MAKALAH
Humanisme Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Mata Kuliah
“Filsafat
Manusia”
Dosen Pengampu:
Dr. A. Rizqon
Khamami, Lc., MA.

Disusun Oleh:
Ahmad Khoirul Anam NIM. 2832133002
SEMESTER
IV
JURUSAN
FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TULUNGAGUNG
2015
A. Pengantar
Istilah humanisme akan lebih mudah dipahami
kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories dan sisi aliran-aliran
dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme merupakan gerakan intelektual
dan kesusteraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14
Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor penggerak kebudayaan modern,
khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang sering disebut sebagi pelopor
gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu dan Michael Angelo. Dari sisi
yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana telah disebutkan diatas-
sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia
sehingga manusia menempati posisi yang sangat penting dan sentral, baik dalam
perenungan fisafati maupun praktisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satu
asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini adalah manusia pada prinsipnya
meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan filsuf abad pertengahan, para
filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia pada hakikatnya adalah
bukan Viator Mundi (peziarah dimuka bumi) melainkan Vaber Mundi (pekerja
atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000). Gerakan yang berawal dari Italia
dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, dimaksudkan untuk manusia dari tidur
panjang abad pertengahan, yang dikuasai dogma-dogma agamis.
B. Regangan Teoritis dan Sejarah Humanisme
1.
Regangan teoritis
Humanisme menurut kamus
filsafat adalah sebuah filsafat yang (a) memandang individu rasional
sebagai mahluk tertinggi (b) memandang individu sebagai nilai tertinggi dan (c)
ditujukan untuk membina perkembangan kreatif dan moral individu dengan
cara bermakna dan rasional tanpa merujuk pada konsep-konsep adi kodrati (Rosda;140;
1995). Zainal Abidin dalam bukunya Filsafat manusia mengatakan bahwa
Humanisme berasal dari kata latin “humanitas” (pendidikan manusia) dan dalam
bahasa Yunani disebut paideia; pendidikan yang didukung oleh
manusia –manusia yang hendak menempatkan seni liberal dijadikan sebagi sarana
terpenting dalam pendidikan waktu itu[1].
Humanisme adalah suatu gerakaan intelektual dan kesusteraan yang lahir pada
prinsipnya aspek dasar dari gerakan Renaissance abad 14-16 Masehi,
merupakan salah satu faham filsafat yang hendak mendudukan manusia yang hendak
menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia dari ukuran segala penilaian,
kejadian dan gejala diatas muka bumi ini (Abidin; 26-27; 2000)[2].
Sedangkan menurut Ali Syariati humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan
bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan.
Ia memandang manusia sebagi mahluk mulia dan prinsip yang disarankannya
didasarkan atas pemenuhan kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia
(Ali syariati;39;1992)[3], Jadi
jelaslah bahwasanya humanisme adalah aliran filasafat yang berusaha mendudukan
manusia sebagai pusat perhatian dari segala studi dan bertujuan untuk
mengangkat kemulian dan harkat manusia
2. Sejarah Humanisme
Arti Istilah humanisme
akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi histories
dan sisi aliran-aliran dalam filsafat. Dari sisi yang pertama, humanisme
merupakan gerakan intelektual dan kesusteraan yang pertama kali muncul di
Italia pada paruh abad ke-14 Masehi. Gerakan ini boleh dikatakan sebagi motor
penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, berapa tokoh yang
sering disebut sebagi pelopor gerakan ini misalnya Dante, Petrarca, Boccaceu
dan Michael Angelo. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan- sebagimana
telah disebutkan diatas- sebagai faham dalam filsafat yang menjunjung tinggi
nilai dan martabat manusia sehingga manusia menempati posisi yang sangat
penting dan sentral, baik dalam perenungan fisafati maupun praktisi dalam
kehidupan sehari-hari, salah satu asumsi yang melandasi pandangan filsafat ini
adalah manusia pada prinsipnya meupakan pusat dari realitas, berbeda dengan
filsuf abad pertengahan, para filsuf humanisme berpegang teguh bahwa manusia
pada hakikatnya adalah bukan Viator Mundi (peziarah dimuka bumi)
melainkan Vaber Mundi (pekerja atau mencipta dunianya) (Abidin; 26; 2000)[4].
Gerakan yang berawal dari Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa,
dimaksudkan untuk manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai
dogma-dogma agamis. Abad pertengahan adalah abad dimana otonomi, kreatifitas
dan kemerdekaan berfikir manusia dikungkung oleh kekuasan agama yg mayoritas di
eropa pada saat itu. Abad ini ini sering disebut “Abad Kegelapan” karena cahaya
akal budi manusia tertutup kabut dogma-dogma agama di sana. Kuasa manusia
dipatahkan oleh pandangan agama yang menyatakan bahwa hidup manusia telah
digariskan oleh kekuatan Illahi dan akal budi manusia tidak akan pernah tidak
akan pernah sampai pada misteri dari kekuatan-kekuatan itu. Pikiran
–pikiran manusia yang menyimpang dari dogma-dogma kaum spiritual di eropa
tersebut adalah pikiran-pikiran sesat dan karenanya harus dicegah dan
dikendalikan. Dalam zaman itulah gerakan humanisme muncul dan gerakan
kaum humanis bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasan lembaga
keagamaan dan membebaskan kungkungan agama yang mengikat. Kaum humanis
menggunakan seni liberal sebagai materi dan sarana utamanya. Alasan utama
dijadikan sarana terpenting pada
waktu itu (disamping retorika, sejarah, etika dan politik) adalah kenyataan
bahwa hanya dengan seni liberal manusia akan tergugah untuk menjadi manusia,
menjadi mahluk bebas yang tidak terkungkung kekuatan diluar dirinya . Mereka
percaya bahwa hanya dengan seni liberal, maka manusia akan dapat dibangunkan
dari tidurnya yang sangat panjang pada abad pertengahan itu. Model pendidikan
itu adalah model pendidikan yang didorong oleh semangat zaman antik (Yunani
kuno), yang ditandai oleh adanya kehidupan demokratis, pada zaman antik
klaim atas otonomi manusia dijunjung tingggi dan dalam batas-batas tertentu
manusia mempunyai kewenangan sendiri dalam keterlibatanya dengan alam dan dalam
penentuan arah sejarah manusia (Abidin; 27;2000)[5].
Hal senada juga dikatakan oleh Ali syariati bahwasanya teori humanisme barat
dibangun atas asas yang dibangun mitologi yunani kuno yang memandang
bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat
pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian
antara keduanya . Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia, seluruh
perbuatan dan kesadarnnya kekuasannya yang zalim terhadap manusia yang
dibelenggu kelemahan dan kebodohannya. Hal itu dilakukan karena dewa-dewa
takut menghadapi ancaman kesadaran, kebebasan, kemerdekan dan kepemimpinan
manusia atas alam. Setiap manusia yang menempuh jalan ini dipandang telah
melakukan dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa. Dewa-dewa dalam mitologi
yunani adalah penguasa segala sesuatu dan manifestasi dari kekuatan fisik yang
terdapat dialam semesta; laut, sungai bumi hujan, ekonomi, penyakit dan
kematian (Syariati; 40; 1992). Itu sebabnya, maka menjadi wajar dan logislah
bila dalam pandangan yunani kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme
mengambil bentuk sebagi penentang kekuasaan para dewa, yakni tuhan-tuhan dan
sesembahan mereka. Dari sini terbentuklah pertarungan antara Humanisme dan
Theisme. Berdasar itu maka humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri
manusia dengan seluruh dengan seluruh kebenciannya kepda Tuhan dan dan
pengingangkarannya atas kekuasanNya. Serta memutuskan tali
penghamban manusia dengan langit, ketika ia menjadikan manusia sebagi penentu
benar atau tidaknya sesutu perbuatan dan menentukan segala potensi keindahan
terletak pada tubuh Manusia (Syariati;40; 1992) . Kalau kita bisa mengatakan
humanisme pasca Renaissance di Eropa modern merupakan kelanjutan dari Humanisme
Yunani Kuno, karena kungkungan dogma agama mayoritas di eropa yang demikian
kuatnya terhadap nilai kemanusiaan, maka humanisme Eropa modern mengambil
bentuk yang sama terhadap Humanisme Yunani Kuno yaitu melakukan pengagungan
kembali terhadap harkat dan martabat pada nilai kemanusiaan.
C. Pembahasan tentang Humanisme
1. Aliran Humanisme Dewasa ini
Dewasa ini terdapat
empat aliran Humanisme menurut Syariati(1993) , kendatipun memiliki
perbedaan–perbedaan pokok dan pertentangan-pertentangan satu sama lain,
keempat-empatnya mengklaim diri sebagai pemilik aliran humanisme, yaitu; 1.
Liberalisme Barat, 2. Marxime, 3. Eksistensialime. 4. Agama. Adapun karena
luasnya topik cakupan pembahasan maka penulis membatasi penulisan hanya pada
pembahasan mengenai konsep humanisme yang ada pada Eksistensialisme dan Islam.
2. Humanisme dalam Eksistensialisme
Eksistensialisme
“memproklamasikan gerakannya” (core) langsung pada kaitan mengenai humanisme,
sebagaimana yang dikatakan Sartre salah seorang tokoh Eksistensialis pada tahun
1945 bahwa “Eksistensialisme adalah suatu humanisme itu” (Roger Scruton; 321,
1986). Hal ini berarti arah kerja Eksistensialisme memang terutama pada
pemuliaan nilai kemanusiaan, eksistensialisme mencoba melakukan “oposisi
intelegensia” terhadap dekadensi nilai-nilai kemanusiaan yang
terjadi di Eropa saat itu karena kungkungan gereja pada saat itu.
Memang
agak susah mendifinisikan Eksistensialisme, sebagaimana dikatakan oleh Fuad
Hasan (7;2000). Orang mengalami kesukaran untuk mendefinisikan
eksistensialisme dengan satu perumusan sebab filsuf yang digolongkan
kepadanya atau yang menyebut dirinya sebagai eksisensialis, menunjukan
perbedaan-perbedaan anggapan mengenai eksistensialisme itu sendiri.
Para penulis buku
mengenai eksistensialisme mepunyai penggolongan sendiri terhadap siapa yang
dapat dianggap tokoh Eksistensialiame itu sendiri; Seperti Blackham (1978)
memasukan tokoh seperti , Kierkegaard, Nietszhe, Karl Jaspers, Marcel, Martin
Heidegger dan Sartre. Sedangkan Fuad Hasan (2000) memasukan tokoh
seperti Kierkegad, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers, Heidegger (walaupun dia tidak dibahas
secara khusus dalam bukunya) dan Sartre. Sedangkan Roger Scrutton dalam bukunya
Sejarah Singkat Filsafat Modern (1986) hampir menyamakan tokoh
Fenomenologi dengan tokoh Eksistensialisme tokoh-tokoh itu adalah;
Husserl, Martin Heidegger dan Sartre. Untuk itu dibawah ini
beberapa pandangan tokoh terhadap Eksistensialisme sebaga berikut :
a)
Titik Tolak dan Kesamaan Pandangan Para Tokoh
Humanisme
Satu-satunya hal yang
sama diantara mereka ialah bahwa kesemuanya berpendapat bahwa filsafat
harus betitik tolak pada manusia yang konkret, yaitu manusia sebagai
eksistensi dan sehubungan dengan titik tolak ini mereka berpendapat bahwa
manusia bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi (Hasan; 7; 2000)[6]
b) H. J.
Blackham dalam bukunya Six Existentialist Thinkers (151
;1978)
The peculliarity of existentialism, then, is
that it deals with the separation of man from him self and from the
world, which raises the question of philosophy, not by attempting to
establish some universal from justification which will enable
man to readjust himseflf but by permanently enlarging
and lining the separation itsef as primordial and constitutive for
personal existence, The main busines of this philosophy therefore is not
to answer the Questions which are raised but to drive home the questions
themselves until they engage the whole man and are made
personal , urgent and anguished.
Artinya:
Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa mereka melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan filsafat, tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi, tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan manusia.
Eksistensialisme dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan sebagai sebuah pertanyaan dan juga tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.
Artinya:
Hal yang lain dari eksistensialime adalah bahwa mereka melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia, yang menimbulkan pertanyanan-pertanyaan filsafat, tidak dengan melarikan diri dari membangun bentuk universal yang akan membuat manusia dapat menyesuaikan dirinya ladi, tapi dengan pemanen memperbesar dan menggariskan pemisahan dirinya dari pandangan primordial dan mendasar dari keberadaan manusia.
Eksistensialisme dalam gerakannya mengangkat nilai kemanusiaan yaitu dalam hal ini humanisme adalah dengan melakukan pemisahan manusia dari dirinya dengan dunia agar dapat membebaskan diri dari padangan primordial yang mengungkungi manusia selama ini. Mereka berusaha agar manusia menyadari keberadannya dengan menimbulkan sebuah pertannyaan mendasar tentang arti hadirnya diri (eksistensi) dan dunia ini, yang membuat dia bertanya kepada dirinya sendiri serta kehidupan. Pertanyaan diatas memang akan terus ada dan akan terus hidup, bukan karena ketidakmampuan manusia dalam menjawabnya tetapi karena manusia tetap menganggap keberadaan sebagai sebuah pertanyaan dan juga tentang dunia obyektif (objective world) tetap mempertanyakan dirinya, keduanya adalah dua posibilitas kemungkinan.
c) Konsep
“Ada” Manusia
Perihal tentang
keberadaan (Being) manusia menurut bahasa Marcel adalah bukan sesuatu
yang harus dikuasai dan diselesaikan tetapi adalah misteri yang harus
dijalani/dihidupi (pengalaman untuk dialami) atau dihidupkan kembali dan tugas
filsafatlah untuk membantu manusia untuk menemukan jawabannya dan
mendapatkan pengalamannya (Blackham ;152; 2002)[7]
Heidegger mencoba
untuk memperbaharui konsep tentang Ada (Sein) yang telah dibahas sejak jaman
scorates atau sebelumnya dengan memperkenalkan konsep ‘Existenzs’ suatu
jenis konsep tentang ‘Ada’ untuk mencocokan konsep dasein
tentang keberadaan manusia yaitu konsep tentang ada bagi diri sendiri. Melalui
harmeuneutics dia melakukannya. Harmeneutics
with one step, has become basic structure of possibility for Dasein; it is an
anlysis of the existentiality of Existenz,” that is the being’s
authentic possibilities of being.(Palmer;130;1969) Kemudian di ikuti Sartre dengan konsep
‘etre-pour-soui’. Dan ini telah diuraikan oleh Hegel sebagai
ada-bagi-diri-sendiri (Fursich-sein). Istilah-Istilah ini menurut Scruton
digunakan untuk membedakan benda dengan mahluk manusia (Scruton 315; 1986). Heideger
mendahului teori tentang Ada (yang sebenarnya adalah teori tentang kesadaran
diri) dengan suatu teori yang mengasyikan tetapi sangat abstrak uraian tentang
dunia fenomena. Karena semua ada, dalam dunia, maka esensi dunia harus sebagai
tempat yang harus dijajaki jika kita ingin memahami Ada. Dunia ini
dipandang Heideger sebagai sesuatu yang mempunyai arti dan makna (diambil dari
kata Logos-Yunani) lewat dunia inilah yang harus dijajaki untuk menjadi
Ada (Scruton; 316;1986), Ada manusia lanjut Heideger, juga berhubungan dengan
eksistensi orang lain, misal; ketika orang merasa takut atau terpojok
membuat kita menjadi pribadi tersendiri (pribadi takut)ini muncul dari
pertanyaan Siapa saya? Saya sendiri (saya takut) (Scruton 318;1986). Sartre
mempunyai premis filsafat bahwasanya Eksistensi mendahului Esensi. Esensi
menurut Sarte sebagai bangunan intelektual, hilang bersama dengan akal yang
yang akan memahaminya. Eksistensi adalah premis dari semua penelitian.
Eksistensi tidak ditentukan oleh gagasan universal dan dia tidak punya gagasan
yang dibayangkan terlebih dahulu seperti apa yang mungkin terkandung dalam suatu
pandangan tentang manusia. Dia hanya bereksistensi jika dia merasakan apa
yang ia maksudkan (Scrutton;322;1986)[8].
d)
Ketakutan, Masa Depan, dan Kebebasan Sartre
Lebih
lanjut tentang pembahasannya tentang, ketakutan, masa depan dan kebebasan
Sartre mengemukakan pandangannya; Hanya kesadaran diri yang membawa neant’ atau
ketidakadaan kedalam dunia; bagi mahluk yang dapat merasa, pemisahan
antara subyek dan obyek belum terbuka. Tetapi dengan perasaan ketidakadaan itu
timbul ketakutan dan pertanyaan apa yang akan saya lakukan? Itulah makna
sekarang tentang masa depan dan tangung jawab manusia terhadap masa depan
tersebut. Ketakutan adalah bukti dari kebebasan. Tidak ada yang lebih jelas
dari seseorang daripada kebebasannya, karena tidak ada yang lebih jelas dari
eksistensi yang memaksakan pengakuan akan masa depan dan tanggung jawab kita
kepadanya. Sarte dalam Phenomenology of mind Sartre mengambarkan hubungan manusia
dalam konteks perjuangan; kasih itu menginginkan kebebasan orang lain, untuk
menjadikan kebebaasan itu miliknya sendiri . Jika seorang kasih hanya dimiliki
oleh satu orang saja maka terjadi kontradiksi karena kebebasan terikat.
Keinginannya dapat dipenuhi hanya dengan sendiri hanya dengan
mengecewakannya,memiliki kebebasan dengan melepaskan. (Scrutton;
326;1986)
e)
Manusia Ideal Nietszhe
Konsep tentang model
manusia ideal yang cukup kontroversial dikemukakan oleh Nietszhe
yaitu dengan memunculkan Konsep “Ubermensch” atau Superman (Hasan;
45;2000), konsep Nietszhe adalah contoh paling nyata dari filsafat yang
menekankan logika kekuatan bukan kekuatan logika. Dia sangat
diinspirasikan oleh Spencer dan Darwin terutama dalam konsep “survival for the
fittest” yang kemudian sangat mempengaruhi di dalam pandangannya tentang
manusia dan kemanusiaan. Ia menganggap kalau dalam hidup ini yang
kuat lah yang menang, Kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Oleh
karena itu, apa yang diangap baik haruslah kuat. Sebaliknya, segala yang lemah
adalah buruk dan salah (Hasan;44;2000). Nietszhe mengatakan bahwa yang
harus dijadikan tujuan dalam kehidupan kemanusiaan adalah menjelmakan
manusia-manusia besar yang lebih kuat, cerdas dan lebih berani. Eksistensialisme
Niestzhe dalam sikap antitheisme. Sikap ini Dilontarkan Nietszhe ketika dia
sangat muak mendengarkan ceramah pendeta mengenai dosa (Hasan ;52;1986). Tuhan
Barat telah digunakan untuk mengalienasi orang dari kemanusiannya dan
dari gairah seksual melalui asketisme yang menyangkal kehidupan
(Karen Armstrong;459;2001). Nietszhe sebagaimana Eksistensialis lain mengatakan
bahwa, tak ada tujuan tertinggi, manusia harus takut pada tubuh mereka, gairah
dan seksualitas mereka, Nietszhe mengajak orang untuk mencabut moralitas cinta
kasih yang membuat manusia lemah, (Karen Armstrong;459;2001)[9].
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal, Filsafat Manusia,
Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, Mizan
Bandung; Cetakan ke-2, 2001
Blackham, H.J, Six Existentialist Thinkers,
Routlege & Kegan Paul Ltd (penerbit) London, Reprinted 1978
Hasan, Fuad, Berkenalan dengan
Eksistensialisme, Pustaka Jaya Jakarta, 2000, cetakan ke-8
Scruton, Roger, Sejarah Singkat Filsafat
Modern, Pantja Simpati, Jakarta, Cetakan ke-1, 1986
Syari’ati, Ali, Humanisme antara Islam dan
Mazhab Barat, Pustaka Hidayah , Jakarta 1992
[1] Hal ini
dijelaskan oleh Zainal Abidin, Filsafat Manusia, Remaja Rosda Karya
Bandung, 2009
[2]
Abidin,
Zainal. Filsafat Manusia, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
[3] Ali Syari’ati,
Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat, Pustaka Hidayah , Jakarta 1992
[4] Zainal Abidin,
Ibid., hlm. 26
[5]
Zainal Abidin, Ibid.,
hlm. 27
[6]
Hasan,
Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Pustaka Jaya Jakarta, 2000,
cetakan ke-8
[7]
H.J Blackham,
Six Existentialist Thinkers, Routlege & Kegan Paul Ltd (penerbit)
London, Reprinted 1978
[8]
Roger
Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern, Pantja Simpati, Jakarta,
Cetakan ke-1, 1986
[9]
Karen
Armstrong, Sejarah Tuhan, Mizan Bandung; Cetakan ke-2, 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar