Minggu, 13 Maret 2016

Destinasi Wisata Terbaru di Tulungagung

 Belum Jadi Sudah Bikin Hepi
(Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung)
oleh: Ahmad Khoirul Anam

             Masih dengan keterbatasanku tentang kepemilikan Smartphone, ternyata dampaknya lumayan terasa. Kali ini adalah gara-gara belum memiliki Smartphone, aku menjadi ketinggalan informasi tentang keberadaan destinasi wisata baru di Tulungagung. Tidak heran lagi, di zaman yang serba Smartphone ini informasi apapun banter  atau cepat sekali menyebar tidak terkecuali Jalur Lintas Selatan ( JLS ) Tulungagung pun luput dari kecanggihan teknologi. Keberadaan tempat ini mulai menyebar ke dunia maya atau internet ketika ada pengunjung yang mengambil gambar dan mengunggahnya. Ini sebenarnya masih simpang siur, sampai saat ini sejauh pengamatanku mengenai JLS masih belum mengetahui siapa pengunjung yang kali pertama mengunggah foto JLS ke internet. Menurut beberapa informan yang sempat aku gali informasinya ialah bahwa awal ketenaran JLS lewat unggahan foto di sosial media. Beberapa informan menjelaskan bahwa begitu  cepat sekali berita tersebut menyebar dan akhirnya menjadi terkenal serta menarik animo masyarakat untuk mengunjunginya. Any way terkait menyebarnya berita tentang JLS di sosial media, tentu sudah jelas dengan berat hati mengakui bahwa aku lagi-lagi ketinggalan informasi karena jarang mengakses sosial media. Informasi tentang JLS hanya berlalu lalang di telingaku lewat teman-teman rumah, tetangga, dan yang paling menjengkelkan ialah adikku yang dengan bangga membuat pengakuan telah berkunjung sebanyak 3 kali di bulan Desembar 2015.
            Perkenalkan adikku bernama Mohamad Ma’ruviyan. 17 tahun, duduk di bangku SMA. Seperti kebanyakan remaja labi lpada umumnya, dia gemar sekali dolan  yang menurutku tidak penting. Sering kudapati dia jalan bareng dengan teman-teman hurug-hurugnya ngetrip tidak karuan ke berbaggai tempat wisata. Hurug-hurug  merupakan sebutan gemesku terhadaap teman-teman adikku yang memang mayoritas suara motornya bisa membuat telinga orang normal terganggu. Sangat bising benar menurutku. Melalui tulisan ini pula aku mengaku kalah dengan adikku dalam beberapa hal. Adikku telah lebih banyak mengetahui tempat-tempat wisata karena sering dolan. Masalah smartphone  dia juga lumayan play boy. Dua kasus ini yang terkadang membuatku merasa sedih, karena sangat bertolak belakang denganku. Mengenai pengetahuan tentang tempat wisata sudah jelas diriku masih sangat polos. Apalagi masalah smartphone, seratus persen aku sangat setia dengan hp jadulku. Menurutku pembaca jangan ikut berlarut dalam kesedihan ini. Cukup diriku sja yang meratapinya.
            Tahun baru 2016 menjadi momen tak terlupakan. Jika sebelumnya gambaran mengenai JLS Tulungagung hanya terdengar di telingaku lewat orang lain, akhirnya tepat 1 Januari 2016 aku akan segera bisa melihat dan menikmati pemandangan JLS Tulungagung yang menurut orang-orang sangat bagus dan menarik. Momentum liburan semester ganjil dan tahun baru seolah-olah menjadi instrumen penting yang mempertemukan aku dengan ketiga teman-temanku. Pasalnya kami berempat hampir 3 bulan agak penuh tidak saling bertemu. Ruli, begitu sapaannya, namun sering dipanggil Jolobos. Dia merupakan temanku SMA yang berasal dari desa sebelah, cukup dekat dengan desa tempat tinggalku yaitu Desa Ngebong. Jolobos saat ini menekuni studinya di Universitas Negeri Malang (UM). Mengambil jurusan Ilmu Olahraga. Badannya yang atletis sangat cocok dengan jurusan yang di ambilnya. Setiap kali ada orang yang menanyainya,” Ruli kuliah ambil apa?”. Dengan tegas dia menjawab,” Tentu ambil Olahraga dong”. Pun dengan aku jika ditanya,” Anam kuliah ambil apa?”. Pasti kujawab dengan tidak kalah tegas pula,” Aku kuliah ambil hikmahnya saja”.
            Temanku yang kedua bernama Mardian. Saat ini  menggeluti teknik informatika dan broadcasting di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Sejak SMA memang dia telah menunjukkan bakatnya pada dunia elektronika baik mengotak-atik sistem komputer, handphone, dan sejenisnya. Teman berikutnya yang kebetulan ikut ke JLS adalah Bima alias Panjul. Pemuda berotot kekar ini sedang izin cuti dari sebuah Lembaga Pembentukan Fisik di Cimahi Jawa Barat. Sejak tinggal cukup lama di Tanah Sunda, dia cukup hobi menceritakan betapa cantik dan ayunya cewek-cewek sunda. Tentu kami bertiga hanya bisa tertegun, karena kami memang masih terlalu polos untuk urusan cewek cantik. Tiga bulan tidak saling bertemu membuat kami terlarut dalam suasana kangen dan akhirnya tercetuslah ide untuk mengunjungi JLS Tulungagung. Hal yang menarik ialah ketika semua dari kami mayoritas belum sekali pun menyempatkan diri mengunjungi JLS, kecuali Mardian. Tapi alasan kedua temanku cukup terhormat yaitu karena mereka sering di luar kota. Sedangkan diriku adalah gara-gara ketinggalan informasi. Lagi-lagi dengan jahat dalam hati kecilku aku menyalahkan hp jadulku, meskipun sejatinya bukan seratus persen kesalahannya juga karena akupun menyadari keterbatasan kemampuannya.
            JLS Tulungagung yang kami dambakan akhirnya di depan mata. Kurang lebih pukul 15:00 WIB, di bawah teriknya matahari tanpa lelah kami menyusuri JLS sedetail mungkin. Mendaki gunung lewati lembah, begitu kira-kira gambaran umumnya,bedanya kami berempat menggunakan sepeda motor. Sebentar, sejauh pengamatanku, JLS merupakan proyek pemerintah jangka panjang yang sudah lama di rencanakan pembangunannya beberapa tahun belakangan. Tujuannya adalah untuk memperlancar dan mengoptimalkan distribusi barang atau jasa. Bahkan selenthingan kabar JLS ini kelak akan menghubungkan seleruh kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa, kalau tidak salah jika di bentangkan adalah mulai dari Sukabumi di Jawa Barat hingga Banyuwagi di Jawa Timur. Khusus untuk kabupaten Tulungagung, informasi yang berkembang mengenai panjang jalannya jika sesuai rencana akan menempuh kurang lebih 48 km. Perlu diketahui mengenai informasi ini bisa jadi tidak sepenuhnya benar karena berbagai informasi tadi di peroleh dari wawancara yang tidak sengaja dengan para pengunjung dan sebagian kecil warga setempat. Sampai sekarang aku belum mengeceknya secara detail ke pemerintah setempat. Di luar hal itu, tentu yang membuat heran ialah ketika mengetahui proyek yang sedang terkenal ini baru selesai sepanjang 5 km, tetapi sudah mampu menarik antusiasme masyarakat yang luar biasa.

(sumber: koleksi pribadi)

            Perjalanan ke JLS Tulungagung tanpa sengaja menghasilkan pertanyaaan unik,” Kenapa proyek pemerintah yang masih jauh dari kata selesai, menjelma menjadi destinasi wisata yang secara ajaib mampu menarik animo masyarakat yang begitu besar?”. Akhirnya berkembanglah spekulasi-spekulasi di pikiranku. Pertama, aku teringat perkataan yang pernah di unggkapkan alamarhummah embah, menurutnya sejak beliau lahir hingga sekarang atau sampai pada akhir hayatnya (embah meninggal tahun 2013 ) Tulungagung bagian selatan khususnya sama sekali belum pernah melihat dan menikmati akses jalan yang berkualitas bagus. Selama ini jalan-jalan (kualitas aspal) yang ada tidak jauh dari kata jendul-jendul dan berlubang. Mungkin karena JLS sekarang memang memilki kualitas aspal yang sangat bagus atau lebih baik dari sebelumnya, membuat masyarakat menjadi penasaran dan nggumun  melihat fakta ini. Akhirnya mereka berlomba-lomba mengunjungi JLS Tulungagung.
            Kedua, panorama alam yang cukup indah dan cenderung masih alami menurutku juga berperan penting. Tercatat ada beberapa pantai dan yang bisa kita nikmati melalui jalur ini. Ada kemungkinan bisa bertambah lagi seiring nanti selesainya proyek ini. Sebut saja pantai Sidem. Memang pantai ini akses utamanya bukan hanya JLS, ada jalur lain. Melalui JLS, panorama pantai ini menjadi bertambah indah, terlebih karena dilihat dari bukit. Lumayan bagus bagi pemburu foto profesional dan yang belum profesional. Menyaingi pantai Sidem, ada juga pantai Bayeman. Bibir pantai yang panjang berikut ombak yang tenang menjadi daya tarik tersendiri. Sebelumnya pantai ini kurang begitu di kenal publik. Lagi-lagi dengan adanya JLS pantai ini menjadi lebih di kenal karena akses menuju kesana mulai terbuka meskipun belum samapai seratus persen. Melihat hal yang demikian tadi bisa di lihat peran JLS begitu luar biasa. Secara otomatis JLS menjadi alat yang sangat penting untuk lebih mengeksplor beberapa tempat wisata di Tulungagung. Tentu masih sangat kita tunggu-tunggu pantai berikutnya agar menyusul terexpose ke khalayak luas. Akan tetapi harus sedikit bersabar terlebih dahulu karena aksesnya belum rampung tergarap. Tercatat masih ada pantai Kelathak dan tidak menutup kemungkinan ada yang lain lagi. Meskipun demikian beberapa capaian tadi,membuat JLS berpredikat fenomenal. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya saat ini karena memang msaih dalam proses pengerjaan tapi sudah mampu menarik antusiasme masyarakat luas. Perlu menjadi catatan, karena begitu banyaknya pengunjung yang datang pada momen tahun baru 2016, sampai-sampai JLS terkena macet yang begitu panjang kira-kira macetnya hampir 2,5 km. Separuh dari panjang jalan yang baru jadi.

                          (sumber: koleksi pribadi)
            Dari catatan diatas ada beberapa dampak yang cenderung positif. Banyaknya masyarakat atau pengunjung yang hadir ke JLS, dapat menciptakan peluang usaha kepada penduduk sekitar. Mulai dari kios oleh-oleh khas Tulungagung, berbagai cinderamata, makanan, bahkan penyedia layanan parkir, dan sebagainya. Tentu hal ini mampu mendongkrak pendapatan masyarakat. Selain itu banyaknya pengunjung yang mengambil gambar tentang JLS dan akhirnya di unggah di sosial media, secara tidak langsung turut mempromosikan Kabupaten Tulungagung d mata dunia. Harapannya sudah pasti Tulungagung lebih di kenal khalayak luas, tidak menutup kemungkinan mampu menyaingi Kota Kediri atau Blitar yang memang lebih dahulu moncer namanya. Satu lagi, kehadiran JLS juga menjadi kabar baik untuk muda-mudi yaitu bisa menambah referensi tempat pacaran yang murah meriah. Meskipun demikian kita tidak boleh terlena dengan capaian awal JLS Tulungagung. Pemerintah diharapkan lebih serius lagi, apalagi proyek ini belum selesai. Ini menjadi penting, kalau bisa segera mungkin di selesaikan, terlebih fasilitas dan kelengkapan pendukung lainnya. Alasannya ialah saat ini merupakan momen yang tepat, dikhawatirkan jika mangkrek terlalu lama masyarakat akan kecewa. “Segera” disini adalah dengan tetap memperhatikan ketelitian dan kualitas pembangunannya. Masyarakat juga mempunyai tugas yang tidak kalah penting yaitu tetap menjaga kelestarian alam khususnya di sekitar JLS yang memang menjadi faktor daya tarik utama. Semoga masyarakat dan pemerintah  bisa bersatu padu bersinergi dalam pemanfaaatan JLS ini.

1 komentar:

Free livescore from Unogoal.com