Spekulasi dibalik Bazar Buku
Oleh: Ahmad Khoirul Anam
Pemandangan
berbeda terlihat di halaman depan gedung Fakultas Ushuluddin, Adab, dan
Dakwah(FUAD). Selama ini halaman tersebut digunakan hanya sebatas untuk parkir
kendaraan mahasiswa, dosen, karyawan, maupun oknum-oknum lain yanga memang
ingin parkir disitu. Beberapa kesempatan, halaman yang lumayan agak luas ini
juga biasa digunakan untuk kepentingan diskusi oleh sekelompok mahasiswa. Forum
diskusi itu ialah FOKUS atau Forum Kajian Ushuluddin yang dilaksanakan hari
selasa jam ke-3 lebih tepatnya. Wadah diskusi yang satu ini menurut beberapa
alumni/sesepuh mahasawa FUAD merupakan forum yang bersejarah. Mulai dari
perjuangan mereka menginisiasi dan melegalkan forum ini. Selanjutnya dari segi
tujuan mulianya yaitu pertama, untuk
melatih kecakapan mahasiswa untuk berbicara didepan umum. Kedua, menambah cakrawala pengetahuan mahasiswa tanpa batas. Ketiga, sebagai ajang resmi curi-curi
pandang bagi pesertanya, beberapa. Tujuan-tujuan diatas di khawatirkan mungkin
selama di kelas atau perkuliahan tidak bisa terakses dengan baik.
Jadi tujuan fokus juga mempermudah akses atau perputaran
ilmu pengetahuan ke seluruh peserta yang mengikuti. Berjalannya waktu dan
perkembangan zaman, terlebih bertambahnya keluarga besar FUAD (ada KPI, BKI,dan
BSA), penulis memiliki angan-angan tidak sengaja, yaitu tentang transformasi
nama FOKUS yang memang selama ini hanya melibatkan mahasiswa Ushuluddin. Ini
berangkat dari akronim FOKUS yaitu Forum Kajian Ushuluddin. Dengan maksud lebih
bisa mengakomodir seluruh keluarga besar FUAD maka perlu kiranya transformasi
nama FOKUS untuk dilaksanakan. Tapi ini hanya angan-angan tak sengaja dari
penulis, barangkali pantas tidaknya ingkang
kajibah yang bisa menilai dan mempertimbangkan baik-baik. Mungkin yang
lebih penting bukan masalah transformasi nama FOKUS, melainkan adalah
transformasi kualitas diskusi demi majunya intelektualitas mahasiswa FUAD.
Semangat diskusi FUAD kita bahas dilain kesempatan,
kembali ke fokus pembeda halaman depan FUAD. Ini khusus terjadi pada
pertengahan bulan Maret 2016 ini. Faktor pembeda ini adalah Bazar Buku.
Fenomena seperti ini memang bukan hal yang baru di kampus IAIN Tulungagung.
Sudah sering bisa kita lihat beberapa kesempatan ada kegiatan bazar buku.
Dilaksanakan diberbagai tempat meliputi timur Rektorat, halaman gedung FTIK,
teras radio kampus(Genius FM), tidak ketinggalan kali ini di halaman depan
gedung FUAD. Penyelenggara kegiatan bazar buku juga beragam. Mulai dari
Himpunan Mahasiswa baik Jurusan maupun aliansi daerah, Organisai Ekstra Kampus,
bahkan seingat penulis, pihak fakultas tau dosen juga pernah melaksanakan
kegiatan ini kalau tidak salah.
Kali ini di samping stand
bazar buku berkibar sebuah bendera Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia(PMII). Ini menandakan kegiatan bazar kali ini diinisiasi oleh salah
satu Organisasi Ekstra Kampus yang kebetulan ketua komisariatnya merupakan
sahabat dekat penulis. Saking dekatnya,
ada ungkapan Jawa yang mungkin bisa menggambarkannya,”Ibarat sliramu ngentut, aku ora ngaleh”. Berkaca dari hal-hal tadi
akhirnya beberapa prediksi penulis pun bermunculan. Pertama, alasan pemilihan tempat. Inisiator kegiatan bazar adalah
salah satu organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya adalah mahasiswa FUAD.
Barang kali ini merupakan wujud perhatian inisiator untuk teman-temanya. Dia
mencoba memberikan referensi buku-buku murah. Selama ini mahasiswa khususnya
mahasiswa FUAD sering dilabeli mahasiswa kelas dua jika menyinggung soal
kekayaan harta benda. Hal ini bisa dilihat dari besaran UKTnya. Tapi ini bukan
masalah besar penulis rasa, karena seluruh mahasiswa FUAD berpedoman bahwa
menjadi orang bahagia tidak hanya diukur dari kaya harta melainkan kaya hati.
Berpedoman pada hal ini, boleh penulis meyakini bahwa inisiator kegiatan bazar
buku ini mendapat pahala yang teramat mulia dari Tuhan, karena memberikan
kesempatan seluruh mahasiswa FUAD mampu membeli buku dengan harga miring.
Kiranya tidak berlebihan jika jargon bazar kali ini ialah “Now, everyone can buy”.
Spekulasi yang kedua.
Jika dilihat dari buku yang ditawarkan mayoritas adalah novel, bisa jadi
inisiator mempunyai tujuan tertentu. Kita mengetahui problem sebagian besar
mahasiswa adalah membaca apalagi membaca buku-buku mata kuliah. Malas benar.
Berangkat dari hal demikian mungkin inisiator bazar ingin mencoba memupuk minat
baca mahasiswa dengan dimulai membaca bacaan-bacaan ringan sekelas novel.
Harapan besarnya tentu agar bisa segera mungkin menular untuk semangat membaca
buku-buku mata kuliah, begitu kira-kira maksud inisiator.
Selain itu spekulasi lain juga banyak bermunculan.
Sejenak kita flashback, inisiator
kegiatan kali ini adalah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang ketuanya
bernama M. Ubaidillah. Dia merupakan teman, sahabat, saudara, rekan
seperjuangan penulis di kelas. Pengalaman hidupnya sangat luar biasa. Penuh
perjuangan. Apalagi pengalaman organisasinya sudah tidak diragukan lagi
kualitasnya. Mungkin sekarang dia baru sekedar ketua komisariat organisasi
tersebut, tetapi tidak menutup kemungkinan berpotensi menjadi Presiden
Mahasiswa. Penulis rasa tidak terlalu berlebihan jika M. Ubaidillah bakal
menjadi atau menduduki posisi tersebut. Rekam jejak politik sudah bagus,
berasal dari daerah Kyiai(Jombang) yang telah menelurkan tokoh nasional sekelas
Gus Dur. Kemudian dia berangkat dari jurusan yang tidak ada tandingannya yaitu
Filsafat Agama, sangat yakin benar keluarga besar fakultas juga mendukung. Gaya
berpolitiknya sudah begitu jelas, bisa dilihat dalam kesempatan/kegiatan ini
pula. Masih sependek analisis penulis, dia mencoba mengadopsi kampanye para
politikus nasional seperti menggelar pasar murah yang kali ini
direalisasikannya dalam kemasan bazar buku murah. Cara ini lumayan efektif
untuk meningkatkan elektabilitas seorang
M. Ubaidillah untuk menjadi orang nomor 1 di Republik Mahasiswa IAIN
Tulungagung ini. Minimal dia dipercaya oleh mahasiswa mampu menghadirka program
yang murah dan ramah terhadap mahasiswa. Cuman,
paling penting adalah tetap melewati regulasi
yang ada. Harus patuh pula pada peraturan. Penulis dan teman-teman M.
Ubaidillah pada dasarnya sangat mendukung. Apa perlu kami mengumpulkan KTP
untuk menunjukkan loyalitas kami terhadap M. Ubaidillah. Dunia politik kampus
juga tidak bisa terlepas dengan program BKKBN, hampir mirip. Pilpres dengan Pil
KB. Hanya perbedaannya jika pil KB kalau lupa jadi, maka di Pilpres kalau jadi
biasanya lupa. Lupa dengan teman-teman yang mendukunya. Terbuai dengan jabatan.
Hal urgen ini mohon betul-betul jangan sampai terjadi pada M. Ubaidillah.
Mimpi yang sangat mulia ini, jika di waktu depan bisa
menjadi kenyataan, tentu penulis dan teman-teman akan bangga sekali. pengaruh
positif M. Ubaidillah dan bazar buku tidak hanya berhenti disini. Dengan adanya
bazar buku di halaman depan gedung FUAD telah menjadikannya pusat bekumpul
seluruh mahasiswa untuk membeli buku. Baik dari mahasiswa FUAD sendiri, FTIK,
FASIH, dan FEBI. Perhatian khusus tentu saja pada mahasiswa FEBI. Ini berangkat
dari sejarah yang panjang. Diakui atau tidak selama ini FEBI dan mahasiswinya
dilabeli superior. Mulai dari gedungnya megah bagaikan sebuah Mall, dan mahasiswinya bagaikan kumpulan
bidadari, menurut sebagian orang. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi memang
superioritas mahasiswi FEBI begitu luar biasa. Penulis mengamati hal ini sampai tidak bisa mengunggkapkannya
dengan kata-kata, karena takut. Intinya pahala mahasiswi FEBI sangat besar,
tidak kalah dengan M. Ubaidillah karena menyadarkan para mahasiswa IAIN
khususnya mahasiswa FUAD untuk lebih mendalam mensyukuri ciptaan Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Kesan penulis terhadap bazar buku di halaman depan gedung
FUAD kali ini luar biasa. Apresiasi yang setinggi-tingginya sangat pantas untuk
M. Ubaidillah beserta staf-stafnya, tidak lupa atau jangan sampai lupa,
apresiasi juga disampaikan kepada
mahasiswi FEBI. Bazar buku yang lebih berkualitas tentu sangat dinanti-nanti
pada kesempatan berikutnya.
sebuah gambaran tentang politik kampus, adalah sebuah bentuk representasi dari ideologi politik bangsa bernegara. kampus bisa dikatakan sebuah miniatur negara yang berlandaskan hukum berideologi pancasila. demokrasi sangatlah di junjung tinggi oleh bangsa indonesia. akankah rekomendasi presiden dema akrab disapa presiden bem yang di utarakan penulis bisa memenuhi asas demokrasi yang ideal atau malah sebaliknya menjadi negara dinasti yang dibungkus dengan lebel demokrasi. kita dapat mengklarifikasi rekomended yang satu ini dari perjalanan dia menjadi ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
BalasHapus