Selasa, 05 April 2016

Review Feminisme Psikoanalisis

Feminisme Psikoanalisis
Oleh : Ahmad Khoirul Anam

Akar Feminisme Psikoanalisis Sigmund Freud
            Menurut Freud maskulinitas dan feminitas merupakan produk pendewasaan seksual. Teori seksual Freud kita mengenal ada beberapa tahapan. Seorang bayi menemukan kenikmatan dengan menghisap payudara ibunya atau menghisap ibu jarinya sendiri. Ini merupakan tahapan oral. Berikutnya selama selama tahapan aanal yaitu antara usia 2 sampai 3 tahu anak-anak menyukai atau menemukan sensasi kenikmatan pada pegendalian pengeluaran kotoran. Selanjutnya menuju tahapan falik antara usia 3 sampai 4 tahun menemukan potensi kenikmatan pada genitalnya(kemaluan). Kemudian menyelesaikan atau gagal menyelesaikan apa yang disebut Oedipus Kompleks dan kastrasi. Ketika usia 6 tahun. Anak-anak berhenti menunjukkan seksualitasnya dan berakhir sekitar masa pubertas. Pada masa remaja dorongan dorongan seksual kembali muncul atau memasukui tahapan genital. Freud menekankan bahwa lanjutan kritis dari tahapan psikoseksual yang tengah berlangsung adalah penyelesaian atas apa yang disebut Oedipus Kompleks dan kastrasi.
            Doktrin psikoanalisis menerangkan bahwa laki-laki mempunyai penis dan peempuan tdak mempunyai penis. Ini mempengaruhi  cara laki-laki dan perempuan meneruskan penyelesaian kompleks pada tahapan falik. Melalui doktrin ini konsekuensi panjangnya adalah kecemburuan terhadap penis. Freud menjelaskan bahwa perjalanan perempuan melalui Oedipus Kompleks dan kastrasi mencederai perempuan dengan beberapa sifat gender yang tidak dikuasai. Pertama, perempuan menjadi nasistik ketika dia mengalihkan tujuan seksual aktif menuju pasif. Perempuan menjadi lebih ingin dicintai daripada mencintai. Kedua, perempuan menjadi kosong. Sebagai kompensasi dari kekurangannya atas penis, perempuan memfokuskan diri total pada penampilan fisik. Dia berusaha penampilannya terbaik. Penamplan fisik merupakan cara untuk menutupi kekurangannya atas penis.
            Jadi titik tekan inferioritas perempuan terjadi karena kekurangan anak perempuan atas penis. Ini menyebabkan anak perempuan tidak harus merasa khawatir dikastrasi. Anak perempuan tidak termotivasi seperti anak laki-laki untuk menjadi pengikut yang patuh(hukum ayah).
Kritik terhadap Pandangan Sigmun Freud
            Pandangan Freud terhadap feminisme psikoanalisis yaitu bahwa inferioritas perempuan terjadi karena kecemburuan terhadap penis, serta berbagai gagasan yang berhubungan dengan itu mendapat kritik. Pada 1970-an fminis mempunyai agenda yang berbeda. Menurut Betty Fridean, S. Firestone, dan kate Millet berpendapat bahwa kemungkinannya sangat kecil mengenai posisi serta ketidakberdayaan perempuan terhadap laki-laki karena hubungannya dengan biologis perempuan. Melainkan menurut mereka yang menyebabkan posisi dan ketidakberdayaan itu ialah karena konstruksi sosial, kebudayaan, dan feminitas.

Dorothy Dinnerstein
            Menurutnya hubungan bayi dengan seorang ibu merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan (simbiotis). Hal ini menyebabkan timbulnya perasaan ambivalensi terhadap figur ibu dan apa yang direpresentasikan oleh perempuan. Ini tidak dapat dipungkiri hingga terjadinya ketergantungan. Menurutnya kebutuhan laki-laki menguasai perempuan dan kebutuhan perempuan dikuasai laki-laki secara tragis mengarah kepada 6 rangkaian pengaturan gender yang salah bentuk(pandangan hubungan manusaia yang destruktif).
            Pertama, keposesifan seksual laki-laki yang lebih besar. Laki-laki berharap untuk bisa menguasai ketidak mampuannya dimasa lalu untuk menguasai total ibunya secara total, dengan selanjutnya menguasai secara total istri atau kekasihnya. Kedua, pembisuan dorongan impulsif erotis perempuan. Erotisme perempuan yang dibisukan adalah erotisme yang semata-mata untuk memuaskan laki-laki. Keinginan serta kebutuhan seksualnya dibiarkan tidak terpenuhi. Ketiga, perasaan bersalah disisi perempuan. Perasaan bersalah yang dirasakannya dengan meninggalkan ibunya seorang perempuan menolak untuk membiarkan dirinya mendapat bahkan kenikmatan tidak langsung dalam hubungan seksual. Kecuali hubungan itu diwarnai oleh tipe yang sama dari cinta yang meliputi keseluruhan cinta antar dirinya dengan ibunya. Keempat, pandangan bahwa perempuan sebagai suatu “benda” dan sementara laki-laki merupakan suatu “saya”. Kelima, ambivalensi umum terhadap tubuh. Ambivalensi umum terhadap tubuh lebih intens terhadap perempuan. Disatu sisi tubuh perempuan sangat kuat karena merepresentasikan segala kekuatan kehidupan. Tapi disisi lain tubuh perempuan menjijikkan karena mengeluarkan darah dan lendir. Keenam, perjanjian tidak tertulis antara laki-laki dan perempuan bahwa laki-laki pergi ke dunia publik sedangkan perempuan tinggal di ranah pribadi.
            Menurut Dinnerstein, pengaturan gender destruktif ini akhirnya menimbulkan pelimpahan kesalahan terhadap perempuan. Untuk masalah ini dia menawarkan pemecahan yaitu pola pengasuhan ganda. Menurutnya ini memiliki citra posistif. Pertama, pengasuhan ganda memungkinkan kita untuk berhenti memproyeksikan semua ambivalensi kita mengenai karnalitas dan mortalitas kepada satu orang tua yaitu perempuan. Kedua, pengasuhan ganda akan memungkinkan kita mengatasi ambivalensi terhadap pertumbuhan. Ketiga, pengasuhan ganda akan membantu kita mengatasi ambivalensi terhadap eksistensi manusia yang terpisah lainnya. Keempat, pengasuhan ganda membantu kita mengatasi ambivalensi terhadap usaha-usaha publik. Dengan pengasuhan ganda ini laki-laki dan perempuan akan mempunyai peran yang setara dalam membangn dunia. Dalam mengash anak perempuan tidak lagi harus menjadi seorang yang terpojokkan.

Nancy Chodorow
            Hal yang bisa saya tulis dari dia adalah teorinya bahwa perkembangan psikoseksual antara laki-laki dan perempuan mempunyai implikasi sosial. Keterpisahan anak laki-laki dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk secara dalam berhubungan dengan orang lain. Kekurangan emosional ini mempersiapkan anak laki-laki untuk dapat bekerja disektor publik serta kemampuan menjarakkan diri dari Liyan tanpa perasaan.
            Sebaliknya keterkaitan anak perempuan dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk mejalin relasinya dengan Liyan. Sayangnya, kemampuan ini justru menyulitkan anak perempuan untuk menciptakan tempatnya diranah publik. Sama halnya dengan Dinnerstein, Chodorow berhipotesis bahwa pengasuhan ganda yang bis amenghapuskan ini. Anak laki-laki atau perempuan yang dibesarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya, akan menyatu dan mampu memisahkan diri, mampu menghargai hubungannya dengan Liyan dan mempunyai kebanggaan atas otonomi mereka.

Juliet Mitchell
            Dia sependapat dengan Freud bahwa situasi Oedipal adalah universal.  Dia berpendapat bahwa tanpa pelarangan terhadap inses, masyarakat manusia adalah ketidakmungkinan. Menurut Levi Strauss yang menjadi dasar karya J. Mitchell, jiak hubungan seksual dimungkinkan didalam keluarga biologis, tidak akan ada penggerak bagi keluarga untuk melebarkan diri diluar batas-batas terdekatnya. Dijelaskan Levi Strauss, Tabu Inses adalah penggerak yang melarang hubungan seksual didalam keluarga dan memaksa membentuk organisasi sosial yang lebih besar. Dia mengklaim bawa fasilitas ini terjadi pada pertukaran antara keluarga  biologis terutama petukaran perempuan diantar laki-laki.

            Menurut Mitchell, hukum bagi pertukaran perempuan berpangkal dari ketidaksadaran yang dalam, muncul menyakitkan selama penyelesaian Oedipus Kompleks pada setiap orang. Karena laki-laki tidak lagi merasakan kebutuhan untuk mempertukarkan perempuan guna menciptakan masyarakat. Mitchell berspekulasi bahwa Oedipus Kompleks kini tidak lagi dibutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com