Transformasi Gedung (UKM )Unit
Kegiatan Mahasiswa menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa
Oleh
: Ahmad Khoirul Anam
Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Tulungagung dewasa ini sudah bisa dijuluki Kampus Besar. Besar jumlah
mahasiswanya serta besar bangunan gedungnya. Tidak begitu mengherankan, kampus
yang terletak di Kecamatan Kedungwaru ini pada penerimaan mahasiswa tahun
akademik 2015/2016 kemarin menerima kurang lebih 2.500 mahasiswa. Ini masih
satu angkatan, bisa dibayangkan nanti 3 tahun yang akan datang jumlah
mahasiswantya tinggal mengalikan 3 kali lipat menjadi sekitar 7.500 mahasiswa.
Desa Plosokandang yang konon jika diamati dari namanya yaitu suatu daerah yang
pelosok dan rata-rata pelosok kebanyakan sepi. Namun kini anggapan itu sirna
sudah, wajar saja dalam 1 tempat dihuni lebih dari tujuh ribu jiwa. Belum lagi
ditambah masyarakat lokal. Jika ini tetap bisa konsisten, maka lima sampai
sepuluh tahun yang akan datang Desa Plosokandang diprediksi menjadi gudang
manusia.
Membludaknya jumlah mahasiswa,
berusaha diimbangi oleh pihak kampus dengan melakukan penambahan gedung baru.
Maka tidak heran selain jumlah mahasiswanya yang besar, sekarang gedung di
kampus IAIN Tulungagung juga besar-besar. Bertambahnya kapasitas mahasiswa
menjadikan situasi di kampus sangat sibuk. Selain sibuk dengan aktivitas
perkuliahan, kampus juga disibukkan oleh beberapa kegiatan mahasiswa yang di
inisiasi oleh UKM. UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa merupakan wadah bagi
mahasiswa untuk untuk melaksanakan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang
tujuannya melatih potensi, skill, dan
pengembangan diri mahasiswa. Diluar itu, UKM juga dimanfaatkan sebagai sarana
menambah wawasan dan pengalaman selain aspek akademik.
Kampus IAIN Tulungagung lumayan
mengakomodir potensi dan kreativitas mahasiswa. Terbukti cukup banyak pilihan
UKM yang bisa dijadikan lahan berekspresi oleh mahasiswa. Bagi mahasiswa penghobi bidang olahraga bisa bergabung di
UKM Bakat dan Minat. Mahasiswa yang memiliki jiwa relawan bisa ikut di KSR PMI.
Teater Pro-Test menjadi pilihan bagi mahasiswa yang suka seni akting dan
sejenisnya. Tidak ketinggalan bagi maniak
futsal bisa mencurahkan hasratnya di UKM Futsal Geronimo. Selain beberapa
tadi masi ada UKM Pramuka, Musik, Menwa, Pencak Silat, dan lain-lain. Hal ini
tentu membuat mahasiswa tidak sulit menjatuhkan pilihan sesuai minat dan
keinginan masing-masing.
Guna mengakomodir aktivitas dan
kegiatan mahasiswa pihak kampus pun mensupportnya
dengan membangun dan menyediakan gedung khusus untuk UKM. Gedung ini terletak
persis di sebelah barat perpustakaan IAIN Tulungagung. Letak yang strategis
yaitu di pinggir jalan memungkinkan akses menuju gedung UKM sangat mudah.
Ukurannya lumayan besar terdiri dari 3,5 lantai, dan tersedia sebuah aula
pertemuan khusus di lantai 3. Memang cukup besar, megah, dan indah pada
zamannya, dulu. Waktu kampus ini masih bernama STAIN Tulungagung. Jika
dicermati dari segi kegunaan. Gedung UKM dimanfaatkan untuk berbagai hal. Pertama, digunakan untuk kantor
masing-masing UKM. Kedua, dimanfaatkan
untuk menyimpan alat-alat/prasarana
penunjang kegiatan. Diluar itu pada pada prakteknya Gedung UKM IAIN
Tulungagung selain digunakan sebagai basecamp
beberapa UKM juga dimanfaatkan untuk kantor bebagai organisasi
kemahasiswaan kampus mulai dari DEMA, SEMA serta HMJ. Hal-hal demikian tadi
memperjelas dan memperlihatkan betapa penting dan sangat vital peran Gedung UKM
bagi kelangsungan mahasiswa IAIN Tulungagung.
IAIN Tulungagung dari waktu ke waktu
terus mengalami transformasi. Dulu bernama STAIN, sekarang berkembang menjadi
IAIN. Jumlah mahasiswa setiap tahun mengalami peningkatan. Tidak lupa sarana
dan prasarana seperti gedung juga terus bertambah. Menjadi pertanyaan besar dan
juga masalah besar ketika bersamaan bertambahnya gedung dan mahasiswa tetapi
tidak untuk bertambahnya atau minimal perluasan gedung UKM. Barangkali ini yang menjadi problematika mahasiswa yang
bergelut di dunia UKM kampus. Disatu sisi kegiatan mahasiswa terus digenjot dan
dituntut berprogres positif. Disisi yang lain, sarana prasarana gedung UKM
masih jauh dari kata memadai. Kembali, jika dicermati lebih dalam, problem atau
penyakit yang menimpa gedung UKM IAIN Tulungagung tergolong cukup akut. Berikut
diantaranya. Pertama, kurus. Kurus
disini dalam arti ukuran bangunan kurang luas dan kurang besar. Problem ini bermula ketika kebijakan
kampus yang setiap tahun menambah kuota penerimaan mahasiswa, tidak diimbangi
perluasan gedung atau penambahan gedung. Imbasnya perbandingan mahasiswa yang
bergelut di UKM kurang proporsional dengan ukuran gedung UKM yang masih
stagnan. Alhasil, gedung UKM penuh sesak.
Dalam
kasus ini yang bisa dijadikan contoh adalah imbas bagi organisasi kemahasiswaan
FUAD. Fakultas yang satu ini mulai tahun 2015 telah berkembang menjadi 6
jurusan. Masing-masing jurusan memiliki himpunan mahasiswa jurusan. Tentu
masing-masing HMJ idealnya memerlukan setidaknya 6 sampai 7 kantor(ruangan) di
dalam gedung UKM, seharusnya. Namun sayang, sampai detik ini pada praktenya
organisasi kemahasiswaan FUAD belum bisa menikmati hak 6 sampai 7
kantor(ruangan) tersebut. Mereka selama ini dengan terpaksa memakai 1
kantor(ruangan) digunakan untuk 6 sampai 7 organisasi kemahasiswaan. Celakanya
IAIN Tulungagung bukan hanya berbicara FUAD, masih ada Fakultas lain seperti
FEBI, FASIH, dan FTIK belum lagi Pascasarjana. Kesemuanya kebetulan juga
memiliki jurusan baru. Artinya organisasi kemahasiswaan mereka juga bertambah
dan otomatis memerlukan kantor(ruangan) baru sekaligus layak di gedung UKM.
Problem gedung UKM yang kedua adalah peralihan fungsi.
Sejatinya, seperti yang sudah dibahas tadi bahwa fungsi gedung UKM ialah untuk
mendukung lancarnya segala jenis kegiatan UKM. Harapannya memang demikian. Tapi
fakta mengejutkan pun akhirnya terkuak. Gedung UKM sekarang tidak ubahnya
seperti kos-kosan mahasiswa. Tempat ini dijadikan penginapan oleh sebagian
mahasiswa. Seperti kos-kosan pada ummnya, banyak sekali ditemukan
pakaian-pakaian yang bergelantungan. Mulai dari jas almamater, kemeja, kaos,
celana panjang, bahkan hingga celana dalam pun tertata sedemikian agak rapi
bergelantung di sekitar jendela beberapa ruangan. Berikutnya alat-alat memasak
beserta bahan pendukung untuk bertahan hidup mahasiswa tidak ketinggalan agak
berserakan. Alat-alat MCK juga tidak ketinggalan absen dari penglihatan. Kasus
ini terjadi karena mungkin banyak mahasiswa IAIN Tulungagung berasal dari luar
kota, luar provinsi, bahkan luar pulau Jawa. Mereka di Tulungagung sama-sama membutuhkan
tempat tinggal atau minimal penginapan/tempat persinggahan. Sayangnya tidak
didukung dengan kemampuan dana yang memadai. Akhirnya gedung UKM menjadi
pilihan. Rasanya tepat sekali statement “Transformasi
Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa”.
Barangkali problem yang ketiga masih erat sekali dengan problem
yang kedua tadi yaitu krisis kebersihan. Kebersiahan menjadi suatu hal sulit
dilakukan manakala tidak dibarengi dengan kesadaran. Kesadaran merupakan barang
yang langka di republik ini. Itu pula yang terlihat di area gedung UKM IAIN
Tulungagung. Botol-botol air mineral, sampah kantong plastik, bekas bungkus
makanan merupakan material sampah yang tidak sekalipun absen. Pemandangan
lantai 1, 2, dan 3 dan seterusnya tidak jauh berbeda, lantai keramik lebih
sering terlihat kusam dan kotor ketimbang bersih. Mungkin jarang disapu. Lebih
parah lagi suasana kebersihan toilet gedung, bau-bau yang kurang begitu sedap
biasanya berlalu lalang tercium. Apalagi diperparah dibeberapa kesempatan
aliran air macet dan beberapa kran air rusak. Bisa dibayangkan betapa parah kebersihan
gedung ini.
Dari beberapa pemaparan tadi, gedung
UKM bak tubuh manusia yang dikategorikan sedang menglami komplikasi beberapa
penyakit. Badannya kurus artinya ukuran bangunan kurang luas dan proporsional.
Selanjutnya juga mengalami disfungsi organ artinya fungsi ruangan tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Terakhir mengalami kebersihan yang buruk tidak
terawat yang menambah lengkap lengkap penderitaan gedung ini. Melihat kenyataan
pahit ini pihak kampus diharapkan melek
sehingga menjadi prihatin. Selanjutnya segera memikirkan jalan keluar untuk
mengambil tindakan pertolongan. Misalnya pembangunan gedung UKM tambahan atau
sejelek-jeleknya perluasan gedung UKM. Di pihak yang lain yaitu mahasiswa juga
diharapkan segera dibukakan pintu hatinya supaya sama-sama sadar untu selalu
merawat dan menjaga dengan baik gedung atau sarana prasarana pendukung kegiatan
mahasiswa yang ada.
waaah imbauan sekaligus kebanggaan gan!
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusperlunya pembangunan dan peremajaan fasilitas hihihi
BalasHapus