Bergelimang Harta, Otoriter
Seperti Raja
(Superioritas Laki-laki)
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Dalam
rumah tangga lika-liku kehidupan sering terjadi. Termasuk berselisih pendapat,
cek cok, pertengkaratn antar suami istri bisa saja terjadi. Hal ini terjadi pada
salah satu tetangga saya. Sebut saja Pak Dadang. Usia pernikahan lebih dari 30
tahun tidak lantas mengalami perjalanan yang mulus di dalam pernikahannya
selama ini. Beberapa kali masih sering terdengar keributan antara Pak Dadang
dengan istri. Superioritas sangat lekat dengan Pak Dadang. Para tetangga juga
sepakat kalau superioritas sangat cocok di labelkan kepada Pak Dadang. Efek
dari sering cekcok, ribut di rumah dan pelabelan superioritas bahkan terbawa di
lingkungan tetangga. Banyak orang yang takut untuk bebicara lama dengannya.
Tidak sedikit pula anak-anak kecil takut pada saat dia lewat ketika bermain.
Superioritas
Pak Dadang di mulai sejak awal penikahan. Bermula ketika pernikahannya
merupakan hasil perjodohan. Selain itu ada beberapa hal yang melatar belakangi
seprioritas dia di keluarganya. Pertama, dia
merupakan orang yang bisa dibilang kaya pada zamannya. Dulu, dia dikenal
memiliki lahan pertanian yang luas. Sawah di kelola dengan baik. Sering
menghasilkan hasil pertanian yan melimpah. Hasil dari pertanian ini sebagian di
manfaatkan untuk membeli tanah. Tidak heran jika di beberapa tempat adalah
tanah milik Pak Dadang. Sampai saat ini pun tanahnya masih cukup luas meskipun
sebagian sudah di jual.
Kedua, superioritas Pak Dadang
tidak bisa terlepas dari ketokohan dia di masyarakat. Dia sejak muda sampai
saat ini merupakan salah satu sesepuh atau tokoh masyarakat di desa saya. Dalam
praktek keseharian dia sering menjadi imam di mushola ataupun masjid. Banyak
acara-acara tradisional dan peringatan hari besar dia menjadi pemimpin do’a.
Seperti acara selametan, ruwatan,
bersih desa, atau acara-acara keagamaan. Bahkan dalam beberapa kesempatan acara
pernikahan , dia termasuk dalam tokoh masyarakat yang sangat di sepuhkan.
Faktor
ketiga yang menjadikan dia sangat
superior di keluarga adalah prnsip hidupnya yaitu bekerja dan terus bekerja.
Lahan pertanian yang luas membuat Pak Dadang rajin dan giat mengurus serta
merawat sawah. Mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen hasil pertanian
tidak bisa lepas dari kehidupannya. Keuletannya alam menggarap sawah membuat
dia di kenal sebagai salah satu petani sukses di desa saya. Hal ini menjadi
mengakhawatirkan karena konsep dan definisi sakit tidak berlaku lagi. Dia baru
bisa dikatakan sakit ketika dia mengalami perawatan di rumah sakit atau opname. Demam, batuk pilek, capek badan
tidak berlaku, asal masih bisa berjalan ke sawah berarti wajib untuk bekerja.
Hal ini untuk dirinya pribadi mungkin sudah biasa, akan tetapi menurut saya
sangat berbahaya untuk anggota keluarga yang lain. Istri dan anak-anaknya
terlihat sangat kewalahan. Tapi karena ketakutan oleh sosok Pak Dadang, mereka
semua tetap menjalankan apa yang diperintahkan Pak Dadang.
Beberapa
faktor di atas menjadikan Pak Dadang sangat berkuasa di rumah. Sering bekerja
dengan keras menjadikan dia selalu ingin dilayani ekstra di rumah. Segala
urusan rumah dia pasrahkan kepada istri dan anak-anaknya. Urusa merawat rumah,
mencuci pakaian, samapai kebutuhan pribadi semua dia meminta istri yang
menyiapakan. Tidak jarang dia marah-marah, ribut, bahkan bertengkar tatkala ada
beberapa pekerjaan atau urusan rumah yang tidak sesuai dengan yang dia
inginkan. Saya pernah menemukan istrinya sampai menangis sehabis di marahi oleh
Pak Dadang.
Berjalannya
waktu, bererapa tanah milik Pak Dadang di jual untuk membantu kebutuhan
sehari-hari. Kekayaannya pun tidak seperti dulu lagi. Tapi ini tidak menyurutkan
superioritasnya di keluarga. Dengan otoritasnya sebagai kepala rumah tangga dia
menyuruh istrinya untuk bekerja di pasar sebagai pedagang jamu. Selain tetap
wajib membantu bekerja di sawah. Sekarang rutinitas sang istri setiap pagi
sebelum ke sawah adalah berdagang jamu ke pasar. Hal ini juga terjadi pada
anak-anakanya bedanya adalah bekerja di bidang bangunan selain tetap juga wajib
membantu Pak Dadang mengurus sawah.
Dari
berbagai hal tadi, dengan latar belakang kekuasaan harta dan ketokohan Pak
Dadang di masyarakat membuat dia leluasa melakukan penindasan terhadap
keluarganya terutama istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar