Rabu, 20 April 2016

UTS Perkembangan Teologi Modern : Mendambakan Agama yang Humanis






Mendambakan Agama yang Humanis

            Secara historis humanisme muncul pada abad ke-14. Munculnya yaitu pada saat sastra dan seni Romawi dan Yunani yang pra –kristiani di temukan dan di junjung tinggi kembali oleh para paus, dengan membangun museum dan usaha-usaha lain. Ciri khas humanisme waktu itu adalah sikap religius yang inklusif, hingga pada akhirnya humanisme mengalami puncak pada abad ke-16.
            Geleombang kedua humanisme disebut neo-humanisme yang berkembang di abad ke-18. Cita-cita humanisme ini bisa di lihat dalam gagasan Yunani kuno tentang pembentukan manusia yang selaras badan dan jiwanya. Pada abad ke-19(permulaan abad 19) humanisme menjadi suatu sikap sosial-politik yang diarahkan untuk memantapkan lembaga-lembaga hukum dan politik sesuai cita-cita martabat manusia. Kemudian di akhir abad ke-20 humanisme telah lepas dari kaitannya dengan kebudayaan Eropa, khususnya Yunani dan Romawi kuno. Humanisme sudah menjadi cita-cita transkultural dan universal yang menyangkut sikap-sikap dan mutu di lembaga-lembaga politik yang menjamin martabat manusia.
            Memahami humanisme menurut Franz Magnis-Suseno harus benar-benar mendalam. Humanisme membuat kita berkeyakinan bahwa setiap orang wajib dihormati sebagai persona, sebagai manusia dalam arti sesungguhnya. Bukan karena dia baik atau buruk, bodoh ataupun pintar. Humanisme artinya kita menghormati orang lain dalam identitasnya , dengan keyakinan-keyakinan, kepercayaan-keprcayaan, cita-cita, dan kebutuhan-kebutuhannya.
            Humanisme mengajarkan kesediaan untuk bersikap solider dengan saudar-saudara yang lemah dan miskin, tanpa membeda-bedakan. Humanisme berarti merasa ngeri dan takut terhadap kekejaman. Tidak ada alasan teoritis untuk tidak bersikap kejam. Dalam hatinya telah tertanam dengan sendirinya jika berbuat kejam adalah suatu perbuatan kejahatan.
            Apabila kita humanis, kita akan mengakui harkat dan martabat orang dari segala kepercayaan dan keyakinan religius. Jadi humanisme mengimplikasikan keyakinan mendalam bahwa kita wajib memperlakukan setiap orang tanpa pandang bulu secara adil, fair, baik, dan beradab.
            Menyoal humanisme dengan agama adalah bukan persoalan yang mudah. Hal ini di sampaikan oleh Franz Magnis-Suseno bahwa dalam masalah ini yang dihadapi adalah adanya kaum fundamentalis segala agama menemukan salah satu titik bersatu dalam penolakan humanisme.
            Humanisme dianggap sekuler. Menurut  Franz, kekhawatiran ini jelas keliru. Dia yakin bahwa humanisme tidak pernah menjadi ancaman bagi humanisme lain. Soalnya humanisme memang sama sekali tidak mengancam. Bahkan yang menjadi bahaya adalah ketika ada agama yang tidak humanis, ini malah menjadi ancaman. Ancaman bagi orang beragama lain, ancaman bagi orang yang tidak beragama, dan ancaman bagi saudara-saudari seagama (yang diancam karena mempunyai paham lebih terbuka tentang agama mereka).
            Disisi yang lebih luas, Franz menilai humanisme harus berpegang teguh pada suatu aturan yang namanya hukum. Hukum bisa menyatakan bahwa kelakuan-kelakuan buruk dan melanggar hukum harus di tindak dan di jatuhi hukuman sesuai dengan tatanan hukum. Tetapi humanisme juga menuntut agar hukum sendiri tetap menjaga harkatnya yang humanistik. Jadi apa pun yang terjadi seorang humanis tetap akan bersikap positif, beradab, adil, dan solider. Seorang humanis menyerahkan sikap akhir kepada satu-satunya lembaga yang betul-betul tahu hati dan tanggung jawab sebenarnya yaitu Sang Pencipta.
            Ada dua catatan penting Franz Magnis-Suseno. Pertama, menurutnya jangan pernah sekali pun mempertentangkan humanisme religius dengan humanisme sekuler. Humanisme sebagai keyakinan mantab bahwa orang lain selalu harus diperlakukan sesuai martabatnya sebagai manusia, manusia dari berbagai agama dan kepecayaan apapun. Kedua, sebaiknya semua orang dan lembaga berada di barisan terdepan humanisme. Alangkah lebih baik mereka tanpa terkecuali dan tanpa syarat berusaha bersama untuk membuat semua orang tanpa membedakan dia dari kelompok manapun agar dapat hidup dalam suasana solider, aman, adil, tanpa rasa takut, dan dengan dihormati sebagai sesama warga masyarakat. Menurutnya kriteria kesejatian agama dalah humanisme itu sendiri. Agama atau ajaran-ajaran yang masih membenarakan perlakuan kejam terhadap makhluk lain, apalagi kekejaman atas nama Tuhan, baginya malah merupakan penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Orang yang beragama dari semua agama maupun kepercayaan hendaknya berdiri bersatu teguh dalam tekat untuk menolak segala perlakuan tidak manusiawi dan kejam atas nama agama.


Selasa, 19 April 2016

UTS STUDI FEMINISME: Superioritas Laki-laki

Bergelimang Harta, Otoriter Seperti Raja
(Superioritas Laki-laki)
Oleh : Ahmad Khoirul Anam
Dalam rumah tangga lika-liku kehidupan sering terjadi. Termasuk berselisih pendapat, cek cok, pertengkaratn antar suami istri bisa saja terjadi. Hal ini terjadi pada salah satu tetangga saya. Sebut saja Pak Dadang. Usia pernikahan lebih dari 30 tahun tidak lantas mengalami perjalanan yang mulus di dalam pernikahannya selama ini. Beberapa kali masih sering terdengar keributan antara Pak Dadang dengan istri. Superioritas sangat lekat dengan Pak Dadang. Para tetangga juga sepakat kalau superioritas sangat cocok di labelkan kepada Pak Dadang. Efek dari sering cekcok, ribut di rumah dan pelabelan superioritas bahkan terbawa di lingkungan tetangga. Banyak orang yang takut untuk bebicara lama dengannya. Tidak sedikit pula anak-anak kecil takut pada saat dia lewat ketika bermain.
Superioritas Pak Dadang di mulai sejak awal penikahan. Bermula ketika pernikahannya merupakan hasil perjodohan. Selain itu ada beberapa hal yang melatar belakangi seprioritas dia di keluarganya. Pertama, dia merupakan orang yang bisa dibilang kaya pada zamannya. Dulu, dia dikenal memiliki lahan pertanian yang luas. Sawah di kelola dengan baik. Sering menghasilkan hasil pertanian yan melimpah. Hasil dari pertanian ini sebagian di manfaatkan untuk membeli tanah. Tidak heran jika di beberapa tempat adalah tanah milik Pak Dadang. Sampai saat ini pun tanahnya masih cukup luas meskipun sebagian sudah di jual.
Kedua, superioritas Pak Dadang tidak bisa terlepas dari ketokohan dia di masyarakat. Dia sejak muda sampai saat ini merupakan salah satu sesepuh atau tokoh masyarakat di desa saya. Dalam praktek keseharian dia sering menjadi imam di mushola ataupun masjid. Banyak acara-acara tradisional dan peringatan hari besar dia menjadi pemimpin do’a. Seperti acara selametan, ruwatan, bersih desa, atau acara-acara keagamaan. Bahkan dalam beberapa kesempatan acara pernikahan , dia termasuk dalam tokoh masyarakat yang sangat di sepuhkan.
Faktor ketiga yang menjadikan dia sangat superior di keluarga adalah prnsip hidupnya yaitu bekerja dan terus bekerja. Lahan pertanian yang luas membuat Pak Dadang rajin dan giat mengurus serta merawat sawah. Mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen hasil pertanian tidak bisa lepas dari kehidupannya. Keuletannya alam menggarap sawah membuat dia di kenal sebagai salah satu petani sukses di desa saya. Hal ini menjadi mengakhawatirkan karena konsep dan definisi sakit tidak berlaku lagi. Dia baru bisa dikatakan sakit ketika dia mengalami perawatan di rumah sakit atau opname. Demam, batuk pilek, capek badan tidak berlaku, asal masih bisa berjalan ke sawah berarti wajib untuk bekerja. Hal ini untuk dirinya pribadi mungkin sudah biasa, akan tetapi menurut saya sangat berbahaya untuk anggota keluarga yang lain. Istri dan anak-anaknya terlihat sangat kewalahan. Tapi karena ketakutan oleh sosok Pak Dadang, mereka semua tetap menjalankan apa yang diperintahkan Pak Dadang.
Beberapa faktor di atas menjadikan Pak Dadang sangat berkuasa di rumah. Sering bekerja dengan keras menjadikan dia selalu ingin dilayani ekstra di rumah. Segala urusan rumah dia pasrahkan kepada istri dan anak-anaknya. Urusa merawat rumah, mencuci pakaian, samapai kebutuhan pribadi semua dia meminta istri yang menyiapakan. Tidak jarang dia marah-marah, ribut, bahkan bertengkar tatkala ada beberapa pekerjaan atau urusan rumah yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Saya pernah menemukan istrinya sampai menangis sehabis di marahi oleh Pak Dadang.
Berjalannya waktu, bererapa tanah milik Pak Dadang di jual untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Kekayaannya pun tidak seperti dulu lagi. Tapi ini tidak menyurutkan superioritasnya di keluarga. Dengan otoritasnya sebagai kepala rumah tangga dia menyuruh istrinya untuk bekerja di pasar sebagai pedagang jamu. Selain tetap wajib membantu bekerja di sawah. Sekarang rutinitas sang istri setiap pagi sebelum ke sawah adalah berdagang jamu ke pasar. Hal ini juga terjadi pada anak-anakanya bedanya adalah bekerja di bidang bangunan selain tetap juga wajib membantu Pak Dadang mengurus sawah.
Dari berbagai hal tadi, dengan latar belakang kekuasaan harta dan ketokohan Pak Dadang di masyarakat membuat dia leluasa melakukan penindasan terhadap keluarganya terutama istrinya.

UTS STUDI FEMINISME: Perempuan Maskulin

Dulu di Tindas, Sekarang Merasa Bebas
(Perempuan Maskulin)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
            Perempuan bisa dikatakan memilki sifat maskulin ketika dia mempunyai sifat yang selama ini di konstruksikan sebagai sifat laki-laki. Seperti kuat, tegas, tegas, tidak cengeng, dan lain-lain. Dalam keseharian kategori pakaian dan penampilan yang di tampilkan juga identik dengan laki-laki misalkan sering mengenakan celana daripada rok, rambut memilih untuk pendek, pergaulan dengan teman laki-laki. Perempuan dengan ciri demikian biasanya di katakan maskulin.
            Saya memiliki teman, biasa di panggil si Bro. Ini karena dalam keseharian lebih sering bergaul dengan teman laki-laki. Sehingga kami sering menganggap dia seperti laki-laki pada umumnya. Saya dan teman-teman yang lain sepakat kalau si Bro ini termasuk ke dalam kategori perempuan tomboy atau secara ilmiah sering disebut perempuan maskulin.
            Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Ada beberapa hal yang mendukung anggapan kami tersebut. Pertama, ciri-ciri fisik dan penampilan. Si Bro selama ini kami kenal selalu bercirikan berambut pendek. Sambil bercanda dia mengatakan bahwa dengan rambut pendek merasa lebih cekatan, juga tidak repot merawatnya. Menurutnya, dia suka rambut panjang tapi kurang begitu simpel. Dalam penampilan pun cukup maskulin. Kerap kali dia memakai topi, kaos oblong dengan gambar garang. Selain itu dia lebih senang mengenakan celana, baik pendek ataupun panjang daripada mengenakan rok. Alasannya kurang lebih mirip yaitu mempermudah bergerak bebas, dan lebih gampang berekspresi.
            Kedua, sifat-sifat yang ditunjukkan. Saat di SLTA, sifat yang dia tampilkan jauh dari kesan keperempuanan seperti yang terkonstruk selama ini. Di saat teman-teman perempuan yang lain kerap menangis ketika menghadapi masalah, baik masalah rumah, sekolah, ataupun masalah pribadi. Memang saya sendiri sering menemui teman perempuan suka saling curhat dengan teman perempuan yang lain, memang ada yang menangis. Tapi tidak dengan si Bro, dia tidak pernah menangis. Dia suka curhat tapi dengan kami teman-teman laki-laki, juga tidak sampai menangis. Kesan yang di tampilkan malah kuat dan tampak tegar.
            Hal yang ketiga adalah peranan dia di lingkungan. Saya lumayan mengetahui banyak kegiatan si Bro ketika di SLTA. Dia merupakan salah satu pengurus OSIS. Beberapa kali organisasi si Bro mengadakan kegiatan. Baik saat persiapan kegiatan, pelaksanaan, hingga selesainya kegiatan, peran yang dia tampilkan tidak kalah dengan laki-laki. Cukup vokal dalam menyampaikan pendapat. Sumbangsih pemikirannya juga sangat di prioritaskan karena dia merupakan salah satu koordinator seksi bidang. Dalam persiapan kegiatan turut mengangkat meja, kursi, pot bunga yang lumayan besar yang selama ini di kerjakan oleh laki-laki. Ini tidak biasa karena selama ini kebanyakan tugas perempuan adalah hal-hal yang enteng saja, atau bahkan tidak sedikit yang menjadi pajangan dalam tanda kutip.
            Ketika saya memberanikan diri mempertanyakan terkait pelabelan maskulin atau  tomboy terhadap dirinya, dia tidak memungkiri. Dia tidak merasa malu atau bahkan merasa marah. Intinya dia juga meng-ia-kan pelabelan tersebut kepada dirinya. Menurutnya apa yang dia tamplkan saat ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, saat ini dia mengaku belum memiliki pasangan atau pacar. Dia menjelaskan bahwa masih trauma dengan pacarnya terdahulu. Setahu saya si Bro memang pernah memiliki pacar. Lebih lengkap dia menceritakan bahwa oleh pacarnya terdahulu kerap sekali di atur agar sesuai dengan keinginan pacarnya. Bahkan beberapa kali pernah mengalami tindak kekerasan fisik. Kedua, dia ingin sekali merasakan kebebasan atas penindasan yang dilakukan pacarnya terdahulu. Ketiga, dengan kondisi saat ini dia merasa bebas berekspresi, menemukan jati dirinya tanpa ada bayang-bayang sosok laki-laki yang selama ini menurutnya menakutkan. Meskipun lambat laun dia menyadari tidak semua laki-laki menakutkan. Hal ini di buktikannya dengan saat ini memliki banyak teman laki-laki.
            Dari poin-poin yang di sampaikan si Bro, menurut saya dia lebih dekat dengan aliran feminisme radikal libertarian untuk saat ini. Ini di tunjukkan bahwa saat ini dia belum mempercayai peranan laki-laki secara mutlak dalam kehidupannya(belum memutuskan kembali memiliki pacar). Barang kali karena pengalaman buruk saat pacaran yang lalu. Selain itu dia merasa nyaman dengan kesendirian. Tidak ada yang mengatur lagi. Dengan keadaan yang seperti saat ini pula dia semakin bebas tampil di publik, bebas berekspresi seperti apa yang dia inginkan tanpa ada kungkungan orang lain. Saya menitikberatkan kemaskulinan yang di tampilkan oleh si Bro adalah karena pengalaman selama pacaran yang mengalami penindasan oleh pacarnya, sehingg dia saat ini ingin bebas.

UTS STUDI FEMINISME: Inferioritas Perempuan

Cinta yang Memenjara
(Inferioritas Perempuan)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
            Menyoal inferioritas perempuan, kali ini kita akan mundur beberapa waktu. Tepatnya ketika teman saya si Bro duduk di bangku SLTP. Kurang lebih antara tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Jauh sebelum si Bro menunjukkan sifat kemaskulinannya saat ini. Dulu dia merupakan perempuan yang sangat inferior oleh pacarnya sendiri.
            Si Bro selama pacaran mengalami beberapa penindasan oleh sang pacar, baik secara sikap maupun tindakan. Pertama, dalam keseharian dia suka di atur-atur ini itu. Seolah-olah dia di program agar sesuai dengan keinginan sang pacar. Tidak boleh melakukan sesuatu tanpa seizin sang pacar. Keluar harus izin. Setiap waktu harus memberikan kabar. Bahkan kegiatan berkumpul keluarga, berkumpul dengan teman, makan, mandi, dan tidur pun harus laporan terlebih dahulu.
            Kedua, masih sangat berhubungan dengan hal yang pertama tadi. Dia beberapa kali mendapat perlakuan kasar ketika melakukan hal yang tidak sesuai dengan permintaan sang pacar. Efek dari itu menyebabkan dia kurang memiliki teman di lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah. Dengan tekanan yang di lakukan oleh sang pacar, dia menjadi tidak bebas tampil di muka umum. Kegiatannya menjadi terbatas. Tidak bisa dengan leluasa mengekspresikan diri sesuai dengan keinginannya.
            Menurut pengakuannya , dia sangat sadar dengan keadaan yang membelenggu ini. Dia mengamini bahwa dirinya mengalami penindasan baik fisik maupun psikis. Tapi alasan rasa cinta yang membuat dia memutuskan untuk bertahan dan manut begitu saja. Sampai pada akhirnya dia mencapai pada titik puncak kejenuhan. Dia ingin kembali bebas dari keadaan yang membelit kehidupannya ini.
            Upaya yang petama dia lakukan adalah dengan melakukan obrolan serius dengan sang pacar agar segera merubah sikap superiornya selama ini. Akan tetapi hasilnya masih nihil. Dia masih bersabar untuk tidak menyerah dan memutuskan untuk mempertahan hubungannya ini. Kemudian upaya berikutnya adalah dengan berkonsultasi dengan seorang guru bimbingan konseling di SLTP tempatnya bersekolah. Menurut guru bimbingan konseling tersebut, si Bro di sarankan agar berani mengambil keputusan jika memang sang pacar tidak bisa merubah sikapnya maka lebih baik di putus secara baik-baik.
            Saran ini cukup tidak bisa di terima oleh teman saya tersebut. Alasan yang sama yaitu rasa cinta yang begitu dalam yang membuat dia merasa berat mengambil keputusan. Memang dalam beberapa hal sang pacar katanya banyak membantu si Bro ketika dalam kondisis sulit. Akan tetapi untuk hal yang satu ini dia tidak mau bercerita terlalu jelas dan gamblang. Berjalannya waktu akhirnya kesabaran si Bro ada batasnya juga. Dengan berbagai pertimbangan salah satunya karena sang pacar tetap tidak bisa merubah sikapnya, dia memberanikan diri mengambil keputusan untuk memutuskan sang pacar dengan cara baik-baik.
            Harapannya dengan keputusan ini, tidak ada lagi yang mengatur kehidupannya. Kegiatan kesukaannya bisa dilakukan dengan sesuka hati tanpa ada yang melarang. Dia juga berharap menjadi bebas mengekspresikan diri di publik, dan yang paling penting adalah konsentrasinya menghadapi Ujian Nasional 2010. Si Bro juga memiliki impian untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi fokus utamanya adalah pendidikan terlebih dahulu.

Opini : Unit Kos-kosan Mahasiswa(UKM)

Transformasi Gedung (UKM )Unit Kegiatan Mahasiswa menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa
Oleh : Ahmad Khoirul Anam

            Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung dewasa ini sudah bisa dijuluki Kampus Besar. Besar jumlah mahasiswanya serta besar bangunan gedungnya. Tidak begitu mengherankan, kampus yang terletak di Kecamatan Kedungwaru ini pada penerimaan mahasiswa tahun akademik 2015/2016 kemarin menerima kurang lebih 2.500 mahasiswa. Ini masih satu angkatan, bisa dibayangkan nanti 3 tahun yang akan datang jumlah mahasiswantya tinggal mengalikan 3 kali lipat menjadi sekitar 7.500 mahasiswa. Desa Plosokandang yang konon jika diamati dari namanya yaitu suatu daerah yang pelosok dan rata-rata pelosok kebanyakan sepi. Namun kini anggapan itu sirna sudah, wajar saja dalam 1 tempat dihuni lebih dari tujuh ribu jiwa. Belum lagi ditambah masyarakat lokal. Jika ini tetap bisa konsisten, maka lima sampai sepuluh tahun yang akan datang Desa Plosokandang diprediksi menjadi gudang manusia.
            Membludaknya jumlah mahasiswa, berusaha diimbangi oleh pihak kampus dengan melakukan penambahan gedung baru. Maka tidak heran selain jumlah mahasiswanya yang besar, sekarang gedung di kampus IAIN Tulungagung juga besar-besar. Bertambahnya kapasitas mahasiswa menjadikan situasi di kampus sangat sibuk. Selain sibuk dengan aktivitas perkuliahan, kampus juga disibukkan oleh beberapa kegiatan mahasiswa yang di inisiasi oleh UKM. UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa merupakan wadah bagi mahasiswa untuk untuk melaksanakan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang tujuannya melatih potensi, skill, dan pengembangan diri mahasiswa. Diluar itu, UKM juga dimanfaatkan sebagai sarana menambah wawasan dan pengalaman selain aspek akademik.
            Kampus IAIN Tulungagung lumayan mengakomodir potensi dan kreativitas mahasiswa. Terbukti cukup banyak pilihan UKM yang bisa dijadikan lahan berekspresi oleh mahasiswa. Bagi mahasiswa  penghobi bidang olahraga bisa bergabung di UKM Bakat dan Minat. Mahasiswa yang memiliki jiwa relawan bisa ikut di KSR PMI. Teater Pro-Test menjadi pilihan bagi mahasiswa yang suka seni akting dan sejenisnya. Tidak ketinggalan bagi maniak futsal bisa mencurahkan hasratnya di UKM Futsal Geronimo. Selain beberapa tadi masi ada UKM Pramuka, Musik, Menwa, Pencak Silat, dan lain-lain. Hal ini tentu membuat mahasiswa tidak sulit menjatuhkan pilihan sesuai minat dan keinginan masing-masing.
            Guna mengakomodir aktivitas dan kegiatan mahasiswa pihak kampus pun mensupportnya dengan membangun dan menyediakan gedung khusus untuk UKM. Gedung ini terletak persis di sebelah barat perpustakaan IAIN Tulungagung. Letak yang strategis yaitu di pinggir jalan memungkinkan akses menuju gedung UKM sangat mudah. Ukurannya lumayan besar terdiri dari 3,5 lantai, dan tersedia sebuah aula pertemuan khusus di lantai 3. Memang cukup besar, megah, dan indah pada zamannya, dulu. Waktu kampus ini masih bernama STAIN Tulungagung. Jika dicermati dari segi kegunaan. Gedung UKM dimanfaatkan untuk berbagai hal. Pertama, digunakan untuk kantor masing-masing UKM. Kedua, dimanfaatkan untuk menyimpan alat-alat/prasarana  penunjang kegiatan. Diluar itu pada pada prakteknya Gedung UKM IAIN Tulungagung selain digunakan sebagai basecamp beberapa UKM juga dimanfaatkan untuk kantor bebagai organisasi kemahasiswaan kampus mulai dari DEMA, SEMA serta HMJ. Hal-hal demikian tadi memperjelas dan memperlihatkan betapa penting dan sangat vital peran Gedung UKM bagi kelangsungan mahasiswa IAIN Tulungagung.
            IAIN Tulungagung dari waktu ke waktu terus mengalami transformasi. Dulu bernama STAIN, sekarang berkembang menjadi IAIN. Jumlah mahasiswa setiap tahun mengalami peningkatan. Tidak lupa sarana dan prasarana seperti gedung juga terus bertambah. Menjadi pertanyaan besar dan juga masalah besar ketika bersamaan bertambahnya gedung dan mahasiswa tetapi tidak untuk bertambahnya atau minimal perluasan gedung UKM. Barangkali ini  yang menjadi problematika mahasiswa yang bergelut di dunia UKM kampus. Disatu sisi kegiatan mahasiswa terus digenjot dan dituntut berprogres positif. Disisi yang lain, sarana prasarana gedung UKM masih jauh dari kata memadai. Kembali, jika dicermati lebih dalam, problem atau penyakit yang menimpa gedung UKM IAIN Tulungagung tergolong cukup akut. Berikut diantaranya. Pertama, kurus. Kurus disini dalam arti ukuran bangunan kurang luas dan kurang besar. Problem ini bermula ketika kebijakan kampus yang setiap tahun menambah kuota penerimaan mahasiswa, tidak diimbangi perluasan gedung atau penambahan gedung. Imbasnya perbandingan mahasiswa yang bergelut di UKM kurang proporsional dengan ukuran gedung UKM yang masih stagnan. Alhasil, gedung UKM penuh sesak.
Dalam kasus ini yang bisa dijadikan contoh adalah imbas bagi organisasi kemahasiswaan FUAD. Fakultas yang satu ini mulai tahun 2015 telah berkembang menjadi 6 jurusan. Masing-masing jurusan memiliki himpunan mahasiswa jurusan. Tentu masing-masing HMJ idealnya memerlukan setidaknya 6 sampai 7 kantor(ruangan) di dalam gedung UKM, seharusnya. Namun sayang, sampai detik ini pada praktenya organisasi kemahasiswaan FUAD belum bisa menikmati hak 6 sampai 7 kantor(ruangan) tersebut. Mereka selama ini dengan terpaksa memakai 1 kantor(ruangan) digunakan untuk 6 sampai 7 organisasi kemahasiswaan. Celakanya IAIN Tulungagung bukan hanya berbicara FUAD, masih ada Fakultas lain seperti FEBI, FASIH, dan FTIK belum lagi Pascasarjana. Kesemuanya kebetulan juga memiliki jurusan baru. Artinya organisasi kemahasiswaan mereka juga bertambah dan otomatis memerlukan kantor(ruangan) baru sekaligus layak di gedung UKM.
            Problem gedung UKM yang kedua adalah peralihan fungsi. Sejatinya, seperti yang sudah dibahas tadi bahwa fungsi gedung UKM ialah untuk mendukung lancarnya segala jenis kegiatan UKM. Harapannya memang demikian. Tapi fakta mengejutkan pun akhirnya terkuak. Gedung UKM sekarang tidak ubahnya seperti kos-kosan mahasiswa. Tempat ini dijadikan penginapan oleh sebagian mahasiswa. Seperti kos-kosan pada ummnya, banyak sekali ditemukan pakaian-pakaian yang bergelantungan. Mulai dari jas almamater, kemeja, kaos, celana panjang, bahkan hingga celana dalam pun tertata sedemikian agak rapi bergelantung di sekitar jendela beberapa ruangan. Berikutnya alat-alat memasak beserta bahan pendukung untuk bertahan hidup mahasiswa tidak ketinggalan agak berserakan. Alat-alat MCK juga tidak ketinggalan absen dari penglihatan. Kasus ini terjadi karena mungkin banyak mahasiswa IAIN Tulungagung berasal dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau Jawa. Mereka di Tulungagung sama-sama membutuhkan tempat tinggal atau minimal penginapan/tempat persinggahan. Sayangnya tidak didukung dengan kemampuan dana yang memadai. Akhirnya gedung UKM menjadi pilihan. Rasanya tepat sekali statement “Transformasi Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) menjadi Unit Kos-kosan Mahasiswa”.
            Barangkali problem yang ketiga masih erat sekali dengan problem yang kedua tadi yaitu krisis kebersihan. Kebersiahan menjadi suatu hal sulit dilakukan manakala tidak dibarengi dengan kesadaran. Kesadaran merupakan barang yang langka di republik ini. Itu pula yang terlihat di area gedung UKM IAIN Tulungagung. Botol-botol air mineral, sampah kantong plastik, bekas bungkus makanan merupakan material sampah yang tidak sekalipun absen. Pemandangan lantai 1, 2, dan 3 dan seterusnya tidak jauh berbeda, lantai keramik lebih sering terlihat kusam dan kotor ketimbang bersih. Mungkin jarang disapu. Lebih parah lagi suasana kebersihan toilet gedung, bau-bau yang kurang begitu sedap biasanya berlalu lalang tercium. Apalagi diperparah dibeberapa kesempatan aliran air macet dan beberapa kran air rusak. Bisa dibayangkan betapa parah kebersihan gedung ini.
            Dari beberapa pemaparan tadi, gedung UKM bak tubuh manusia yang dikategorikan sedang menglami komplikasi beberapa penyakit. Badannya kurus artinya ukuran bangunan kurang luas dan proporsional. Selanjutnya juga mengalami disfungsi organ artinya fungsi ruangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terakhir mengalami kebersihan yang buruk tidak terawat yang menambah lengkap lengkap penderitaan gedung ini. Melihat kenyataan pahit ini pihak kampus diharapkan melek sehingga menjadi prihatin. Selanjutnya segera memikirkan jalan keluar untuk mengambil tindakan pertolongan. Misalnya pembangunan gedung UKM tambahan atau sejelek-jeleknya perluasan gedung UKM. Di pihak yang lain yaitu mahasiswa juga diharapkan segera dibukakan pintu hatinya supaya sama-sama sadar untu selalu merawat dan menjaga dengan baik gedung atau sarana prasarana pendukung kegiatan mahasiswa yang ada.

Refleksi : Pemahaman tentang Pencak Silat



Jangan Keliru Mengartikan Rasa Cinta!
Oleh: Ahmad Khoirul Anam

Pencak silat. Aku mengenal istilah ini kali pertama ketika masih SD. Teman-teman pun kelihatan antusias. Kebanyakan mereka juga mengikuti sekaligus ikut latihan di salah satu perguruan pencak silat di desa tetangga(Campurdarat). Tidak dengan ku, pencak silat memberikan kesan seram dan berbahaya. Seram ketika melihat adegan perkelahian yang saya ketahui lewat TV. Berbahaya jika akhirnya mengakibatkan orang yang terlibat mengalami kesakitan dibuatnya. Itu yang ada dibenakku, memang sangat terpengaruh TV.
            Bermula ketika kelas 3 SD, aku ribut dengan teman sekelas yang hanya karena masalah sepele gara-gara pintu kalau se ingat ku. Tapi saya lupa detailnya. Perkelahian tak terelakkan. Pukulan telak dari tangan kananku pun mengenai hidungnya. Sontak darah bercucuran keluar dari hidung lawanku. Melihat darah bercucuran nyaliku rada-rada menciut. Aku mungkin ditakdirkan memang menjadi anak yang dasarnya baik, ribut pada waktu itu sebenarnya tidak aku inginkan, namun memang lawanku saat itu begitu menjengkelkan dan kesabaran ku juga ada batasnya. Selanjutnya lawan sekaligus temanku itu aku tolong, karena aku kasian terhadapnya. Dalam hatiku juga ada perasaan yang sangat menyesal. Aku merasa tidak tega da akhirnya lawanku tersebut ditolong oleh teman-teman sekelas yang lain.
            Berlanjut di SMP masih mengenai pengalamanku mengenai pencak silat. Aku mempunyai teman sebut saja Galut. Dia sangat menyukai klub bola yang sama denganku, sangat loyal terhadap teman, dan aku akhirnya baru berani bilang sekarang dan ku tulis disini bahwa aku sangat kurang suka saat itu ketika dia juga sangat fanatik dan setia sekali dengan dunia yang menurutku seram yaitu pencak silat. Pernah sekali waktu, gara-gara sebuah gambar di salah satu tembok sekolahku. Waktu itu ada teman dari perguruan silat lain yang tidak terima. Mungkin dipikirnya perguruannya kalah pamor gara-gara gambar atau bagaimana aku juga kurang paham betul. Akhirnya Galut dan teman yang tidak terima tadi cekcok(kayak suami-istri ribut hihihihihi). Tidak begitu jelas ceritanya akhirnya cekcok pun berlanjut ke arah penyelesaian anak laki-laki profesional(aseeek). Profesional apa’an wong malah gelut satu lawan satu. Sangat berbahaya tidak untuk ditiru dirumah tanpa latihan khusus. Sebenarnya Galut sudah aku ingatkan agar tidak jadi gelut. tapi dasarnya memang sudah terlanjur sayang dan cinta terhadap perguruan yoo dia tidak bergeming sama sekali. Singkat kata perkelahian pun terjadi dan hasilnya sudah bisa ditebak bahwa keduanya sama-sama babak belur(cie kompakan).
            Tunggu dulu boi, paradigmaku mengenai pencak silat tidak melulu soal negatif lhooo. Hal demikian terjadi ketika aku duduk di bangku SMA. Aku berteman dengan bermacam-macam disini. Latar belakang mereka pun bermacam-macam pula. Ada yang suka soto, bakso, ada yang demen Arema, Persebaya, kalau aku mah demen ambe  cewek cantik. Merambah juga terhadap perguruan silat yang mereka geluti pula. Uniknya teman-temanku di SMA tidak ribut seperti yang tadi-tadi. Meskipun setia terhadap perguruan tapi pemikirannya sudak agak dewasa(aseeek). Termasuk saya juga masih setia menggeluti, bukan dunia persiatan melainkan dunia perpolitikan di sekolah(politik gundhulmu boi). Secara alamiah dan ilmiah aku suka melakukan penelitian terhadap mereka satu persatu. Tujuannya yaitu ingin mengetahui lebih dalam mengenai pesilat yang selama ini menurutku seram. Hasilnya luar biasa, pandangan miring selama ini yang ada dipikiranku mulai sirna sudah. Ternyata pencak silat adalah seni dan budaya asli indonesia yang sejatinya mengajarkan nilai-nilai keagamaan, nilai-norma kehidupan, nilai persahabatan juga ada, yang tidak ada mah nilai matematika dan fisika( ngawuuur ), maksudku nilai-nilai perkelahian, keributan, saling melukai malah tidak ada sebenarnya. Menurut sampel yang pernah ku teliti hal-hal negatif selama ini hanyalah ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mereka menyelesaika urusan pribadi mereka dengan mengatasnamakan perguruan. Menurutnya itu sangat salah kaprah dan tidak sesuai dengan AD/ART dan Undang-undang dunia persilatan malah.
            Sejak saat itu aku suka membaca artikel mengenai pencak silat, mempelajari teorinya. Benar saja jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada didalamnya tidakk satu pun yang mengajarkan keburukan. Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa tidak semua tentang dunia persilatan itu buruk lhoo. Tergantung individu yang melakukannya/mengaplikasikannya. Jadi tidak boleh melabeli sebuah obyek itu positif/negatif jika belum memahami betul isinya. Semoga dunia persilatan di Indonesia terus berkembang ke arah yang positif. Bisa memberikan sumbangsih prestasi untuk negara tercinta.
            Ini sedikit celotehanku karena tidak sengaja membaca Lembar Kerja Siswa SMA/MA yang kebetulan membahas persoalan ini dan aku teringat pengalaman ku ini. Jadi teman-teman perguruan jangan geram dulu membacanya. Aku rasa ada pelajaran penting di dalamnya. Jangan sampai cinta kita yang berlebihan terhadap suatu hal, sehingga membuat kita tidak bisa menerima hal baik lain di luar itu. Semua perguruan silat pada dasarnya baik, aakan lebih baik jika semuanya rukun dan harmonis. Begitu kira-kira. Peace boi......!

                                                                       

Evaluasi Belajar

Masih Perlu Belajar Lebih
Oleh: Ahmad Khoirul Anam

Mata kuliah Penulisan Populer Dan Ilmiah pada semester 6 ini sudah berjalan beberapa pekan. Kalau tidak salah sudah berjalan lebih dari 5 pertemuan. Beberapa tugas pun juga telah dikumpulkan kepada dosen pengampu. Tugas-tugas yan telah dikumpulkan selanjutnya dievaluasi kemudian dibagikan kembali ke mahasiswa untuk proses pembenahan.
            Beberapa pekan mengikuti mata kuliah ini memberikan beberapa catatan, khususnya terhadap tugas-tugas saya. Setelah dievaluasi terlihat masih banyak ditemukan kesalahan dan kekurangan. Kesalahan dan kekurangan ini bagi kami mahasiswa  baik sekali demi perbaikan kualitas pada karya-karya kepenulisan berikutnya.
            Hal yang saya lakukan setelah tugas-tugas tadi dikembalikan adalah melakukan pembacaan ulang. Setelah melakukan pembacaan ulang, saya menemukan beberapa catatan dan itu perlu dilakukan pembenahan. Pertama, masih banyak ditemukan kata atau kalimat yang seharusnya dicetak miring. Tercatat dalam karya saya yang seharusnya dicetak miring diantaranya kata-kata berbahasa asing seperti smartphone, ngetrip, every one can buy, dan lain-lain. Kemudian kata atau kalimat berbahasa daerah seperti jendul-jendul, ngentut, ora ngaleh, dan sejenisnya.
            Kesalahan saya yang kedua adalah penulisan kata depan “di”. Setelah saya cermati kembali, ternyata poin ini yang paling mendominasi kesalahan dalam beberapa karya kepenulisan saya. Berikut diantaranya; disini seharusnya di sini, disekeliling kita –>  di sekeliling kita, disekolah –> di sekolah, diberbagai tempat –> di berbagai tempat, dan masih ada beberapa yang lain.
            Koreksi yang ketiga ialah kreatifitas membuat judul tulisan. Ini menjadi hal mendasar karena judul memegang peranan penting dalam sebuah tulisan. Judul merupakan pemberi kesan pertama. Kesan pertama yang baik akan menimbulkan minat baca semua orang, jika judul memberikan kesan yang biasa-biasa saja dikhawatirkan pembaca tidak tertarik untuk membaca sebuah tulisan. Selama ini memang judul-judul yang saya buat masih tergolong sangat standar alias biasa-biasa saja. Maka dari itu dosen pengampu memberikan solusi yaitu membuat judul sebuah tulisan harus semenarik mungkin. Caranya bisa membuat plesetan, baik plesetan yang lucu atau yang gokil. Pemilihan diksi yang tepat juga perlu diperhatikan betul, jangan sampai bernada provokatif yang bisa menimbulakan kontroversi. Dia juga memberikan referensi bahwa membuat judul juga bisa mengadopsi tagline iklan jargon dan sejenisnya.
            Beberapa catatan atau evaluasi tersebut mengisyaratkan saya dan teman-teman yang lain harus lebih sering belajar. Caranya adalah dengan sering menulis. Dari kegiatan seing menulis akan bisa dilihat apa saja yang perlu diperbaiki, ada progres baik atau tidak, dan diharapkan akan terus mengalami perbaikan menuju karya kepenulisan yang lebih sempurna.

Selasa, 05 April 2016

Review Feminisme Psikoanalisis

Feminisme Psikoanalisis
Oleh : Ahmad Khoirul Anam

Akar Feminisme Psikoanalisis Sigmund Freud
            Menurut Freud maskulinitas dan feminitas merupakan produk pendewasaan seksual. Teori seksual Freud kita mengenal ada beberapa tahapan. Seorang bayi menemukan kenikmatan dengan menghisap payudara ibunya atau menghisap ibu jarinya sendiri. Ini merupakan tahapan oral. Berikutnya selama selama tahapan aanal yaitu antara usia 2 sampai 3 tahu anak-anak menyukai atau menemukan sensasi kenikmatan pada pegendalian pengeluaran kotoran. Selanjutnya menuju tahapan falik antara usia 3 sampai 4 tahun menemukan potensi kenikmatan pada genitalnya(kemaluan). Kemudian menyelesaikan atau gagal menyelesaikan apa yang disebut Oedipus Kompleks dan kastrasi. Ketika usia 6 tahun. Anak-anak berhenti menunjukkan seksualitasnya dan berakhir sekitar masa pubertas. Pada masa remaja dorongan dorongan seksual kembali muncul atau memasukui tahapan genital. Freud menekankan bahwa lanjutan kritis dari tahapan psikoseksual yang tengah berlangsung adalah penyelesaian atas apa yang disebut Oedipus Kompleks dan kastrasi.
            Doktrin psikoanalisis menerangkan bahwa laki-laki mempunyai penis dan peempuan tdak mempunyai penis. Ini mempengaruhi  cara laki-laki dan perempuan meneruskan penyelesaian kompleks pada tahapan falik. Melalui doktrin ini konsekuensi panjangnya adalah kecemburuan terhadap penis. Freud menjelaskan bahwa perjalanan perempuan melalui Oedipus Kompleks dan kastrasi mencederai perempuan dengan beberapa sifat gender yang tidak dikuasai. Pertama, perempuan menjadi nasistik ketika dia mengalihkan tujuan seksual aktif menuju pasif. Perempuan menjadi lebih ingin dicintai daripada mencintai. Kedua, perempuan menjadi kosong. Sebagai kompensasi dari kekurangannya atas penis, perempuan memfokuskan diri total pada penampilan fisik. Dia berusaha penampilannya terbaik. Penamplan fisik merupakan cara untuk menutupi kekurangannya atas penis.
            Jadi titik tekan inferioritas perempuan terjadi karena kekurangan anak perempuan atas penis. Ini menyebabkan anak perempuan tidak harus merasa khawatir dikastrasi. Anak perempuan tidak termotivasi seperti anak laki-laki untuk menjadi pengikut yang patuh(hukum ayah).
Kritik terhadap Pandangan Sigmun Freud
            Pandangan Freud terhadap feminisme psikoanalisis yaitu bahwa inferioritas perempuan terjadi karena kecemburuan terhadap penis, serta berbagai gagasan yang berhubungan dengan itu mendapat kritik. Pada 1970-an fminis mempunyai agenda yang berbeda. Menurut Betty Fridean, S. Firestone, dan kate Millet berpendapat bahwa kemungkinannya sangat kecil mengenai posisi serta ketidakberdayaan perempuan terhadap laki-laki karena hubungannya dengan biologis perempuan. Melainkan menurut mereka yang menyebabkan posisi dan ketidakberdayaan itu ialah karena konstruksi sosial, kebudayaan, dan feminitas.

Dorothy Dinnerstein
            Menurutnya hubungan bayi dengan seorang ibu merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan (simbiotis). Hal ini menyebabkan timbulnya perasaan ambivalensi terhadap figur ibu dan apa yang direpresentasikan oleh perempuan. Ini tidak dapat dipungkiri hingga terjadinya ketergantungan. Menurutnya kebutuhan laki-laki menguasai perempuan dan kebutuhan perempuan dikuasai laki-laki secara tragis mengarah kepada 6 rangkaian pengaturan gender yang salah bentuk(pandangan hubungan manusaia yang destruktif).
            Pertama, keposesifan seksual laki-laki yang lebih besar. Laki-laki berharap untuk bisa menguasai ketidak mampuannya dimasa lalu untuk menguasai total ibunya secara total, dengan selanjutnya menguasai secara total istri atau kekasihnya. Kedua, pembisuan dorongan impulsif erotis perempuan. Erotisme perempuan yang dibisukan adalah erotisme yang semata-mata untuk memuaskan laki-laki. Keinginan serta kebutuhan seksualnya dibiarkan tidak terpenuhi. Ketiga, perasaan bersalah disisi perempuan. Perasaan bersalah yang dirasakannya dengan meninggalkan ibunya seorang perempuan menolak untuk membiarkan dirinya mendapat bahkan kenikmatan tidak langsung dalam hubungan seksual. Kecuali hubungan itu diwarnai oleh tipe yang sama dari cinta yang meliputi keseluruhan cinta antar dirinya dengan ibunya. Keempat, pandangan bahwa perempuan sebagai suatu “benda” dan sementara laki-laki merupakan suatu “saya”. Kelima, ambivalensi umum terhadap tubuh. Ambivalensi umum terhadap tubuh lebih intens terhadap perempuan. Disatu sisi tubuh perempuan sangat kuat karena merepresentasikan segala kekuatan kehidupan. Tapi disisi lain tubuh perempuan menjijikkan karena mengeluarkan darah dan lendir. Keenam, perjanjian tidak tertulis antara laki-laki dan perempuan bahwa laki-laki pergi ke dunia publik sedangkan perempuan tinggal di ranah pribadi.
            Menurut Dinnerstein, pengaturan gender destruktif ini akhirnya menimbulkan pelimpahan kesalahan terhadap perempuan. Untuk masalah ini dia menawarkan pemecahan yaitu pola pengasuhan ganda. Menurutnya ini memiliki citra posistif. Pertama, pengasuhan ganda memungkinkan kita untuk berhenti memproyeksikan semua ambivalensi kita mengenai karnalitas dan mortalitas kepada satu orang tua yaitu perempuan. Kedua, pengasuhan ganda akan memungkinkan kita mengatasi ambivalensi terhadap pertumbuhan. Ketiga, pengasuhan ganda akan membantu kita mengatasi ambivalensi terhadap eksistensi manusia yang terpisah lainnya. Keempat, pengasuhan ganda membantu kita mengatasi ambivalensi terhadap usaha-usaha publik. Dengan pengasuhan ganda ini laki-laki dan perempuan akan mempunyai peran yang setara dalam membangn dunia. Dalam mengash anak perempuan tidak lagi harus menjadi seorang yang terpojokkan.

Nancy Chodorow
            Hal yang bisa saya tulis dari dia adalah teorinya bahwa perkembangan psikoseksual antara laki-laki dan perempuan mempunyai implikasi sosial. Keterpisahan anak laki-laki dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk secara dalam berhubungan dengan orang lain. Kekurangan emosional ini mempersiapkan anak laki-laki untuk dapat bekerja disektor publik serta kemampuan menjarakkan diri dari Liyan tanpa perasaan.
            Sebaliknya keterkaitan anak perempuan dengan ibunya adalah penyebab kemampuannya untuk mejalin relasinya dengan Liyan. Sayangnya, kemampuan ini justru menyulitkan anak perempuan untuk menciptakan tempatnya diranah publik. Sama halnya dengan Dinnerstein, Chodorow berhipotesis bahwa pengasuhan ganda yang bis amenghapuskan ini. Anak laki-laki atau perempuan yang dibesarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya, akan menyatu dan mampu memisahkan diri, mampu menghargai hubungannya dengan Liyan dan mempunyai kebanggaan atas otonomi mereka.

Juliet Mitchell
            Dia sependapat dengan Freud bahwa situasi Oedipal adalah universal.  Dia berpendapat bahwa tanpa pelarangan terhadap inses, masyarakat manusia adalah ketidakmungkinan. Menurut Levi Strauss yang menjadi dasar karya J. Mitchell, jiak hubungan seksual dimungkinkan didalam keluarga biologis, tidak akan ada penggerak bagi keluarga untuk melebarkan diri diluar batas-batas terdekatnya. Dijelaskan Levi Strauss, Tabu Inses adalah penggerak yang melarang hubungan seksual didalam keluarga dan memaksa membentuk organisasi sosial yang lebih besar. Dia mengklaim bawa fasilitas ini terjadi pada pertukaran antara keluarga  biologis terutama petukaran perempuan diantar laki-laki.

            Menurut Mitchell, hukum bagi pertukaran perempuan berpangkal dari ketidaksadaran yang dalam, muncul menyakitkan selama penyelesaian Oedipus Kompleks pada setiap orang. Karena laki-laki tidak lagi merasakan kebutuhan untuk mempertukarkan perempuan guna menciptakan masyarakat. Mitchell berspekulasi bahwa Oedipus Kompleks kini tidak lagi dibutuhkan.

Free livescore from Unogoal.com