Selasa, 19 April 2016

Opini : Unit Kos-kosan Mahasiswa(UKM)

Transformasi Gedung (UKM )Unit Kegiatan Mahasiswa menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa
Oleh : Ahmad Khoirul Anam

            Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung dewasa ini sudah bisa dijuluki Kampus Besar. Besar jumlah mahasiswanya serta besar bangunan gedungnya. Tidak begitu mengherankan, kampus yang terletak di Kecamatan Kedungwaru ini pada penerimaan mahasiswa tahun akademik 2015/2016 kemarin menerima kurang lebih 2.500 mahasiswa. Ini masih satu angkatan, bisa dibayangkan nanti 3 tahun yang akan datang jumlah mahasiswantya tinggal mengalikan 3 kali lipat menjadi sekitar 7.500 mahasiswa. Desa Plosokandang yang konon jika diamati dari namanya yaitu suatu daerah yang pelosok dan rata-rata pelosok kebanyakan sepi. Namun kini anggapan itu sirna sudah, wajar saja dalam 1 tempat dihuni lebih dari tujuh ribu jiwa. Belum lagi ditambah masyarakat lokal. Jika ini tetap bisa konsisten, maka lima sampai sepuluh tahun yang akan datang Desa Plosokandang diprediksi menjadi gudang manusia.
            Membludaknya jumlah mahasiswa, berusaha diimbangi oleh pihak kampus dengan melakukan penambahan gedung baru. Maka tidak heran selain jumlah mahasiswanya yang besar, sekarang gedung di kampus IAIN Tulungagung juga besar-besar. Bertambahnya kapasitas mahasiswa menjadikan situasi di kampus sangat sibuk. Selain sibuk dengan aktivitas perkuliahan, kampus juga disibukkan oleh beberapa kegiatan mahasiswa yang di inisiasi oleh UKM. UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa merupakan wadah bagi mahasiswa untuk untuk melaksanakan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang tujuannya melatih potensi, skill, dan pengembangan diri mahasiswa. Diluar itu, UKM juga dimanfaatkan sebagai sarana menambah wawasan dan pengalaman selain aspek akademik.
            Kampus IAIN Tulungagung lumayan mengakomodir potensi dan kreativitas mahasiswa. Terbukti cukup banyak pilihan UKM yang bisa dijadikan lahan berekspresi oleh mahasiswa. Bagi mahasiswa  penghobi bidang olahraga bisa bergabung di UKM Bakat dan Minat. Mahasiswa yang memiliki jiwa relawan bisa ikut di KSR PMI. Teater Pro-Test menjadi pilihan bagi mahasiswa yang suka seni akting dan sejenisnya. Tidak ketinggalan bagi maniak futsal bisa mencurahkan hasratnya di UKM Futsal Geronimo. Selain beberapa tadi masi ada UKM Pramuka, Musik, Menwa, Pencak Silat, dan lain-lain. Hal ini tentu membuat mahasiswa tidak sulit menjatuhkan pilihan sesuai minat dan keinginan masing-masing.
            Guna mengakomodir aktivitas dan kegiatan mahasiswa pihak kampus pun mensupportnya dengan membangun dan menyediakan gedung khusus untuk UKM. Gedung ini terletak persis di sebelah barat perpustakaan IAIN Tulungagung. Letak yang strategis yaitu di pinggir jalan memungkinkan akses menuju gedung UKM sangat mudah. Ukurannya lumayan besar terdiri dari 3,5 lantai, dan tersedia sebuah aula pertemuan khusus di lantai 3. Memang cukup besar, megah, dan indah pada zamannya, dulu. Waktu kampus ini masih bernama STAIN Tulungagung. Jika dicermati dari segi kegunaan. Gedung UKM dimanfaatkan untuk berbagai hal. Pertama, digunakan untuk kantor masing-masing UKM. Kedua, dimanfaatkan untuk menyimpan alat-alat/prasarana  penunjang kegiatan. Diluar itu pada pada prakteknya Gedung UKM IAIN Tulungagung selain digunakan sebagai basecamp beberapa UKM juga dimanfaatkan untuk kantor bebagai organisasi kemahasiswaan kampus mulai dari DEMA, SEMA serta HMJ. Hal-hal demikian tadi memperjelas dan memperlihatkan betapa penting dan sangat vital peran Gedung UKM bagi kelangsungan mahasiswa IAIN Tulungagung.
            IAIN Tulungagung dari waktu ke waktu terus mengalami transformasi. Dulu bernama STAIN, sekarang berkembang menjadi IAIN. Jumlah mahasiswa setiap tahun mengalami peningkatan. Tidak lupa sarana dan prasarana seperti gedung juga terus bertambah. Menjadi pertanyaan besar dan juga masalah besar ketika bersamaan bertambahnya gedung dan mahasiswa tetapi tidak untuk bertambahnya atau minimal perluasan gedung UKM. Barangkali ini  yang menjadi problematika mahasiswa yang bergelut di dunia UKM kampus. Disatu sisi kegiatan mahasiswa terus digenjot dan dituntut berprogres positif. Disisi yang lain, sarana prasarana gedung UKM masih jauh dari kata memadai. Kembali, jika dicermati lebih dalam, problem atau penyakit yang menimpa gedung UKM IAIN Tulungagung tergolong cukup akut. Berikut diantaranya. Pertama, kurus. Kurus disini dalam arti ukuran bangunan kurang luas dan kurang besar. Problem ini bermula ketika kebijakan kampus yang setiap tahun menambah kuota penerimaan mahasiswa, tidak diimbangi perluasan gedung atau penambahan gedung. Imbasnya perbandingan mahasiswa yang bergelut di UKM kurang proporsional dengan ukuran gedung UKM yang masih stagnan. Alhasil, gedung UKM penuh sesak.
Dalam kasus ini yang bisa dijadikan contoh adalah imbas bagi organisasi kemahasiswaan FUAD. Fakultas yang satu ini mulai tahun 2015 telah berkembang menjadi 6 jurusan. Masing-masing jurusan memiliki himpunan mahasiswa jurusan. Tentu masing-masing HMJ idealnya memerlukan setidaknya 6 sampai 7 kantor(ruangan) di dalam gedung UKM, seharusnya. Namun sayang, sampai detik ini pada praktenya organisasi kemahasiswaan FUAD belum bisa menikmati hak 6 sampai 7 kantor(ruangan) tersebut. Mereka selama ini dengan terpaksa memakai 1 kantor(ruangan) digunakan untuk 6 sampai 7 organisasi kemahasiswaan. Celakanya IAIN Tulungagung bukan hanya berbicara FUAD, masih ada Fakultas lain seperti FEBI, FASIH, dan FTIK belum lagi Pascasarjana. Kesemuanya kebetulan juga memiliki jurusan baru. Artinya organisasi kemahasiswaan mereka juga bertambah dan otomatis memerlukan kantor(ruangan) baru sekaligus layak di gedung UKM.
            Problem gedung UKM yang kedua adalah peralihan fungsi. Sejatinya, seperti yang sudah dibahas tadi bahwa fungsi gedung UKM ialah untuk mendukung lancarnya segala jenis kegiatan UKM. Harapannya memang demikian. Tapi fakta mengejutkan pun akhirnya terkuak. Gedung UKM sekarang tidak ubahnya seperti kos-kosan mahasiswa. Tempat ini dijadikan penginapan oleh sebagian mahasiswa. Seperti kos-kosan pada ummnya, banyak sekali ditemukan pakaian-pakaian yang bergelantungan. Mulai dari jas almamater, kemeja, kaos, celana panjang, bahkan hingga celana dalam pun tertata sedemikian agak rapi bergelantung di sekitar jendela beberapa ruangan. Berikutnya alat-alat memasak beserta bahan pendukung untuk bertahan hidup mahasiswa tidak ketinggalan agak berserakan. Alat-alat MCK juga tidak ketinggalan absen dari penglihatan. Kasus ini terjadi karena mungkin banyak mahasiswa IAIN Tulungagung berasal dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau Jawa. Mereka di Tulungagung sama-sama membutuhkan tempat tinggal atau minimal penginapan/tempat persinggahan. Sayangnya tidak didukung dengan kemampuan dana yang memadai. Akhirnya gedung UKM menjadi pilihan. Rasanya tepat sekali statement “Transformasi Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa”.
            Barangkali problem yang ketiga masih erat sekali dengan problem yang kedua tadi yaitu krisis kebersihan. Kebersiahan menjadi suatu hal sulit dilakukan manakala tidak dibarengi dengan kesadaran. Kesadaran merupakan barang yang langka di republik ini. Itu pula yang terlihat di area gedung UKM IAIN Tulungagung. Botol-botol air mineral, sampah kantong plastik, bekas bungkus makanan merupakan material sampah yang tidak sekalipun absen. Pemandangan lantai 1, 2, dan 3 dan seterusnya tidak jauh berbeda, lantai keramik lebih sering terlihat kusam dan kotor ketimbang bersih. Mungkin jarang disapu. Lebih parah lagi suasana kebersihan toilet gedung, bau-bau yang kurang begitu sedap biasanya berlalu lalang tercium. Apalagi diperparah dibeberapa kesempatan aliran air macet dan beberapa kran air rusak. Bisa dibayangkan betapa parah kebersihan gedung ini.
            Dari beberapa pemaparan tadi, gedung UKM bak tubuh manusia yang dikategorikan sedang menglami komplikasi beberapa penyakit. Badannya kurus artinya ukuran bangunan kurang luas dan proporsional. Selanjutnya juga mengalami disfungsi organ artinya fungsi ruangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terakhir mengalami kebersihan yang buruk tidak terawat yang menambah lengkap lengkap penderitaan gedung ini. Melihat kenyataan pahit ini pihak kampus diharapkan melek sehingga menjadi prihatin. Selanjutnya segera memikirkan jalan keluar untuk mengambil tindakan pertolongan. Misalnya pembangunan gedung UKM tambahan atau sejelek-jeleknya perluasan gedung UKM. Di pihak yang lain yaitu mahasiswa juga diharapkan segera dibukakan pintu hatinya supaya sama-sama sadar untu selalu merawat dan menjaga dengan baik gedung atau sarana prasarana pendukung kegiatan mahasiswa yang ada.

3 komentar:

  1. waaah imbauan sekaligus kebanggaan gan!

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. perlunya pembangunan dan peremajaan fasilitas hihihi

    BalasHapus

Free livescore from Unogoal.com