seksual
kembali muncul atau memasukui tahapan genital. Freud menekankan bahwa lanjutan
kritis dari tahapan psikoseksual yang tengah berlangsung adalah penyelesaian
atas apa yang disebut Oedipus Kompleks dan kastrasi.
Doktrin psikoanalisis menerangkan
bahwa laki-laki mempunyai penis dan peempuan tdak mempunyai penis. Ini
mempengaruhi cara laki-laki dan
perempuan meneruskan penyelesaian kompleks pada tahapan falik. Melalui doktrin
ini konsekuensi panjangnya adalah kecemburuan terhadap penis. Freud menjelaskan
bahwa perjalanan perempuan melalui Oedipus Kompleks dan kastrasi mencederai
perempuan dengan beberapa sifat gender yang tidak dikuasai. Pertama, perempuan menjadi nasistik
ketika dia mengalihkan tujuan seksual aktif menuju pasif. Perempuan menjadi
lebih ingin dicintai daripada mencintai. Kedua,
perempuan menjadi kosong. Sebagai kompensasi dari kekurangannya atas penis,
perempuan memfokuskan diri total pada penampilan fisik. Dia berusaha
penampilannya terbaik. Penamplan fisik merupakan cara untuk menutupi
kekurangannya atas penis.
Jadi titik tekan inferioritas
perempuan terjadi karena kekurangan anak perempuan atas penis. Ini menyebabkan
anak perempuan tidak harus merasa khawatir dikastrasi. Anak perempuan tidak
termotivasi seperti anak laki-laki untuk menjadi pengikut yang patuh(hukum
ayah).
Kritik
terhadap Pandangan Sigmun Freud
Pandangan Freud terhadap feminisme
psikoanalisis yaitu bahwa inferioritas perempuan terjadi karena kecemburuan
terhadap penis, serta berbagai gagasan yang berhubungan dengan itu mendapat
kritik. Pada 1970-an fminis mempunyai agenda yang berbeda. Menurut Betty
Fridean, S. Firestone, dan kate Millet berpendapat bahwa kemungkinannya sangat
kecil mengenai posisi serta ketidakberdayaan perempuan terhadap laki-laki
karena hubungannya dengan biologis perempuan. Melainkan menurut mereka yang
menyebabkan posisi dan ketidakberdayaan itu ialah karena konstruksi sosial, kebudayaan,
dan feminitas.
Dorothy
Dinnerstein
Menurutnya hubungan bayi dengan
seorang ibu merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan (simbiotis). Hal ini
menyebabkan timbulnya perasaan ambivalensi terhadap figur ibu dan apa yang
direpresentasikan oleh perempuan. Ini tidak dapat dipungkiri hingga terjadinya
ketergantungan. Menurutnya kebutuhan laki-laki menguasai perempuan dan
kebutuhan perempuan dikuasai laki-laki secara tragis mengarah kepada 6
rangkaian pengaturan gender yang salah bentuk(pandangan hubungan manusaia yang
destruktif).
Pertama,
keposesifan seksual laki-laki yang lebih besar. Laki-laki berharap untuk
bisa menguasai ketidak mampuannya dimasa lalu untuk menguasai total ibunya
secara total, dengan selanjutnya menguasai secara total istri atau kekasihnya. Kedua, pembisuan dorongan impulsif
erotis perempuan. Erotisme perempuan yang dibisukan adalah erotisme yang
semata-mata untuk memuaskan laki-laki. Keinginan serta kebutuhan seksualnya
dibiarkan tidak terpenuhi. Ketiga, perasaan
bersalah disisi perempuan. Perasaan bersalah yang dirasakannya dengan
meninggalkan ibunya seorang perempuan menolak untuk membiarkan dirinya mendapat
bahkan kenikmatan tidak langsung dalam hubungan seksual. Kecuali hubungan itu
diwarnai oleh tipe yang sama dari cinta yang meliputi keseluruhan cinta antar
dirinya dengan ibunya. Keempat, pandangan
bahwa perempuan sebagai suatu “benda” dan sementara laki-laki merupakan suatu
“saya”. Kelima, ambivalensi umum
terhadap tubuh. Ambivalensi umum terhadap tubuh lebih intens terhadap
perempuan. Disatu sisi tubuh perempuan sangat kuat karena merepresentasikan
segala kekuatan kehidupan. Tapi disisi lain tubuh perempuan menjijikkan karena
mengeluarkan darah dan lendir. Keenam, perjanjian
tidak tertulis antara laki-laki dan perempuan bahwa laki-laki pergi ke dunia
publik sedangkan perempuan tinggal di ranah pribadi.
Menurut Dinnerstein, pengaturan
gender destruktif ini akhirnya menimbulkan pelimpahan kesalahan terhadap
perempuan. Untuk masalah ini dia menawarkan pemecahan yaitu pola pengasuhan
ganda. Menurutnya ini memiliki citra posistif. Pertama, pengasuhan ganda memungkinkan kita untuk berhenti
memproyeksikan semua ambivalensi kita mengenai karnalitas dan mortalitas kepada
satu orang tua yaitu perempuan. Kedua, pengasuhan
ganda akan memungkinkan kita mengatasi ambivalensi terhadap pertumbuhan. Ketiga, pengasuhan ganda akan membantu
kita mengatasi ambivalensi terhadap eksistensi manusia yang terpisah lainnya. Keempat, pengasuhan ganda membantu kita
mengatasi ambivalensi terhadap usaha-usaha publik. Dengan pengasuhan ganda ini
laki-laki dan perempuan akan mempunyai peran yang setara dalam membangn dunia.
Dalam mengash anak perempuan tidak lagi harus menjadi seorang yang terpojokkan.
Nancy
Chodorow
Hal
yang bisa saya tulis dari dia adalah teorinya bahwa perkembangan psikoseksual
antara laki-laki dan perempuan mempunyai implikasi sosial. Keterpisahan anak
laki-laki dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk secara dalam
berhubungan dengan orang lain. Kekurangan emosional ini mempersiapkan anak
laki-laki untuk dapat bekerja disektor publik serta kemampuan menjarakkan diri
dari Liyan tanpa perasaan.
Sebaliknya keterkaitan anak
perempuan dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk mejalin relasinya
dengan Liyan. Sayangnya, kemampuan ini justru menyulitkan anak perempuan untuk
menciptakan tempatnya diranah publik. Sama halnya dengan Dinnerstein, Chodorow
berhipotesis bahwa pengasuhan ganda yang bis amenghapuskan ini. Anak laki-laki
atau perempuan yang dibesarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya, akan
menyatu dan mampu memisahkan diri, mampu menghargai hubungannya dengan Liyan
dan mempunyai kebanggaan atas otonomi mereka.
Juliet
Mitchell
Dia sependapat dengan Freud bahwa
situasi Oedipal adalah universal. Dia
berpendapat bahwa tanpa pelarangan terhadap inses, masyarakat manusia adalah
ketidakmungkinan. Menurut Levi Strauss yang menjadi dasar karya J. Mitchell,
jiak hubungan seksual dimungkinkan didalam keluarga biologis, tidak akan ada
penggerak bagi keluarga untuk melebarkan diri diluar batas-batas terdekatnya.
Dijelaskan Levi Strauss, Tabu Inses adalah penggerak yang melarang hubungan
seksual didalam keluarga dan memaksa membentuk organisasi sosial yang lebih
besar. Dia mengklaim bawa fasilitas ini terjadi pada pertukaran antara
keluarga biologis terutama petukaran
perempuan diantar laki-laki.
Menurut Mitchell, hukum bagi
pertukaran perempuan berpangkal dari ketidaksadaran yang dalam, muncul
menyakitkan selama penyelesaian Oedipus Kompleks pada setiap orang. Karena
laki-laki tidak lagi merasakan kebutuhan untuk mempertukarkan perempuan guna
menciptakan masyarakat. Mitchell berspekulasi bahwa Oedipus Kompleks kini tidak
lagi dibutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar