Selasa, 19 April 2016

UTS STUDI FEMINISME: Superioritas Laki-laki

Bergelimang Harta, Otoriter Seperti Raja
(Superioritas Laki-laki)
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Dalam rumah tangga lika-liku kehidupan sering terjadi. Termasuk berselisih pendapat, cek cok, pertengkaratn antar suami istri bisa saja terjadi. Hal ini terjadi pada salah satu tetangga saya. Sebut saja Pak Dadang. Usia pernikahan lebih dari 30 tahun tidak lantas mengalami perjalanan yang mulus di dalam pernikahannya selama ini. Beberapa kali masih sering terdengar keributan antara Pak Dadang dengan istri. Superioritas sangat lekat dengan Pak Dadang. Para tetangga juga sepakat kalau superioritas sangat cocok di labelkan kepada Pak Dadang. Efek dari sering cekcok, ribut di rumah dan pelabelan superioritas bahkan terbawa di lingkungan tetangga. Banyak orang yang takut untuk bebicara lama dengannya. Tidak sedikit pula anak-anak kecil takut pada saat dia lewat ketika bermain.
Superioritas Pak Dadang di mulai sejak awal penikahan. Bermula ketika pernikahannya merupakan hasil perjodohan. Selain itu ada beberapa hal yang melatar belakangi seprioritas dia di keluarganya. Pertama, dia merupakan orang yang bisa dibilang kaya pada zamannya. Dulu, dia dikenal memiliki lahan pertanian yang luas. Sawah di kelola dengan baik. Sering menghasilkan hasil pertanian yan melimpah. Hasil dari pertanian ini sebagian di manfaatkan untuk membeli tanah. Tidak heran jika di beberapa tempat adalah tanah milik Pak Dadang. Sampai saat ini pun tanahnya masih cukup luas meskipun sebagian sudah di jual.
Kedua, superioritas Pak Dadang tidak bisa terlepas dari ketokohan dia di masyarakat. Dia sejak muda sampai saat ini merupakan salah satu sesepuh atau tokoh masyarakat di desa saya. Dalam praktek keseharian dia sering menjadi imam di mushola ataupun masjid. Banyak acara-acara tradisional dan peringatan hari besar dia menjadi pemimpin do’a. Seperti acara selametan, ruwatan, bersih desa, atau acara-acara keagamaan. Bahkan dalam beberapa kesempatan acara pernikahan , dia termasuk dalam tokoh masyarakat yang sangat di sepuhkan.
Faktor ketiga yang menjadikan dia sangat superior di keluarga adalah prnsip hidupnya yaitu bekerja dan terus bekerja. Lahan pertanian yang luas membuat Pak Dadang rajin dan giat mengurus serta merawat sawah. Mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen hasil pertanian tidak bisa lepas dari kehidupannya. Keuletannya alam menggarap sawah membuat dia di kenal sebagai salah satu petani sukses di desa saya. Hal ini menjadi mengakhawatirkan karena konsep dan definisi sakit tidak berlaku lagi. Dia baru bisa dikatakan sakit ketika dia mengalami perawatan di rumah sakit atau opname. Demam, batuk pilek, capek badan tidak berlaku, asal masih bisa berjalan ke sawah berarti wajib untuk bekerja. Hal ini untuk dirinya pribadi mungkin sudah biasa, akan tetapi menurut saya sangat berbahaya untuk anggota keluarga yang lain. Istri dan anak-anaknya terlihat sangat kewalahan. Tapi karena ketakutan oleh sosok Pak Dadang, mereka semua tetap menjalankan apa yang diperintahkan Pak Dadang.
Beberapa faktor di atas menjadikan Pak Dadang sangat berkuasa di rumah. Sering bekerja dengan keras menjadikan dia selalu ingin dilayani ekstra di rumah. Segala urusan rumah dia pasrahkan kepada istri dan anak-anaknya. Urusa merawat rumah, mencuci pakaian, samapai kebutuhan pribadi semua dia meminta istri yang menyiapakan. Tidak jarang dia marah-marah, ribut, bahkan bertengkar tatkala ada beberapa pekerjaan atau urusan rumah yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Saya pernah menemukan istrinya sampai menangis sehabis di marahi oleh Pak Dadang.
Berjalannya waktu, bererapa tanah milik Pak Dadang di jual untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Kekayaannya pun tidak seperti dulu lagi. Tapi ini tidak menyurutkan superioritasnya di keluarga. Dengan otoritasnya sebagai kepala rumah tangga dia menyuruh istrinya untuk bekerja di pasar sebagai pedagang jamu. Selain tetap wajib membantu bekerja di sawah. Sekarang rutinitas sang istri setiap pagi sebelum ke sawah adalah berdagang jamu ke pasar. Hal ini juga terjadi pada anak-anakanya bedanya adalah bekerja di bidang bangunan selain tetap juga wajib membantu Pak Dadang mengurus sawah.
Dari berbagai hal tadi, dengan latar belakang kekuasaan harta dan ketokohan Pak Dadang di masyarakat membuat dia leluasa melakukan penindasan terhadap keluarganya terutama istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com