Minggu, 06 Maret 2016

Sebuah Realita Kesulitan Menulis :Problematika Menulis


Ini merupakan risetku mengenai perkembangan teknologi Gadget (Smartphone) dan sejenisnya. Riset hanya sebuah pelarian redaksi kata saja karena menurutku kata yang paling tepat adalah sebuah renungan. Aku sebut renungan karena selama 6 tahun belakangan, pribadi ini sudah mulai ketinggalan teknologi khususnya dalam hal kepemilikan Smartphone. Awal-awal 2007an boleh lah aku masih bisa mengimbangi, alat komunikasiku dan teman-teman yang lain. Masih tergolong sama dan berimbang baik secara fitur dan tentunya harga.
            Namun sangat jauh berbeda ketika 6 tahun belakangan ini. Hp kesayanganku perlahan tapi pasti semakin menunjukkan ketertinggalannya secara fungsi fitur-fiturnya. Ibarat klub bola ialah Real Madrid yang beberapa waktu belakangan ini perlahan namun pasti menunjukkan ketertinggalannya dalam usaha merebut trofi La Liga Spanyol. Boleh dibilang mengenaskan, tapi bukan itu terlalu kasar. Mungkin yang paling tepat adalah memilukan banget. Aku rasa kita tinggalkan dulu Liga Spanyol, mungkin akan kita bahas lain kali, kembali ke topik Smartphone. Sebut saja beberapa aplikasi yang bisa diakses melalui Smartphone meliputi WA, BBM, dan sejenisnya yang tidak mungkin dapat diakses oleh Hp ku.


Pada model hp jenis ini WA tetap ada yang artinya Woles Aja. Woles Aja disini mengisyaratkan disaat yang lain sudah memiliki Hp baru, Aku masih setia pada model yang beginian. Tapi tidak apa-apa karena boleh jadi ini merupakan fasilitas yang bertajuk perjuangan. BBM pun juga ada sebenarnya tapi BBM dalam artian Bener-Bener Melas. Melas meratapi nasib yang hanya bisa menyimak teman-teman yang lain ganti-ganti PM setiap hari. Bukan-bukan itu tadi beberapa plesetan  untuk menghibur ratapanku. Jelas saja, kalau teman-teman yang lain bisa WA-an, dan BBM-an, diri ini tetap setia SMS-an dan sedikit Teleponan (kalau pas ada pulsa, karena lebih sering yang ada hanyalah paket SMS).
            Kegelisahanku diatas tadi memberikan pengaruh yang cukup besar kepadaku, khususnya kreativitas menulis. Sebelum membahas lebih dalam hubungannya dengan kreatifitas menulis supaya tidak rancu, aku rasa sangat perlu diri ini untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Ahmad Khoirul Anam biasa di panggil Anam, di tahun 2016 berumur 21 tahun, seorang mahasiswa jurusan Filsafat Agama di sebuah perguruan tinggi Islam negeri di kota Tulungagung. Mungkin terlalu sombong jika menyebut kota, redaksi yang pas mungkin sebush kabupaten kecil di Jawa bagian timur. Hobi futsal, meskipun semenjak sepatu kesayangan rusak menjadi semakin jarang nge-futsal. Mungkin belum bisa move on dari sepatu yang lama, jadi kaki ini tidak tega kalau memakai sepatu yang baru. Walaupun demikian temean-teman sejawat atau lebih tepatnya teman-teman bermain futsal lebih sering mempercayakan kepadaku sebagai penjaga gawang.
Tunggu dulu ini bukan karena kualitasku sebagai penjaga gawang yang bagus tapi karena pemainnya pas-pasan dan mayoritas lebih sering teman-teman tidak mau menjadi penjaga gawang atau kiper. Begitu seringnya aku jadi kiper sampai-sampai sempat salah satu teman dengan tersenyum mengatakan,” Anam itu gawang aja selalu di jaga, apalagi sama pacar,”. Bisa jadi guyonan ini tidak sepenuhnya salah-salah banget. Itu tadi sekilas tentang hobi. Kemudian klub bola kesayangan Manchester United, Real Madrid, kalau di Indonesia ngefans sama Arema Malang dan boleh jadi sama Persib Bandung juga suka.
 
        

 Bukannya tidak suka dengan kota/kabupaten sendiri, jelek begini aku juga anggota tidak tetap dari LasBas Mania(pendukung PERSETA Tulungagung), tapi semenjak kondisi persepakbolaan nasional sedang ruwet banyak klub-klub lokal Indonesia gulung tikar karena tidak ada kompetisi yang jelas, pun tidak terkecuali PERSETA Tulungagung, kasian. Makanan favoritku berbagai jenis sate asalkan pada koridor halal. Suka pada seluruh warna tapi paling suka biru. Sekilas perkenalan diri jika minat PING. Eeee
            Kuliah di Jurusan Filsaat Agama seharusnya aku pandai dalam kreativitas menulis, karena memang beberapa materi perkuliahan mengajarkan tata cara menulis yang baik dan benar. Namun pada prakteknya aku menyadari bahwa kemampuan menulisku masih dibawah standar, paling akunya aja yang ndableg. Sangat tertinggal dari teman-teman yang lain. Setelah melalui beberapa riset atau lebih tepatnya renungan yang mendalam, ada beberapa faktor yang mempengaruhi ceteknya kemampuanku dalam hal menulis. Beberapa faktor ini secara tidak sadar sangat berperan penting. Penting kenapa, mari ikuti penjelasanku. Faktor pertama ialah jarang atau bahkan tidak pernah rajin update status di sosial media. Hal ini seyogyanya tidak harus terjadi pada diriku. Secara aku merupakan anak muda masa kini(yang seharusnya kekinian). Tapi karena fasilitas yang memang sementara belum aku miliki seutuhnya, kejadian seperti ini akhirnya menimpa diriku. Disaat anak muda yang kekinian dengan terampil merangkai kata –kata yang selanjutnya di posting di berbagai sosial media aku sementara hanya bisa menjadi penonton. Tidak dapat dipungkiri ketrampilan membuat kata-kata(menulis) bisa berawal dari istiqomahnya menulis di sosial media.  Aku mengamati beberapa teman sangat terampil sekali menulis puisi, kata-kata bijak, refleksi beberapa berita yang sedang ngehits dan lain-lain. Bisa karena terbiasa, itu mungkin pernyataan yang tepat untuk menilainya. Pantas saja beberapa teman sangat pandai sekali merangkai kata, menulis cerpen, membuat puisi atau bahkan seringkali menggombal dengan kalimat-kalimat manis. Sedangkan aku boro-boro pandai merangkai kata, membuat puisi atau menggombal, depan cewek saja seketika kagok menuju grogi. Mungkin yang satu ini tidak secara mutlak juga keterkaitannya atau hubungannya, memang di depan cewek selain butuh ketrampilan juga dibutuhkan mental baja. Parahnya mentalku mental-mental tempe paling. Semoga ini tidak membuat pembaca baper, kesimpulan dari faktor yang peratama ini adalah intensitas update status yang bekualitas menjadikan ketrampilan menulis juga meningkat.
            Faktor yang kedua, masih ada kaitannya dengan kelemahan hp yang jadul. Ketika menuliskan faktor kedua ini, aku teringat dengan tips yang yang disampaikan salah satu dosen. Langkah untuk meningkatkan ketrampilan menulis ialah dengan selalu mencatat momen-momen penting dalam hidup ke sebuah memo. Bagi teman-teman yang memiliki smartphone, hal ii merupakan kabar menggembirakan karena setiap menemui momen-momen penting bisa mengabadikan dengan sesuka hati melalui memo(tulisan) atau bahkan dokumentasi(foto). Mereka bisa kapanpun dan dimanapun menelurkan ketrampilan menulisnya di memo. Bisa momen diary, kejadian-kejadian lucu, hasil reportase, puisi bisa dengan simple mereka simpan terlebih dahulu di memo sebelum akhirnya diketik pada komputer. Lain halnya denganku disaat teman-teman yang memiliki smartphone bahagia dengan fitur memo, aku hanya bisa pasrah. Pada posisi yang genting hp kesayanganku tidak bisa membelaku dengan keterbatasan fiturnya. Dibenakku sempat terujar,”Padahal aku sudah setia dan selalu sayang, kamu malah tidak bisa membela dan mendukungku pada keadaan genting seperti ini Pe Hape ”. Bukannya mutlak tidak bisa, sejatinya masih bisa digunakan untuk menulis. Tetapi ketika karakternya sudah mulai panjang al hasil tidak bisa di save karena memorinya gampang sekali full. “ Memo memo, memang BBM, Benar-benar Memojokkan”, begitu kira-kira suara hatiku.
            Faktor berikutnya dan mungkin ini adalah fakor yang mayoritas menguasai kehidupan manusia lebih parah adalah manusia masa kini, kecuali yang tidak. Maksudnya ialah ketika seseorang mampu melawannya, faktor yang satu ini akan lari tanpa kabar meninggalkan orang tersebut sendirian. Mungkin yang membuat perbedaan adalah ketika kebanyakan orang ketika ditinggal sendirian akan sedih dan gundah, maka orang yang ditinggalkan oleh faktor yang satu ini malah senang dan sangat bahagia. Tidak aneh, karena faktor tersebut adalah “malas”. Entah kenpa si Malas ini seringkali menguasai diriku dengan leluasa. Bahkan tidak jarang bisa terlena dibuatnya. Di beberapa kesempatan juga pernah dimarahi ibuku karena meninggalakan tugas-tugas rumah dan memilih bermesraan dengan si Malas. Biasanya yang membuat kaget dan tersadar, tentunya membuat si Malas lari tunggang langgang adalah teriakan merdu cenderung melengking ibuku. Meskipun suara falseto ibuku tak jarang mampu menggetarakan gendang telinga bahkan hatiku, aku yakin ini adalah obat paling mujarab agar kecanduanku bernesraan dengan si Malas akan hilang.
            Beberapa  renungan tadi, besar harapanku agar tidak mewabah ke orang lain. Semoga smartphone segera melebarkan sayap ke arah positif yaitu sebagai instrumen yang melatih ketrampilan menulis. Akau juga sadar ketergantungan terhadap  smartphone dan si Malas bukan menjadi hambatan untuk pandai menulis. Tentu tidak tepat untuk dijadikan sebagai suatu alasan juga. Masih ada cara yang lebih baik yaitu segera tinggalkan si Malas, segera ambil kertas dan bolpoin, maka menulislah.

2 komentar:

Free livescore from Unogoal.com