Selasa, 19 April 2016

UTS STUDI FEMINISME: Perempuan Maskulin

Dulu di Tindas, Sekarang Merasa Bebas
(Perempuan Maskulin)
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
            Perempuan bisa dikatakan memilki sifat maskulin ketika dia mempunyai sifat yang selama ini di konstruksikan sebagai sifat laki-laki. Seperti kuat, tegas, tegas, tidak cengeng, dan lain-lain. Dalam keseharian kategori pakaian dan penampilan yang di tampilkan juga identik dengan laki-laki misalkan sering mengenakan celana daripada rok, rambut memilih untuk pendek, pergaulan dengan teman laki-laki. Perempuan dengan ciri demikian biasanya di katakan maskulin.
            Saya memiliki teman, biasa di panggil si Bro. Ini karena dalam keseharian lebih sering bergaul dengan teman laki-laki. Sehingga kami sering menganggap dia seperti laki-laki pada umumnya. Saya dan teman-teman yang lain sepakat kalau si Bro ini termasuk ke dalam kategori perempuan tomboy atau secara ilmiah sering disebut perempuan maskulin.
            Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Ada beberapa hal yang mendukung anggapan kami tersebut. Pertama, ciri-ciri fisik dan penampilan. Si Bro selama ini kami kenal selalu bercirikan berambut pendek. Sambil bercanda dia mengatakan bahwa dengan rambut pendek merasa lebih cekatan, juga tidak repot merawatnya. Menurutnya, dia suka rambut panjang tapi kurang begitu simpel. Dalam penampilan pun cukup maskulin. Kerap kali dia memakai topi, kaos oblong dengan gambar garang. Selain itu dia lebih senang mengenakan celana, baik pendek ataupun panjang daripada mengenakan rok. Alasannya kurang lebih mirip yaitu mempermudah bergerak bebas, dan lebih gampang berekspresi.
            Kedua, sifat-sifat yang ditunjukkan. Saat di SLTA, sifat yang dia tampilkan jauh dari kesan keperempuanan seperti yang terkonstruk selama ini. Di saat teman-teman perempuan yang lain kerap menangis ketika menghadapi masalah, baik masalah rumah, sekolah, ataupun masalah pribadi. Memang saya sendiri sering menemui teman perempuan suka saling curhat dengan teman perempuan yang lain, memang ada yang menangis. Tapi tidak dengan si Bro, dia tidak pernah menangis. Dia suka curhat tapi dengan kami teman-teman laki-laki, juga tidak sampai menangis. Kesan yang di tampilkan malah kuat dan tampak tegar.
            Hal yang ketiga adalah peranan dia di lingkungan. Saya lumayan mengetahui banyak kegiatan si Bro ketika di SLTA. Dia merupakan salah satu pengurus OSIS. Beberapa kali organisasi si Bro mengadakan kegiatan. Baik saat persiapan kegiatan, pelaksanaan, hingga selesainya kegiatan, peran yang dia tampilkan tidak kalah dengan laki-laki. Cukup vokal dalam menyampaikan pendapat. Sumbangsih pemikirannya juga sangat di prioritaskan karena dia merupakan salah satu koordinator seksi bidang. Dalam persiapan kegiatan turut mengangkat meja, kursi, pot bunga yang lumayan besar yang selama ini di kerjakan oleh laki-laki. Ini tidak biasa karena selama ini kebanyakan tugas perempuan adalah hal-hal yang enteng saja, atau bahkan tidak sedikit yang menjadi pajangan dalam tanda kutip.
            Ketika saya memberanikan diri mempertanyakan terkait pelabelan maskulin atau  tomboy terhadap dirinya, dia tidak memungkiri. Dia tidak merasa malu atau bahkan merasa marah. Intinya dia juga meng-ia-kan pelabelan tersebut kepada dirinya. Menurutnya apa yang dia tamplkan saat ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, saat ini dia mengaku belum memiliki pasangan atau pacar. Dia menjelaskan bahwa masih trauma dengan pacarnya terdahulu. Setahu saya si Bro memang pernah memiliki pacar. Lebih lengkap dia menceritakan bahwa oleh pacarnya terdahulu kerap sekali di atur agar sesuai dengan keinginan pacarnya. Bahkan beberapa kali pernah mengalami tindak kekerasan fisik. Kedua, dia ingin sekali merasakan kebebasan atas penindasan yang dilakukan pacarnya terdahulu. Ketiga, dengan kondisi saat ini dia merasa bebas berekspresi, menemukan jati dirinya tanpa ada bayang-bayang sosok laki-laki yang selama ini menurutnya menakutkan. Meskipun lambat laun dia menyadari tidak semua laki-laki menakutkan. Hal ini di buktikannya dengan saat ini memliki banyak teman laki-laki.
            Dari poin-poin yang di sampaikan si Bro, menurut saya dia lebih dekat dengan aliran feminisme radikal libertarian untuk saat ini. Ini di tunjukkan bahwa saat ini dia belum mempercayai peranan laki-laki secara mutlak dalam kehidupannya(belum memutuskan kembali memiliki pacar). Barang kali karena pengalaman buruk saat pacaran yang lalu. Selain itu dia merasa nyaman dengan kesendirian. Tidak ada yang mengatur lagi. Dengan keadaan yang seperti saat ini pula dia semakin bebas tampil di publik, bebas berekspresi seperti apa yang dia inginkan tanpa ada kungkungan orang lain. Saya menitikberatkan kemaskulinan yang di tampilkan oleh si Bro adalah karena pengalaman selama pacaran yang mengalami penindasan oleh pacarnya, sehingg dia saat ini ingin bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com