Pertemuan ke 4
Kali ini pak
Na’im membahas penelitian dilihat dari pendekatannya. Pertama,yaitu penelitian Longitudinal. Penelitian ini berlangsung
dalam waktu yang lama dengan subjek yang tetap. Penelitian ini cenderung akurat
hasilny, namun sangat menguras waktu dan titik jenuh yang sangat tinggi. Kedua, yaitu penelitian Cross-Sectional.
Penelitian ini subjeknya berbeda, atau juga bisa diacak. Dikhawatirkan setiap
subjek memliki karakter yang berbeda . meskipun demikian penelitian ini
waktunya efektif dan cepat. Selanjutnya aku menangkap apa yang dijelaskan oleh
pak Na’im yaitu bagaimana tentang alur sebuah penelitian. Beliau membeberkan
bahwa penelitian bukan berangkat dari judul melainkan dari munculnya sebuah
permasalahan. Kemudian dibentuk dalam suatu rumusan masalah yang sistematis dan
rapi. Baru kemudian kita bisa mengumpulkan data yang sesuai rumusan masalah. Kemudian
data tersebut diolah melalui Analisi Data. Akhirnya kita dapat menentukan suatu
kesimpulan.
Pertemuan ke 5
Untuk
pertama kali pada pertemuan ini aku tidak bisa masuk kuliah. Entah mengapa
memang sejak hari senin tepatnya tanggal 30 Maret 2013 aku sudah merasa tidak
enak badan, tapi aku paksakan masuk karena ada kegiatan Institut Trasvaluasi
pada jurusanku. Selanjutnya pada hari rabu, 1 April tubuh ini tidak kuat lagi
untuk bisa diajak masuk kuliah. Demam ku lumayan tinggi kata Mantri dekat
rumahku. Alhasil pada materi ini aku cuma bisa bertanya pada temen baikku si
Mamang Roni dan Zain. Tidak banyak memang yang aku dapatkan dari mereka tapi
lumayan untuk bahan materi diari pada sesi kali ini hehehehehe. Mereka berusaha
menjelaskan kepadaku mengenai penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Penelitian
kualitatif menurut mereka merupakan penelitian yang alami, apa adanya.
Pelacakannya pun dilakukan secara individual. Hal yang paling penting dalam
penelitian kualitatif adalah focus penelitian. Kemudian yang dinilai adalah
kata – kata ataupun kalimat yang dikumpulkan kemudian selanjutnya
ditipologikan. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang lebih
mementingka pada ketepata skoringnya.
Kemudian
kata mereka pak Na’im juga sedikit menyentil masalah inkuiri naturalistic
tetapi aku tidak menemukan pejelasan detail dari Roni dan Zain. Ada lagi
etnografi yang menurut ingatan mereka ialah penelitian mengenai etnis tertentu.
Kunci penelitian ini ialah harus bisa masuk total dalam bidang yang di teliti.
Selanjutnya
menurut ingatan Zain, Pak Na’im menjelaskan tentang karakteristik peenelitian
kualitatif. Antar lain meliputi :
- Manusia sebagai alat
- Alamiah atau ttidak direkayasa
- Menggunakan metonde pengamatan dan wawancara
- Analisis data secara induktif
- Secara deskriptif dalam penjelasannya
- Lebih mementingkan proses daripada hasil
- Adanya batas ditentukan oleh focus
- Adanya criteria khusus untuk keabsahan data
- Desain yang bersifat sementara
- Hasil penelitian harus di musyawarahkan dan disepakati bersama agar meminimalisir terjadinya kontroversi.
Pertemuan ke 6
Pada
pertemuan kali ini aku lebih siap untuk memaparkan hasil resume saya mengenai
Etnografi. Hasil resentasipun lumayan lah Alhamdulillah. Berbicara etnografi
Pak na’im sedikit berbicara tentang pak Koeswinarno yang merupakan seorang
temannnya. Tidak banyak memang yang diceritakan tapi da pernyataan yang cukup
lucu. Ketika pak Na’im betanya kepada Pak Koes mengenai keberhasilan karirnya ,
Pak Koes pun menjawab dengan enetengnya,” Saya tidak pintar, tapu saya sering
beruntung “. Sontak mendengar hal itu aku dan temen – temen tertawa terbahak –
bahak.
Kemudian
selanjutnya pak Na’im sedikit menjelaskan mengenai Etnografi setelah selesai
menunjuk beberapa anak untuk mempresentasikan hasil resume. Etnografi merupakan
jenis penelitian yang dilakukan pada etnis tertentu, bisa juga etnis
kebudayaan. Penelitian ini memerlukan jangka waktu yang saangat lama. Ini
disebabkan karena seorang peneliti kudu telibat langsung dalam masyarakat yang
diteliti. Tentunya terlibat dalam segala aspek kehidupannya. Penelitian ini
menggunakan metode observasi participant. Pak Na’im memberikan contoh etnis atau
kelompok yang dapat di teliti misalkan kelompok Syeker mania yang ada di
Tulungagaung. Dalam etnografi yang paling susah ialah mengenai persoalan nilai
pada penelitinya. Disini peneliti dituntut untuk siap masuk dalam komunitas
yang mungkin berbeda pandangan terhadap suatu nilai, tapi disini kita sebagai
peneliti harus menyamakan nilai dengan masyarakat yang akan kita teliti. Bisa
jadi dalam hal ini akan muncul problem dan berbagai kejenuhan. Akhirnya disini
nanti akan muncul etika penelitian yang akan dibahas dipertemuan yang akan
datang, begitu ujar Pak Na’im.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar