Dulu
di Tindas, Sekarang Merasa Bebas
(Perempuan
Maskulin)
Oleh: Ahmad Khoirul
Anam
Perempuan bisa dikatakan memilki
sifat maskulin ketika dia mempunyai sifat yang selama ini di konstruksikan
sebagai sifat laki-laki. Seperti kuat, tegas, tegas, tidak cengeng, dan
lain-lain. Dalam keseharian kategori pakaian dan penampilan yang di tampilkan
juga identik dengan laki-laki misalkan sering mengenakan celana daripada rok,
rambut memilih untuk pendek, pergaulan dengan teman laki-laki. Perempuan dengan
ciri demikian biasanya di katakan maskulin.
Saya memiliki teman, biasa di
panggil si Bro. Ini karena dalam keseharian lebih sering bergaul dengan teman
laki-laki. Sehingga kami sering menganggap dia seperti laki-laki pada umumnya.
Saya dan teman-teman yang lain sepakat kalau si Bro ini termasuk ke dalam
kategori perempuan tomboy atau secara
ilmiah sering disebut perempuan maskulin.
Hal ini tentu bukan tanpa alasan.
Ada beberapa hal yang mendukung anggapan kami tersebut. Pertama, ciri-ciri fisik dan penampilan. Si Bro selama ini kami
kenal selalu bercirikan berambut pendek. Sambil bercanda dia mengatakan bahwa
dengan rambut pendek merasa lebih cekatan,
juga tidak repot merawatnya. Menurutnya, dia suka rambut panjang tapi kurang
begitu simpel. Dalam penampilan pun cukup maskulin. Kerap kali dia memakai
topi, kaos oblong dengan gambar garang. Selain itu dia lebih senang mengenakan
celana, baik pendek ataupun panjang daripada mengenakan rok. Alasannya kurang
lebih mirip yaitu mempermudah bergerak bebas, dan lebih gampang berekspresi.
Kedua,
sifat-sifat yang ditunjukkan. Saat di SLTA, sifat yang dia tampilkan jauh
dari kesan keperempuanan seperti yang terkonstruk selama ini. Di saat
teman-teman perempuan yang lain kerap menangis ketika menghadapi masalah, baik
masalah rumah, sekolah, ataupun masalah pribadi. Memang saya sendiri sering
menemui teman perempuan suka saling curhat dengan teman perempuan yang lain,
memang ada yang menangis. Tapi tidak dengan si Bro, dia tidak pernah menangis.
Dia suka curhat tapi dengan kami teman-teman laki-laki, juga tidak sampai
menangis. Kesan yang di tampilkan malah kuat dan tampak tegar.
Hal yang ketiga adalah peranan dia di lingkungan. Saya lumayan mengetahui banyak
kegiatan si Bro ketika di SLTA. Dia merupakan salah satu pengurus OSIS.
Beberapa kali organisasi si Bro mengadakan kegiatan. Baik saat persiapan
kegiatan, pelaksanaan, hingga selesainya kegiatan, peran yang dia tampilkan
tidak kalah dengan laki-laki. Cukup vokal dalam menyampaikan pendapat.
Sumbangsih pemikirannya juga sangat di prioritaskan karena dia merupakan salah
satu koordinator seksi bidang. Dalam persiapan kegiatan turut mengangkat meja,
kursi, pot bunga yang lumayan besar yang selama ini di kerjakan oleh laki-laki.
Ini tidak biasa karena selama ini kebanyakan tugas perempuan adalah hal-hal
yang enteng saja, atau bahkan tidak sedikit yang menjadi pajangan dalam tanda
kutip.
Ketika saya memberanikan diri
mempertanyakan terkait pelabelan maskulin atau tomboy terhadap dirinya, dia
tidak memungkiri. Dia tidak merasa malu atau bahkan merasa marah. Intinya dia
juga meng-ia-kan pelabelan tersebut kepada dirinya. Menurutnya apa yang dia
tamplkan saat ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, saat ini dia mengaku belum memiliki pasangan atau pacar.
Dia menjelaskan bahwa masih trauma dengan pacarnya terdahulu. Setahu saya si
Bro memang pernah memiliki pacar. Lebih lengkap dia menceritakan bahwa oleh
pacarnya terdahulu kerap sekali di atur agar sesuai dengan keinginan pacarnya.
Bahkan beberapa kali pernah mengalami tindak kekerasan fisik. Kedua, dia ingin sekali merasakan
kebebasan atas penindasan yang dilakukan pacarnya terdahulu. Ketiga, dengan kondisi saat ini dia
merasa bebas berekspresi, menemukan jati dirinya tanpa ada bayang-bayang sosok
laki-laki yang selama ini menurutnya menakutkan. Meskipun lambat laun dia
menyadari tidak semua laki-laki menakutkan. Hal ini di buktikannya dengan saat
ini memliki banyak teman laki-laki.
Dari poin-poin yang di sampaikan si
Bro, menurut saya dia lebih dekat dengan aliran feminisme radikal libertarian
untuk saat ini. Ini di tunjukkan bahwa saat ini dia belum mempercayai peranan
laki-laki secara mutlak dalam kehidupannya(belum memutuskan kembali memiliki
pacar). Barang kali karena pengalaman buruk saat pacaran yang lalu. Selain itu dia
merasa nyaman dengan kesendirian. Tidak ada yang mengatur lagi. Dengan keadaan
yang seperti saat ini pula dia semakin bebas tampil di publik, bebas
berekspresi seperti apa yang dia inginkan tanpa ada kungkungan orang lain. Saya
menitikberatkan kemaskulinan yang di tampilkan oleh si Bro adalah karena
pengalaman selama pacaran yang mengalami penindasan oleh pacarnya, sehingg dia
saat ini ingin bebas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar