Senin, 27 April 2015

MAKALAH HUMANISME BARAT

MAKALAH
 Humanisme Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“Filsafat Manusia”
Dosen Pengampu:
Dr. A. Rizqon Khamami, Lc., MA.

 
Disusun Oleh: 
Ahmad Khoirul Anam   NIM. 2832133002
SEMESTER IV
JURUSAN FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
 TULUNGAGUNG
2015

A. Pengantar
       Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah bukan  Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000). Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis.

B. Regangan Teoritis dan Sejarah Humanisme
1.      Regangan teoritis
                        Humanisme menurut kamus filsafat  adalah sebuah filsafat yang (a) memandang individu rasional sebagai mahluk tertinggi (b) memandang individu sebagai nilai tertinggi dan (c) ditujukan untuk membina perkembangan  kreatif dan moral individu dengan cara bermakna dan rasional tanpa merujuk pada konsep-konsep adi kodrati (Rosda;140; 1995). Zainal Abidin dalam bukunya Filsafat manusia  mengatakan bahwa Humanisme berasal dari kata latin “humanitas” (pendidikan manusia) dan dalam bahasa Yunani disebut paideia;  pendidikan yang didukung oleh manusia –manusia yang hendak menempatkan seni liberal dijadikan sebagi sarana terpenting dalam pendidikan waktu itu[1]. Humanisme adalah suatu gerakaan intelektual dan kesusteraan yang lahir pada prinsipnya aspek dasar dari gerakan Renaissance abad 14-16 Masehi,  merupakan salah satu faham filsafat yang hendak mendudukan manusia yang hendak menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia dari ukuran segala penilaian, kejadian dan gejala diatas muka bumi  ini (Abidin; 26-27; 2000)[2].    Sedangkan menurut Ali Syariati humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan. Ia memandang manusia sebagi mahluk mulia dan prinsip yang disarankannya didasarkan atas pemenuhan kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia (Ali syariati;39;1992)[3], Jadi jelaslah bahwasanya humanisme adalah aliran filasafat yang berusaha mendudukan manusia sebagai pusat perhatian dari segala studi dan bertujuan untuk mengangkat kemulian dan harkat manusia

2. Sejarah Humanisme
                        Arti Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah bukan  Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000)[4]. Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis. Abad pertengahan adalah abad dimana otonomi, kreatifitas dan kemerdekaan berfikir manusia dikungkung oleh kekuasan agama yg mayoritas di eropa pada saat itu. Abad ini ini sering disebut “Abad Kegelapan” karena cahaya akal budi manusia  tertutup kabut dogma-dogma agama di sana. Kuasa manusia dipatahkan oleh pandangan agama yang menyatakan bahwa hidup manusia telah digariskan oleh kekuatan Illahi dan akal budi manusia tidak akan pernah tidak akan pernah sampai pada misteri dari  kekuatan-kekuatan itu. Pikiran –pikiran manusia yang menyimpang dari dogma-dogma kaum spiritual di eropa tersebut adalah pikiran-pikiran sesat dan karenanya harus dicegah dan dikendalikan.  Dalam zaman itulah gerakan humanisme muncul dan gerakan kaum humanis bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasan lembaga keagamaan dan membebaskan kungkungan agama yang mengikat. Kaum humanis menggunakan seni liberal sebagai materi dan sarana utamanya. Alasan utama dijadikan sarana  terpenting  pada waktu itu (disamping retorika, sejarah, etika dan politik) adalah kenyataan bahwa hanya dengan seni liberal manusia akan tergugah untuk menjadi manusia, menjadi mahluk bebas yang tidak terkungkung kekuatan diluar dirinya . Mereka percaya bahwa hanya dengan seni liberal, maka manusia akan dapat dibangunkan dari tidurnya yang sangat panjang pada abad pertengahan itu. Model pendidikan itu adalah model pendidikan yang didorong oleh semangat zaman antik (Yunani kuno), yang ditandai  oleh adanya kehidupan demokratis, pada zaman antik  klaim atas otonomi manusia dijunjung tingggi dan dalam batas-batas tertentu manusia mempunyai kewenangan sendiri dalam keterlibatanya dengan alam dan dalam penentuan arah sejarah manusia (Abidin; 27;2000)[5]. Hal senada juga dikatakan oleh Ali syariati bahwasanya teori humanisme barat dibangun atas  asas yang dibangun mitologi yunani kuno yang memandang bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian antara keduanya . Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia, seluruh perbuatan dan kesadarnnya kekuasannya yang zalim terhadap manusia yang dibelenggu kelemahan dan kebodohannya. Hal itu dilakukan karena dewa-dewa  takut menghadapi ancaman kesadaran, kebebasan, kemerdekan dan kepemimpinan manusia atas alam. Setiap manusia yang menempuh jalan ini dipandang telah melakukan dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa. Dewa-dewa dalam mitologi yunani adalah penguasa segala sesuatu dan manifestasi dari kekuatan fisik yang terdapat dialam semesta; laut, sungai bumi hujan, ekonomi, penyakit dan kematian (Syariati; 40; 1992). Itu sebabnya, maka menjadi wajar dan logislah bila dalam pandangan yunani kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme mengambil bentuk sebagi penentang kekuasaan para dewa, yakni tuhan-tuhan dan sesembahan mereka. Dari sini terbentuklah pertarungan antara Humanisme dan Theisme. Berdasar itu maka humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan seluruh dengan seluruh kebenciannya kepda Tuhan dan dan pengingangkarannya  atas kekuasanNya.  Serta memutuskan tali penghamban manusia dengan langit, ketika ia menjadikan manusia sebagi penentu benar atau tidaknya sesutu perbuatan dan menentukan segala potensi keindahan terletak pada tubuh Manusia (Syariati;40; 1992) . Kalau kita bisa mengatakan humanisme pasca Renaissance di Eropa modern merupakan kelanjutan dari Humanisme Yunani Kuno, karena kungkungan dogma agama mayoritas di eropa yang demikian kuatnya terhadap nilai kemanusiaan, maka humanisme Eropa modern  mengambil bentuk yang sama terhadap Humanisme Yunani Kuno yaitu melakukan pengagungan kembali terhadap harkat dan martabat pada nilai kemanusiaan.
C. Pembahasan tentang Humanisme

1. Aliran Humanisme Dewasa ini
                        Dewasa ini terdapat empat aliran  Humanisme  menurut Syariati(1993) , kendatipun memiliki perbedaan–perbedaan pokok dan pertentangan-pertentangan satu sama lain, keempat-empatnya mengklaim diri sebagai pemilik aliran humanisme, yaitu; 1. Liberalisme Barat, 2. Marxime, 3. Eksistensialime. 4. Agama. Adapun karena luasnya topik cakupan pembahasan maka penulis membatasi penulisan hanya pada pembahasan mengenai konsep humanisme yang ada pada Eksistensialisme dan Islam.

2. Humanisme dalam Eksistensialisme
                        Eksistensialisme “memproklamasikan gerakannya” (core) langsung pada kaitan mengenai humanisme, sebagaimana yang dikatakan Sartre salah seorang tokoh Eksistensialis pada tahun 1945 bahwa “Eksistensialisme adalah suatu humanisme itu” (Roger Scruton; 321, 1986). Hal ini berarti arah kerja Eksistensialisme memang terutama pada pemuliaan nilai kemanusiaan, eksistensialisme  mencoba melakukan “oposisi intelegensia” terhadap  dekadensi nilai-nilai kemanusiaan  yang terjadi di Eropa saat itu karena kungkungan gereja pada saat itu.
            Memang agak susah mendifinisikan Eksistensialisme, sebagaimana dikatakan oleh Fuad Hasan (7;2000). Orang mengalami kesukaran untuk mendefinisikan eksistensialisme  dengan satu perumusan sebab filsuf yang digolongkan kepadanya atau yang menyebut dirinya sebagai eksisensialis, menunjukan perbedaan-perbedaan anggapan mengenai eksistensialisme  itu sendiri.
                        Para penulis buku mengenai eksistensialisme mepunyai penggolongan sendiri terhadap siapa yang dapat dianggap tokoh Eksistensialiame itu sendiri; Seperti Blackham (1978) memasukan tokoh seperti , Kierkegaard, Nietszhe, Karl Jaspers, Marcel, Martin Heidegger  dan Sartre. Sedangkan Fuad  Hasan (2000) memasukan tokoh seperti Kierkegad, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers, Heidegger (walaupun dia tidak dibahas secara khusus dalam bukunya) dan Sartre. Sedangkan Roger Scrutton dalam bukunya Sejarah Singkat Filsafat Modern (1986)  hampir menyamakan tokoh Fenomenologi dengan tokoh Eksistensialisme tokoh-tokoh itu adalah;  Husserl, Martin  Heidegger dan  Sartre. Untuk itu dibawah ini beberapa pandangan tokoh terhadap Eksistensialisme sebaga berikut :
a)    Titik Tolak dan Kesamaan Pandangan Para Tokoh Humanisme
                        Satu-satunya hal yang sama diantara mereka ialah bahwa kesemuanya berpendapat  bahwa filsafat harus betitik tolak pada manusia yang konkret, yaitu manusia sebagai eksistensi  dan sehubungan dengan titik tolak ini mereka berpendapat bahwa manusia  bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi (Hasan; 7; 2000)[6]
b)   H. J. Blackham   dalam bukunya  Six Existentialist Thinkers (151 ;1978) 
            The peculliarity of existentialism, then, is that it deals with  the separation of man from him self and from the world, which raises the question of philosophy, not by attempting to establish  some universal from justification which will enable  man  to readjust himseflf  but by  permanently  enlarging and  lining the separation itsef as primordial and constitutive  for personal existence, The main busines of this philosophy  therefore is not to answer  the Questions which are raised but to drive home the questions themselves  until they engage the whole man  and are made  personal , urgent  and anguished.
Artinya:
                        Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa  mereka  melakukan pemisahan manusia  dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan  filsafat,  tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi,  tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan  manusia.

                        Eksistensialisme  dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari  dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti  hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan  sebagai sebuah pertanyaan  dan juga   tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.

c)      Konsep “Ada” Manusia  
                        Perihal tentang keberadaan (Being)  manusia menurut bahasa Marcel adalah bukan sesuatu yang harus dikuasai dan diselesaikan tetapi adalah  misteri yang harus dijalani/dihidupi (pengalaman untuk dialami) atau dihidupkan kembali dan tugas filsafatlah untuk membantu  manusia untuk menemukan jawabannya dan mendapatkan pengalamannya (Blackham ;152; 2002)[7]
                        Heidegger  mencoba untuk memperbaharui konsep tentang Ada (Sein) yang telah dibahas sejak jaman scorates atau sebelumnya dengan memperkenalkan konsep ‘Existenzs’ suatu  jenis konsep tentang ‘Ada’ untuk mencocokan   konsep  dasein tentang keberadaan manusia yaitu konsep tentang ada bagi diri sendiri. Melalui harmeuneutics dia melakukannya. Harmeneutics with one step, has become basic structure of possibility for Dasein; it is an anlysis  of the existentiality of Existenz,” that is  the being’s authentic possibilities of being.(Palmer;130;1969) Kemudian di ikuti Sartre dengan konsep ‘etre-pour-soui’. Dan ini telah diuraikan oleh Hegel sebagai ada-bagi-diri-sendiri (Fursich-sein). Istilah-Istilah ini menurut Scruton digunakan untuk membedakan benda dengan mahluk manusia (Scruton 315; 1986). Heideger mendahului teori tentang Ada (yang sebenarnya adalah teori tentang kesadaran diri) dengan suatu teori yang mengasyikan tetapi sangat abstrak uraian tentang dunia fenomena. Karena semua ada, dalam dunia, maka esensi dunia harus sebagai tempat yang harus dijajaki jika kita ingin memahami Ada.  Dunia ini dipandang Heideger sebagai sesuatu yang mempunyai arti dan makna (diambil dari kata Logos-Yunani)  lewat dunia inilah yang harus dijajaki untuk menjadi Ada (Scruton; 316;1986), Ada manusia  lanjut Heideger, juga berhubungan dengan eksistensi orang lain, misal;  ketika orang merasa takut atau terpojok membuat kita menjadi pribadi tersendiri (pribadi takut)ini muncul dari pertanyaan Siapa saya? Saya sendiri (saya takut) (Scruton 318;1986). Sartre mempunyai premis filsafat  bahwasanya Eksistensi mendahului Esensi. Esensi menurut Sarte sebagai bangunan intelektual, hilang bersama dengan akal yang yang akan memahaminya. Eksistensi adalah premis dari semua penelitian. Eksistensi tidak ditentukan oleh gagasan universal dan dia tidak punya gagasan yang dibayangkan terlebih dahulu seperti apa yang mungkin terkandung dalam suatu pandangan tentang manusia. Dia hanya bereksistensi  jika dia merasakan apa yang ia maksudkan (Scrutton;322;1986)[8].

d)     Ketakutan, Masa Depan, dan Kebebasan Sartre
                        Lebih lanjut tentang pembahasannya tentang, ketakutan, masa depan dan kebebasan  Sartre mengemukakan pandangannya; Hanya kesadaran diri yang membawa neant’ atau ketidakadaan  kedalam dunia; bagi mahluk yang dapat merasa, pemisahan antara subyek dan obyek belum terbuka. Tetapi dengan perasaan ketidakadaan itu timbul ketakutan dan pertanyaan apa yang akan saya lakukan? Itulah makna sekarang tentang masa depan dan tangung jawab manusia terhadap masa depan tersebut. Ketakutan adalah bukti dari kebebasan. Tidak ada yang lebih jelas dari seseorang daripada kebebasannya, karena tidak ada yang lebih jelas dari eksistensi yang memaksakan pengakuan akan masa depan dan tanggung jawab kita kepadanya. Sarte dalam Phenomenology of mind Sartre mengambarkan hubungan manusia dalam konteks perjuangan; kasih itu menginginkan kebebasan orang lain, untuk menjadikan kebebaasan itu miliknya sendiri . Jika seorang kasih hanya dimiliki oleh satu orang saja maka terjadi kontradiksi karena kebebasan terikat. Keinginannya dapat dipenuhi hanya dengan sendiri hanya dengan mengecewakannya,memiliki kebebasan  dengan melepaskan. (Scrutton; 326;1986)
e)      Manusia Ideal Nietszhe
                        Konsep tentang model manusia ideal yang  cukup  kontroversial dikemukakan oleh Nietszhe yaitu dengan memunculkan  Konsep “Ubermensch” atau Superman (Hasan; 45;2000),  konsep Nietszhe adalah contoh paling nyata dari filsafat yang menekankan logika kekuatan  bukan kekuatan logika. Dia sangat diinspirasikan oleh Spencer dan Darwin terutama dalam konsep “survival for the fittest”  yang kemudian sangat mempengaruhi di dalam pandangannya tentang manusia dan kemanusiaan.  Ia menganggap kalau  dalam hidup ini yang kuat lah yang menang, Kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Oleh karena itu, apa yang diangap baik haruslah kuat. Sebaliknya, segala yang lemah adalah buruk dan salah (Hasan;44;2000).  Nietszhe mengatakan bahwa yang harus dijadikan tujuan dalam kehidupan kemanusiaan adalah menjelmakan manusia-manusia besar yang lebih kuat, cerdas dan lebih berani. Eksistensialisme Niestzhe dalam sikap antitheisme. Sikap ini Dilontarkan Nietszhe ketika dia sangat muak mendengarkan ceramah pendeta mengenai dosa (Hasan ;52;1986). Tuhan Barat telah digunakan untuk mengalienasi orang  dari kemanusiannya dan dari gairah seksual  melalui asketisme  yang menyangkal kehidupan (Karen Armstrong;459;2001). Nietszhe sebagaimana Eksistensialis lain mengatakan bahwa, tak ada tujuan tertinggi, manusia harus takut pada tubuh mereka, gairah dan seksualitas mereka, Nietszhe mengajak orang untuk mencabut moralitas cinta kasih yang membuat manusia lemah, (Karen Armstrong;459;2001)[9].


















DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal,  Filsafat Manusia, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, Mizan Bandung;  Cetakan ke-2, 2001
Blackham, H.J, Six Existentialist Thinkers, Routlege & Kegan Paul Ltd (penerbit) London,  Reprinted 1978
Hasan, Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Pustaka Jaya Jakarta, 2000, cetakan ke-8
Scruton, Roger, Sejarah Singkat Filsafat Modern, Pantja Simpati, Jakarta, Cetakan ke-1, 1986 
Syari’ati, Ali, Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat,  Pustaka Hidayah , Jakarta 1992




[1] Hal ini dijelaskan oleh Zainal Abidin, Filsafat Manusia, Remaja Rosda Karya Bandung, 2009
[2] Abidin, Zainal.  Filsafat Manusia, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
[3] Ali Syari’ati, Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat,  Pustaka Hidayah , Jakarta 1992
[4] Zainal Abidin, Ibid., hlm. 26
[5] Zainal Abidin, Ibid., hlm. 27
[6] Hasan, Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Pustaka Jaya Jakarta, 2000, cetakan ke-8
[7] H.J Blackham, Six Existentialist Thinkers, Routlege & Kegan Paul Ltd (penerbit) London,  Reprinted 1978
[8] Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern, Pantja Simpati, Jakarta, Cetakan ke-1, 1986 
[9] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Mizan Bandung;  Cetakan ke-2, 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Free livescore from Unogoal.com