Cinta
yang Memenjara
(Inferioritas
Perempuan)
Oleh:
Ahmad Khoirul Anam
Menyoal inferioritas perempuan, kali
ini kita akan mundur beberapa waktu. Tepatnya ketika teman saya si Bro duduk di
bangku SLTP. Kurang lebih antara tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Jauh
sebelum si Bro menunjukkan sifat kemaskulinannya saat ini. Dulu dia merupakan
perempuan yang sangat inferior oleh pacarnya sendiri.
Si Bro selama pacaran mengalami
beberapa penindasan oleh sang pacar, baik secara sikap maupun tindakan. Pertama, dalam keseharian dia suka di
atur-atur ini itu. Seolah-olah dia di program agar sesuai dengan keinginan sang
pacar. Tidak boleh melakukan sesuatu tanpa seizin sang pacar. Keluar harus
izin. Setiap waktu harus memberikan kabar. Bahkan kegiatan berkumpul keluarga, berkumpul
dengan teman, makan, mandi, dan tidur pun harus laporan terlebih dahulu.
Kedua,
masih sangat berhubungan dengan hal yang pertama tadi. Dia beberapa kali
mendapat perlakuan kasar ketika melakukan hal yang tidak sesuai dengan
permintaan sang pacar. Efek dari itu menyebabkan dia kurang memiliki teman di
lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah. Dengan tekanan
yang di lakukan oleh sang pacar, dia menjadi tidak bebas tampil di muka umum.
Kegiatannya menjadi terbatas. Tidak bisa dengan leluasa mengekspresikan diri
sesuai dengan keinginannya.
Menurut pengakuannya , dia sangat
sadar dengan keadaan yang membelenggu ini. Dia mengamini bahwa dirinya
mengalami penindasan baik fisik maupun psikis. Tapi alasan rasa cinta yang
membuat dia memutuskan untuk bertahan dan manut
begitu saja. Sampai pada akhirnya dia mencapai pada titik puncak kejenuhan.
Dia ingin kembali bebas dari keadaan yang membelit kehidupannya ini.
Upaya yang petama dia lakukan adalah
dengan melakukan obrolan serius dengan sang pacar agar segera merubah sikap
superiornya selama ini. Akan tetapi hasilnya masih nihil. Dia masih bersabar
untuk tidak menyerah dan memutuskan untuk mempertahan hubungannya ini. Kemudian
upaya berikutnya adalah dengan berkonsultasi dengan seorang guru bimbingan
konseling di SLTP tempatnya bersekolah. Menurut guru bimbingan konseling
tersebut, si Bro di sarankan agar berani mengambil keputusan jika memang sang
pacar tidak bisa merubah sikapnya maka lebih baik di putus secara baik-baik.
Saran ini cukup tidak bisa di terima
oleh teman saya tersebut. Alasan yang sama yaitu rasa cinta yang begitu dalam
yang membuat dia merasa berat mengambil keputusan. Memang dalam beberapa hal
sang pacar katanya banyak membantu si Bro ketika dalam kondisis sulit. Akan
tetapi untuk hal yang satu ini dia tidak mau bercerita terlalu jelas dan
gamblang. Berjalannya waktu akhirnya kesabaran si Bro ada batasnya juga. Dengan
berbagai pertimbangan salah satunya karena sang pacar tetap tidak bisa merubah
sikapnya, dia memberanikan diri mengambil keputusan untuk memutuskan sang pacar
dengan cara baik-baik.
Harapannya dengan keputusan ini,
tidak ada lagi yang mengatur kehidupannya. Kegiatan kesukaannya bisa dilakukan
dengan sesuka hati tanpa ada yang melarang. Dia juga berharap menjadi bebas
mengekspresikan diri di publik, dan yang paling penting adalah konsentrasinya
menghadapi Ujian Nasional 2010. Si Bro juga memiliki impian untuk meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi fokus utamanya adalah pendidikan
terlebih dahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar