Selasa, 19 April 2016

UTS STUDI FEMINISME: Inferioritas Perempuan

Cinta yang Memenjara
(Inferioritas Perempuan)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
            Menyoal inferioritas perempuan, kali ini kita akan mundur beberapa waktu. Tepatnya ketika teman saya si Bro duduk di bangku SLTP. Kurang lebih antara tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Jauh sebelum si Bro menunjukkan sifat kemaskulinannya saat ini. Dulu dia merupakan perempuan yang sangat inferior oleh pacarnya sendiri.
            Si Bro selama pacaran mengalami beberapa penindasan oleh sang pacar, baik secara sikap maupun tindakan. Pertama, dalam keseharian dia suka di atur-atur ini itu. Seolah-olah dia di program agar sesuai dengan keinginan sang pacar. Tidak boleh melakukan sesuatu tanpa seizin sang pacar. Keluar harus izin. Setiap waktu harus memberikan kabar. Bahkan kegiatan berkumpul keluarga, berkumpul dengan teman, makan, mandi, dan tidur pun harus laporan terlebih dahulu.
            Kedua, masih sangat berhubungan dengan hal yang pertama tadi. Dia beberapa kali mendapat perlakuan kasar ketika melakukan hal yang tidak sesuai dengan permintaan sang pacar. Efek dari itu menyebabkan dia kurang memiliki teman di lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah. Dengan tekanan yang di lakukan oleh sang pacar, dia menjadi tidak bebas tampil di muka umum. Kegiatannya menjadi terbatas. Tidak bisa dengan leluasa mengekspresikan diri sesuai dengan keinginannya.
            Menurut pengakuannya , dia sangat sadar dengan keadaan yang membelenggu ini. Dia mengamini bahwa dirinya mengalami penindasan baik fisik maupun psikis. Tapi alasan rasa cinta yang membuat dia memutuskan untuk bertahan dan manut begitu saja. Sampai pada akhirnya dia mencapai pada titik puncak kejenuhan. Dia ingin kembali bebas dari keadaan yang membelit kehidupannya ini.
            Upaya yang petama dia lakukan adalah dengan melakukan obrolan serius dengan sang pacar agar segera merubah sikap superiornya selama ini. Akan tetapi hasilnya masih nihil. Dia masih bersabar untuk tidak menyerah dan memutuskan untuk mempertahan hubungannya ini. Kemudian upaya berikutnya adalah dengan berkonsultasi dengan seorang guru bimbingan konseling di SLTP tempatnya bersekolah. Menurut guru bimbingan konseling tersebut, si Bro di sarankan agar berani mengambil keputusan jika memang sang pacar tidak bisa merubah sikapnya maka lebih baik di putus secara baik-baik.
            Saran ini cukup tidak bisa di terima oleh teman saya tersebut. Alasan yang sama yaitu rasa cinta yang begitu dalam yang membuat dia merasa berat mengambil keputusan. Memang dalam beberapa hal sang pacar katanya banyak membantu si Bro ketika dalam kondisis sulit. Akan tetapi untuk hal yang satu ini dia tidak mau bercerita terlalu jelas dan gamblang. Berjalannya waktu akhirnya kesabaran si Bro ada batasnya juga. Dengan berbagai pertimbangan salah satunya karena sang pacar tetap tidak bisa merubah sikapnya, dia memberanikan diri mengambil keputusan untuk memutuskan sang pacar dengan cara baik-baik.
            Harapannya dengan keputusan ini, tidak ada lagi yang mengatur kehidupannya. Kegiatan kesukaannya bisa dilakukan dengan sesuka hati tanpa ada yang melarang. Dia juga berharap menjadi bebas mengekspresikan diri di publik, dan yang paling penting adalah konsentrasinya menghadapi Ujian Nasional 2010. Si Bro juga memiliki impian untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi fokus utamanya adalah pendidikan terlebih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com