Ini merupakan risetku mengenai
perkembangan teknologi Gadget (Smartphone)
dan sejenisnya. Riset hanya sebuah pelarian redaksi kata saja karena menurutku
kata yang paling tepat adalah sebuah renungan. Aku sebut renungan karena selama
6 tahun belakangan, pribadi ini sudah mulai ketinggalan teknologi khususnya
dalam hal kepemilikan Smartphone.
Awal-awal 2007an boleh lah aku masih bisa mengimbangi, alat komunikasiku dan
teman-teman yang lain. Masih tergolong sama dan berimbang baik secara fitur dan
tentunya harga.
Namun sangat jauh berbeda ketika 6
tahun belakangan ini. Hp kesayanganku perlahan tapi pasti semakin menunjukkan
ketertinggalannya secara fungsi fitur-fiturnya. Ibarat klub bola ialah Real
Madrid yang beberapa waktu belakangan ini perlahan namun pasti menunjukkan
ketertinggalannya dalam usaha merebut trofi La Liga Spanyol. Boleh dibilang
mengenaskan, tapi bukan itu terlalu kasar. Mungkin yang paling tepat adalah
memilukan banget. Aku rasa kita tinggalkan dulu Liga Spanyol, mungkin akan kita
bahas lain kali, kembali ke topik Smartphone. Sebut saja beberapa aplikasi yang
bisa diakses melalui Smartphone meliputi WA, BBM, dan sejenisnya yang tidak
mungkin dapat diakses oleh Hp ku.
Pada
model hp jenis ini WA tetap ada yang artinya Woles Aja. Woles Aja disini mengisyaratkan disaat yang lain sudah
memiliki Hp baru, Aku masih setia pada model yang beginian. Tapi tidak apa-apa
karena boleh jadi ini merupakan fasilitas yang bertajuk perjuangan. BBM pun
juga ada sebenarnya tapi BBM dalam artian Bener-Bener
Melas. Melas meratapi nasib yang hanya bisa menyimak teman-teman yang lain
ganti-ganti PM setiap hari. Bukan-bukan itu tadi beberapa plesetan untuk menghibur ratapanku. Jelas saja, kalau
teman-teman yang lain bisa WA-an, dan BBM-an, diri ini tetap setia SMS-an dan
sedikit Teleponan (kalau pas ada pulsa, karena lebih sering yang ada hanyalah
paket SMS).
Kegelisahanku diatas tadi memberikan
pengaruh yang cukup besar kepadaku, khususnya kreativitas menulis. Sebelum
membahas lebih dalam hubungannya dengan kreatifitas menulis supaya tidak rancu,
aku rasa sangat perlu diri ini untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Namaku Ahmad Khoirul Anam biasa di panggil Anam, di tahun 2016 berumur 21 tahun,
seorang mahasiswa jurusan Filsafat Agama di sebuah perguruan tinggi Islam
negeri di kota Tulungagung. Mungkin terlalu sombong jika menyebut kota, redaksi
yang pas mungkin sebush kabupaten kecil di Jawa bagian timur. Hobi futsal,
meskipun semenjak sepatu kesayangan rusak menjadi semakin jarang nge-futsal.
Mungkin belum bisa move on dari
sepatu yang lama, jadi kaki ini tidak tega kalau memakai sepatu yang baru.
Walaupun demikian temean-teman sejawat atau lebih tepatnya teman-teman bermain
futsal lebih sering mempercayakan kepadaku sebagai penjaga gawang.
Tunggu dulu ini bukan karena kualitasku
sebagai penjaga gawang yang bagus tapi karena pemainnya pas-pasan dan mayoritas
lebih sering teman-teman tidak mau menjadi penjaga gawang atau kiper. Begitu
seringnya aku jadi kiper sampai-sampai sempat salah satu teman dengan tersenyum
mengatakan,” Anam itu gawang aja selalu di jaga, apalagi sama pacar,”. Bisa
jadi guyonan ini tidak sepenuhnya salah-salah banget. Itu tadi sekilas tentang
hobi. Kemudian klub bola kesayangan Manchester United, Real Madrid, kalau di
Indonesia ngefans sama Arema Malang dan boleh jadi sama Persib Bandung juga
suka.
Bukannya
tidak suka dengan kota/kabupaten sendiri, jelek begini aku juga anggota tidak
tetap dari LasBas Mania(pendukung PERSETA Tulungagung), tapi semenjak kondisi
persepakbolaan nasional sedang ruwet banyak klub-klub lokal Indonesia gulung
tikar karena tidak ada kompetisi yang jelas, pun tidak terkecuali PERSETA
Tulungagung, kasian. Makanan favoritku berbagai jenis sate asalkan pada koridor
halal. Suka pada seluruh warna tapi paling suka biru. Sekilas perkenalan diri
jika minat PING. Eeee
Kuliah di Jurusan Filsaat Agama
seharusnya aku pandai dalam kreativitas menulis, karena memang beberapa materi
perkuliahan mengajarkan tata cara menulis yang baik dan benar. Namun pada
prakteknya aku menyadari bahwa kemampuan menulisku masih dibawah standar,
paling akunya aja yang ndableg.
Sangat tertinggal dari teman-teman yang lain. Setelah melalui beberapa riset
atau lebih tepatnya renungan yang mendalam, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi ceteknya kemampuanku
dalam hal menulis. Beberapa faktor ini secara tidak sadar sangat berperan
penting. Penting kenapa, mari ikuti penjelasanku. Faktor pertama ialah jarang
atau bahkan tidak pernah rajin update status
di sosial media. Hal ini seyogyanya tidak harus terjadi pada diriku. Secara aku
merupakan anak muda masa kini(yang seharusnya kekinian). Tapi karena fasilitas
yang memang sementara belum aku miliki seutuhnya, kejadian seperti ini akhirnya
menimpa diriku. Disaat anak muda yang kekinian dengan terampil merangkai kata
–kata yang selanjutnya di posting di berbagai sosial media aku sementara hanya
bisa menjadi penonton. Tidak dapat dipungkiri ketrampilan membuat
kata-kata(menulis) bisa berawal dari istiqomahnya
menulis di sosial media. Aku mengamati
beberapa teman sangat terampil sekali menulis puisi, kata-kata bijak, refleksi
beberapa berita yang sedang ngehits
dan lain-lain. Bisa karena terbiasa, itu mungkin pernyataan yang tepat untuk
menilainya. Pantas saja beberapa teman sangat pandai sekali merangkai kata,
menulis cerpen, membuat puisi atau bahkan seringkali menggombal dengan
kalimat-kalimat manis. Sedangkan aku boro-boro
pandai merangkai kata, membuat puisi atau menggombal, depan cewek saja
seketika kagok menuju grogi. Mungkin yang satu ini tidak secara mutlak juga
keterkaitannya atau hubungannya, memang di depan cewek selain butuh ketrampilan
juga dibutuhkan mental baja. Parahnya mentalku mental-mental tempe paling.
Semoga ini tidak membuat pembaca baper,
kesimpulan dari faktor yang peratama ini adalah intensitas update status yang
bekualitas menjadikan ketrampilan menulis juga meningkat.
Faktor yang kedua, masih ada
kaitannya dengan kelemahan hp yang jadul. Ketika menuliskan faktor kedua ini,
aku teringat dengan tips yang yang disampaikan salah satu dosen. Langkah untuk
meningkatkan ketrampilan menulis ialah dengan selalu mencatat momen-momen
penting dalam hidup ke sebuah memo. Bagi teman-teman yang memiliki smartphone, hal ii merupakan kabar
menggembirakan karena setiap menemui momen-momen penting bisa mengabadikan
dengan sesuka hati melalui memo(tulisan) atau bahkan dokumentasi(foto). Mereka
bisa kapanpun dan dimanapun menelurkan ketrampilan menulisnya di memo. Bisa
momen diary, kejadian-kejadian lucu,
hasil reportase, puisi bisa dengan simple
mereka simpan terlebih dahulu di memo sebelum akhirnya diketik pada
komputer. Lain halnya denganku disaat teman-teman yang memiliki smartphone bahagia dengan fitur memo,
aku hanya bisa pasrah. Pada posisi yang genting hp kesayanganku tidak bisa
membelaku dengan keterbatasan fiturnya. Dibenakku sempat terujar,”Padahal aku
sudah setia dan selalu sayang, kamu malah tidak bisa membela dan mendukungku
pada keadaan genting seperti ini Pe Hape ”.
Bukannya mutlak tidak bisa, sejatinya masih bisa digunakan untuk menulis.
Tetapi ketika karakternya sudah mulai panjang al hasil tidak bisa di save karena memorinya gampang sekali full. “ Memo memo, memang BBM, Benar-benar Memojokkan”, begitu
kira-kira suara hatiku.
Faktor berikutnya dan mungkin ini
adalah fakor yang mayoritas menguasai kehidupan manusia lebih parah adalah
manusia masa kini, kecuali yang tidak. Maksudnya ialah ketika seseorang mampu
melawannya, faktor yang satu ini akan lari tanpa kabar meninggalkan orang
tersebut sendirian. Mungkin yang membuat perbedaan adalah ketika kebanyakan
orang ketika ditinggal sendirian akan sedih dan gundah, maka orang yang
ditinggalkan oleh faktor yang satu ini malah senang dan sangat bahagia. Tidak
aneh, karena faktor tersebut adalah “malas”. Entah kenpa si Malas ini seringkali
menguasai diriku dengan leluasa. Bahkan tidak jarang bisa terlena dibuatnya. Di
beberapa kesempatan juga pernah dimarahi ibuku karena meninggalakan tugas-tugas
rumah dan memilih bermesraan dengan si Malas. Biasanya yang membuat kaget dan
tersadar, tentunya membuat si Malas lari tunggang langgang adalah teriakan
merdu cenderung melengking ibuku. Meskipun suara falseto ibuku tak jarang mampu menggetarakan gendang telinga bahkan
hatiku, aku yakin ini adalah obat paling mujarab agar kecanduanku bernesraan
dengan si Malas akan hilang.
Beberapa renungan tadi, besar harapanku agar tidak
mewabah ke orang lain. Semoga smartphone segera
melebarkan sayap ke arah positif yaitu sebagai instrumen yang melatih
ketrampilan menulis. Akau juga sadar ketergantungan terhadap smartphone
dan si Malas bukan menjadi hambatan untuk pandai menulis. Tentu tidak tepat
untuk dijadikan sebagai suatu alasan juga. Masih ada cara yang lebih baik yaitu
segera tinggalkan si Malas, segera ambil kertas dan bolpoin, maka menulislah.
super sekaliii
BalasHapusnhah itu boi...trimakasih apresiasi nya. ditunggu jempol berikutnya :)
BalasHapus