Jangan
Keliru Mengartikan Rasa Cinta!
Oleh:
Ahmad Khoirul Anam
Pencak silat. Aku
mengenal istilah ini kali pertama ketika masih SD. Teman-teman pun kelihatan
antusias. Kebanyakan mereka juga mengikuti sekaligus ikut latihan di salah satu
perguruan pencak silat di desa tetangga(Campurdarat). Tidak dengan ku, pencak
silat memberikan kesan seram dan berbahaya. Seram ketika melihat adegan
perkelahian yang saya ketahui lewat TV. Berbahaya jika akhirnya mengakibatkan
orang yang terlibat mengalami kesakitan dibuatnya. Itu yang ada dibenakku,
memang sangat terpengaruh TV.
Bermula
ketika kelas 3 SD, aku ribut dengan teman sekelas yang hanya karena masalah
sepele gara-gara pintu kalau se ingat ku. Tapi saya lupa detailnya. Perkelahian
tak terelakkan. Pukulan telak dari tangan kananku pun mengenai hidungnya.
Sontak darah bercucuran keluar dari hidung lawanku. Melihat darah bercucuran
nyaliku rada-rada menciut. Aku
mungkin ditakdirkan memang menjadi anak yang dasarnya baik, ribut pada waktu
itu sebenarnya tidak aku inginkan, namun memang lawanku saat itu begitu
menjengkelkan dan kesabaran ku juga ada batasnya. Selanjutnya lawan sekaligus
temanku itu aku tolong, karena aku kasian terhadapnya. Dalam hatiku juga ada
perasaan yang sangat menyesal. Aku merasa tidak tega da akhirnya lawanku
tersebut ditolong oleh teman-teman sekelas yang lain.
Berlanjut
di SMP masih mengenai pengalamanku mengenai pencak silat. Aku mempunyai teman
sebut saja Galut. Dia sangat menyukai klub bola yang sama denganku, sangat
loyal terhadap teman, dan aku akhirnya baru berani bilang sekarang dan ku tulis
disini bahwa aku sangat kurang suka saat itu ketika dia juga sangat fanatik dan
setia sekali dengan dunia yang menurutku seram yaitu pencak silat. Pernah
sekali waktu, gara-gara sebuah gambar di salah satu tembok sekolahku. Waktu itu
ada teman dari perguruan silat lain yang tidak terima. Mungkin dipikirnya
perguruannya kalah pamor gara-gara gambar atau bagaimana aku juga kurang paham
betul. Akhirnya Galut dan teman yang tidak terima tadi cekcok(kayak suami-istri ribut hihihihihi).
Tidak begitu jelas ceritanya akhirnya cekcok pun berlanjut ke arah penyelesaian
anak laki-laki profesional(aseeek).
Profesional apa’an wong malah gelut
satu lawan satu. Sangat berbahaya tidak untuk ditiru dirumah tanpa latihan
khusus. Sebenarnya Galut sudah aku ingatkan agar tidak jadi gelut. tapi dasarnya memang sudah terlanjur sayang dan cinta
terhadap perguruan yoo dia tidak
bergeming sama sekali. Singkat kata perkelahian pun terjadi dan hasilnya sudah
bisa ditebak bahwa keduanya sama-sama babak belur(cie kompakan).
Tunggu
dulu boi, paradigmaku mengenai pencak
silat tidak melulu soal negatif lhooo.
Hal demikian terjadi ketika aku duduk di bangku SMA. Aku berteman dengan
bermacam-macam disini. Latar belakang mereka pun bermacam-macam pula. Ada yang
suka soto, bakso, ada yang demen Arema,
Persebaya, kalau aku mah demen ambe cewek cantik. Merambah juga terhadap perguruan
silat yang mereka geluti pula. Uniknya teman-temanku di SMA tidak ribut seperti
yang tadi-tadi. Meskipun setia terhadap perguruan tapi pemikirannya sudak agak
dewasa(aseeek). Termasuk saya juga
masih setia menggeluti, bukan dunia persiatan melainkan dunia perpolitikan di
sekolah(politik gundhulmu boi).
Secara alamiah dan ilmiah aku suka melakukan penelitian terhadap mereka satu
persatu. Tujuannya yaitu ingin mengetahui lebih dalam mengenai pesilat yang
selama ini menurutku seram. Hasilnya luar biasa, pandangan miring selama ini
yang ada dipikiranku mulai sirna sudah. Ternyata pencak silat adalah seni dan
budaya asli indonesia yang sejatinya mengajarkan nilai-nilai keagamaan,
nilai-norma kehidupan, nilai persahabatan juga ada, yang tidak ada mah nilai matematika dan fisika( ngawuuur ), maksudku nilai-nilai
perkelahian, keributan, saling melukai malah tidak ada sebenarnya. Menurut
sampel yang pernah ku teliti hal-hal negatif selama ini hanyalah ulah
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mereka menyelesaika urusan pribadi
mereka dengan mengatasnamakan perguruan. Menurutnya itu sangat salah kaprah dan
tidak sesuai dengan AD/ART dan Undang-undang dunia persilatan malah.
Sejak
saat itu aku suka membaca artikel mengenai pencak silat, mempelajari teorinya.
Benar saja jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada didalamnya tidakk satu pun
yang mengajarkan keburukan. Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa tidak semua
tentang dunia persilatan itu buruk lhoo.
Tergantung individu yang melakukannya/mengaplikasikannya. Jadi tidak boleh
melabeli sebuah obyek itu positif/negatif jika belum memahami betul isinya.
Semoga dunia persilatan di Indonesia terus berkembang ke arah yang positif.
Bisa memberikan sumbangsih prestasi untuk negara tercinta.
Ini
sedikit celotehanku karena tidak sengaja membaca Lembar Kerja Siswa SMA/MA yang
kebetulan membahas persoalan ini dan aku teringat pengalaman ku ini. Jadi
teman-teman perguruan jangan geram dulu membacanya. Aku rasa ada pelajaran
penting di dalamnya. Jangan sampai cinta kita yang berlebihan terhadap suatu
hal, sehingga membuat kita tidak bisa menerima hal baik lain di luar itu. Semua
perguruan silat pada dasarnya baik, aakan lebih baik jika semuanya rukun dan
harmonis. Begitu kira-kira. Peace
boi......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar